Pengantar Memahami Balaghah & Makna Kata dalam QS. Âli Imrân [3]: 104

Mukadimah

A-Qur’an al-Karim merupakan kalam Ilahi yang mengandung samudera ilmu dan petunjuk. Setiap upaya keras untuk memahaminya dengan membacanya, mempelajarinya dan mentadaburinya merupakan bagian dari upaya meniti jalan petunjuk, bagaimana bisa diamalkan jika paham saja tidak? Karena petunjuk tersebut merupakan cahaya dalam kegelapan yang mesti disingkap dari segala tabir, sehingga cahayanya menerangi jalan kita dalam kegelapan, terlebih di zaman jahiliyyah saat ini ketika kejahilan merajalela. Allâh al-Musta’ân.

Salah satunya memahami firman Allah QS. Âli Imrân ayat 104. Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 “Dan haruslah ada di antara kamu jama’ah yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)

 

Pasal I

Kandungan Balaghah dalam Ayat Ini

Ada sebuah pernyataan menarik yang hingga saat ini terus memotivasi penyusun untuk mendalami al-Qur’an. Penyusun pernah berdialog dengan salah seorang Syaikh dari Mesir, beliau adalah dosen tafsir dan bahasa arab di tempat kami berkhidmat[1]. Dalam diskusi mengenai tafsir dan balaghah ayat-ayat al-Qur’an, ia mengungkapkan kalimat yang menjadi motivasi bagi penyusun untuk terus mengkaji dan mendalami samudera hikmah dalam ayat-ayat al-Qur’an, ia menuturkan:

لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ

“Setiap huruf dari huruf-huruf al-Qur’an mengandung berbagai rahasia (kandungan makna).”

Dan salah satu upaya memahami keagungan ayat al-Qur’an adalah dengan menyingkap kandungan balaghah dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, setidaknya bisa kita ulas sebagai berikut:

Pertama, thibâq as-salbi (طباق السلب)[2] dalam kalimat (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ)[3], yakni terkumpulnya dua kata dan dua kalimat yang berkebalikan[4] (dalam satu ayat); antara menyuruh dan melarang, antara yang ma’ruf dan yang mungkar yakni menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran dalam satu ayat.[5]

Kedua, dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm (ذكر الخاص بعد العام), yakni menyebutkan perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ) setelah menyebutkan kata al-khayr (yakni al-Islam), dimana al-khayr ini umum dan menyuruh kepada yang ma’ruf    dan melarang dari kemungkaran adalah khusus bagian dari keumuman al-khayr dalam ayat tersebut. Dalam ilmu balaghah, ini menunjukkan keutamaan yang khusus (لإبراز أهميته)[6], penekanan atas pentingnya kedudukan perkara yang khusus tersebut (للتنبيه على فضل الخاص)[7] atau dengan kata lain ayat ini menunjukkan keutamaan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar atas segala bentuk kebaikan (لإظهار فضلهما على سائر الخيرات)[8].[9]

Ketiga, qashr ash-shifati ‘alâ al-mawshûf (قصر الصفة على الموصوف)[10] dalam kalimat (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ), yakni mensifati mereka yang diseru dalam ayat ini dengan sifat yang ringkas, padat namun bermakna mendalam yakni dengan predikat al-muflihûn. [11] Dalam kalimat ini, seakan dihilangkan sifat yang disebutkan sebelumnya setelah kata (أُولَٰئِكَ) yakni diringkas dalam kata (الْمُفْلِحُونَ).[12] Dan tentang ini akan penyusun jelaskan kemudian.

Pasal II

Penjelasan Sebagian Kata & Frase dalam Ayat

Pertama, Frase (لتَكُنْ) yang diterjemahkan “hendaklah ada” termasuk ke dalam shiyag al-amr (shighat bermakna perintah). Yakni kata lâm al-amr di depan kata kerja al-mudhâri’ (kata kerja yang sedang atau akan dilakukan) yakni lâm al-amr di depan kata yakûnu.[13]

Para ulama ushul fikih, di antaranya Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami as-Salmi dan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menjelaskan di antara bentuk perintah adalah:

الفعل المضارع المقترن بلام الأمر (ليفعل

“Kata kerja al-mudhaari’ yang disertai lâm al-amr (liyaf’al).”[14]

Maka jelas bahwa ayat ini mengandung perintah dari Allah. Lalu apakah tuntutan melaksanakan perintah tersebut wajib atau sunnah, itu tergantung petunjuk-petunjuk (qarâ’in) yang menyertainya[15].

Perintah Allah dalam ayat yang agung ini mengandung indikasi wajib. Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil ketika menjelaskan indikasi-indikasi yang menunjukkan tuntutan pasti (qarînah jâzimah) diantaranya:

ما كان فيها بيان لأمر حكمه الوجوب أو موضوعه فرض أو مدلوله حراسة للإسلام

“Jika didalamnya terkandung penjelasan atas suatu perintah bahwa hukumnya wajib, topiknya fardhu atau konteksnya menunjukkan penjagaan terhadap Islam.” (Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah, hlm. 22)

Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menukil ayat ini sebagai salah satu contohnya. Al-‘Allamah Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur pun menjelaskan bahwa ia adalah shighat (perintah) wajib yang dita’kid (diperkuat) oleh banyak dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah lainnya atas kewajiban menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar (Tafsîr at-Tanwîr wa at-Tahrîr, juz. IV/ hlm. 37), misalnya QS. Âli Imrân [3]: 110, QS. Al-‘Ashr [103]: 3, dll., dan dalil-dalil as-sunnah. Al-Hafizh an-Nawawi pun menuliskan satu bab khusus (الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر) dalam kitabnya, Riyaadh ash-Shaalihiin.

Kedua, Frase (أُمَّةٌ) dalam ayat ini mengandung konotasi yakni jama’ah. Kata ummah itu sendiri termasuk satu kata yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[16] yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna[17]. Lafazh musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji yakni:

ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه

“Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk/ indikasi.”[18]

Lalu apa makna umat sebagai lafazh musytarak? Ketika menjelaskan kata ummah dalam QS. Âli Imrân [3]: 104 ini, Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi menuturkan:

كلمة (أمة): الجماعة/ الملة أو الدين/ الفترة الزمنية/ الرجل الجامع لصفات الخير

“Kata (ummah) bermakna jama’ah, millah atau din, jangka waktu tertentu, atau seseorang yang terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan.”[19]

Imam Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad atau yang masyhur dikenal dengan nama ar-Raghib al-Ashfahani mendefinisikan kata ummah:

والأمة: كل جماعة يجمعهم أمر ما إما دين واحد، أو زمان واحد، أو مكان واحد

Ummah: setiap golongan yang disatukan oleh suatu hal apakah din yang satu, masa yang satu atau tempat yang satu.”[20]

Para ulama pun merinci makna kata ummah ini, di antaranya Imam Ibn Haim dalam kitab At-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qur’ân[21] dan Syaikhul Ushul al-‘Alim ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah dalam kitab tafsirnya. Syaikh ‘Atha bin Khalil ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 134 menuturkan bahwa kata (أمة) adalah lafazh musytarak dengan perincian pemisalan:

Pertama, bermakna seseorang jika ia menjadi teladan dalam kebaikan, memiliki kedudukan (تطلق على الواحد إذا كان يقتدي به في الخير وله شأن) atau terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan[22], misalnya dalam QS. An-Nahl [16]: 120:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kedua, bermakna din dan millah (تطلق على الدين والملة), misalnya dalam QS. Az-Zukhruf [43]: 23:

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ

Ketiga, bermakna tempo waktu (تطلق على المدة الزمنية), misalnya dalam QS. Yûsuf [12]: 45:

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

Keempat, bermakna jama’ah (تطلق على جماعة من الناس), misalnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 134,  QS. Âli Imrân [3]: 104, dan QS. Al-A’râf [7]: 159.

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Ketika menjelaskan ayat ini, Syaikh ‘Atha bin Khalil mengungkapkan:

والقرينة هي التي تبين المعنى، وهي هنا بمعنى جماعة من الناس لأنها تتكلم عن إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب وبنيه وعمن آمنوا بهم واتبعوهم

“Dan keberadaan indikasi petunjuklah yang memperjelas maknanya[23], dan kata umat dalam ayat ini bermakna segolongan dari manusia, karena ayat ini berbicara mengenai Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, kaumnya, dan siapa saja yang mengimani dan mengikuti mereka.”

Adapun kata umat dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menegaskan bahwa ia bermakna jama’ah,[24] pemaknaan ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh al-Hafizh ath-Thabari, Imam Ibn Mundzir (w. 318 H)[25], Imam ar-Raghib al-Ashfahani dan al-‘Allamah Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur[26].

