Terapi Ruqyah Syar’iyyah Secara Mandiri

Ruqyah

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Tanya Jawab Part. I: Tanya Jawab Seputar Ilmu Kekebalan & Terapi Pengobatannya Secara Syar’i

Adab-Adab Ruqyah Syar’iyyah

Perhatikan adab-adab ruqyah dan pegang teguh, jauhi hal-hal yang mendatangkan murka Allah.

Pertama, Meyakini bahwa tidak ada kesembuhan kecuali dari Allâh Ta’âlâ, dan ruqyah hanyalah salah satu wasîlah kesembuhan yang dapat diusahakan seorang hamba (sabab syar’i).

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku” (QS. Asy-Syu’arâ’ [26]: 80)

Imam Fakhruddin ar-Râzi menjelaskan bahwa dalam ayat ini, kesembuhan dinisbatkan dari Allah.[1]

Perhatikan pula ketika Rasûlullâh shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– mengatakan dalam do’a beliau:

لَا شِفَاءَ إلاَّ شِفَاؤُكَ

“Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu” (HR. Muttafaq ‘alayh)

Kedua, Ikhlas menghadapkan diri kepada Allâh Ta’âlâ, mengharapkan keridhaan-Nya, menghayati makna yang terkandung di dalamnya. Allah Ta’âlâ berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al-Qur’ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’râf [7]: 204)

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allâh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allâh hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28)

Al-Hafizh an-Nawawi berkata:

أول ذلك أنَّهُ يجب على القارئ الإخلاص كما قدمناه، ومراعاة الأدب مع القرآن، وينبغي أن يستحضر في ذهنه أنه يناجي الله عز وجل ويقرأ على حال من يرى الله تعالى

“Yang pertama dalam hal ini (adab membaca al-Qur’an), diwajibkan atas pembaca al-Qur’ân niat ikhlas sebagaimana yang telah saya kemukakan dan menjaga adab terhadap al-Qur’ân. Dan sudah semestinya ia menghadirkan hatinya karena ia sedang bermunajat kepada Allâh Ta’âlâ dan membaca al-Qur’ân seperti keadaan orang yang (seakan-akan) melihat Allâh Ta’âlâ (jika dia tidak, maka sesungguhnya Allâh melihatnya–pen.).”[2]

Dr. Sa’id bin ‘Ali Wahf al-Qahthani menganalogikan ruqyah ibarat sebuah peperangan. Orang yang berperang tidak akan mampu mengalahkan musuh kecuali terpenuhi dua syarat, yaitu; senjata yang benar-benar hebat dan ada orang yang mampu menggunakan senjata tersebut. Jika tidak ada yang mampu menggunakan senjata tersebut, tentu tidak akan berguna senjata itu meskipun banyak jumlahnya.

Dr. Sulaiman al-Asyqar menegaskan: “Peruqyah hendaknya kuat keimanannya kepada Allâh Ta’âlâ seraya bersandar kepada-Nya, serta yakin akan pengaruh zikir dan bacaan al-Qur’ân. Setiap kali keimanan dan ketakwaannya bertambah kuat, maka bertambah kuat pulalah pengaruhnya.”

Hal serupa dijelaskan oleh Dr. asy-Sayyid Abdul Hakim Abdullah dalam kitab I’jâz ath-Thibb an-Nabawiy.[3]

Optimalisasi pengobatan dengan ruqyah syar’iyyah dengan keyakinan yang kuat bahwa al-Qur’ân ialah penawar, rahmat dan petunjuk bagi orang-orang beriman. Melabuhkan pengharapan (raja’), tawakal dan menghadapkan diri (tawajjuh) hanya pada Allâh Ta’âlâ, menyampaikan do’a penuh ketulusan, bertaubat sungguh-sungguh. Semakin kuat, Insyâ Allâh ruqyah semakin kuat. Oleh karena itu jika ruqyah tak menghasilkan kesembuhan, berarti disebabkan oleh lemahnya pengaruh dari terapis, atau tidak adanya penerimaan yang tulus dari pasien yang diobati, atau ada penghalang yang kuat yang menyebabkan obat tersebut tidak manjur. Wallâhu a’lam bi al-shawâb.

