Menghadapi Tantangan Dakwah Kontemporer [Download Makalah]

0up13069549701

Mukadimah

 الحمدلله القائل:  كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله وأصحابه أجمعين ومن دعا إلى الله بدعوته ومن تمسك بسنته ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين

Dakwah merupakan poros hidup para Nabi dan Rasul, ia adalah jalan mulia yang memuliakan para pengembannya dan menghinakan para penentangnya, hal itu terukir dalam kisah agung perjalanan dakwah para utusan Allah –’alayhim as-salâm-. Prof. Dr. Ahmad Ahmad Ghulusy, Dekan Fakultas Dakwah Al-Asbaq, menuturkan[1]: “Sesungguhnya amal yang paling mulia dan paling luhur adalah dakwah kepada Allah, di dalamnya terkandung keagungan dari apa yang disampaikan, keagungan wasilah, kemuliaan amal perbuatan, dan keluhuran tujuan.” Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33)

Namun, dakwah tentu akan dihadapkan dengan beragam tantangan, dimana tantangan ini bisa menjadi batu ganjalan yang menghambat keberhasilan dakwah, maka memahaminya menjadi hal yang urgen, terutama bagi para da’i di zaman ini yang menghadapi beragam invasi pemikiran dan tsaqafah batil yang dihembuskan oleh kaum kuffar dan munafiqin yang menjadi perpanjangan lisan Iblis dan sekutunya dari golongan jin. Tipu daya mereka penting untuk dipahami sebagaimana dituturkan untaian sya’ir:

عرفت الشرّ لا للشرّ        لكن لتوقيّه

ومن لا يعرف الشرّ      من النّاس يقع فيه

“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”

“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”[2]

Dan dikatakan kepada Umar bin al-Khaththab -radhiyaLlaahu ‘anhu- bahwa seseorang tidak mengetahui sesuatu yang buruk, lalu Umar berkata:

أحذر أن يقع فيه

“Peringatkan ia atas ketergelinciran terhadapnya (agar tak terjerumus pada keburukan-pen.).” [3]

Tantangan itu sendiri dalam KBBI Online didefinisikan sebagai: hal atau objek yg perlu ditanggulangi. Yakni ditanggulangi agar ia tak menjadi hambatan yang menjegal keberhasilan dakwah. Banyak tantangan yang kita hadapi di jalan dakwah, namun di antara tantangan yang paling berbahaya adalah rendahnya tingkat pemahaman dan lemahnya konsistensi kaum muslimin terhadap Islam (internal). Di sisi lain, kita pun dihadapkan dengan tantangan eksternal dari kaum kuffâr dan munâfiqîn yang memusuhi Islam dan kaum muslimin dengan senjata invasi pemikiran maupun tsaqafah (ghazw al-fikr wa ats-tsaqâfiy). Benar apa yang disampaikan Syaikh Abu Sayf Khalil al-‘Abidi al-‘Iraqi: “Sungguh pada akhir abad ke-19, khususnya paska runtuhnya Daulah ’Utsmaniyyah, umat islam diserbu pemahaman-pemahaman sesat dan keyakinan-keyakinan batil yang menyusup ke dalam Din kita yang lurus, menyelisihi dan menyerang akidah islam dari segala arah dan sisi.” [4]

Bi FadhliLlaahi Ta’aalaa, Makalah Selesai di Susun:

Sukabumi, 24 Juni 2014
Maktab Kulliyyatusy-Syari’ah – Jami’atur-Raayah
Irfan Abu Naveed

Catatan Kaki

[1] Lihat: Prof. Dr. Ahmad Ahmad Ghulusy. Silsilatu Târîkh ad-Da’wah ilâ Allâh Ta’âlâ: Da’watur Rusuul ‘Alayhim as-Salâm. Hlm. 5.

[2] Lihat: Prof. Dr. Muhammad Ali ash-Shabuni. Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Âyât al-Ahkâm).  Juz. I, Hlm. 76.

[3] Ibid.

[4] Lihat: Abu Sayf Jalil ibn Ibrahim al-‘Abidiy al-‘Iraqi. Ad-Dîmuqrâthiyyah wa Akhawâtuhâ.

Laman Download Makalah [Klik Link]:

Cover

Pembahasan

Daftar Pustaka

Pengantar Memahami Balaghah & Makna Kata dalam QS. Âli Imrân [3]: 104

Mukadimah

A-Qur’an al-Karim merupakan kalam Ilahi yang mengandung samudera ilmu dan petunjuk. Setiap upaya keras untuk memahaminya dengan membacanya, mempelajarinya dan mentadaburinya merupakan bagian dari upaya meniti jalan petunjuk, bagaimana bisa diamalkan jika paham saja tidak? Karena petunjuk tersebut merupakan cahaya dalam kegelapan yang mesti disingkap dari segala tabir, sehingga cahayanya menerangi jalan kita dalam kegelapan, terlebih di zaman jahiliyyah saat ini ketika kejahilan merajalela. Allâh al-Musta’ân.

Salah satunya memahami firman Allah QS. Âli Imrân ayat 104. Allah SWT berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

 “Dan haruslah ada di antara kamu jama’ah yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)

 

Pasal I

Kandungan Balaghah dalam Ayat Ini

Ada sebuah pernyataan menarik yang hingga saat ini terus memotivasi penyusun untuk mendalami al-Qur’an. Penyusun pernah berdialog dengan salah seorang Syaikh dari Mesir, beliau adalah dosen tafsir dan bahasa arab di tempat kami berkhidmat[1]. Dalam diskusi mengenai tafsir dan balaghah ayat-ayat al-Qur’an, ia mengungkapkan kalimat yang menjadi motivasi bagi penyusun untuk terus mengkaji dan mendalami samudera hikmah dalam ayat-ayat al-Qur’an, ia menuturkan:

لِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ حُرُوْفِ القُرْآنِ فِيْهِ أَسْرَارٌ

“Setiap huruf dari huruf-huruf al-Qur’an mengandung berbagai rahasia (kandungan makna).”

Dan salah satu upaya memahami keagungan ayat al-Qur’an adalah dengan menyingkap kandungan balaghah dalam ayat-ayat al-Qur’an. Dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, setidaknya bisa kita ulas sebagai berikut:

Pertama, thibâq as-salbi (طباق السلب)[2] dalam kalimat (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ)[3], yakni terkumpulnya dua kata dan dua kalimat yang berkebalikan[4] (dalam satu ayat); antara menyuruh dan melarang, antara yang ma’ruf dan yang mungkar yakni menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran dalam satu ayat.[5]

Kedua, dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm (ذكر الخاص بعد العام), yakni menyebutkan perbuatan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran (وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ) setelah menyebutkan kata al-khayr (yakni al-Islam), dimana al-khayr ini umum dan menyuruh kepada yang ma’ruf    dan melarang dari kemungkaran adalah khusus bagian dari keumuman al-khayr dalam ayat tersebut. Dalam ilmu balaghah, ini menunjukkan keutamaan yang khusus (لإبراز أهميته)[6], penekanan atas pentingnya kedudukan perkara yang khusus tersebut (للتنبيه على فضل الخاص)[7] atau dengan kata lain ayat ini menunjukkan keutamaan menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar atas segala bentuk kebaikan (لإظهار فضلهما على سائر الخيرات)[8].[9]

Ketiga, qashr ash-shifati ‘alâ al-mawshûf (قصر الصفة على الموصوف)[10] dalam kalimat (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ), yakni mensifati mereka yang diseru dalam ayat ini dengan sifat yang ringkas, padat namun bermakna mendalam yakni dengan predikat al-muflihûn. [11] Dalam kalimat ini, seakan dihilangkan sifat yang disebutkan sebelumnya setelah kata (أُولَٰئِكَ) yakni diringkas dalam kata (الْمُفْلِحُونَ).[12] Dan tentang ini akan penyusun jelaskan kemudian.

Pasal II

Penjelasan Sebagian Kata & Frase dalam Ayat

Pertama, Frase (لتَكُنْ) yang diterjemahkan “hendaklah ada” termasuk ke dalam shiyag al-amr (shighat bermakna perintah). Yakni kata lâm al-amr di depan kata kerja al-mudhâri’ (kata kerja yang sedang atau akan dilakukan) yakni lâm al-amr di depan kata yakûnu.[13]

Para ulama ushul fikih, di antaranya Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami as-Salmi dan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menjelaskan di antara bentuk perintah adalah:

الفعل المضارع المقترن بلام الأمر (ليفعل

“Kata kerja al-mudhaari’ yang disertai lâm al-amr (liyaf’al).”[14]

Maka jelas bahwa ayat ini mengandung perintah dari Allah. Lalu apakah tuntutan melaksanakan perintah tersebut wajib atau sunnah, itu tergantung petunjuk-petunjuk (qarâ’in) yang menyertainya[15].

Perintah Allah dalam ayat yang agung ini mengandung indikasi wajib. Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil ketika menjelaskan indikasi-indikasi yang menunjukkan tuntutan pasti (qarînah jâzimah) diantaranya:

ما كان فيها بيان لأمر حكمه الوجوب أو موضوعه فرض أو مدلوله حراسة للإسلام

“Jika didalamnya terkandung penjelasan atas suatu perintah bahwa hukumnya wajib, topiknya fardhu atau konteksnya menunjukkan penjagaan terhadap Islam.” (Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah, hlm. 22)

Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menukil ayat ini sebagai salah satu contohnya. Al-‘Allamah Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur pun menjelaskan bahwa ia adalah shighat (perintah) wajib yang dita’kid (diperkuat) oleh banyak dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah lainnya atas kewajiban menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar (Tafsîr at-Tanwîr wa at-Tahrîr, juz. IV/ hlm. 37), misalnya QS. Âli Imrân [3]: 110, QS. Al-‘Ashr [103]: 3, dll., dan dalil-dalil as-sunnah. Al-Hafizh an-Nawawi pun menuliskan satu bab khusus (الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر) dalam kitabnya, Riyaadh ash-Shaalihiin.