Imam ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan:

وقوله: }ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير{ أي: جماعة يتخيرون العلم والعمل الصالح يكونون أسوة لغيرهم

“Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khayr) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang mencintai ilmu dan amal shalih dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.”[27]

Salah satu murid Imam Sibawayh, Imam al-Akhfasy al-Awsath[28] (w. 210 H) menuturkan bahwa kata ummah dalam ayat ini lafazh tunggal yang maknanya jamak, oleh karena itu Allah berfirman (يدعون إلى الخير) “mereka yang menyeru kepada al-khayr”.[29]

Catatan Kaki

[1] Kulliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât al-Islâmiyyah STIBA Ar-Râyah Sukabumi, Jawa Barat.

[2] Prof. Dr. Wahbah Zuhayli menamakannya طباق مقابلة

[3] At-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa asy-Syarî’ah wa al-Manhaj, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhayli, juz. IV/ hlm. 353.

[4] Dalam bahasan ilmu badî’, kitab al-Balâghah al-Wâdhihah, hlm. 281, Mushthafa Amin mendefinisikan ath-thibâq (الطباق):

الطباق: الجمع بين الشيء وضده في الكلام.

[5] Ibid. Lihat pula penjelasan dalam Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Mahmud Shafi, juz. IV/ hlm. 267.

[6] Lihat penjelasan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil mengenai faidah dari dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm dalam at-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, hlm. 43.

[7] Al-Balâghah wa an-Naqd.

[8] Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Mahmud Shafi, juz. IV/ hlm. 266-267.

[9] Lihat pula penjelasan dalam catatan kaki kitab Tafsîr al-Kasyf fî Haqâ’iq at-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh at-Ta’wîl karya Imam Abu al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari yang di-ta’liq oleh Khalil Ma’mun, hlm. 187.

[10] Ini termasuk bahasan ilmu ma’ani dalam ilmu balaghah, dalam kitab Bughiyyatul Îdhâh li Talkhîsh al-Miftâh fî ‘Ilm al-Balâghah, Abdul Muta’al ash-Shab’idi, juz. II/ hlm. 3:

قصر الصفة على الموصوف هو ما لا تتجاوز فيه الصفة موصوفها

[11] Ibid.

[12] Balâghatul Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Bahjat Abdul Wahid asy-Syaikhali, jilid II/ hlm. 140.

[13] Balâghatul Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Bahjat Abdul Wahid asy-Syaikhali, jilid II/ hlm. 139. I’rabnya:

اللام لام الأمر تكن: فعل مضارع ناقص مجزوم بلام الأمر وعلامة جزمه سكون آخره وحذفت واوه – أصله: تكون.

Lihat pula kitab Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Mahmud Shafi, juz. IV/ hlm. 265, dengan I’rab:

الإعراب: (الواو) عاطفة -أو استئنافية- (اللام) لام الأمر (تكن) مضارع ناقص مجزوم -أو تام-

[14] Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah, hlm. 182. Lihat pula penjelasan Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami al-Salmi dalam kitab Ushuul al-Fiqh Alladzî Lâ Yasa’u al-Faqîh Jahluhu, hlm. 220.

[15] Tentang ini bisa ditela’ah dari penjelasan para ulama ushul, salah satunya penjelasan Syaikh ‘Atha bin Khalil dalam kitab ushul fikihnya:  Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl.

[16] Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah,  Abdul Halim Muhammad Qunabis, hlm. 18.

[17] Dalam kitab Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’ dijelaskan bahwa Al-Musytarak itu adalah isim maf’ul berasal dari kata isytaraka fil amr (berserikat dalam suatu hal): yakni menjadi bagian darinya.

[18] Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji.

[19] Tafsîr asy-Sya’rawi, Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, jilid III/ hlm. 1663. Beliau pun merinci lebih jauh makna-makna kata ummah.

[20] Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân. Ar-Raghib al-Ashfahani. Juz. I/ Hlm.  28.

[21] Lihat pada halaman 93, 96 dan 188.

[22] Kalimat terakhir ini dijelaskan oleh Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam kitab tafsirnya.

[23] Ini sejalan dengan penjelasan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji ketika mendefinisikan kata lafzh musytarak.

[24] At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, Hlm. 157.

[25] Kitâb Tafsîr al-Qur’ân, Imam Ibn Mundzir, juz. I/ hlm. 324.

[26] Tafsîr at-Tanwîr wa at-Tahrîr, al-‘Allamah Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur, juz. IV/ hlm. 37.

[27] Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Imam Ar-Raghib al-Ashfahani, juz. I/ hlm.  28.

[28] Yakni Abu al-Hasan Sa’id bin Mas’adah.

[29] Ma’ânii al-Qur’ân, Imam al-Akhfasy al-Awsath, juz. I/ hlm. 228,

Setiap Huruf dalam Al-Qur’an Mengandung Asrâr (Berbagai Rahasia Kandungan Makna)

Al-Quran-Al-Kariim

Saya (Irfan Abu Naveed) seringkali termotivasi untaian hikmah yang disampaikan salah seorang Ustadz dari Mesir (orang Mesir), Dosen Tafsir di tempat saya bekerja ketika kami berdiskusi tentang ilmu balaaghah dan tafsir al-Qur’an, beliau al-Ustadz asy-Syaikh Hisyam asy-Syansyawri al-Mishriy menuturkan:

لكل حرف من حروف القرآن فيه أسرار

“Setiap huruf dari huruf-huruf Al-Qur’an mengandung pelbagai rahasia (kandungan makna, -).”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’râf [7]: 204)

Menafsirkan ayat ini, Imam Abu Ja’far al-Thabariy menuturkan:

يقول تعالى ذكره للمؤمنين به، المصدقين بكتابه، الذين القرآنُ لهم هدى ورحمة:(إذا قرئ)، عليكم، أيها المؤمنون، (القرآن فاستمعوا له)، يقول: أصغوا له سمعكم، لتتفهموا آياته، وتعتبروا بمواعظه (وأنصتوا) إليه لتعقلوه وتتدبروه … (لعلكم ترحمون)، يقول: ليرحمكم ربكم باتعاظكم بمواعظه، واعتباركم بعبره، واستعمالكم ما بينه لكم ربكم من فرائضه في آياته

“Allah SWT berfirman untuk memperingatkan orang-orang beriman, yakni orang-orang yang membenarkan kitab-Nya, yakni al-Qur’an yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi mereka: (jika dibacakan (al-Qur’an)) terhadap kalian wahai orang-orang yang beriman (maka dengarkanlah) yakni dengarkan dengan pendengaran kalian agar memahami ayat-ayat-Nya dan mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk-Nya, (dan perhatikanlah) untuk memikirkan dan mentadaburinya (agar kalian mendapat rahmat) agar Allah merahmati kalian dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, mempelajari ajaran-ajaran-Nya, dan menjalankan berbagai kewajiban yang dijelaskan-Nya terhadap kalian dalam ayat-ayat-Nya.” (Lihat: Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan, Imam Abu Ja’far al-Thabariy – al-Maktabah al-Syamilah)

Imam al-Alusiy menafsirkan frase (لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ):

أي لكي تفوزوا بالرحمة التي هي أقصى ثمراته

“Yakni agar kalian meraih kemenangan dengan adanya rahmat Allah yang merupakan anugerah-Nya yang paling luhur.” (Lihat: Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaaniy, Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayniy al-Alusiy – al-Maktabah al-Syamilah)

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan Al-Qur’an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Israa’ [17] : 82)

Imam Ibn Qayyim menjelaskan:

والأظهر أن “من” هنا لبيان الجنس فالقرآن جميعه شفاء ورحمة للمؤمنين

“Dan sudah jelas bahwa lafazh min dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, artinya seluruh ayat-ayat al-Qur’an merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (Lihat: Ighaatsatul Lahfan (1/24))

Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad al-Sadhan mengatakan:

وانظر إلى كلمة شفاء، ولم يقل دواء لأنها نتيجة ظاهرة، أما الدواء فيحتمل أن يشفي وقد لا يشفي

“Dan lihatlah kata syifaa’ (penawar), Allah tidak mengatakan dawaa’ (obat) karena kata syifaa’ ini mendatangkan hasil yang jelas/nyata. Adapun ad-dawaa’ (obat) adakalanya menyembuhkan dan terkadang tidak.”

Para ulama pun menjelaskan:

من) هنا بيانية فالقرآن كله شفاء ودواء لكل داء فمن آمن به وأحلَّ حلاله وحرّم حرامه انتفع به انتفاعا كبيرا، ومن صَدَقَ الله في قصده وإرادته شفاه الله تعالى وعافاه من دائه

“Kata min dalam ayat ini sebagai penjelasan, maka al-Qur’an seluruh ayat-ayatnya merupakan penawar dan obat bagi segala penyakit. Barangsiapa mengimani al-Qur’an, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya maka ia meraih manfaat yang besar dari al-Qur’an. Dan barangsiapa membenarkan Allah, mencakup tujuan dan kehendak hidupnya, maka Allah akan menyembuhkan dan mengampuninya dari segala penyakit.”