Ketiga, Membaca do’a-do’a ruqyah dari al-Qur’an, asmâ’ Allah al-Husnâ, hadits-hadits Rasulullah –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– atau do’a-do’a lainnya baik dengan bahasa arab atau selainnya yang dipahami maknanya dan tidak mengandung kesyirikan. Karena ruqyah tidak boleh dengan do’a, bacaan, media atau apapun yang mengandung syirik (baca: segala hal yang dilarang syari’at Islam). Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– dalam sabdanya yang mulia menegaskan batasan ini berdasarkan hadîts dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i r.a..

كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Kami biasa meruqyah pada zaman jahiliyyah, maka kami bertanya,’Wahai Rasûlullâh, bagaimana menurut anda hal itu?’ Beliau –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda: “Perdengarkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak apa-apa meruqyah selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR. Muslim)

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata dalam Fat-hul Bârî’: “Dalam hadîts terdapat kebolehan membaca ruqyah dengan ayat al-Qur’ân. Demikian juga boleh membaca ruqyah dengan zikir dan do’a yang diambil dari Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam-  atau yang bukan dari Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam-  tapi tak bertentangan dengan apa yang diajarkan Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam-.”

Al-Hafizh an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim menjelaskan ketika menggabungkan hadits-hadits yang mengandung larangan dan kebolehan ruqyah:

أن المنهى عنه هو الرقية بكلام الكفار، والرقى المجهولة والتى بغير العربية وما لا يعرف معناها، فهى مذمومة لاحتمال أن معناها كفر أو قريب منه أو مكروه ، وأما الرقى بآيات القرآن والأذكار المعروفة فلا نهى عنها بل هى سنة

“Sesungguhnya larangan terhadap ruqyah berlaku bagi ruqyah yang menggunakan perkataan kufur, dan ruqyah yang tak diketahui artinya misalnya menggunakan bahasa selain bahasa arab atau apapun yang tak diketahui artinya. Ruqyah jenis ini tercela karena kemungkinan mengandung kekufuran atau mendekati kekufuran atau mengandung sesuatu yang dibenci. Adapun ruqyah dengan ayat-ayat al-Qur’an, zikir-zikir yang baik maka tidak terlarang bahkan dihukumi sunnah.”[4]

Syaikh al-Islam mengatakan:

نهى علماء الاسلام  عن الرُّقي التي لا يُفقه معناها ؛ لأنها مَظنَّة الشرك ، وإنْ لَمْ يَعرف الرَّاقي أَنهَّا شرك

“Para ulama islam melarang ruqyah-ruqyah yang tidak dipahami maknanya; karena diduga kuat mengandung kesyirikan, meski si peruqyah tidak mengetahui bahwa ruqyah tersebut syirik.” [5]

Dalam kitab al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah (hlm. 88) dikatakan:

وممن صَرَّحَ بتحريم الرقيا بالإسم الأعجَمِيِّ الذي لا يُعْرَفُ معناهُ ابن الرشد المالكي والعز بن عبد السلام الشافعي وجماعة من أئمتنا وغيرِهِم

“Dan diantara ulama yang mengharamkan ruqyah dengan bahasa ‘ajam yang tak diketahui artinya adalah Imam Ibn Rusyd al-Malikiy, Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam al-Syafi’iy, satu golongan dari guru-guru kita dan para ulama lainnya.”[6]

Para ulama dalam kitab Fatâwâ’ al-Azhar mengatakan:

وكان العرب قبل الإسلام يعتقدون أنها مؤثرة بنفسها دون تدخل لقدرة أخرى غيرها ، واختيار- كلماتها مبنى على اعتقادات قد يرفضها الدين ، ولذلك كان موقف الإسلام منها هو تصحيح الخطأ فى الاعتقاد ، وتقرير أنه لا تأثير لها إلا بإرادة الله تعالى ، وكذلك رفض الكلمات التى تتنافى مع العقيدة الإسلامية الصحيحة . فإن كانت كلماتها مقبولة مع اعتقاد أن أثرها هو بإرادة الله سبحانه كان مسموحا بها ، مثلها مثل الدعاء أو الدواء ، وبهذا يمكن أن نفهم ما جاء من نصوص رافضة أو مجيزة لها.

“Dahulu orang-orang arab sebelum islam meyakini bahwa ruqyah berpengaruh dengan sendirinya, tanpa ada campur tangan kuasa pihak lainnya, disamping pemilihan kata-kata ruqyahnya yang didasari keyakinan-keyakinan yang dibatalkan islam. Oleh karena itu, andil islam terhadap ruqyah yakni dengan meluruskan kesalahan-kesalahan dalam akidah, dan menetapkan bahwa ruqyah tidak berpengaruh kecuali dengan kehendak kuasa Allah Ta’âlâ, disamping menolak kata-kata ruqyah yang menyalahi akidah islam yang benar. Sehingga kata-kata dalam ruqyah bisa diterima disamping keyakinan bahwa pengaruh ruqyah terwujud dengan kehendak kuasa Allah Ta’âlâ hukumnya diperbolehkan, seperti do’a atau obat. Oleh karena itu, kita bisa memahami hal-hal yang dijelaskan dalam nash-nash yang menolak atau memperbolehkan ruqyah.”