Kedua, Frase (أُمَّةٌ) dalam ayat ini mengandung konotasi yakni jama’ah. Kata ummah itu sendiri termasuk satu kata yang mengandung lebih dari satu makna (lafzh musytarak)[16] yakni berserikat di dalamnya lebih dari satu makna[17]. Lafazh musytarak, sebagaimana diungkapkan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji yakni:

ما وضع لأكثر من معنى ولا يتعين المراد منه إلا بقرينه

“Lafazh yang mengandung lebih dari satu makna dan maksudnya tidak bisa ditentukan kecuali berdasarkan suatu petunjuk/ indikasi.”[18]

Lalu apa makna umat sebagai lafazh musytarak? Ketika menjelaskan kata ummah dalam QS. Âli Imrân [3]: 104 ini, Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi menuturkan:

كلمة (أمة): الجماعة/ الملة أو الدين/ الفترة الزمنية/ الرجل الجامع لصفات الخير

“Kata (ummah) bermakna jama’ah, millah atau din, jangka waktu tertentu, atau seseorang yang terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan.”[19]

Imam Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad atau yang masyhur dikenal dengan nama ar-Raghib al-Ashfahani mendefinisikan kata ummah:

والأمة: كل جماعة يجمعهم أمر ما إما دين واحد، أو زمان واحد، أو مكان واحد

Ummah: setiap golongan yang disatukan oleh suatu hal apakah din yang satu, masa yang satu atau tempat yang satu.”[20]

Para ulama pun merinci makna kata ummah ini, di antaranya Imam Ibn Haim dalam kitab At-Tibyân fî Tafsîr Gharîb al-Qur’ân[21] dan Syaikhul Ushul al-‘Alim ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasythah dalam kitab tafsirnya. Syaikh ‘Atha bin Khalil ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 134 menuturkan bahwa kata (أمة) adalah lafazh musytarak dengan perincian pemisalan:

Pertama, bermakna seseorang jika ia menjadi teladan dalam kebaikan, memiliki kedudukan (تطلق على الواحد إذا كان يقتدي به في الخير وله شأن) atau terkumpul padanya sifat-sifat kebaikan[22], misalnya dalam QS. An-Nahl [16]: 120:

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Kedua, bermakna din dan millah (تطلق على الدين والملة), misalnya dalam QS. Az-Zukhruf [43]: 23:

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ

Ketiga, bermakna tempo waktu (تطلق على المدة الزمنية), misalnya dalam QS. Yûsuf [12]: 45:

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

Keempat, bermakna jama’ah (تطلق على جماعة من الناس), misalnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 134,  QS. Âli Imrân [3]: 104, dan QS. Al-A’râf [7]: 159.

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Ketika menjelaskan ayat ini, Syaikh ‘Atha bin Khalil mengungkapkan:

والقرينة هي التي تبين المعنى، وهي هنا بمعنى جماعة من الناس لأنها تتكلم عن إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب وبنيه وعمن آمنوا بهم واتبعوهم

“Dan keberadaan indikasi petunjuklah yang memperjelas maknanya[23], dan kata umat dalam ayat ini bermakna segolongan dari manusia, karena ayat ini berbicara mengenai Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, kaumnya, dan siapa saja yang mengimani dan mengikuti mereka.”

Adapun kata umat dalam QS. Âli Imrân [3]: 104, Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menegaskan bahwa ia bermakna jama’ah,[24] pemaknaan ini sejalan dengan apa yang dijelaskan oleh al-Hafizh ath-Thabari, Imam Ibn Mundzir (w. 318 H)[25], Imam ar-Raghib al-Ashfahani dan al-‘Allamah Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur[26].

Imam ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan:

وقوله: }ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير{ أي: جماعة يتخيرون العلم والعمل الصالح يكونون أسوة لغيرهم

“Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khayr) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang mencintai ilmu dan amal shalih dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.”[27]

Salah satu murid Imam Sibawayh, Imam al-Akhfasy al-Awsath[28] (w. 210 H) menuturkan bahwa kata ummah dalam ayat ini lafazh tunggal yang maknanya jamak, oleh karena itu Allah berfirman (يدعون إلى الخير) “mereka yang menyeru kepada al-khayr”.[29]

Catatan Kaki

[1] Kulliyyatusy-Syarî’ah wad-Dirâsât al-Islâmiyyah STIBA Ar-Râyah Sukabumi, Jawa Barat.

[2] Prof. Dr. Wahbah Zuhayli menamakannya طباق مقابلة

[3] At-Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wa asy-Syarî’ah wa al-Manhaj, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhayli, juz. IV/ hlm. 353.

[4] Dalam bahasan ilmu badî’, kitab al-Balâghah al-Wâdhihah, hlm. 281, Mushthafa Amin mendefinisikan ath-thibâq (الطباق):

الطباق: الجمع بين الشيء وضده في الكلام.

[5] Ibid. Lihat pula penjelasan dalam Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Mahmud Shafi, juz. IV/ hlm. 267.

[6] Lihat penjelasan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil mengenai faidah dari dzikr al-khâsh ba’da al-‘âm dalam at-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, hlm. 43.

[7] Al-Balâghah wa an-Naqd.

[8] Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Mahmud Shafi, juz. IV/ hlm. 266-267.

[9] Lihat pula penjelasan dalam catatan kaki kitab Tafsîr al-Kasyf fî Haqâ’iq at-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh at-Ta’wîl karya Imam Abu al-Qasim Jarullah Mahmud bin Umar az-Zamakhsyari yang di-ta’liq oleh Khalil Ma’mun, hlm. 187.

[10] Ini termasuk bahasan ilmu ma’ani dalam ilmu balaghah, dalam kitab Bughiyyatul Îdhâh li Talkhîsh al-Miftâh fî ‘Ilm al-Balâghah, Abdul Muta’al ash-Shab’idi, juz. II/ hlm. 3:

قصر الصفة على الموصوف هو ما لا تتجاوز فيه الصفة موصوفها

[11] Ibid.

[12] Balâghatul Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Bahjat Abdul Wahid asy-Syaikhali, jilid II/ hlm. 140.

[13] Balâghatul Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Bahjat Abdul Wahid asy-Syaikhali, jilid II/ hlm. 139. I’rabnya:

اللام لام الأمر تكن: فعل مضارع ناقص مجزوم بلام الأمر وعلامة جزمه سكون آخره وحذفت واوه – أصله: تكون.

Lihat pula kitab Al-Jadwal fî I’râb al-Qur’ân wa Sharfuhu wa Bayânuhu Ma’a Fawâ’id Nahwiyyah Hâmmah, Mahmud Shafi, juz. IV/ hlm. 265, dengan I’rab:

الإعراب: (الواو) عاطفة -أو استئنافية- (اللام) لام الأمر (تكن) مضارع ناقص مجزوم -أو تام-

[14] Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah, hlm. 182. Lihat pula penjelasan Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami al-Salmi dalam kitab Ushuul al-Fiqh Alladzî Lâ Yasa’u al-Faqîh Jahluhu, hlm. 220.

[15] Tentang ini bisa ditela’ah dari penjelasan para ulama ushul, salah satunya penjelasan Syaikh ‘Atha bin Khalil dalam kitab ushul fikihnya:  Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl.

[16] Mu’jam al-Alfâzh al-Musytarakah fî al-Lughah al-‘Arabiyyah,  Abdul Halim Muhammad Qunabis, hlm. 18.

[17] Dalam kitab Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’ dijelaskan bahwa Al-Musytarak itu adalah isim maf’ul berasal dari kata isytaraka fil amr (berserikat dalam suatu hal): yakni menjadi bagian darinya.

[18] Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji.

[19] Tafsîr asy-Sya’rawi, Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi, jilid III/ hlm. 1663. Beliau pun merinci lebih jauh makna-makna kata ummah.

[20] Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân. Ar-Raghib al-Ashfahani. Juz. I/ Hlm.  28.

[21] Lihat pada halaman 93, 96 dan 188.

[22] Kalimat terakhir ini dijelaskan oleh Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam kitab tafsirnya.

[23] Ini sejalan dengan penjelasan Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji ketika mendefinisikan kata lafzh musytarak.

[24] At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, Hlm. 157.

[25] Kitâb Tafsîr al-Qur’ân, Imam Ibn Mundzir, juz. I/ hlm. 324.

[26] Tafsîr at-Tanwîr wa at-Tahrîr, al-‘Allamah Muhammad ath-Thahir bin ‘Asyur, juz. IV/ hlm. 37.

[27] Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Imam Ar-Raghib al-Ashfahani, juz. I/ hlm.  28.

[28] Yakni Abu al-Hasan Sa’id bin Mas’adah.

[29] Ma’ânii al-Qur’ân, Imam al-Akhfasy al-Awsath, juz. I/ hlm. 228,

Da’i yang Menyeru Kepada Petunjuk atau Kesesatan?

Dakwah merupakan poros hidup para Nabi dan Rasul, ia adalah jalan mulia yang memuliakan orang-orang mengembannya dan menghinakan para penentangnya, hal itu terukir dalam kisah agung perjalanan dakwah para utusan Allah –’alayhim as-salaam-. Prof. Dr. Ahmad Ahmad Ghulusy, Dekan Fakultas Dakwah Al-Asbaq, menuturkan[1]: “Sesungguhnya amal yang paling mulia dan paling luhur adalah dakwah kepada Allah, di dalamnya terkandung keagungan dari apa yang disampaikan, kebesaran wasilah, kemuliaan amal perbuatan, dan keluhuran tujuan.” Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33).