Allah pun berfirman:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

”Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman.” (QS. Fushshilat [41]: 44)

Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di mengungkapkan:

أي يهديهم لطريق الرشد، والصراط المستقيم، ويعلمهم من العلوم النافعة ما به تحصل الهداية التامة. وشفاء لهم من الأسقام البدنية، والأسقام القلبية، لأنه يزجر عن مساوئ الأخلاق، وأقبح الأعمال، ويحث على التوبة النصوح، التي تغسل الذنوب، وتشفي القلب.” (تيسير الكريم الرحمن – ٤٠٣/٤

“Yakni: Allah membimbing mereka ke jalan petunjuk dan jalan yang lurus, Allah pun mengajari mereka ilmu-ilmu bermanfaat yang mengantarkan kepada petunjuk yang sempurna. Serta sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit badan dan penyakit hati yang menimpa mereka, karena al-Qur’an melarang akhlak dan amal perbuatan yang buruk, disamping mendorong manusia untuk bertaubat sungguh-sungguh, yang mencuci dosa-dosa dan menjadi penawar qalbu.”

Semua penjelasan berharga ini, sudah semestinya mendorong seorang muslim untuk semakin bersemangat dalam menuntut ilmu, diantaranya ilmu balaagah dan ilmu-ilmu lainnya yang bertalian dengan al-Qur’an, untuk memperdalam interaksi dengan Kalaamullaah yang agung ini, tadabbur dan pengamalan. Yassarallaahu umuuranaa.

Tak cukup dibaca, dipelajari, Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidup kita (asy-syarii’ah al-islaamiyyah), pun wajib di amalkan secara kaaffah, sudah semestinya kita perjuangkan bersama, berjama’ah dlm jama’ah dakwah yang berjuang di atas manhaj dakwah Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzâb [33]: 21)

Dalam ayat ini, setidaknya terdapat dua penegasan -dalam ilmu balaaghah jika khabar mengandung lebih dari satu penegasan, dinamakan khabar inkariy yakni menghapuskan pengingkaran dan keraguan-, yakni laam al-ibtidaa’ dan kata qad+fi’l maadhiy (لقد). Dan ayat ini pun mengandung qariinah jaazimah dari kewajiban meneladani Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam. Wallaahu a’lam bish-shawaab… Yassarallaahu umuuranaa…

Sudah pasti kebaikan dan keberuntungan bagi orang yang mengamalkan al-Qur’an, meneladani Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam.

Semoga Allah membimbing kita semua untuk menapaki jalan-Nya dan jalan Rasul-Nya yang lurus dan istiqaamah dalam kebenaran…

Dialog Menakjubkan Seorang Anak, Apa yang Telah Kita Perbuat untuk Al-Qur’an??

Ada dialog menarik (berikut ini sebagiannya saya terjemahkan) intinya: Seorang anak bernama Mu’adz, dalam keadaan buta ia terbiasa melakukan safar yang jauh untuk muraja’ah hafalan Qur’annya kepada para Syaikh, karena Syaikh-Syaikhnya tidak tinggal disekitar rumahnya, dan bukan mereka yang mendatanginya namun anak ini yang mendatangi para Syaikh-nya, ia pernah muraja’ah hafalan al-Qur’annya, setengah al-Qur’an (sekitar 15 juz di awal) selama tiga hari saja, dan kadang dalam beberapa hari ia tidak bermain sama sekali…

Namun apa yang ia katakan dengan kebutaannya yaa ayyuhal ikhwah?? Saya tertegun mendengar perkataannya yang bisa jadi menjadi nasihat bagi kaum dewasa yang banyak menghabiskan waktunya untuk banyak hal yang tak berfaidah, bukan beramal yang akan memberatkan amal kebaikan malah sibuk dengan keburukan…. Allah al-Musta’aan…

DIALOG MENGGUGAH

Mu’adz: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku kenikmatan ini dan mengambil penglihatanku ini… Maha Suci Allah aku bersyukur atas nikmat karunia-Nya ini… Dan sungguh dalam shalatku, aku tak pernah ingin memohon kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku.”

Syaikh Fahd: “Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu??”

Mu’adz: “Tanyakan kepadaku (alasannya)”

Syaikh Fahd: “Mengapa??”

Mu’adz: “Aku berharap (kepada Allah) agar keadaanku ini (kebutaan) menjadi hujjah bagiku kelak di hari kiamat… agar Dia memudahkanku atas adzab-Nya (penghisaban kelak di hari penghisaban).. Aku tahu bahwa aku akan sangat ketakutan dan menggigil.. Dia akan bertanya: “Apa yang telah engkau perbuat dengan al-Qur’an??” Aku berharap Dia akan meringankan penghisabanku kelak.. Dan Allah akan merahmati siapapun yang dikehendaki-Nya… Tetapi Allah telah banyak merahmatiku dengan wasilah al-Qur’an… Dan alhamdulillaah jika aku ingin bepergian, maka aku memilih seorang diri.. Hanya aku seorang, tak ada orang lain bersamaku, akan tetapi ayahku mengkhawatirkanku jika aku pergi seorang diri” 

Syaikh Fahd: ”Dalam kesempatan ini, saya memikirkan keadaan banyak dari kaum muslimin yang bermalas-malasan dalam menghafalkan al-Qur’an… Yaa Allah apa yang akan menjadi hujjah bagi mereka dihadapan Allah??”

Mu’adz: ”Segala puji bagi Allah atas segala hal”

Syaikh Fahd: ”Maa syaa Allah wahai Syaikh Mu’adz, saya tahu bahwa engkau memahami kaidah dari Syaikh Ibn Qayyim al-Jawziyyah”

Mu’adz: ”Ya”

Syaikh” ”Apa kaidah itu?”

Mu’adz: ”Ibn Qayyim –rahimahullaah- mengatakan:

مَا أَغْلَقَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ بَاباً بِحِكْمَتِهِ ،، إِلاَّ فَتَحَ لَهُ بَابَيْنِ بِرَحْمَتِه

”Tidaklah Allah menutup satu pintu untuk seorang hamba dengan hikmah-Nya, kecuali Allah akan membukakan untuknya dua pintu dengan rahmat-Nya.”

Lalu ia mengungkapkan bahwa ia pernah keberatan dengan kebutaannya, namun saat ini ia ridha karena kebutaannya adalah qadha’-Nya dan ia memuji Allah karena hal itu…

Syaikh Fahd: ”(Dalam hadits Qudsiy):

إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيْبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَةَ

Allah ta’ala berfirman: “Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan kebutaan kedua penglihatannya kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggantikannya dengan surga.” (HR. Al-Bukhari)

Mu’adz: “Kami memohon kepada Allah agar Allah menjadikan kita termasuk golongan yang masuk Jannatul Firdaus.”

Allaahumma Aamiin.

Apa yang sudah kita lakukan untuk al-Qur’an? Sejauhmana mengamalkannya dalam kehidupan?? 

Syaikh Riyadh Muhammad Samahah dalam kitab tulisannya yang berbicara tentang ruqyah syar’iyyah menuturkan: “Ketika orang-orang musyrik semakin sering mencaci maki al-Qur’ân, dada Rasûlullâh -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- terasa semakin sesak. Beliau -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- mengadu kepada Allâh ‘Azza wa Jalla:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’ân ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. al-Furqân [25]: 30)

Syaikh Ibnu Qayyim berkata: “Meninggalkan al-Qur’ân atau hijrah dari al-Qur’ân ada beberapa macam;

1. Tidak mau mendengarkannya,
2. Tidak mau beriman kepadanya,
3. Tidak mau tunduk dan berhukum kepadanya,
4. Tidak mau melakukan tadabbur dan tidak mau memahami maknanya,
5. Tidak mau berobat dan menerapi diri dengannya ketika menderita segala macam penyakit hati, walaupun satu macam hijrah lebih ringan daripada macam hijrah yang lain.

Lantas, ada di pihak mana kita hari ini?? Jadi bahan renungan!