Praktik Ruqyah Mandiri

Pertama, Perhatikan adab-adab ruqyah syar’iyyah.

Kedua, Persiapkan kantung atau wadah untuk persiapan jika muntah, dan perhatikan tempat yang akan dipakai untuk terapi, jauhkan dan musnahkan hal-hal yang bisa mengundang murka Allah semisal jimat-jimat syirkiyyah.

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتَّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat-jimat, dan guna-guna adalah syirik.” (HR. Abû Dawud & Ibnu Majah)

Ketiga, Berwudhu dan melaksanakan shalat sunat (shalat sunat hajat atau shalat sunat wudhu):

أَنَّ النَّبِيَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

“Bahwa Nabi –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- berkata kepada Bilal r.a. ketika shalat Fajar (Shubuh): “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu dalam surga”. Bilal berkata; “Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu’) pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu’ tersebut disamping shalat wajib.” (HR. al-Bukhârî)

Ustadz Muhammad asy-Syafi’i menuturkan:

ويستحب أن يتوضأ المعالج قبل بدء العلاج

“Dan dianjurkan bagi seorang terapis untuk berwudhu sebelum mulai menerapi.”[7]

Keempat, Membaca bacaan ruqyah dengan tartil dan penuh penghayatan, terutama ketika membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Di antara bacaan ayat kursi (QS. Al-Baqarah [2]: 255) dan dua ayat setelahnya, berdasarkan hadits dari ‘Abdullah r.a.:

مَنْ قَرَأ عَشرَ آيات مِن سُورة البقرةِ في بَيت لم يَدْخُل ذلك البَيْتَ شَيْطَان تلك اللَيلةَ حتى يُصْبحَ أربَعَ آيات مِنْ أوَّلَها وآية الكُرسِي وآيتينِ بَعدَها وخوَاتِيمهَا

Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari surat al-Baqarah dalam satu rumah, syaithân tidak akan masuk ke dalam rumah tersebut pada malam itu hingga datang waktu pagi, yaitu empat ayat pada awal surat ditambah ayat kursi dan dua ayat sesudahnya dilanjutkan dengan ayat di akhir surat.” (HR. Muslim & Ibn Hibban dalam Shahîh-nya)[8]

Kelima, Selama pembacaan ruqyah lakukan tiupan. Hal itu karena ruqyah adalah perlindungan dan hembusan nafas. Sebagaimana dijelaskan dalam sejumlah kamus arabiyyah di antaranya Imam Muhammad bin Ahmad al-Azhari yang mendefinisikan ruqyah:

رَقَى الرَّاقِيْ رُقْيَةً وَرَقْيًا إِذَا عَوَّذَ وَنَفَثَ

“Peruqyah melakukan ruqyah apabila ia membaca doa perlindungan dan meniup.”[9]

Imam Ibn al-Mandzur mengatakan:

قال ابن منظور: والرقية: العوذة، معروفة، والجمع رقى. وتقول: استرقيته فرقاني رقية، فهو راق … يقال: رقى الراقي رقية ورقيا إذا عوذ ونفث في عوذته

“Ruqyah: do’a perlindungan, jamaknya ruqâ. Kita katakan: Aku meminta ruqyahnya dan ia meruqyahku ia disebut râqi”…. dikatakan: peruqyah meruqyah dengan suatu jampi jika ia meminta perlindungan dan menghembuskan nafas dalam do’a perlindungannya.”[10]

Imam Ibn al-Atsir mengatakan:

النَّفْثُ شبيه بالنَّفخ وهو أقل من التَّفْل ، لأن التَّفْل لا يكون إلا ومعه شيءٌ من الرِّيِق

An-Nafatsu sama seperti an-nafakhu yakni lebih sedikit dari at-taflu, karena at-taflu tidak mengandung apapun kecuali air ludah.”[11]

Al-Hafizh an-Nawawi pun menjelaskan:

والظاهر أن المراد النفث، وهو نفخ لطيف لا ريق معه

“Dan zhahir hadits ini bahwa yang dimaksud an-nafatsu yakni hembusan nafas yang lembut tidak disertai air ludah.”[12]

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani pun menuturkan dari Ibn Abi Hamzah:

محل التَّفْل في الرقية يكون بعد القراءة ؛ لتحصيل بركة القراءة في الجوارح التي يمر عليها الريق فتحصل البركة في الريق الذي يتفله

“Tempatnya at-taflu (yakni hembusan nafas yang mengandung sedikit ludah) dalam ruqyah setelah pembacaan; untuk menghasilkan keberkahan dari bacaan pada anggota badan yang dilalui oleh air ludah, maka dihasilkan lah keberkahan dari air ludah yang mengendap padanya.”[13]

Bacaan ruqyah tersebut ditiupkan pada kedua telapak tangan lalu diusapkan ke sekujur tubuh. Hal itu sebagaimana sunnah sebelum tidur khususnya dengan bacaan al-mu’awwidzât.

Pembacaan ruqyah, bisa didukung dengan pembacaan yang ditiupkan pula pada air yang dicampur garam berdasarkan hadits dari Ali bin Abi Thalib r.a.:

‎لَدَغَتِ‎ ‎النَّبِيَّ‎ -صلى الله عليه وسلم-‎عَقْرَبٌ‎ ‎وَهُوَ‎ ‎يُصَلِّيْ‎. ‎فَلَمَّا‎ ‎فَرِغَ‎ ‎قَالَ‎: ‎لَعَنَ‎ ‎اللهُ‎ ‎اْلعَقْرَبَ،‎ ‎لاَ‎ ‎تَدَعُ‎ ‎مُصَلِّياً‎ ‎وَلاَ‎ ‎غَيْرَهُ‎. ‎ثُمَّ‎ ‎دَعَا‎ ‎بِمَاءٍ‎ ‎وَمِلْحٍ،‎ ‎فَجَعَلَ‎ ‎يَمْسَحُ‎ ‎عَلَيْهَا،‎ ‎وَيَقْرَأُ‎: ‎قُلْ‎ ‎يَا‎ ‎أَيُّهاَ‎ ‎اْلكَافِرُوْنَ،‎ ‎وَقُلْ‎ ‎أَعُوْذُ‎ ‎بِرَبِّ‎ ‎الْفَلَقِ،‎ ‎وَقُلْ‎ ‎أَعُوْذُ‎ ‎بِرَبِّ‎ ‎النَّاسِ‎

“Ketika RasûlullâhshallaLlâhu ‘alayhi wa sallamsedang shalat, beliau digigit Kalajengking. Setelah beliau selesai shalat, beliau bersabda, ‘Semoga Allâh  melaknat Kalajengking yang tidak membiarkan orang yang sedang shalat atau yang lainnya.’ Lalu beliau mengambil satu wadah air dan garam. Kemudian beliau usap bagian anggota badan yang digigit Kalajengking, seraya membaca surat al-Kâfirûn, al-Falaq dan an-Nâs.” (HR. Ath-Thabrani no. 832)[14]

Lalu air tersebut boleh diminumkan, diusapkan dan dipercikkan pada anggota badan yang diruqyah atau dipakai untuk mandi. Dan bisa dipakai untuk dipercikkan pada sudut-sudut tempat untuk meruqyah tempat atau membasuh benda sihir sebelum dimusnahkan.

Download Bacaan-Bacaan Ruqyah Syar’iyyah: Do’a-Do’a Ruqyah Syar’iyyah

Keenam, Jika merasakan reaksi ganjil yang tiba-tiba pada tubuh (seperti panas di punggung, mual di perut, kedinginan), maka perkuat kualitas bacaan ruqyah, diulang-ulang, disertai do’a agar Allâh Ta’âlâ berkenan memberikan pertolongan-Nya. Diantaranya dengan meletakkan tangan kanan pada bagian tubuh yang sakit, lalu ucapkan:

بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ، بِسْمِ اللهِ

Lalu ucapkan do’a (7 kali):

أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Aku berlindung kepada kemuliaan Allâh dan kekuasaan-Nya dari keburukan apa-apa yang aku temukan dan apa-apa yang aku khawatirkan.” (HR. Muslim & at-Tirmidzi)[15]

Dan do’a dari hadits:

أعـوذُ بكلماتِ اللهِ التامّةِ , من كلِّ شيطانٍ وهـامّةِ , ومن كلِّ عينٍ لامّـة[16

Dan do’a dari hadits:

أسألُ اللهَ العَظِيمَ ربَّ العَرْشِ العَظيمِ أنْ يَشْفِيَنِيْ

 “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb ‘Arsy yang agung agar menyembuhkanku.”