Prof. Dr. Ahmad pun menegaskan bahwa Allah telah memberikan kekhususan bagi para Rasul-Nya yang mulia untuk memulai amal mulia ini, dan mentaklif mereka dengannya dan mengutus mereka dengan membawa wahyu dari-Nya untuk mereka sampaikan kepada umat manusia[2]:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 165)

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maa’idah [5]: 67)

Dengan perantaraan dakwah, Islam –bi fadhlillaahi ta’aalaa- tersebar ke seluruh penjuru dunia dari Timur ke Barat, dari Utara ke Selatan. Bisa dibayangkan jika seandainya tiada wasilah dakwah, maka Islam tidak akan hadir di tengah-tengah kita saat ini. Dari Mekkah-Madinah sampai ke Nusantara. Hal itu karena objek dakwah mencakup mereka yang masih dalam kekafiran agar memeluk Islam,[3] dan kaum muslimin yang melakukan kemaksiatan agar kembali kepada keta’atan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan, menyuruh kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).

Imam ath-Thabari menjelaskan ayat ini: “Hendaklah ada di antara kalian, wahai orang-orang Mukmin, segolongan umat yang menyeru manusia pada kebajikan, yakni kepada Islam dan syariah-syariahnya.”[4] 

Namun sebagai evaluasi, da’i seperti apakah anda? Imam Ibn Manzhur (w. 711 H) ketika mendefinisikan kata da’i menyatakan:

الدعاة: قوم يدعون إلى بيعة هُدى أو ضلالة، واحدهم داع. ورجل داعية إذا كان يدعو الناس إلى بدعة أو دين، أُدخلت الهاءَ فيه للمبالغة. والنبي -صلى الله عليه وسلم- داعي الله تعالى، وكذلك المؤذن

“Du’aat adalah kaum yang menyeru kepada petunjuk atau kesesatan, tunggalnya adalah daa’i. Dan seorang disebut daa’iyyah jika ia menyeru manusia kepada bid’ah atau din, dan ditambahkan kata haa’ sebagai penguatan. Dan Nabi –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- adalah da’i Allah, begitu pula orang yang berazan.”[5] 

Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- adalah teladan bagi para da’i ilaa Allah. 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzâb [33]: 21)

Ayat yang agung ini diawali dengan penegasan-penegasan, dimana dalam ilmu balaghah penegasan-penegasan ini menafikan segala bentuk keraguan dan penolakan. Keteladanan beliau pun mencakup metode dakwah dan keteguhan dalam berdakwah tanpa kenal lelah. Semoga kita termasuk orang yang menempuh jalannya dan berupaya meneladani keteguhannya.

Da’i ilaa Allah sudah semestinya mendakwahi umat agar menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan, mengungkapkan keburukan sistem dan ideologi rusak produk hawa nafsu manusia (saat ini; demokrasi, sekularisme, kapitalisme, komunisme, -), mengadopsi permasalahan umat dan menjelaskan hukum syara’ atasnya, memahamkan umat akan kesesatan ajaran SEPILIS dan yang semisalnya, dikatakan sebagaimana dituturkan sya’ir:

عرفت الشرّ لا للشرّ لكن لتوقيّه
ومن لا يعرف الشرّ من النّاس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan tuk melakukan keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”
“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”[6] 

Dan dikatakan kepada Umar bin al-Khaththab –radhiyallaahu ’anhu– bahwa seseorang tidak mengetahui sesuatu yang buruk, lalu Umar berkata: 

أحذر أن يقع فيه

“Peringatkan ia agar tidak terjerumus pada keburukan.”[7] 

Semoga kita termasuk da’i yang menyeru kepada Allah, meneladani Rasulullah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- dan termasuk dalam golongan orang yang meraih keutamaan ini:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.” (HR. Muslim)

Allah al-Musta’aan

اللهم اجعلنا من الدعاة الصالحين الناجحين…

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Prof. Dr. Ahmad Ahmad Ghulusy. Silsilatu Târiikh ad-Da’wah ilâ Allâh Ta’âlâ: Da’watur Rusuul ‘Alayhim as-Salâm. Hlm. 5.

[2] Ibid.

[3] Lihat: Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji & Dr. Hamid Shadiq. Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’.

[4] Lihat: Al-Hafizh Ath-Thabari. Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân. VII/90.

[5] Lihat: Imam Ibn Manzhur. Lisaan al-‘Arab. Juz. IV, Hlm. 361. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabiy; Lihat pula al-Mu’jam al-Wasiith, Hlm. 287.

[6] Lihat: Prof. Dr. Muhammad Ali ash-Shabuni. Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Aayât al-Ahkâm). Juz. I/ Hlm. 76. Damaskus: Maktabah al-Ghazali. Cet. III.

[7] Ibid.

Tanya Jawab atas Ungkapan “Jihad Bukan Metode untuk Menegakkan al-Khilafah”

Jihad

Tanya Jawab Kepada Lone Traveller

Penerjemah: Irfan Abu Naveed (Lajnah Tsaqafiyyah DPD II HTI Cianjur)

Sumber Tanya Jawab (Like):

FP Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah –Hafizhahullaah

Situs Resmi-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah –Hafizhahullaah

بسم الله الرحمن الرحيم

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Wahai Syaikh kami Amir HT:

Kita berpandangan bahwa menegakkan Khilafah dan Jihad adalah dua kewajiban yang berbeda, membenarkan poin bahwa jihad tidak menjadi metode untuk menegakkan al-Khilafah. Dapatkah anda jelaskan perbedaan kewajiban tersebut? Semoga Allah menerima amal ibadah anda dan menganugerahi anda taufik untuk menjaga (pemikiran) umat ini dan:

(نحن نقول إن الجهاد فرض، والخلافة فرض، لكنَّ الجهاد ليس هو الطريقة لإقامة الخلافة… أرجو توضيح الأمر…)

“Kami katakan bahwa jihad hukumnya fardhu, dan Khilafah pun fardhu, akan tetapi jihad bukanlah metode untuk menegakkan al-Khilafah… Saya memohon penjelasan atas permasalahan ini…”

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Terdapat hal-hal pokok yang wajib dipahami dengan baik karena hal itu akan memperjelas jawaban:

Pertama, sesungguhnya dalil-dalil yang dicari untuk menggali suatu hukum syara’ untuk suatu masalah adalah dalil-dalil yang memang untuk masalah tersebut bukan dalil-dalil dalam masalah lainnya (di luar konteks pembahasan-pen.):

  1. Misalnya jika saya ingin mengetahui bagaimana tatacara berwudhu, maka saya akan mencari dalil-dalil wudhu yang ada, sama saja apakah turun di Makkah atau Madinah, dan digali hukum syara’ darinya berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi… Dan saya tidak akan mencari dalil-dalil shaum untuk diambil darinya hukum wudhu dan tatacaranya.

  2. Dan misalnya jika saya ingin mengetahui hukum-hukum haji, maka demikian pula saya akan mencari dalil-dalil haji yang ada, sama saja apakah turun di Makkah atau di Madinah dan digali darinya hukum syara’ berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi, dan saya tidak akan mencari dalil-dalil shalat untuk diturunkan darinya hukum haji dan tatacaranya.

  3. Dan misalnya jika saya ingin mengetahui hukum-hukum jihad, baik yang sifatnya hukum bagi individu maupun kifaayah, baik jihad defensif atau jihad ofensif, apa-apa yang berkaitan dengan jihad dari hukum-hukum futuhat dan penyebaran Islam, sama saja apakah futuhat dengan cara paksaan atau dengan jalan damai… Maka saya akan mencari dalil-dalil jihad yang ada, sama saja apakah turun di Makkah atau di Madinah, dan digali darinya hukum syara’ berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi, dan saya tidak akan mencari dalil-dalil zakat untuk diturunkan darinya hukum jihad dan perinciannya.

  4. Begitu pula dengan setiap permasalahan, ia mesti dicari dalil-dalil berdasarkan tempat diturunkannya di Makkah atau di Madinah, dan digali darinya hukum syara’ untuk suatu permasalahan dari dalil-dalil ini berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi.

Kedua, dan sekarang saatnya kita meninjau permasalahan menegakkan Negara Islam, dan kita mencari dalil-dalilnya, sama saja apakah diturunkan di Makkah atau di Madinah, dan kita gali darinya hukum syara’ berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi.

  1. Sesungguhnya kita tidak menemukan dalil-dalil apapun mengenai menegakkan Negara Islam kecuali dari apa yang dijelaskan Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam– dalam Siirah-nya ketika di Makkah al-Mukarramah, dimana sungguh beliau telah menyeru kepada Islam secara sembunyi-sembunyi, hingga beliau membentuk kelompok orang-orang beriman yang sabar… Kemudian beliau bergerak secara terang-terangan di Makkah dan dalam beragam musim… Kemudian beliau meminta pertolongan kepada ahlul quwwah, dan Allah –Subhaanahu wa Ta’aalaa- memuliakannya dengan pertolongan kaum Anshar, maka beliau hijrah kepada tempat mereka dan menegakkan suatu negara.

  2. Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam– tidak pernah memerangi penduduk Makkah untuk menegakkan suatu Negara Islam, tidak pula beliau memerangi suku manapun untuk menegakkan suatu Negara Islam, meski memang Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam– dan para shabatnya –ridhwaanullaahi ‘alayhim- adalah para pahlawan dalam peperangan, kuat lagi bertakwa… Akan tetapi Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam– tidak menggunakan jalan peperangan untuk menegakkan Negara Islam, akan tetapi terus konsisten berdakwah dan meminta pertolongan ahlul quwwah hingga akhirnya kaum Anshar menjawab seruan dakwahnya sehingga menegakkan Negara Islam.

  3. Kemudian diwajibkannya hukum jihad adalah untuk melakukan futuhat dan penyebaran Islam, melindungi Negara Islam, dan jihad tidak diwajibkan untuk menegakkan Negara Islam, dan setiap permasalahan ini sudah jelas dalam Siirah Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam-.