Mendengarkan, menghafal, menyimak, mempelajari, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur’an? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’râf [7]: 204)

Menafsirkan ayat ini, Imam Abu Ja’far al-Thabariy menuturkan:

يقول تعالى ذكره للمؤمنين به، المصدقين بكتابه، الذين القرآنُ لهم هدى ورحمة:(إذا قرئ)، عليكم، أيها المؤمنون، (القرآن فاستمعوا له)، يقول: أصغوا له سمعكم، لتتفهموا آياته، وتعتبروا بمواعظه (وأنصتوا) إليه لتعقلوه وتتدبروه … (لعلكم ترحمون)، يقول: ليرحمكم ربكم باتعاظكم بمواعظه، واعتباركم بعبره، واستعمالكم ما بينه لكم ربكم من فرائضه في آياته

“Allah SWT berfirman untuk memperingatkan orang-orang beriman, yakni orang-orang yang membenarkan kitab-Nya, yakni al-Qur’an yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi mereka: (jika dibacakan (al-Qur’an)) terhadap kalian wahai orang-orang yang beriman (maka dengarkanlah) yakni dengarkan dengan pendengaran kalian agar memahami ayat-ayat-Nya dan mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk-Nya, (dan perhatikanlah) untuk memikirkan dan mentadaburinya (agar kalian mendapat rahmat) agar Allah merahmati kalian dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, mempelajari ajaran-ajaran-Nya, dan menjalankan berbagai kewajiban yang dijelaskan-Nya terhadap kalian dalam ayat-ayat-Nya.” [1]

Imam al-Alusiy menafsirkan frase (لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ):

أي لكي تفوزوا بالرحمة التي هي أقصى ثمراته

“Yakni agar kalian meraih kemenangan dengan adanya rahmat Allah yang merupakan anugerah-Nya yang paling luhur.” [2]

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Imam Abu Ja’far al-Thabariy. Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan. al-Maktabah al-Syamilah.

[2] Lihat: Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayniy al-Alusiy. Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaaniy. al-Maktabah al-Syamilah.

Sekilas Makna Zhalim dalam Kitab Tafsir Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil

Tafsir Makna Zhalim

Sekilas Makna Zhalim dalam Kitab At-Taysiir fii Ushuul at-Tafsiir Buah Tangan Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil

Ketika membahas mengenai kisah tipu daya Iblis -la’natullaahi ‘alayhi- terhadap Adam -‘alayhissalaam- dan Hawa, al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil mendefinisikan kata kezhaliman (azh-zhulm) yakni: 

والظلم هو وضع الشيء في غير محله وبناء عليه نفهم معنى الآية (إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) لأن الشرك يعني وضع المخلوق في مرتبة الخالق، أي وضع المخلوق في غير محله وكلّ من وضع شيئا في غير محله فقد ظلم، ومن حكم بغير ما أنزل الله كان ظالمًا (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ)…. فقد وضع قانون البشر في مرتبة قانون رب البشر، أي وضع هذا القانون في غير محله فيكون ظالمًا

Terjemah Irfan Abu Naveed:

“Dan kezhaliman adalah mendudukkan sesuatu tidak pada tempatnya dan kita memahaminya berdasarkan makna ayat: “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (TQS. Luqman [31]: 13)

Karena kesyirikan yakni menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Pencipta, yakni menempatkan makhluk tidak pada tempatnya dan siapa saja yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya telah berbuat zhalim, dan barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah adalah orang yang zhalim: “Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (TQS. Al-Maa’idah [5]: 45)

Maka seseorang yang meletakkan perundang-undangan manusia di atas perundang-undangan Rabb-nya manusia yakni meletakkan perundang-undangan tak pada tempatnya maka jadilah ia orang yang zhalim.”

Lihat: bahasan kitab tersebut halaman 70.

Lihat bahasan lainnya dari al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil mengenai Demokrasi: Link Artikel

Sekilas Nasihat Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Berhati-Hati Terhadap Vonis Takfir Serampangan

Khuturah2

Penyusun & Penerjemah: Irfan Abu Naveed

Penulis Buku-Buku dan Kajian Tsaqafah & Staff di sebuah Pesantren-Kulliyyatusy-Syarii’ah

Yaa ikhwatii fillaah…

admin-ajax (1)Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil –hafizhahullaah– seorang ulama mujtahid, amir HT dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 1-5, beliau menjelaskan perbedaan antara status orang yang melakukan pelanggaran atas hukum syara’ (tanpa ada pengingkaran atas hukum syara’ yang qath’iy) dengan orang yang menyelisihi akidah Islam (tidak iman/kufur), beliau menjelaskan lebih lanjut:

”….Saya sampaikan hal ini karena pada saat ini kita mendengar seseorang yang mengkafirkan saudaranya dengan prasangka belaka, sehingga seakan-akan vonis takfir mudah saja bagi mereka, di sisi lain mengkafirkan seorang muslim tanpa dalil yang qath’iy adalah perkara besar dalam Islam. Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam– bersabda:

من قال لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما

”Barangsiapa berkata kepada saudaranya ”hai kafir”, maka sungguh hal itu akan kembali kepada salah seorang di antaranya.” (HR. Ahmad)

Lalu al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil menyampaikan nasihat:

ولذلك فمن لاحظ من أخيه ارتكاب معصية فلا يسارع إلى تكفيره، بل يسارع إلى أمره بالمعروف ونهيه عن المنكر، ليصلح حال أخيه، فيدرك ذنبه، ويستغفر ربه سبحانه وتعالى

”Oleh karena itu, siapa saja yang menemukan saudaranya melakukan kemaksiatan janganlah tergesa-gesa (serampangan-pen.) mengkafirkannya, akan tetapi semestinya bersegera dalam memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan mencegahnya dari kemungkaran, untuk memperbaiki keadaan saudaranya, menyadarkannya dari dosanya, dan memohonkan ampunan kepada Rabb-nya –Allah subhaanahu wa ta’aalaa-.”

Lihat: Al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah. At-Taysîr fî Ushûl At-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah) (hlm. 45-46). Beirut: Dar al-Ummah. Cet. II: 1427 H/ 2006.

Hati-hati yaa ikhwatii fillaah:

CIIA: Ghuluw Fi Takfir Bisa Dimanfaatkan Proyek “Terorisme” di Indonesia

Nasihat di atas adalah nasihat untuk berhati-hati dalam memvonis kafir kepada pihak lainnya yakni ketika tidak ditemukan bukti atau dalil qath’iy akan kekafirannya, namun bukan berarti menyepelekan perkara kekufuran dan kemaksiatan. Karena al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menjelaskan dalam banyak penjelasannya tentang masalah kekufuran, kezhaliman, kemaksiatan serta bahaya-bahanya, diantaranya dalam kitab tafsirnya tersebut. Wallaahu a’lam bish-shawaab.

Sebagaimana beliau pun memperingatkan perbuatan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 42)

Menafsirkan ayat ini, Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil –rahimahullaah– menjelaskan:

أي لا تخلطوا الحق بالباطل، فالباء للإلصاق وبذلك فالآية تنهى عن أمرين: خلط الحق بالباطل وكتمان الحق وهم يعلمون؛ فإن خلط الحق بالباطل تضليل، وكتمان الحق إخفاء له وتضييع له وكلاهما من الكبائر في دين الله

“Yakni janganlah kalian mencampurkan antara kebenaran dengan kebatilan, dan huruf ba’ (dalam ayat ini) untuk menunjukkan pencampuran. Maka ayat ini mengandung dua larangan: Pertama, mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Kedua, menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya; maka perbuatan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan merupakan penyesatan, dan menyembunyikan kebenaran yakni menyembunyikannya dan menghilangkannya, maka kedua perbuatan tersebut merupakan dosa besar dalam Din Allah.”

Lihat pula penjelasan beliau atas kemaksiatan zina: Penjelasan Sekilas Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Atas Hadits yang ‘Menafikan’ Keimanan Pezina

Di sisi lain, Islam pun tegas dalam menyikapi kemurtadan. Al-Khilafah al-Islamiyyah berperan dalam menjaga akidah umat dari kemurtadan. Sebagaimana dilakukan Khalîfah Abu Bakar al-Shiddiq –radhiyallaahu ‘anhu– ketika ia memerangi orang-orang yang menghalalkan diri untuk melanggar kewajiban berzakat. Muhammad bin Yusuf al-Farabriy berkata bahwa “Diceritakan dari Abu ‘Abdullah dari Qabishah berkata:

هُمْ الْمُرْتَدُّونَ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ فَقَاتَلَهُمْ أَبُو بَكْرٍ 

“Murtaddûn disini adalah orang-orang yang murtad (keluar dari Islam karena menolak membayar zakat) pada zaman (Khalîfah) Abu Bakr, lalu Abu Bakr r.a. memerangi mereka.” (HR. al-Bukhârî)

Lihat bahasan lainnya:

Murtadnya Muslim dalam Sistem Demokrasi VS Sistem Islam (Al-Khilaafah)

Sekilas Tentang Al-Khilafah Penjaga Akidah Umat

Mengapa Para Ulama Tidak Mengkafirkan Khalifah Al-Ma’mun?