Do’a ini diambil dari hadits dari Ibnu Abbas r.a., dari Nabi –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَعُودُ مَرِيضًا لَمْ يَحْضُرْ أَجَلُهُ فَيَقُولُ سَبْعَ مَرَّاتٍ : أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ ، إِلَّا عُوفِيَ

Tidaklah seorang hamba Allah yang muslim mendo’akan bagi orang yang sakit yang belum menemui kematiannya lalu ia mengatakan sebanyak tujuh kali: “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Rabb ‘arsy yang agung agar Dia menyembuhkanmu” kecuali disembuhkan oleh Allah.(HR. at-Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Hibban dan al-Hakim)[17]

Dan jika hendak muntah maka muntahkan, karena dalam banyak pengalaman, muntah adalah media keluarnya penyakit dimana si sakit akan merasa lebih baik setelah muntah.

Ketujuh, Apabila rasa sakit telah sirna bi idznillâh, dianjurkan melakukan sujud syukur sebagai salah satu wujud syukur kepada Allâh atas pertolongan-Nya:

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

 “Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml [27]: 40)

Kedelapan, Istiqamah melakukan keta’atan, menjauhi kemaksiatan dan sebaiknya rutin melakukan ruqyah dzatiyyah sebagai tindakan preventif, bi idznillâh. Dan jauhi berbagai keharaman:

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ الله طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ الله أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allâh itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allâh telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allâh juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allâh akan memperkenankan do’anya?.” (HR. Muslim no. 1686)

Kesembilan, Jika diperlukan, maka bisa dibantu oleh orang yang shalih untuk meruqyahnya. Bagaimana tatacara meruqyahnya? Artikel-Artikel Ruqyah Syar’iyyah: Link Artikel dan Download

Daftar Pustaka

Al-Jazairi, Abdurrahman. 1424 H. Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah. Cet. II. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ash-Shabuni, Prof. Dr. Ali. 1400 H. Rawâ’I’ al-Bayân: Tafsîr Âyât al-Ahkâm. Cet. III. Damaskus: Maktabah Al-Ghazali.

Ar-Rasythah, Atha bin Khalil. 1427 H. At-Taysîr fî Ushûl At-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cet. II. Beirut: Dar al-Ummah.

Alu Sa’di, Abdurrahman bin Nashir. 1425 H. Mukhtashar fî Ushûl I’tiqâd Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah. Editor: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar. Dar al-Muta’allim.

Abdullah, Dr. As-Sayyid Abdul Hakim. 1418 H. I’jâz ath-Thibb an-Nabawiy.  Cet. I. Kairo: Dar al-Afaq al-Arabiyyah.

Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Ar-Raghib al-Ashfahani.

Al-Maqdisi, Adh-Dhiyâ’. (Tanpa Tahun). Al-Ahâdîts al-Mukhtârah. Tahqiq: Abdul Mulk Dahisy. Arab Saudi.

Ath-Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. (Tanpa Tahun). Al-Mu’jam ash-Shaghîr. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Ath-Thabrani, Sulaiman bin Ahmad. (Tanpa Tahun). Al-Mu’jam al-Awsâth. Tahqiq: Thariq bin ‘AudhuLlah. Kairo: Dar al-Haramayn.

Al-Bayhaqi. (Tanpa Tahun). Syu’b al-Îmân. Tahqiq: Muhammad as-Sa’id Basuni. Cet. I. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

At-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. (Tanpa Tahun). Jâmi’ at-Tirmidzi. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, dan lainnya. Beirut: Dâr Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabiy.

An-Naysaburi, Al-Hakim. (Tanpa Tahun). Al-Mustadrak ‘alâ ash-Shahîhayn. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-‘Asqalani, Ibn Hajar. 1996. Ittihâf al-Mahrah. Tahqiq: Abdullah Murad ‘Ali. Cet. I. Madinah: Majma’ al-Mulk Fahd.

Ar-Râzi, Abu Abdullah Muhammad bin Umar bin al-Hasan. 1420 H. Mafâtîh al-Ghayb. Cet. III. Beirut: Dar Ihyâ’ at-Turâts al-‘Arabiy.