  4. Dan begitu pula jika ingin mengetahui tatacara penegakkan Negara Islam, maka diadopsi dari perbuatan (sunnah) Rasulullah –shallallaahu ’alayhi wa sallam– berupa dakwah serta meminta pertolongan dan sambutan kaum Anshar (penolong dakwah-pen.) sehingga mampu menegakkan Negara Islam…

Dan jika saya ingin mengetahui hukum-hukum jihad, maka diambil dari dalil-dalil syar’iyyah yang berkaitan dengan jihad, maka setiap kewajiban diambil dalil-dalilnya dari dalil-dalil syar’iyyah yang berkaitan dengannya, maka kewajiban menegakkan Negara Islam diambil dari dalil-dalil penegakkan Negara Islam, dan jihad diambil dari dalil-dalil mengenai jihad, dan konsisten terhadapnya sesuai tujuannya dan Allah yang memberikan kepada kita taufik-Nya. []

Saudaramu ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah

28 Rajab 1435 H/ 27 Mei 2014

Like FP al-‘Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah: Link FP

Riwayat Tentang Thalabun Nushrah Yang Dilakukan Rasulullah SAW, Dipaparkan Pula Oleh Al-Hafizh Ibn Katsir

043

Al-Hafizh Ibn Katsir menuliskan dalam kitab Siirah-nya:

فصل في ذهابه عليه السلام إلى أهل الطائف يدعوهم إلى الله تعالى، وإلى نصرة دينه، فردوا عليه ذلك ولم يقبلوا، فرجع عنهم إلى مكة قال ابن إسحاق: فلما هلك أبو طالب نالت قريش من رسول الله صلى الله عليه وسلم من الاذى ما لم تكن نالته منه في حياة عمه أبى طالب.
فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الطائف يلتمس من ثقيف النصرة والمنعة بهم من قومه، ورجا أن يقبلوا منه ما جاءهم به من الله تعالى.

Pasal: “Berangkatnya Rasulullah SAW kepada penduduk Tha’if untuk menyeru mereka kepada Allah SWT, dan menyeru untuk menolong agama-Nya, namun mereka menolaknya dan tidak mau menerimanya, maka Rasulullah SAW kembali ke Mekkah. Imam Ibn Ishaq menuturkan: “Ketika Abu Thalib meninggal, kaum Kafir Quraysy terus melakukan kezhaliman kepada Rasulullah SAW bahkan yang belum pernah dilakukan sebelumnya ketika paman beliau Abu Thalib masih hidup.”

“Maka Rasulullah SAW pergi ke Tha’if untuk mencari pertolongan dan perlindungan mereka atas kezhaliman kaumnya (kaum kafir Quraysy), dan berharap agar mereka menerima darinya apa yang telah diturunkan kepada mereka (Al-Islam) dari Allah SWT.”

Lihat: Al-Hafizh Ibn Katsir. Siirah Nabawiyyah (Juz. II). Tahqiiq: Mushthafa ‘Abdul Wahid. Daar Al-Ma’rifah.

Lihat Pula Arsip-Arsip Ilmiyyah Ini:

Thalabun Nushrah Itu Hukum Syara’ – Metode Dakwah Rasulullah SAW:

Tanya Jawab Amir HT: Thalabun Nushrah

KH Ali Bayanullah Al Hafidz: “Ibadah Haji, Momentum Thalabun Nushrah”

Ustadz Syamsudin Ramadhan : Tholabun Nushroh Metode Syar’i Menegakkan Khilafah

Soal Jawab Thalab an Nushrah

Thalabun-Nushrah: Kunci Perubahan

Thalabun Nushrah Bagian dari Metode Dakwah Rasulullaah SAW

 

Download Sebagian E-Book Kitab Hizbut Tahrir (Gratis)

2738672529_87b05cc358_o

Berikut ini sebagian list kitab yang diterbitkan oleh HT yang bisa di download gratis, ada yang berbahasa arab plus terjemah, ada pula yang berbahasa Indonesia:

eBook No.

JUDUL

Download eBook

1

Manifesto Hizbut Tahrir Indonesia

Download

2

Khilafah Rasyidah edisi ke-2

Download

3

Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyyah Edisi 5-220

Download

4

Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyyah Edisi 5 halaman 221-444

Download

5

Peraturan Hidup Dalam Islam cet 11-

Download BahasaDownload Arab

7

Mafahim Hizbut Tahrir cet 6

Download Bahasa

Download Arab

8

At Takattul Al Hizby cet 6 edisi Mu’tamadah

Download Bahasa

Download Arab

9

An-Nizhaam Al-Ijtimaa’iy fii Al-Islaam cet 6 edisi Mu’tamadah

Download Bahasa

Download Arab

10

Syakhshiyah Islamiyah Jilid 1 Edisi Mu’tamadah

Download Hal 001-194

Download Hal 195-394

Download Hal 395-564

Download Arab

11

Daulah Islam Edisi Mu’tamadah

Download Bahasa

Download Arab

12

Struktur Negara Khilafah cet 3

Download Bahasa

Download Arab

Lihat:

Unduh Kitab-Kitab HTI – 1

Unduh Kitab-Kitab HTI – 2

Blog

13 Pejuang Utama Suriah Berjanji Menempatkan Kepentingan Negara Islam Diatas Kepentingan Kelompok


tentara-syam-tentara-islam

Allahu Akbar, tiga belas kelompok pejuang utama Suriah mengeluarkan pernyataan untuk menjadikan kepentingan negara Islam diatas kepentingan kelompok. Mereka juga menegaskan menolak Koalisi Nasional Suriah (SNC) yang merupakan bentukan dan arahan negara-negara Barat.

Seperti yang dilansir  situs http://www.aljazeera.com (25/9)  Kelompok-kelompok utama pejuang Suriah mengatakan mereka tidak mengakui kelompok oposisi yang berbasis di luar negeri, termasuk Koalisi Nasional Suriah (SNC).

“Koalisi Nasional dan pemerintah yang baru diusulkan di bawah Ahmad Tomeh tidak mewakili kami, kami juga tidak mengenalinya” kata sebuah pernyataan bersama pada hari Selasa dari 13 kelompok pejuang paling kuat Suriah.

Kelompok-kelompok itu termasuk para anggota pejuang Tentara Pembebasan Suriah (FSA) utama, serta Liwa al – Tauhid, kekuatan pejuang utama di provinsi utara, dan Jabhat al- Nusroh.

Pernyataan dari kelompok para pejuang di Suriah tersebut semakin menambah sikap penolakkan warga Syam terhadap mereka yang bekerja di luar negeri yang disebutnya hanya mengikuti arahan dari negara-negara Barat.

Sejak awal, warga Syam beserta komponen para pejuang di Suriah telah menyatakan sikap tegas mereka untuk menolak segala bentuk apa pun orang-orang yang bekerja atas arahan barat di luar negeri. Beberapa waktu lalu, warga di berbagai kota Syam menggelar aksi revolusi penolakan mereka terhadap segala bentuk apa pun mereka yang bekerja di luar negeri. Warga juga semakin menegaskan keinginan mereka untuk menerapkan apa yang mereka inginkan, yakni sistem Islam.

Sementara itu kekuatan kafir Barat semakin ketakutan dengan apa yang terjadi di bumi Syam. Seperti biasa melalui media-media sekuler, mereka memberikan stigma negatif terhadap para pejuang di bumi Syam. Dewan Keamanan PBB  memasukan al – Nusra ke dalam daftar hitam dan dianggap sebagai alias dari al- Qaeda di Irak pada bulan Mei, sementara Departemen Luar Negeri AS telah menunjuk kelompok itu sebagai organisasi teroris pada bulan Desember tahun lalu.

Dalam pernyataan mereka , mereka juga menyerukan penerapan hukum Islam. “Kekuatan-kekuatan ini menyerukan kepada semua kelompok militer dan sipil untuk bersatu dalam konteks Islam yang jelas yang didasarkan pada Syariah Islam, dan menjadikannya satu-satunya sumber hukum, ” katanya.

Mereka menyerukan “persatuan” dan “menolak pemecahan… dan menempatkan kepentingan negara [Islam] di atas kepentingan masing-masing kelompok”.

Beberapa brigade yang menyatakan penolakkan mereka terhadai oposisi di luar negeri, Jabhat al Nusrah li Ahli Syam, Harakat Ahrar asy Syam al Islaamiyyah, Liwaa’ at Tawheed, Suqoor asy Syam, Liwaa’ al Islaam, Liwaa’ al Haqq – Homs, Harakat Fajr asy Syam al Islaamiyyah, Harakat an Nuur al Islaamiyyah, Kataib Nuruddin Zankiy, Liwaa’ al Furqaan – al Quneitra, Liwaa’ al Ansar, Tajamu Fastaqm Kamr Umrat, dan Al-Forqat al-Tisaa Ashr.

Sementara itu Hizbut Tahrir Wilayah Suriah dalam pernyataannya menegaskan bahwa Dr Ahmed Saleh Touma al-Khadr, Presiden untuk Pemerintah Interim di Pengasingan, memiliki misi  untuk mengambil alih kepemimpinan rakyat dari kelompok-kelompok Islam dan untuk membuka jalan untuk menyerang mereka.

“Wahai Kaum Muslim di Suriah as-Sham, wilayah Islam: Barat dan antek-anteknya penguasa Muslim di wilayah itu bersekongkol melawan Anda karena mereka takut berdirinya apa yang diturunkan Allah di Suriah, dan lebih memilih kelangsungan hidup rezim kriminal Suriah untuk memerintah. Ada upaya-upaya serius untuk memukul gerakan-gerakan Islam di Suriah dan untuk menghabisi orang-orang yang mewakilinya. Barat sibuk dengan hal ini, karena mereka merupakan ancaman bagi proyek kolonial di wilayah itu, dan rezim tiran di negara-negara muslim, karena hal itu akan menggulingkan takhta iblis mereka.”