Lihat sebagian penjelasan-penjelasan tafsir al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil dalam kumpulan materi berikut ini: Kumpulan Link Materi Kajian Tafsir

Penjelasan Para Ulama Mengenai Takfir (Link Download File Pdf, Link Download Langsung):

1 2

Mengambil ‘Ibrah dari Larangan Untuk Mengikuti Langkah-Langkah Syaithan (Paham Sesat Demokrasi, -)

50688_180x180

Kajian Tafsir Syaikh ‘Atha bin Khalil atas QS. Al-Baqarah [2]: 208: Sebagian Penjelasan Dalam Tafsir Syaikh ‘Atha Bin Khalil Atas QS. Al-Baqarah [2]: 208

Penjelasan Para Ulama Atas Tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 208: Penjelasan Para Ulama Menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 208

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

 “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Penjelasan Tafsir Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah

Menafsirkan frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan”, para ulama menjelaskan bahwa frase ayat ini mengandung larangan tegas dan informasi pasti tentang musuh yang nyata bagi kaum muslimin yakni syaithan. Dan al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil menjelaskan bahwa frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” merupakan indikasi (qariinah) wajibnya perintah Allah dalam ayat yang agung ini untuk berislam secara totalitas. Beliau menyatakan:

والأمر للوجوب بقرينة (وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Dan perintah dalam ayat ini merupakan kewajiban berdasarkan indikasi (“dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan”)”[1]

Dalam kitab ilmu usul fikihnya, Syaikh ’Atha bin Khalil pun menjelaskan bahwa di antara indikasi yang menunjukkan larangan tegas adalah:

أن يوصف العمل بوصف مناسب مفهم للنهي الجازم كالمقت من الله أو الغضب، ذم أو وصف شنيع كالفاحشة أو من عمل الشيطان، نفي الإيمان أو نفي الإسلام… الخ

“Penyifatan suatu amal dengan sifat yang dipahami sebagai larangan yang tegas misalnya kebencian dari Allah, kemurkaan dan celaan-Nya atau penyifatan buruk sebagai perbuatan keji, perbuatan syaithan, penafian keimanan dan keislaman, dan lain sebagainya.”[2]

Penjelasan Para Ulama Lainnya

Al-Hafizh al-Qurthubi menguraikan:

وقال مقاتل : استأذن عبد الله بن سَلاَم وأصحابه بأن يقرءوا التوراة في الصلاة ، وأن يعملوا ببعض ما في التوراة؛ فنزلت { وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشيطان } فإن اتباع السُّنّة أولى بعد ما بُعث محمد صلى الله عليه وسلم من خطوات الشيطان . وقيل : لا تسلكوا الطريق الذي يدعوكم إليه الشيطان؛ { إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ } ظاهر العداوة؛ وقد تقدّم

“Muqatil berkata: ‘Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk membaca sebagian isi Taurat dalam shalat dan mengamalkan sebagian syari’at Taurat; maka turunlah ayat ini: “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” karena mengikuti jalan Sunnah jelas selamat setelah diutusnya Muhammad SAW daripada mengikuti langkah-langkah syaithan (yang pasti celaka). Dikatakan pula yakni: janganlah kalian menempuh jalan yang diserukan syaithan pada kalian.[3] (Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian) yang menampakkan permusuhan; telah dijelaskan pula sebelumnya.”[4]

Dan penting untuk dipahami bahwa Iblis dan syaithan-syaithan yang dilaknat Allah adalah musuh abadi hamba-hamba Allâh, visi dan misi permusuhan mereka Allâh informasikan dalam ayat-ayat yang agung berikut ini:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (١٦) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (١٧

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (TQS. al-A’râf [7]: 16-17)

Dalam ayat lainnya:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (TQS. al-Hijr [15]: 39)

Pernyataan iblis yang diinformasikan Allâh dalam ayat-ayat di atas, menelanjangi visi misi yang diperjuangkannya menggunakan berbagai cara tanpa kenal lelah. Terekam dalam al-Qur’an, dengan jelas iblis mengungkapkan berbagai pernyataannya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni menggunakan لام الابتداء ونون التوكيد yaitu penegasan-penegasan yang memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan.

لأتخذنّ، لأضلنّ، لأمنينّ، لامرنّ، لأقعدنّ، لاتينّ، لأزيننّ، لأغوينّ

Dalam tinjauan pemahaman bahasa arab: semua kata kerja yang diungkapkan Iblis didahului dengan huruf ل yang mengandung makna sungguh dan ditambah dengan نّ yang berarti benar-benar.

Mereka berjanji menyesatkan manusia dari segala arah dan celah. Maka jelas, visi iblis dan syaithân ialah memperbudak manusia, mengajak sebanyak-banyaknya manusia menjadi golongannya. Sedangkan misinya mengondisikan manusia lalai, lupa kepada Allâh, berpaling menjauh dari akidah dan syari’at Islam.

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Syaithân telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allâh; mereka itulah golongan syaithân. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaithân itulah golongan yang merugi.” (TQS. al-Mujâdilah [58]: 19)

Dari pemahaman terhadap penjelasan di atas pun, kita bisa menyimpulkan bahwa ajaran-ajaran sesat diantaranya Demokrasi, Sekularisme, Liberalisme yang menjadi senjata syaithan golongan jin dan manusia untuk menjauhkan umat islam dari akidah dan syari’at islam yang agung merupakan bagian dari langkah-langkah syaithan yang wajib kita jauhi dan jelaskan hakikat kesesatannya kepada umat ini.

Wallaahu a’lam bish-shawaab


[1] Lihat: Al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah. 1427 H. At-Taysîr fî Ushûl At-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah).

[2] Lihat: Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah. 1421 H. Taysîr al-Wushûl ilâ al- Ushûl. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Ummah.

[3] Pernyataan serupa dituturkan Imam asy-Syawkani dalam kitab tafsir-nya, Fat-h al-Qadiir.

[4] Lihat: Al-Hafizh Abu ’Abdullah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi. Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân.

Sebagian Penjelasan Dalam Tafsir Syaikh ‘Atha Bin Khalil Atas QS. Al-Baqarah [2]: 208

admin-ajax (1)

Link Kajian Tafsir Syaikh ‘Atha bin Khalil di Mesir: (Link Youtube)

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian.”(TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Makna as-Silm dalam Ayat Ini

Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil pun menuturkan:

فـ (السِّلْمِ) هنا الإسلام كما فسره ابن عباس -رضي الله عنه- والمقصود من الإسلام كله أي الإيمان به كله دون استثناء والعمل بشرعه دون غيره

“Maka kata as-silm dalam ayat ini adalah al-Islam, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas r.a. dan maksudnya adalah keseluruhan ajaran Al-Islam yakni beriman terhadapnya tanpa pengecualiaan dan mengamalkan seluruh syari’atnya tanpa yang lainnya.”

Perincian Tafsir Syaikh ’Atha bin Khalil: Makna As-Silm dalam Ayat Ini Bukan Perdamaian dengan Musuh

Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil lebih jelasnya menuturkan:

“Tidak sah menafsirkan kata as-silm pada ayat yang mulia ini dengan makna perdamaian dengan musuh, hal itu karena kata as-silm (secara bahasa) disebutkan bermakna islam dan perdamaian, yang berarti bahwa kata ini (secara bahasa-pen.) memiliki lebih dari satu makna, maka ia termasuk lafzh musytarak (satu kata banyak makna) yakni termasuk mutasyabih (samar), dan memilih salah satu dari dua makna inilah yang dikehendaki, dipahami berdasarkan indikasi-indikasi yang berkaitan dengan maknanya dalam ayat-ayat yang muhkamah (jelas). Maka apabila kata as-silm dalam ayat ini dimaknai perdamaian, maka makna frase ayat ini yakni “masuklah kamu ke dalam perdamaian dengan musuh dalam segala bentuknya” dan di sisi lain perintah dalam ayat ini bermakna wajib berdasarkan indikasi “dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan” konsekuansi pemahaman ini, perdamaian yang sempurna dengan musuh hukumnya fardhu bagi orang-orang beriman, padahal pemahaman ini jelas bertentangan dengan kejelasan ayat-ayat tentang peperangan (jihad) yang mewajibkan orang-orang beriman untuk memerangi kaum kafir hingga din itu seluruhnya hanya untuk Allah dan hal tersebut terwujud dengan masuk ke dalam Islam, atau membayar jizyah dan tunduk pada hukum-hukum Islam.”

Apa dalilnya? Syaikh ’Atha bin Khalil mendasarkannya pada dalil-dalil ayat: QS. Al-Anfaal: 39 dan QS. At-Tawbah: 29. Dan hadits:

الجهاد ماض إلى يوم القيامة

“Jihad itu akan senantiasa ada hingga hari kiamat kelak” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan Al-Bayhaqi)

Lalu Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah merincinya:

“Dan semuanya mengandung faidah pada abadinya peperangan (jihad) dengan kaum kafir demi meninggikan kalimat Allah dan menundukkan kaum kafir terhadap hukum-hukum Islam, dan hal ini menjelaskan bahwa kata as-silm dalam ayat yang mulia ini bermakna Al-Islam dan bukan perdamaian dengan musuh karena pertentangan makna yang terakhir disebutkan ini (perdamaian) dengan kejelasan ayat-ayat peperangan terhadap musuh, dan ayat yang muhkam merupakan hakim (pemutus) atas ayat yang mutasyabih, maka maknanya telah ditentukan dalam ayat ini yakni al-Islam yakni masuk ke dalam Islam seluruhnya.”