Qal’ah Ji, Prof. Dr. Muhammad Rawwas & Dr. Hamid Shadiq. 1988. Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’. Cet. II. Beirut: Dar an-Nafa’is.

Wijaya, Irfan Ramdhan. 2011. Menyingkap Jin dan Dukun Hitam Putih Indonesia. Cet. I. Surabaya: Halim Jaya.

Dan lain-lain

Catatan Kaki:

[1] Mafâtîh al-Ghayb, Abu Abdullah Muhammad bin Umar ar-Râzi (w. 606 H).

[2] At-Tibyân fî Âdabi Hamalatil Qur’ân, Abu Zakariya bin Syarf an-Nawawi

[3] I’jâz ath-Thibb an-Nabawiy, Dr. as-Sayyid Abdul Hakim Abdullah, hlm. 128.

[4] Syarh Shahîh Muslim (14/196)

[5] Îdhah al-Dalâlah fî ‘Umûm al-Risâlah, al-Rasâil al-Munîriyyah (2/103).

[6]

[7] As-Sihr wa al-Jân Bayna al-Masîhiyyah wa al-Islam, hlm. 177.

[8] Lihat pula Ittihâf al-Mahrah karya al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H), hadits no. 12231:

من قرأ عشر آيات من سورة البقرة في ليلة لم يدخل ذلك البيت شيطان

[9] Tahdzîb al-Lughah (9/29).

[10] Lisân al-‘Arab (14/332)

[11] An-Nihâyatu fî Gharîb al-Hadîts (V/ 87).

[12] Shahîh Muslim Bi Syarh an-Nawawi, Al-Hafizh an-Nawawi.

[13] Fat-h al-Bâri (IV/ 456), Ibn Hajar al-‘Asqalaniy.

[14] Al-Mu’jam ash-Shaghîr, Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani (w. 360 H). Imam al-Haitsami menyatakan: ”Sanad hadîts ini hasan (baik)” (Majma’ azZawaid (5/ 111)). Lihat juga al-Mu’jam al-Awsath-nya Imam ath-Thabrani no. 6040. Hadits penggunaan air dan garam ini pun diketengahkan dalam kitab al-Ahâdîts al-Mukhtârah karya adh-Dhiyâ’ al-Maqdisiy (w. 643 H) hadits no. 673 dengan sanad hasan; Syu’b al-Îmân karya Imam al-Bayhaqi (w. 458 H) hadits no. 2356.

[15] Shahih Muslim, Kitab (السلام), Bab. (استحباب وضع يده على موضع الألم مع الدعاء), hadits no. 2202 tanpa kata (بعزة); Sunan At-Tirmidzi, Kitab (الطب عن رسول الله), Bab. (ما جاء في دواء ذات الجنب), hadits no. 2080 dengan tambahan (وسلطانه) dari Utsman bin Abu al-‘Ash.

[16] Shahîh al-Bukhârî, Kitab (أحاديث الأنبياء), Bab. (قوله تعالى (واتخذ الله إبراهيم خليلا)), hadits no. 3371 dari Ibnu Abbas r.a., lihat pula Tafsîr al-Qurthubi (IX/ 226)

[17] Jâmi’ at-Tirmîdzî, Muhammad bin Isa at-Tirmidzi (w. 256 H), hadits no. 2009. Abu Isa berkata: “Hadits ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits al-Minhal bin Amru.” Namun penulis kitab Tuhfatul Ahwadzî Syarh at-Tirmîdzî (no. 1938) menuturkan:

قَوْلُهُ : ( هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ) وَأَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ وَقَالَ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ

“Perkataannya (hadits ini hasan gharib) dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Hibban (dalam shahihnya-pen.) dan al-Hakim. Al-Hakim berkata: “Hadits ini shahih dengan syarat Syaykhayn (al-Bukhari dan Muslim)”.” (Lihat pula syarah at-Tirmidzi lainnya: ‘Awn al-Ma’bûd syarah hadits no. 2588).

Dalam al-Mustadrak ‘alâ Shahîhayn, Imam al-Hakim an-Naysaburi menuturkan: “Hadits ini shahih memenuhi syarat al-Bukhari namun beliau tidak mengeluarkannya.”

3 comments on “Terapi Ruqyah Syar’iyyah Secara Mandiri

  1. […] Link: Terapi Ruqyah Mandiri & Terapi Ruqyah Dibantu Oleh Orang Lain […]

    Suka

  2. […] Praktik Ruqyah Mandiri: Terapi Ruqyah Mandiri […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s