“Kaum Muslim di Suriah harus berhati-hati dari semua orang yang berkumpul dan tersebar, dan semua orang yang mereka manfaatkan baik dari pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok, dan bantuan yang mereka berikan dengan dalih kasih sayang, sementara tujuan yang sebenarnya adalah untuk menyiksa.”

“Bekerja untuk Barat dan mengkhianati umat dan Dien adalah apa yang mengontrol semua tindakan para penguasa Muslim itu, bahkan saat mereka berpura-pura membantu umat Islam. Semuanya dan terutama para penguasa negara-negara Teluk telah mengambil posisi yang memalukan terhadap isu-isu umat, dan bekerja untuk membeli hati nurani dengan uang mereka, mengkondisikan untuk menerima negara sipil dan tidak menuntut negara Islam sebagai pertukaran mendapatkan senjata… Memang, apa yang mereka lakukan adalah kejahatan yang besar.” [rz/aljazeera/htipress/syabab.com]

Info Suriah Lainnya Di Blog Ini:

Perbandingan: Piagam Perjanjian Perjuangan antara Anshaar al-Khilaafah dan al-Ikhwaan al-Muslimiin Suriah

Press Release Atas Apa yang Terjadi di Suriah (Maktab I’lam HT Suriah)

Do’a Kaum Terzhalimi (Suriah) yang Tersurat di Dinding

 

 

Info Penting Buku Yang Membongkar Kebatilan Demokrasi & Bantahan Argumentatif Atas Pembenaran Terhadapnya

Buku

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين
والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن دعا إلى الله بدعوته ومن تمسك بسنته ومن تبعه بإحسان إلى يوم الدين…
وبعد

Bi fadhlillaahi ta’aalaa, ana sedang menyusun buku tentang “Kesesatan Demokrasi”, ana pun masih terus menambah referensi-referensi kajian dan menerjemahkan banyak dari aqwaal ulama tentang kebatilan Demokrasi dengan hujjah syar’iyyah dan sejauh ini diantaranya ada syaikh doktor dari Timur Tengah dan lainnya yang mau membantu ana atas buku ini, ada pula korespondensi via dunia maya dengan para pakar dari Timur Tengah. Misalnya ini: Tausiyah Al-Ustadz Fadh bin Shalih Al-’Ajlan dari Timur Tengah

Ana pun sedang menunggu kepulangan Syaikh Dr. Qudus Hamid as-Samara’i al-‘Iraqiy yang menjelaskan pula kebatilan Demokrasi setelah ana tanya -dengan bahasa arab- dan mengoreksi pernyataan seorang muslimah yang menjustifikasi Demoktrasi.. Beliau menjelaskan panjang lebar, argumentatif di pengajian Masjid Daarut Tauhiid di Bandung beberapa bulan yang lalu. Dan beliau adalah dosen di sebuah Jaami’ah Islaamiyyah di Cianjur – wilayah dakwah ana juga khususnya.

Inti dari aqwaal doktor ahli ilmu ini tentang kebatilan Demokrasi sudah ana catat dan ana terjemahkan, dan sempat ana rekam dengan HP, akan ana sajikan kepada ikhwah sekalian.

Do’akan semoga beliau diberikan keselamatan pulang dari ‘Iraq kembali ke Indonesia dengan selamat.. fii ri’aayatillaah.. yassarallaahu umuuranaa.

Penting:

Ana pun sedang mengumpulkan berbagai alasan pembenaran atas Demokrasi selama ini, untuk ana ulas dan ana sampaikan bantahan para ulama atas berbagai dalih tersebut secara argumentatif.

Ana tunggu masukan ikhwah fillaah, masukan konstruktif untuk menambah referensi, baik berupa masukan kitab-kitab para ulama yang bertalian dengan bahasan tentang Demokrasi, atau buku-buku dan pernyataan-pernyataan yang mendukung Demokrasi dan dalih-dalih pembenaran atasnya. Silahkan kirim berbagai bukti dalih-dalih pembenaran tersebut, ke e-mail ana di bawah.

e-mail: irfanabunaveed@ymail.com

Ana menunggu masukan dan bantuan antum, semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalan-Nya yang lurus, niat yang ikhlas karena mengharapkan keridhaan-Nya, mencatat kebaikan kita semua dalam upaya ini demi kebaikan Islam dan kaum muslimin sebagaimana nasihat guru kita semua Syaikhanaa Al-‘Alim ‘Atha bin Khalil:

وفي الختام أقرئك السلام، وأدعو لك بالعون والتوفيق فيما تكتبه من خير للإسلام والمسلمين.

“Dan dalam akhir penjelasan ini, saya ucapkan salam sejahtera kepada Anda, dan saya mendo’akan Anda agar diberikan pertolongan dan taufik dari Allah, dari apa yang Anda tulis untuk kebaikan Islam dan kaum muslimin.”

Lihat: Tanya Jawab Irfan Abu Naveed dengan Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah

Nasihat Penting:

Al-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammad al-‘Umar menuturkan:

أرى من الواجب عليَّ وعلى كل عالم وكاتب إسلامي يؤمن بما أوجب الله سبحانه عليه من الدعوة إليه سبحانه وتعالى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والسعي لإنقاذ الإنسانية عامة والأمة الإسلامية خاصة من أسباب الهلاك والشقاء.. أرى من الواجب المحتم: أن نبين للناس جميعًا حكامًا ومحكومين خطرًا عظيمًا يتهددهم بهلاك عقدي وأخلاقي واجتماعي واقتصادي وصحي.. يتهددهم بشقاء محتوم لكل من وقع في شراكه وسار في ركاب الواقعين فيه.. هذا الخطر العظيم هو ما يسمى بـ: الديمقراطية

“Saya memandang di antara kewajiban bagiku, bagi seluruh orang berilmu dan jurnalis muslim yang beriman terhadap apa yang diwajibkan Allah SWT kepadanya yakni berdakwah menyeru kepada-Nya, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan berupaya keras menyelamatkan umat manusia dan khususnya umat Islam dari berbagai hal yang membinasakan dan menimbulkan kesengsaraan.. Saya memandang diantara kewajiban yang tegas: wajib bagi kita menjelaskan kepada masyarakat, penguasa dan rakyatnya bahaya besar yang mengancam mereka dengan kehancuran akidah, akhlak, pergaulan sosial, perekonomian dan dunia kesehatan… serta mengancam mereka dengan kesengsaraan yang pasti bagi orang yang bersekutu di dalamnya dan berjalan di atas jalan kaum pragmatis.. Inilah bahaya besar yang dinamakan DEMOKRASI.”

(Lihat: Haadzihi Hiya Al-Diimuqraathiyyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammaad al-‘Umar – Dar al-Hulayyah: Riyadh – Cet. I: 1424 H)

:: Silah Ukhuwwah Dakwah?

Profil & Kontak Kajian Irfan Abu Naveed: (Link)

Akhuukum fillaah

Irfan Abu Naveed

E-mail: irfanabunaveed@ymail.com

Blog: www.irfanabunaveed.com

Komunitas FB: www.facebook.com/IrfanAbuNaveed

Grup: www.facebook.com/groups/islam.antidemokrasi 

Lihat:

Jawaban-Jawaban Kami Atas Berbagai Dalih Pembenaran Atas Demokrasi

Tanya Jawab: Thalabun Nushrah

Soal Jawab Thalab an Nushrah

Manhaj HT

Soal Jawab:

Dalam soal jawab yang lalu, dinyatakan bahwa proses perubahan melalui people power adalah salah. Karena tidak sesuai dengan metode Rasulullah, yaitu Thalab an-Nushrah. Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Bukankah people power juga bisa digunakan untuk menekan ahl an-nushrah agar mereka mendukung dakwah, karena adanya desakan umat melalui people power tersebut?

Jawab:

Memang benar, jika dikatakan bahwa ahl an-nushrah bisa saja memberi dukungan kepada dakwah, karena adanya desakan umat melalui people power. Namun, yang harus dicatat, bahwa dukungan mereka dalam kondisi seperti ini, bukanlah dukungan karena lahir dari keyakinan, melainkan dukungan karena faktor preassure (tekanan). Dukungan seperti ini sangat lemah, dan tidak akan bisa menjadi pilar tegaknya negara. Ketika kita memahami, bahwa negara adalah entitas pelaksana teknis yang mengimplementasikan kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang diterima oleh umat. Pertanyaannya, mungkinkah negara seperti ini bisa tegak, jika penopang kekuasaannya ternyata tidak menerima pemahaman, standarisasi dan keyakinan tersebut? Jawabannya jelas tidak mungkin. Dukungan seperti ini bisa kita sebut sebagai dukungan semu, bukan dukungan hakiki. Padahal, yang dibutuhkan adalah dukungan yang hakiki.

Itulah, mengapa Rasulullah menolak tawaran pemuka kabilah Arab Quraisy, yang menawarkan kekuasaan kepada Nabi, tetapi ditolak oleh Nabi, ketika mereka dengan nyata tidak meyakinirisalah yang diemban oleh Nabi saw. Dan, itulah yang disebutkan dalam soal jawab yang lalu, bahwa salah satu syarat dalam nushrah adalah agar ahl an-nushrah yang memberikan dukungannya haruslah mengimani Islam, dan meyakininya.