Lebih lanjut Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah pun menuturkan bahwa kata as-silm yang ada dalam ayat Al-Qur’an dengan makna perdamaian, disebutkan dalam dua ayat: pertama, dalam Surat al-Anfal dan yang lainnya dalam Surat Muhammad, dan dengan mengkaji keduanya menjadi jelas kedudukannya ketika kata as-silm bermakna perdamaian.

Pertama, Ayat dalam surat Al-Anfaal [8]: 61:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Kedua, Ayat lainnya yakni pada QS. Muhammad [47]: 35:

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Makna Kaaffah dalam Ayat Ini

Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan:

كافةً حال من (السلم) أي السلم كله بمعنى الإسلام كله. وأصل (كافّة) من اسم الفاعل (كافّ) بمعنى مانع من كفَّ أي منع. فقولك (هذا الشي كافّ) أي مانع لأجزائه من التفرّق، فكأنك قلت مجازًا (هذا الشيء جميعه أو كله) بعلاقة السببية

“Kaaffah adalah keterangan dari lafazh as-silm yakni as-silm keseluruhannya yang artinya al-Islam keseluruhannya. Dan asal-usul kata kaaffah dari ism al-faa’il (kaaffun) artinya yang menghalangi, dari kata kerja kaffa yakni mana’a (mencegah). Maka perkataan anda: “Hal ini kaaffun” yakni yang mencegah untuk dibagi-bagi ke dalam pecahan, maka seakan-akan anda mengatakan secara kiasan (hal ini semuanya atau seluruhnya) dengan hubungan sababiyyah.”

Maka, kian jelas penjelasan Syaikh ‘Atha bin Khalil yang menyimpulkan:

Pertama, frase ayat (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) ”wahai orang-orang yang beriman” merupakan seruan kepada orang-orang yang meninggalkan kekufuran dan memeluk Islam.

Kedua, frase ayat (ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً) “masuklah kalian ke dalam Islam seluruhnya” yakni masuklah ke dalam Islam seluruhnya (totalitas).

Tafsir Syaikh ‘Atha bin Khalil atas Makna Frase “وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ”: Mengambil ‘Ibrah dari Larangan Untuk Mengikuti Langkah-Langkah Syaithan (Paham Sesat Demokrasi, -)

Kajian Lengkap Atas Tafsir Ini: Penjelasan Para Ulama Menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 208

Referensi:

‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah. 1427 H/ 2006. At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cetakan ke-2. Beirut: Dar al-Ummah.

‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah.1421 H. Taysîr al-Wushûl ilâ al- Ushûl. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Ummah.

Info Bahasan dalam Kitab Tafsir Guru Kita, Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah

admin-ajax (1)

Ikhwah fillaah

Diantara penjelasan Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah yang bisa kita temukan dalam kitab tafsir beliau dan bisa kita ambil banyak dari faidahnya adalah bahasan ini:

Sebagian sudah ana sajikan di blog: Majelis Ideologis. Akun fb: Majelis Ilmu Asy-Syaikh 

Penjelasan Para Ulama Atas Perintah Allah Untuk Ber-Islam Totalitas (Kajian Tafsir Syaikh ‘Atha bin Khalil & Lainnya)

50688_180x180

Download File Kajian (PDF): Download Tiga Makalah Halaqah Syahriyyah (Irfan Abu Naveed)

Direct Download: File Makalah Kajian Tafsir PDF

Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah memerintahkan manusia untuk mengamalkan Din-Nya, diin al-Islaam. Berpegangteguh pada buhul tali akidah dan syari’at-Nya. Diantaranya perintah Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Dan tak samar bahwa memahami ayat-ayat al-Qur’an, harus didasari oleh ilmu. Diriwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam al-Tirmidzi dari Jundub bin ‘Abdullah yang berkata: Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ فَقَدْ أَخْطَأَ

Barangsiapa yang mengatakan sesuatu tentang al-Qur’an dengan pendapatnya, meski pendapatnya benar ia tetap salah.(HR. al-Tirmidzi dalam Sunan-nya (juz. 5/ hlm. 200), lihat pula Musnad Abu Ya’la (III/90) dan al-Mu’jam al-Kabiir (II/163)).

Dan Imam al-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Barangsiapa berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu maka bersiap-siaplah mengambil tempatnya di neraka.” (HR. at-Tirmidzi (V/199, 200), dan ia berkata: hadits ini hasan shahih)[1]

Maka dari itu memahami firman Allah yang agung dalam surat al-Baqarah ayat 208 pun wajib dipahami berdasarkan ilmu. Bagaimana kita memahami ayat ini? Para ulama menjelaskan sebagai berikut:

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 208)

Latar Belakang Turunnya Ayat Ini

Ayat yang agung ini turun berkaitan dengan ‘Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya yang baru masuk Islam dari agama sebelumnya, Yahudi. Mereka sudah masuk Islam namun masih mengagungkan dan melaksanakan sebagian syari’at Taurat, maka turunlah ayat ini. Lebih rincinya, para ulama menjelaskan sebagai berikut:

Imam al-Alusi menjelaskan:

أخرج غير واحد عن ابن عباس رضي الله تعالى عنهما أنها نزلت في عبد الله بن سلام وأصحابه ، وذلك أنهم حين آمنوا بالنبي صلى الله عليه وسلم وآمنوا بشرائعه وشرائع موسى عليه السلام فعظموا السبت وكرهوا لحمان الإبل وألبانها بعد ما أسلموا ، فأنكر ذلك عليهم المسلمون ، فقالوا : إنا نقوى على هذا وهذا ، وقالوا للنبي صلى الله عليه وسلم : إن التوراة كتاب الله تعالى فدعنا فلنعمل بها ، فأنزل الله تعالى هذه الآية.

“Dikeluarkan lebih dari satu riwayat dari Ibn ‘Abbas r.a. bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Salam dan para sahabatnya, hal itu karena mereka ketika sudah beriman kepada Nabi SAW dan syari’atnya mereka pun masih beriman pada syari’at-syari’at Musa a.s., maka mereka mengagungkan hari Sabtu, membenci memakan daging unta dan meminum susunya setelah mereka masuk Islam, maka kaum muslimin mengingkari perbuatan mereka itu, mereka berkata: “Sesungguhnya kami masih memelihara amalan ini dan ini,” lalu mereka pun mengadu kepada Nabi SAW: “Sesungguhnya kitab Taurat adalah Kitabullah, maka izinkan kami untuk mengamalkannya” maka turunlah ayat ini.”[2]

Penjelasan hampir serupa dituturkan oleh Imam al-Baghawi yang menjelaskan:

نزلت هذه الآية في مؤمني أهل الكتاب عبد الله بن سلام النضيري وأصحابه، وذلك أنهم كانوا يعظمون السبت ويكرهون لحمان الإبل وألبانها بعد ما أسلموا وقالوا: يا رسول الله إن التوراة كتاب الله فدعنا فلنقم بها في صلاتنا بالليل

“Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman (sebelumnya) dari kalangan ahli kitab (Yahudi) yakni ‘Abdullah bin Salam An-Nadhiriy (Yahudi Bani Nadhiir) dan sahabat-sahabatnya, hal itu karena mereka saat itu masih mengagungkan hari Sabtu dan membenci memakan daging unta dan susunya setelah mereka masuk Islam, mereka berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya Taurat adalah Kitabullah maka izinkan kami membacanya dalam shalat kami ketika malam.”[3]

Penafsiran Para Ulama (Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil & Ulama Lainnya)

Dalam menafsirkan ayat yang agung ini para ulama menjelaskan:

Pertama, frase ayat (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا) ”wahai orang-orang yang beriman” merupakan seruan kepada orang-orang yang meninggalkan kekufuran dan memeluk Islam. Sebagaimana dijelaskan al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah dalam kitab tafsirnya.[4]

Kedua, frase ayat (ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً) “masuklah kalian ke dalam Islam seluruhnya” yakni masuklah ke dalam Islam seluruhnya (totalitas). Hal ini dipahami dari penjelasan sebagai berikut:

Makna Kata As-Silm dalam Ayat Ini

Apa makna kata as-silm (السِّلْمِ) dalam ayat ini? al-Hafizh al-Qurthubi menukil pendapat Ibn ‘Abbas dan Mujahid bahwa kata as-silm dalam ayat ini bermakna Al-Islam, begitu pula Adh-Dhahhak, Ikrimah, Qatadah, Ibn Qutaybah, as-Saddiy dan az-Zujaaj[5]. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh al-Hafizh ath-Thabari, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh al-Qurthubi.[6] Dan diadopsi pula oleh Imam Syihabuddin al-Alusi.

Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil pun menuturkan:

فـ (السِّلْمِ) هنا الإسلام كما فسره ابن عباس -رضي الله عنه- والمقصود من الإسلام كله أي الإيمان به كله دون استثناء والعمل بشرعه دون غيره

“Maka kata as-silm dalam ayat ini adalah al-Islam, sebagaimana ditafsirkan oleh Ibn ‘Abbas r.a. dan maksudnya adalah keseluruhan ajaran Al-Islam yakni beriman terhadapnya tanpa pengecualiaan dan mengamalkan seluruh syari’atnya tanpa yang lainnya.”[7]

Yakni berakidah dengan akidah islamiyyah secara sempurna tanpa terkecuali dan mengamalkan syari’at islam tanpa syari’at lainnya. Maka ayat ini jelas menolak konsep sekularisme yang memisahkan atau mengenyampingkan peran agama dalam mengatur kehidupan, sebagaimana didefinisikan al-‘Allamah Taqiyuddin an-Nabhani ketika beliau mengkritik pemahaman sesat ini, sekularisme (al-‘ilmaaniyyah) yakni:

فصل الدين عن الحياة

“Pemisahan agama dari kehidupan”[8]

Imam al-Alusi menuturkan:

والمراد من السلم جميع الشرائع بذكر الخاص وإرادة العام بناءاً على القول بأن الإسلام شريعة نبينا صلى الله عليه وسلم

“Dan maksud dari kata as-silm mencakup seluruh syari’at Islam dengan penyebutan yang khusus namun maksudnya umum berdasarkan pendapat bahwa al-Islam adalah syari’at Nabi kita Muhammad SAW.”

Dalam syair al-Kindi dituturkan:

دَعَوْتُ عَشِيرَتِي للِسِّلم لَمّا … رَأيْتُهمُ تَوَلَّوا مُدْبِرين

Makna lis-silm dalam syair di atas yakni “kepada al-Islam”, ini dijelaskan al-Hafizh ath-Thabari dan Imam asy-Syawkani. Jadi sudah jelas bahwa kata as-silm dalam ayat ini bermakna Islam.

Perincian Tafsir Syaikh ’Atha bin Khalil: Makna As-Silm dalam Ayat Ini Bukan Perdamaian dengan Musuh

Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil lebih jelasnya menuturkan: “Tidak sah menafsirkan kata as-silm pada ayat yang mulia ini dengan makna perdamaian dengan musuh, hal itu karena kata as-silm (secara bahasa) disebutkan bermakna islam dan perdamaian, yang berarti bahwa kata ini (secara bahasa-pen.) memiliki lebih dari satu makna, maka ia termasuk lafzh musytarak (satu kata banyak makna) yakni termasuk mutasyabih (samar), dan memilih salah satu dari dua makna inilah yang dikehendaki, dipahami berdasarkan indikasi-indikasi yang berkaitan dengan maknanya dalam ayat-ayat yang muhkamah (jelas). Maka apabila kata as-silm dalam ayat ini dimaknai perdamaian, maka makna frase ayat ini yakni “masuklah kamu ke dalam perdamaian dengan musuh dalam segala bentuknya” dan di sisi lain perintah dalam ayat ini bermakna wajib berdasarkan indikasi “dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithankonsekuansi pemahaman ini, perdamaian yang sempurna dengan musuh hukumnya fardhu bagi orang-orang beriman, padahalpemahaman ini jelas bertentangan dengan kejelasan ayat-ayat tentang peperangan (jihad) yang mewajibkan orang-orang beriman untuk memerangi kaum kafir hingga din itu seluruhnya hanya untuk Allah dan hal tersebut terwujud dengan masuk ke dalam Islam, atau membayar jizyah dan tunduk pada hukum-hukum Islam.[9]

Apa dalilnya? Syaikh ’Atha bin Khalil mendasarkannya pada dalil-dalil ayat: QS. Al-Anfaal: 39 dan QS. At-Tawbah: 29. Dan hadits:

الجهاد ماض إلى يوم القيامة

“Jihad itu akan senantiasa ada hingga hari kiamat kelak” (HR. Al-Bukhari, Abu Dawud dan Al-Bayhaqi)

Lalu asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil merincinya: “Dan semuanya mengandung faidah pada abadinya peperangan (jihad) dengan kaum kafir demi meninggikan kalimat Allah dan menundukkan kaum kafir terhadap hukum-hukum Islam, dan hal ini menjelaskan bahwa kata as-silm dalam ayat yang mulia ini bermakna Al-Islam dan bukan perdamaian dengan musuh karena pertentangan makna yang terakhir disebutkan ini (perdamaian) dengan kejelasan ayat-ayat peperangan terhadap musuh, dan ayat yang muhkam merupakan hakim (pemutus) atas ayat yang mutasyabih, maka maknanya telah ditentukan dalam ayat ini yakni al-Islam yakni masuk ke dalam Islam seluruhnya.”

Lebih lanjut Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menuturkan bahwa kata as-silm yang ada dalam ayat Al-Qur’an dengan makna perdamaian, disebutkan dalam dua ayat: pertama, dalam surat al-Anfal dan yang lainnya dalam surat Muhammad, dan dengan mengkaji keduanya menjadi jelas kedudukannya ketika kata as-silm bermakna perdamaian.

Pertama, Ayat dalam surat Al-Anfaal [8]: 61:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Kedua, Ayat lainnya yakni pada QS. Muhammad [47]: 35:

فَلَا تَهِنُوا وَتَدْعُوا إِلَى السَّلْمِ وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ وَاللَّهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَتِرَكُمْ أَعْمَالَكُمْ

Makna Kata Kaaffah dalam Ayat Ini

Lalu apa makna kaaffah (كافّة) dalam ayat yang mulia ini? Diantaranya Ibn ‘Abbas, Qatadah, Adh-Dhahhak dan Mujahid sebagaimana penuturan Al-Hafizh Abu Ja’far Ath-Thabari bermakna jamii’an (جميعًا) yakni keseluruhan. Maka sangat mengena apa yang dituturkan oleh Imam Mujahid –rahimahullaah- yakni:

ادخلوا في الإسلام جميعًا

“Masuklah kalian ke dalam Islam seluruhnya.”[10]

Lebih lengkapnya, Al-’Alim asy-Syaikh ’Atha bin Khalil menjelaskan:

كافةً) حال من (السلم) أي السلم كله بمعنى الإسلام كله. وأصل (كافّة) من اسم الفاعل (كافّ) بمعنى مانع من كفَّ أي منع. فقولك (هذا الشي كافّ) أي مانع لأجزائه من التفرّق، فكأنك قلت مجازًا (هذا الشيء جميعه أو كله) بعلاقة السببية

Kaaffah adalah keterangan dari lafazh as-silm yakni as-silm keseluruhannya yang artinya al-Islam keseluruhannya. Dan asal-usul kata kaaffah dari ism al-faa’il (kaaffun) artinya yang menghalangi, dari kata kerja kaffa yakni mana’a (mencegah). Maka perkataan anda: “Hal ini kaaffun” yakni yang mencegah untuk dibagi-bagi ke dalam pecahan, maka seakan-akan anda mengatakan secara kiasan (hal ini semuanya atau seluruhnya) dengan hubungan sababiyyah.”[11]

Al-Hafizh al-Qurthubi menjelaskan:

و ( كَافَّةً ) معناه جميعاً ، فهو نصب على الحال من السِّلم أو من ضمير المؤمنين؛ وهو مشتق من قولهم : كففت أي منعت ، أي لا يمتنع منكم أحد من الدخول في الإسلام

“Dan kata kaaffah artinya adalah keseluruhan, ia dibaca nashab sebagai kata keterangan dari kata as-silmi atau dari kata ganti kata al-mu’miniin; yakni turunan dari perkataan mereka: كففت yakni terhalang, yakni tidak boleh ada seorangpun di antara kalian yang terhalang dari upaya memasuki Al-Islam.”[12]

Imam al-Alusi mengatakan:

وكافة في الأصل صفة من كف بمعنى منع ، استعمل بمعنى الجملة بعلاقة أنها مانعة للأجزاء عن التفرق والتاء فيه للتأنيث أو النقل من الوصفية إلى الإسمية كعامة وخاصة وقاطبة ، أو للمبالغة

“Dan kata kaaffah pada asalnya adalah sifat dari kata kerja kaffa yang artinya menghalangi, penggunaan dengan makna kalimat ini dengan keterkaitan bahwa ia adalah yang menghalangi untuk dibagi-bagi dalam pembagian, dan tambahan huruf taa’ di dalamnya untuk ta’niits (mu’annats) atau mengubahnya dari kata sifat menjadi kata benda seperti kata ‘aamat[un], khaashat[un] dan qaathibat[un], atau sebagai superlatif (penguatan).”[13]