Ini satu hal. Hal lain, bahwa proses perubahan melalui people power ini salah karena cara seperti ini bertentangan dengan metode Rasulullah jelas sekali bisa diteliti melalui sejumlah riwayat yang menjelaskan tentang Thalab an-Nushrah. Antara lain, sebagai berikut:

[1] Nabi saw. meminta orang yang hendak diambil nushrah-nya untuk kepentingan Islam agar mereka pertama kali mengimani dan membenarkan Islam, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam nas-nas sebelumnya. Misalnya: Beliau pun meminta mereka agar mereka membenarkan beliau dan bersedia melindungi beliau.[1] Dengan syarat ini, jelas ada perbedaan antara mencari dukungan untuk pribadi Rasul saw. minus dukungan terhadap dakwah yang beliau emban, dengan dukungan terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai pengemban dakwah, dalam arti perlindungan —bukan saja terhadap pribadi beliau, tetapi juga— terhadap dakwah yang diembannya. Karena, konsekuensi dari nushrah ini adalah adanya kesiapan untuk menghadapi musuh-musuh dakwah, serta menghalangi mereka agar tidak menimpakan penganiayaan terhadap dakwah dan para pengikutnya.

Semua nas yang ada membuktikan, bahwa Rasulullah saw. telah mengajukan syarat kepada orang yang akan dimintai nushrah agar pertama-tama mereka memeluk Islam, baru kemudian nushrahtersebut bisa diminta dari mereka. Ini merupakan konsekuensi logis. Sebab, bagaimana mungkin keikhlasan dan konsistensi salah satu pihak terhadap dakwah serta dukungan mereka terhadapnya bisa dijamin, sementara pihak yang mendukung dakwah itu ternyata tidak meyakini dakwah tersebut? Dari sinilah, maka Nabi saw. begitu konsisten dalam setiap negosiasi yang beliau lakukan untuk mencari nushrah —dengan menetapkan syarat— agar ahl an-nushrah (para penolong) tersebut terlebih dahulu memeluk Islam, sebelum yang lain.

[2] Dalam sirah Nabi saw. terutama yang berkaitan dengan thalab an-nushrah, terbukti bahwa beliau selalu mencari nushrah dengan dua tujuan:

Pertama, beliau mencari nushrah dalam rangka melindungi penyampaian dakwah, sehingga dakwah tersebut tersebar dengan mudah di tengah masyarakat, sementara dakwahnya tetap terpelihara, jauh dari perlakuan buruk, baik terhadap dakwah maupun para pengikutnya.

Kedua, beliau selalu mencari nushrah dalam rangka mengambilalih kendali pemerintahan dan kekuasaan berdasarkan asas dakwah tersebut. Ini merupakan urut-urutan yang alami dalam perkara tersebut.

Alasannya, karena perlindungan untuk menyampaikan dakwah pertama kali memang mengharuskan terbentuknya apa yang kemudian dikenal dengan istilah basis massa (qâ’idah sya’biyyah), yang menopang ide yang menjadi landasan dakwah. Itu dilakukan melalui orang-orang yang telah meyakini ide tersebut di bawah payung dukungan yang telah diberikannya. Ketika orang-orang yang meyakini ide tersebut dan mereka yang siap berkorban di jalannya semakin banyak, berarti telah terbentuk landasan yang mantap dan basis yang luas, yang bisa menjadi sandaran pemerintahan dan kekuasaan.

Ini merujuk pada uraian Ibn Ishaq ihwal aktivitas Rasul saw. pasca perjalanan beliau dari Thâ’if untuk mencari nushrah. Juga seperti yang terlihat dengan jelas dalam riwayat al-Hâkim dalam al-Mustadrak ‘alâ as-Shahîhayn:

Dari Jâbir ra. berkata: Rasulullah saw. telah menawarkan diri beliau kepada banyak orang tentang sikap tertentu, seraya bersabda: Apakah masih ada seseorang yang bisa membawaku kepada kaumnya? Sebab, kaum Quraisy telah menghalangiku menyampaikan firman tuhanku. Berkata (Jâbir): Beliau kemudian didatangi seorang lelaki dari Bani Hamdân, seraya berkata: Saya! Beliau kemudian bertanya: Apakah kaummu mempunyai kekuatan? Dia menjawab: Iya! Beliau pun bertanya kepadanya: Dari mana dia? Berkata (seorang sahabat): Dari Hamdân. Kemudian, lelaki asal Hamdan itu pun khawatir jangan-jangan dia akan ditangkap oleh kaumnya —maksudnya, mereka membatalkan komitmennya dengan Rasul— maka, dia pun mendatangi Rasul saw. seraya berkata: Saya akan mendatangi kaum saya, dan saya pun akan menyampaikan kepada mereka. Kemudian, saya akan menemui Anda tahun depan. Beliau menjawab: Baik! [2]

Jadi, nushrah (pertolongan) yang diminta di sini tak lain adalah dalam rangka melindungi Rasul, dalam kapasitas beliau sebagai pemilik risalah dakwah, agar beliau bisa menyampaikan risalah Allah tersebut kepada banyak orang dalam suasana terlindungi, aman dan tenang. Sesuatu yang pada akhirnya memungkinkan terbentuknya basis yang meyakini ide ini agar setelah itu, peralihan ke bentuk thalab an-nushrah yang lain benar-benar bisa berlangsung dengan sempurna. Yaitu, mencari nushrah dalam rangka mengambilalih kekuasaan di negeri yang telah memberikan nushrahtersebut. Dan, itu tak lain adalah untuk mendirikan negara berdasarkan asas dakwah Islam.

Ini terlihat dengan jelas melalui negosiasi yang telah berlangsung antara Rasul saw. dengan para pemuka Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, dalam kaitannya dengan permintaan yang diajukan oleh Rasul saw. kepada mereka. Seorang tokoh Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah kemudian menuturkan kepada syaikh (ketua suku) mereka kriteria permintaan ini, dengan ungkapan mereka: Kami telah didatangi oleh seorang pemuda, yang menganggap dirinya sebagai Nabi. Dia menyerukan kepada kami, agar kami melindunginya, dan berdiri di pihaknya, serta kami membawanya masuk ke negeri kami.[3]

Bani ‘Amir paham benar, bahwa implikasi memenuhi permintaan nushrah ini akan menjadikan Nabi saw. sebagai pemegang pemerintahan dan kekuasaan atas seluruh bangsa Arab, ketika Allah telah memenangkan beliau atas mereka, karena beliau telah menggunakan nushrah yang telah mereka berikan ini. Di sinilah, maka mereka pun menginginkan urusan ini. Dengan kata lain, pemerintahan dan kekuasaan pasca Nabi saw. itu tak lain harus menjadi milik Bani ‘Amir secara sah, sebagai harga —yang harus dibayar— atas pengorbanan yang telah mereka berikan. Ini tampak dalam ungkapan juru runding Bani ‘Amir, yang bernama Bayharah bin Firâs.[4]

[3] Dari kasus di atas, juga bisa disimpulkan, bahwa beliau saw. menolak kekuatan yang siap memberikan nushrah dengan kompensasi apapun, misalnya dengan syarat tokoh-tokoh mereka akan memerintah dan berkuasa, dengan harga atau kompensasi tertentu. Inilah yang terlihat dengan jelas pada point sebelumnya, dalam negosiasi antara Nabi saw. dengan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah.[5]

Alasannya, karena dakwah ini merupakan dakwah kepada Allah, maka syarat mendasar orang yang mengimani dakwah dan siap menolongnya adalah ikhlas semata karena Allah, serta mengharapkan ridha-Nya. Keduanya merupakan tujuan yang hendak diraih di balik nushrah dan pengorbanan tersebut, bukan ambisi untuk berkuasa, ataupun mendambakan kekuasaan. Sebab, tujuan yang ditetapkan oleh manusia terhadap sesuatu akan menentukan perjalanan aktivitasnya, serta menentukan sejauh mana ia dipertahankan, termasuk besar-kecilnya pengorbanan untuk mewujudkannya.

[4] Dari sirah Nabi saw. yang berkaitan dengan thalab an-nushrah, tampak bahwa Nabi saw. tidak pernah mencari nushrah para tokoh-tokoh itu semata-mata karena mereka adalah para pemuka kabilah dan bangsawan. Namun, beliau mencari kekuatan yang dimiliki para pemuka itu di negeri mereka, yang bisa digunakan untuk menghadapi musuh-musuh negara yang hendak dibangun. Jika beliau tidak menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi dakwah pada kekuatan tersebut, maka beliau tidak akan mengajukan kepada mereka permintaan nushrah, selain hanya mengingatkan mereka akan kewajiban mereka kepada Allah.

Ini telah dibuktikan melalui beberapa riwayat sirah, dengan redaksi: Ketika kabilah Bakar bin Wâ’il datang ke Makkah untuk menunaikan haji, Rasulullah saw. meminta Abû Bakar: Datangilah mereka, kemudian bawalah aku kepada mereka. Maka, dia pun mendatangi mereka, dan membawa beliau kepada mereka. Beliau bertanya kepada mereka: Bagaimana dengan jumlah kalian? Mereka menjawab: Banyak, seperti embun pagi. Beliau bertanya: Bagaimana dengan kekuatannya? Mereka menjawab: Tanpa kekuatan! Kami bertetangga dengan Persia, dan kami tidak mampu mempertahankan diri (dari serangan) mereka, dan kami tidak mampu melindungi dari terhadap mereka.[6] Di sni, Rasulullah hanya perlu mengingatkan mereka pada Allah, serta memberitahukan kepada mereka, bahwa beliau adalah utusan Allah.

[5] Nushrah yang diminta oleh Rasul dari para pemuka kabilah untuk kepentingan dakwah juga disyaratkan tidak terikat dengan perjanjian internasional, yang bertentangan dengan dakwah, sedangkan mereka tidak bisa melepaskan diri dari perjanjian tersebut. Alasannya, karena mereka telah menerima dakwah, sementara kondisi ini membuka peluang dakwah menghadapi ancaman dihancurleburkan oleh negara-negara yang terikat perjanjian dengannya, yang juga melihat dakwah Islam sebagai ancaman baginya, dan juga mengancam kepentingan mereka.

Inilah yang ditunjukkan oleh keterangan yang telah dinyatakan dalam kitab ar-Rawdh an-Anf,ketika mengomentari as-Sîrah an-Nabawiyyah, karya Ibn Hisyâm, seputar dialog yang berkisar soal pencarian nushrah, antara Rasul saw. dan Abû Bakar di satu pihak, dengan para pemuka Bani Syaybân di pihak lain.

Abû Bakar berkata kepada salah seorang pemuka Bani Syaybân, namanya Mafrûq: Bagaimana dengan jumlah kalian? Mafrûq menjawab: Kami tidak lebih dari seribu, dan seribu orang tak akan pernah kalah, karena jumlahnya yang minim! Abû Bakar bertanya lagi: Lalu, bagaimana dengan pertahanan kalian? Mafrûq menjawab: Kita harus bekerja keras. Dan, tiap kaum mempunyai peluang dan kesempatan![7] Abû Bakar bertanya lagi: Bagaimana peperangan yang terjadi di antara kalian dengan musuh kalian? Mafrûq menjawab: Kami akan sangat marah, ketika kami benar-benar bertemu, dan kami sangat ingin bertemu, ketika kami sedang marah. Kami sangat mementingkan kebaikan ketimbang anak-anak kami, dan lebih mementingkan senjata ketimbang makanan! Kemenangan itu datangnya dari Allah; sekali waktu dipergilirkan kepada kami, dan sekali waktu kami kalah! Tampaknya Anda saudara Quraisy? (yang dimaksud Mafrûq: Apakah Anda Muhammad saw. orang Quraisy, pemilik risalah dakwah?) Abû Bakar menjawab: Apakah beritanya benar-benar telah sampai kepada kalian, bahwa beliau adalah utusan Allah? Itu dia orangnya (sembari menunjuk ke arah Rasulullah saw.) Mafrûq menjawab: Memang beritanya telah sampai kepada kami, bahwa beliau disebut-sebut seperti itu (Mafrûq mengalamatkannya kepada Rasulullah saw. sembari berkata lagi): Mau dibawah ke manakah dakwah Anda, wahai saudara Quraisy? Maka Rasulullah saw. maju seraya bersabda: Aku mengajak untuk bersaksi, bahwa tidak ada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku adalah utusan Allah, dan agar kalian bersamaku dan menolongku. Sebab, kaum Quraisy telah bersikap arogan terhadap perintah Allah, mendustakan utusan-Nya, menghalangi kebenaran dengan kebatilan. Dan, Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji..[8]

Tampaknya, lelaki Bani Syaybân ini benar-benar yakin pada Rasulullah saw. dan terkagum-kagum dengan dakwah yang beliau bawa, setelah banyak meminta penjelasan ihwal dakwah tersebut. Dia telah menemukan sesuatu yang bisa mengobati kegundahannya dalam jawaban-jawaban Nabi saw. Di sinilah, lelaki Bani Syaybân itu menjadi terasah. Dia kemudian berkata kepada Nabi saw.:Demi Allah, sungguh dusta kaum yang telah mendustakan Anda, dan arogan terhadap Anda!

Kemudian berkata Hâni’ bin Qubayshah, tetua Bani Syaybân, dan pemangku adat mereka: Saya telah mendengarkan ucapan Anda, wahai saudara Quraisy. Saya berpendapat, bahwa dengan meninggalkan agama kami, kemudian kami mengikuti agama Anda, karena satu forum yang telah Anda adakan dengan kami ini —baik yang pertama dan kapan saja— tidak mampu menggelincirkan pandangan, dan juga tidak cukup untuk melihat implikasi (ke depan). Tetapi, ketergelinciran itu justru terjadi karena ketergesa-gesaan! Di belakang kami ada kaum, dimana kami tidak suka mengikat mereka dengan suatu perjanjian. Namun, jika mereka merujuknya kami juga sama, dan jika mereka menganggapnya, maka kami pun sama.

Al-Mutsnî bin Hâritsah, salah seorang tetua Bani Syaybân, dan penentu peperangan mereka, kemudian berbicara. Dia menyatakan, bahwa Bani Syaybân itu terletak di suatu negeri, antara sungai Kisra dan perairan bangsa Arab —maksudnya, berbatasan dengan negeri Persia— Dia kemudian mengemukakan apa yang menjadi kemampuan kaumnya untuk diberikan kepada Nabi saw. dalam soal nushrah yang beliau minta dari mereka, dengan mempertimbangkan posisi negerinya dan hubungan kaumnya dengan negara Persia. Dia berkata: Mengenai sungai Kisra, pada dasarnya kesalahan pemiliknya tidak bisa dimaafkan, dan alasannya juga tidak bisa diterima, sementara perairan Arab, kesalahan (pemilik)-nya bisa dimaafkan, dan alasannya pun bisa diterima! Dan, kami harus mengakhiri sebuah perjanjian yang telah diambil oleh Raja Kisra terhadap diri kami, dimana kami tidak boleh membuat ulah,[9] dan kami tidak akan mengakomodasi orang yang membuat ulah! Saya melihat, bahwa perkara yang Anda serukan kepada kami adalah sesuatu yang dibenci oleh raja-raja. Jika Anda berkenan agar kami bisa mengakomodasi Anda, dan menolong Anda, termasuk perairan Arab, maka pasti akan kami lakukan!

Rasulullah saw. menjawab:

Kalian tidak menolak dengan cara yang buruk, sebab kalian sengat jelas dalam mengutarakan kejujuran. Sesungguhnya agama Allah ini tidak akan pernah Dia tolong, kecuali melalui orang yang menguasainya dari seluruh aspek! [10]

Persia baru saja terlibat dalam peperangan sengit dengan negara Romawi, sementara ia akan memetik kemenangan, sebagaimana yang diisyaratkan pada permulaan surat ar-Rûm dalam al-Qur’an al-Karim.[11] Lebih-lebih telah ada perjanjian internasional antara Bani Syaybân —dimana mereka kedudukannya sama dengan negara kecil— dengan negara besar Persia, agar mereka (Bani Syaybân) tidak membuat ulah, dan mengakomodasi orang yang membuat ulah. Dalam hal ini, Rasul saw. telah memuji kejujuran mereka, serat menjelaskan kepada mereka, bahwa pertolongan (nushrah) yang diminta itu melampaui batas-batas yang mampu mereka berikan: Sesungguhnya agama Allah ini tidak akan pernah Dia tolong, kecuali melalui orang yang menguasainya dari semua aspek.[12]

Garis besar yang telah dikemukakan ini cukup untuk memberikan gambaran global tentang thalaban-nushrah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Dari sini jelas, bahwa cara-cara people powertersebut jelas tidak sesuai dengan langkah-langkah praktis yang dilakukan oleh Nabi saw. dalam meraih menegakkan pemerintahan dengan metode thalab an-nushrah.


[1] As-Suhayli, as-Sirah an-Nabawiyyah li ibn Hisyam, juz II, hal. 173.

[2] Al-Hâkim, Op. Cit., juz II, hal. 612-613. Beliau berkomentar: Ini adalah hadits sahih berdasarkan syarat al-Bukhâri dan Muslim, meski mereka tidak mengeluarkannya.

[3] As-Suhayli, Op. Cit., juz II, hal. 174; at-Thabari, Op. Cit., juz II, hal. 350.

[4] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 174; at-Thabari, ibid, juz II, hal. 350.

[5] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 174; at-Thabari, ibid, juz II, hal. 350.

[6] As-Sîrah al-Halabiyah, juz II, hal. 5.

[7] Maksudnya mempunyai peluang dan kebahagiaan; maksunya, kita harus bekerja keras. Kita tidak bisa memastikan, bahwa kemenangan itu pasti akan memihak kita. Sebab, kemenangan itu datangnya dari Allah, yang akan Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Lihat, ibid,juz II, hal. 4.

[8] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 181.

[9] Teks aslinya hadats, yaitu perkara munkar yang lazim. Lihat, kamus al-Munjid.

[10] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 182.

[11] Q.s. ar-Rûm: 1-6.

[12] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 182.

Press Release HT Mesir atas Pernyataan Dr. Yasser Barhami tentang Gerakan yang Memperjuangkan Al-Khilafah

Bayan

Download Press Release HT Mesir

بيان صحفي

القاهرة 11  ذو القعدة 1434هـ / 2013/09/17م

بسم الله الرحمن الرحيم

العمل لإقامة دولة الخلافة واجب شرعي
وحزب التحرير هو من يعمل لها بمنهج واضح منضبط بالشرع الحنيف

تناقلت الكثير من الصحف والمواقع الإلكترونية الاثنين 16/9، جواب سؤال للشيخ ياسر برهامي على موقعه “صوت السلف”، عن وجوب الانخراط في الجماعات التي تريد إقامة الخلافة وتنادي بالجهاد، فأجاب الشيخ بما يلي: (أما بعد؛ فالتعاون على البر والتقوى واجب، وليس لمجرد إعلان جماعة من الناس أنهم يريدون إقامة الخلافة أو الجهاد أو الحسبة أو غيرها من الواجبات الضائعة فإنه يجب الانخراط فيها، بل لا بد من صحة المنهج وصحة العمل وصحة الوسائل، مع صحة المقصد والغاية، وكثير ممن يدعي إرادته لمقصد حسن ليس كذلك!)