Makna Frase Ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan

Menafsirkan frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan”, para ulama menjelaskan bahwa frase ayat ini mengandung larangan tegas dan informasi pasti tentang musuh yang nyata bagi kaum muslimin yakni syaithan. Dan al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil menjelaskan bahwa frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” merupakan indikasi (qariinah) wajibnya perintah Allah dalam ayat yang agung ini untuk berislam secara totalitas. Beliau menyatakan:

والأمر للوجوب بقرينة (وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Dan perintah dalam ayat ini merupakan kewajiban berdasarkan indikasi (“dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan”)”

Al-Hafizh Abu Ja’far Ath-Thabari menegaskan:

اعملوا أيها المؤمنون بشرائع الإسلام كلها، وادخلوا في التصديق به قولا وعملا ودعوا طرائق الشيطان وآثاره أن تتبعوها فإنه لكم عدو مبين لكم عداوته. وطريقُ الشيطان الذي نهاهم أن يتبعوه هو ما خالف حكم الإسلام وشرائعه، ومنه تسبيت السبت وسائر سنن أهل الملل التي تخالف ملة الإسلام

“Laksanakanlah aturan-aturan syari’at Islam seluruhnya, dan masuklah ke dalam pembenaran atasnya baik perkataan maupun perbuatan dan tinggalkanlah jalan-jalan syaithan dan pengaruhnya untuk mengikuti jalan-jalannya karena sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian dengan permusuhannya. Dan jalan syaithan yang dilarang Allah untuk mereka ikuti adalah yang menyelisihi hukum Islam dan aturan-aturannya, di antaranya mengagungkan hari Sabtu dan seluruh ajaran-ajaran pengikut agama lain yang bertentangan dengan ajaran Islam.”

Al-Hafizh al-Qurthubi memaparkan bahwa frase ayat “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” merupakan larangan, ini sudah sangat jelas. Beliau pun menguraikan:

وقال مقاتل : استأذن عبد الله بن سَلاَم وأصحابه بأن يقرءوا التوراة في الصلاة ، وأن يعملوا ببعض ما في التوراة؛ فنزلت { وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشيطان } فإن اتباع السُّنّة أولى بعد ما بُعث محمد صلى الله عليه وسلم من خطوات الشيطان . وقيل : لا تسلكوا الطريق الذي يدعوكم إليه الشيطان؛ { إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ } ظاهر العداوة؛ وقد تقدّم

“Muqatil berkata: ‘Abdullah bin Salam dan sahabat-sahabatnya meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk membaca sebagian isi Taurat dalam shalat dan mengamalkan sebagian syari’at Taurat; maka turunlah ayat ini: “dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syaithan” karena mengikuti jalan Sunnah jelas selamat setelah diutusnya Muhammad SAW daripada mengikuti langkah-langkah syaithan (yang pasti celaka). Dikatakan pula yakni: janganlah kalian menempuh jalan yang diserukan syaithan pada kalian.[14] (Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagi kalian) yang menampakkan permusuhan; telah dijelaskan pula sebelumnya.”[15]

Lihat:

Mengambil ‘Ibrah dari Larangan Untuk Mengikuti Langkah-Langkah Syaithan (Paham Sesat Demokrasi, -)

Islam Mengecam Segala Bentuk Perbuatan Mengikuti Iblis dan Syaithan


[1] Syaikh Dr. Mahmud ath-Thahhan menjelaskan perkataan Imam at-Tirmidzi ” حديث حسن صحيح”, lihat lengkapnya: Makna Ungkapan Imam At-Tirmidzi “Hadits Ini Hasan Shahih”

[2] Lihat: Ruuh Al-Ma’aaniy fii Tafsiir Al-Qur’aan Al-‘Azhiim

[3] Lihat: Ma’aalim At-Tanziil

[4] Lihat: At-Taysiir fii Ushuul At-Tafsiir, Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah.

[5] Lihat: Zaad Al-Muyassar, Imam Ibn Al-Jawziy.

[6] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam Al-Qur’aan.

[7] Lihat: Al-Taysîr fî Ushûl Al-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah), Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah, Beirut: Dar al-Ummah. Cet. II: 1427 H/ 2006.

[8] Lihat: Nizhaam Al-Islaam, al-‘Allamah asy-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani

[9] Ibid.

[10] Lihat: Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil Al-Qur’aan, Al-Hafizh Abu Ja’far Ath-Thabari.

[11] Lihat: At-Taysiir fii Ushuul At-Tafsiir, Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah. Lebih lanjut beliau menjelaskan:

ثم ألحقت (التاء) باسم الفاعل لنقله من الفاعلية من (كفّ) إلى اسم (كافّة) بمعنى الكل والجميع

[12] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam Al-Qur’aan, al-Hafizh al-Qurthubi. Lihat pula penjelasan dalam  tafsir Fat-h al-Qadiir karya Imam asy-Syawkani. Lalu beliau pun menjelaskan lebih jauh:

والكفّ المنع؛ ومنه كُفَّة القميص بالضم لأنها تمنع الثوب من الانتشار؛ ومنه كِفَّة الميزان بالكسر التي تجمع الموزون وتمنعه أن ينتشر؛ ومنه كفُّ الإنسان الذي يجمع منافعه ومضارّه؛ وكل مستدير كفّة ، وكل مستطيل كُفّة

[13] Lihat: Ruuh Al-Ma’aaniy

[14] Pernyataan serupa dituturkan Imam asy-Syawkani dalam kitab tafsir-nya, Fat-h al-Qadiir.

[15] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam al-Qur’aan, al-Hafizh al-Qurthubi.

Nasihat Syaikh ‘Atha bin Khalil Untuk Memisahkan Antara Haq & Batil Umum Mencakup Menjauhi Simbol Satanic

Picture1

Ini saran dan nasihat saya kepada rekan fb -siapapun ia- yang mengedit dan mengupload gambar-gambar dari kartun Naruto, terlebih jika ybs merasa atau mengesankan diri sebagai aktivis dakwah (dari gambar dan statusnya).

Dari tela’ah saya selama ini, kartun ini banyak memuat icon-icon dan simbol-simbol-simbol satanic. Artinya jelas mengandung simbol-simbol yang lahir dari akidah kufur. Dan haram hukumnya bagi kaum muslimin untuk menyebarkan atau mempromosikan simbol-simbol satanic, dan jauhi pula mengedit-edit gambar ini terus ditambah-tambahi dengan icon-icon islami sehingga seakan-akan sudah mencitrakannya islami, padahal kartun ini banyak menyebarkan simbol-simbol khas satanism.

Saya menela’ahnya sebagaimana dituturkan syair:

عرفت الشرّ لا للشرّ لكن لتوقيّه
ومن لا يعرف الشرّ من النّاس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan tuk melakukan keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”
“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”

(Lihat: Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Aayât al-Ahkâm), Syaikh Prof. ‘Ali ‘Ashabuniy (Juz. I))

Nasihat Guru Kita, Al-‘Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Memisahkan yang Haq dan Bathil

Al-Islam menuntut kita furqaan, menurut para ulama’ diantaranya Al-Hafizh Ath-Thabari (2/70), makna furqan adalah:

الفصل بين الحق والباطل

“Pemisah antara yang haq & yang bathil”.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 42)

Menafsirkan ayat ini, Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil -rahimahullaah- menjelaskan:

أي لا تخلطوا الحق بالباطل، فالباء للإلصاق وبذلك فالآية تنهى عن أمرين: خلط الحق بالباطل وكتمان الحق وهم يعلمون؛ فإن خلط الحق بالباطل تضليل، وكتمان الحق إخفاء له وتضييع له وكلاهما من الكبائر في دين الله

“Yakni janganlah kalian mencampurkan antara kebenaran dengan kebatilan, dan huruf ba’ (dalam ayat ini) untuk menunjukkan pencampuran. Maka ayat ini mengandung dua larangan: Pertama, mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Kedua, menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya; maka perbuatan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan merupakan penyesatan, dan menyembunyikan kebenaran yakni menyembunyikannya dan menghilangkannya, maka kedua perbuatan tersebut merupakan dosa besar dalam Din Allah.” (Lihat: At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah al-Baqarah), Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Rusythah – Dar al-Ummah: Beirut. Cet. II: 1427 H/ 2006)

Nasihat al-Qur’an di atas, dan penjelasan guru kita, Asy-Syaikh ‘Atha Abu Rasythah merupakan pesan dan nasihat berharga untuk memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.

Yang penulis pahami, ketika kita memahami bahwa simbol-simbol tersebut mengandung hadharah atau dilandasi oleh paham kufur, maka mengadopsinya, memakainya (untuk dijadikan foto profil fb dakwah misalnya) merupakan keharaman yang wajib dijauhi oleh seorang yang mengaku muslim, di sisi lain Allah telah memerintahkan kita untuk memisahkan antara yang haq dan batil.

Wallaahu A’lam Bish-Shawaab