فالذي يُفهم من الجواب أن الانخراط في جماعة تعمل على إقامة الخلافة فرض شرعي، ولكن لا بد من التحري عن الجماعة المبرئة للذمة أمام الله، وهي الجماعة التي يتوفر فيها صحة المنهج وصحة العمل وصحة الوسائل. وبغض النظر عن التباين الواضح بين الصحف المصرية في كيفية تلقفها للخبر، وليِّها للنصوص لإخراج الأمر عن مضمونه، فإننا في حزب التحرير نؤكد على الأمور التالية:

1- الخلافة هي نظام الحكم الذي ارتضاه الله للمسلمين، وفرضه عليهم فرضًا محتّمًا لا هوادة فيه! وقد استظل المسلمون بظلها قرونًا عدة، فكانت هي بحق حامية لحمى المسلمين، ومنذ هدمها سنة 1924م على يد مجرم هذا العصر مصطفى كمال والمسلمون أصبحوا بلا راعٍ يرعاهم ويحمي بيضتهم ويدافع عنهم، وصرنا كالأيتام على مأدبة اللئام، ولن تعود للأمة عزتها وكرامتها إلا بعودة الخلافة على منهاج النبوةوتحقيق بشرى رسول الله صلى الله عليه وسلم.

2- حزب التحرير هو من نذر نفسه للعمل لإقامة الخلافة الإسلامية، فمنذ أن تأسس على يد عالم الأزهر الجليل الشيخ تقي الدين النبهاني سنة 1953م، وهو يقتفي أثر الرسول صلى الله عليه وسلم في إقامته للدولة الإسلامية الأولى خطوة بخطوة: فقد أسس صلى الله عليه وسلم في مكة كتلة تقوم بالصراع الفكري والكفاح السياسي في المجتمع، وبأعمال طلب النصرة من أهل القوة والمنعة، وحزب التحرير على هذا الدرب يسير، وكله ثقة بصحة المنهج الذي انتهجه والعمل الذي يقوم به، وهو لا يشارك في اللعبة الديمقراطية الخبيثة للوصول إلى الحكم بركوب النظام الحالي الفاسد، تمامًا كما رفض الرسول صلى الله عليه وسلم المشاركة في النظام المكّي الفاسد وركوبه، والحزب لا يقوم بالأعمال المادية ولا يتبنى العنف طريقة لإقامة الخلافة، لأن الرسول صلى الله عليه وسلم رفض ذلك، بل هو يصل الليل بالنهار في التفاعل مع الأمة لإفهامها الإسلام مبدأً للحياة، واجبًا عليها تطبيقه في دولة الخلافة، تماماً كما فعل الرسول صلى الله عليه وسلم، حتى يصبح فرض الخلافة وعيًا عامًا لديها ومطلبًا للجماهير لا ترضى عنه بديلاً، فتكتسح فكرة إقامة الخلافة الأمة كما اكتسحت فكرة إسقاط مبارك الشارع، فأسقطه في 18 يومًا!! والحزب اقتداءً بسنة الرسول صلى الله عليه وسلم يتصل أيضًا بأهل القوة في الجيش ليقنعهم بهذا المشروع وفرضيته لينصروه ويقفوا بجانبه، فلا يكونوا حائلاً دون إقامته!

والحزب في عمله هذا يتوكل على الله وحده! واثقا بوعده سبحانه لهذه الأمة بالنصر والأمن والتمكين.

3- ونحن في حزب التحرير ندعو كل المسلمين الذين أدركوا وجوب العمل لإقامة الخلافة، بمن فيهم الشيخ ياسر برهامي، للانخراط معنا لتحقيق هذا الفرض العظيم، لينالوا الثواب الأعظم من الله تعالى، ويكونوا مع الذين أنعم الله عليهم من النبيين والصديقين والشهداء وحسن أولئك رفيقًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ [الأنفال:24]

المكتب الإعلامي لحزب التحرير
ولاية مصر
info@hizb.net

شريف زايد 
رئيس المكتب الإعلامي لحزب التحرير ولاية مصر

sherif@hizb.net

________________________ {} ________________________

Hizbut Tahrir adalah Gerakan Islam yang Bekerja Membangun Negara Khilafah yang Merupakan Kewajiban Syariah dengan Metodologi yang Jelas dan Hanya Berdasarkan Syariah yang Benar

الدكتور ياسر برهامي

Pada hari Senin tanggal 16 September 2013, beberapa surat kabar dan website memberitakan suatu jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh Yasser Barhami di homepage-nya “Shawt as-Salaf” mengenai kewajiban untuk berpartisipasi dalam kelompok yang beraktivitas untuk menegakkan Khilafah dan menyerukan jihad. Asy-Syaikh menjawab pertanyaan itu dengan jawaban berikut: “Lebih jauh, bekerjasama dalam hal kebenaran dan ketakwaaan adalah suatu kewajiban. Kewajiban untuk terlibat di dalamnya tak hanya sekedar mengumumkan kepada orang-orang bahwa mereka ingin menegakkan Khilafah, berjihad atau melakukan muhasabah atau kewajiban-kewajiban yang hilang lainnya. Namun metodologi, aktivitas dan sarana-sarana perjuangannya pun harus benar, di samping maksud dan tujuan yang juga harus benar. Tak sedikit gerakan yang mengklaim bahwa mereka memiliki niat baik yang diarahkan kepada tujuan yang benar, namun sebenarnya tidak demikian!”

Apa yang dapat dipahami dari jawabannya, bahwa partisipasi dalam sebuah kelompok yang berjuang untuk menegakkan Khilafah merupakan kewajiban syar’i, namun kelompok itu harus terlebih dulu membersihkan niatnya sebelum dihisab oleh Allah. Kelompok itu harus menjadi kelompok yang menyatukan antara metodologi yang benar, aktivitas yang benar dan sarana-sarana perjuangan yang benar. Terlepas dari perbedaan di antara surat kabar-surat kabar Mesir dalam meraih berita ini, teks ini hanyalah pembawa pesannya. Oleh karena itu, kami Hizbut Tahrir menekankan hal-hal berikut:

1. Khilafah adalah sistem pemerintahan yang disukai oleh Allah bagi umat Islam, kewajibannya tidak bisa dihindari dan hal ini harus diupayakan untuk terus-menerus dilakukan! Kaum Muslim telah berada di bawah naungannya selama berabad-abad, khilafah benar-benar  menjadi pelindung bagi kaum muslimin. Sejak keruntuhan Khilafah pada tahun 1924 Masehi di tangan penjahat pada masa itu, Mustafa Kemal, umat Islam menjadi khilangan seorang gembala yang peduli bagi urusan mereka, yang melindungi Islam dan membela kaum muslim. Kita telah menjadi seperti anak yatim di sebuah pesta para penjahat, dan kebanggaan dan martabat umat tidak akan kembali hingga kembalinya Khilafah pada metode kenabian dan realisasi atas kabar gembira ini dari Rasulullah SAW.

2. Hizbut Tahrir telah mendedikasikan dirinya untuk bekerja untuk mendirikan Khilafah Islam, sejak didirikan oleh Ulama Azhar yang terhormat Sheikh Taqiuddin an-Nabhany pada tahun 1953,  dengan menelusuri jejak langkah Rasulullah SAW dalam mendirikan negara Islam pertama di Mekkah, selangkah demi selangkah:

Di Mekah beliau SAW mendirikan suatu kelompok yang terlibat dalam konflik intelektual dan perjuangan politik dalam masyarakat, dan bekerja meminta Nusroh dari orang-orang yang memiliki kekuasaan dan posisi. Hizbut Tahrir mengikuti jalan ini, meyakini kebenaran pendekatan yang dilakukannya dan pekerjaan yang sedang dilakukan. Hizb tidak berpartisipasi dalam permainan demokrasi berbahaya untuk mencapai kekuasaan dengan mengendarai sistem yang korup saat ini, sebagimana halnya Nabi SAW yang menolak berpartisipasi dan menggunakan sistem yang korup di Mekkah. Hizbut Tahrir tidak melakukan tindakan fisik dan tidak menganut cara kekerasan sebagai cara untuk mendirikan Khilafah, karena Nabi SAW menolak untuk melakukannya. Hizb terjaga siang dan malam untuk interaksi dengan umat dan untuk memahamkan Islam sebagai jalan hidup, dan bahwa kewajiban ini harus diterapkan di Negara Khilafah, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW, sehingga kewajiban Khilafah mendapatkan kesadaran publik dan menjadi tuntutan massa yang tidak lagi puas dengan sistim pengganti lain. Kemudian gagasan atas pendirian Khilafah akan menyapu umat seperti halnya gagasan untuk menggulingkan Mubarak yang menyapu jalan, sehingga mereka menggulingkannya dalam 18 hari! Hizbut Tahrir, dengan mengikuti contoh Nabi SAW juga menyerukan kepada orang-orang yang memiliki kekuasaan di militer untuk yakin terhadap proyek ini dan kewajibannya, sehingga mereka dapat mendukung dan berdiri di sisinya, bukannya menjadi penghalang yang mencegah pembentukannya.

Dalam bekerja, Hizbut Tahrir hanya bergantung kepada Allah semata! Hizb percaya kepada janji Allah SWT yang menjanjikan  kemenangan, keamanan dan pemberdayaan kepada umat-Nya.

3. Kami Hizbut Tahrir menyerukan kepada semua Muslim yang telah menyadari perlunya bekerja untuk mendirikan Khilafah, termasuk Syaikh Yasser Barhami, untuk terlibat dengan kami untuk mencapai kewajiban yang besar ini, untuk menerima ganjaran terbesar dari Allah SWT, dan bersama dengan orang-orang yang mendapat barokah dari Allah dari para Nabi, orang-orang beriman dan para Syuhada dan orang-orang yang menjadi teman-teman terbaik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُم لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS Al-Anfal 8:24)

Syarif Zayed
Kepala Kantor Media Hizbut Tahrir Wilayah Mesir

Selasa, 11 Dzul Qa’dah 1434 H

17/09/2013

No: PR 25/13