Tanya Jawab: Susuk & Pengobatannya

Tanya Jawab Susuk

Tanya Jawab Mengenai Susuk & Pengobatannya di http://www.irfanabunaveed.com

Pertanyaan

Assalamualaikum…

Ustadz… pa kbr? Afwan ane mw tanya boleh? Ini trkait dg illmu kejawen… ada tmn sy tny dia dulunya memasukkan benda2 ke dlm tubuhnya dg menelannya ke dlm tubuh spt: intan, berlian, dll.dg tujuan memperoleh… khasiat dr benda2 tsb dg merapalkan suatu amalan2 yg di wiridkan… nah pertnyaan sy… bisakah smua benda2 yg ditanam.di dlm tubuh dia itu di keluarkan… bgaimana prosesnya spy.smua ilmu2 yg berada di dlm tubuhnya di hilangkan dg mgkn ruqyah syariyyah?… trmksh atas jwbnnya…

Soalnya ada anggapan bhwa ktika mreka memasukkan benda2 ke dlm tubuhnya itu ktika ingin mengeluarkannya yah harus kepada org yg mnjdi mbahnya ktika memasukkannya… nah… jwbn antum bs. Illa bi idznillah…lalu apa yg bs kita lakukan apakah hny org2 yg mengeluarkan illa.bi iidznillah itu yg blajar ruqyah syariyyah sja… ataukah… kami… wlopun blm prnh bljr… bisa aja mlakukannya dg panduan yg sudah antum tuliskan di dlm web itu…. mksh tadz atas jwbnya

LN

Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد.

Pertama, Susuk Termasuk Benda Praktik Sihir

Adapun benda yang dimasukkan ke dalam tubuh dengan maksud-maksud seperti itu dinamakan susuk. Susuk jenis apapun jika ia ditujukan untuk hal-hal mistis, dalam istilah perdukunan semisal kekebalan, memancarkan atau membuka aura dan dilakukan dengan menggunakan bantuan jin maka itu sudah tergolong ke dalam praktik sihir. Bagaimana caranya sebuah benda padat bisa masuk ke dalam tubuh hanya dengan cara disentuh, ditekan dan dibacai mantra-mantra jika tidak menggunakan bantuan jin? Jika tak menggunakan bantuan jin maka itu tipuan belaka.

Dan sihir terjadi dengan bantuan syaithan-syaithan golongan jin, dalam kamus Lisân al-‘Arab Imam al-Laits berkata: “Sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada syaithân dengan bantuannya.”

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah pun mengemukakan:

والسِّحر هو مركَّب من تأثيرات الأرواح الخبيثة، وانفعال القُوَى الطبيعية عنها

“Sihir adalah gabungan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat (baca: para syaithân), serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya.”[1]

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji:

الاستعانة بالشياطين على تحصيل ما لا يقدر عليه

“(Sihir) dengan meminta pertolongan syaithan-syaithan untuk meraih apa-apa yang tidak mampu dilakukannya (kejadian luar biasa).”[2]

Kedua, Wajib Bertaubat dari Praktik Sihir

Orang yang memasukkan susuk sihir tersebut wajib bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Karena susuk dalam pengertian di atas termasuk benda dalam praktik sihir, dan para ulama bersepakat atas keharaman mempraktikkan ilmu sihir, karena bahkan bisa menyebabkan kekufuran dan kemurtadan, hal itu terjadi jika si pelaku meyakini keyakinan syirik misalnya keyakinan bahwa jin yang berkuasa atas urusannya, dan atau melakukan perbuatan bersujud kepada makhluk-Nya, menghinakan ayat-ayat suci al-Qur’an dengan darah haid atau darah sembelihan (seperti fakta yang ada) dan lain sebagainya.

Jumhur ulama mengharamkan secara mutlak pembelajaran ilmu sihir meskipun tidak dipraktikkan. Artinya, lebih tercela lagi jika dipraktikkan. Dikatakan: “Mempelajari ilmu sihir haram tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama, dan meyakini kehalalan sihir itu kufur.” [3] Allâh SWT berfirman:

إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Sesungguhnya kami cobaan (bagimu), maka janganlah kamu kafir” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata: “Di dalam firman-Nya ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa mempelajari sihir adalah kufur.”[4]

Syaikhul Ushul ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “(Sihir) diajarkan oleh dua malaikat Harut dan Marut kepada manusia. Allah telah menurunkan keduanya di negeri Babil untuk mengajarkan kepada manusia ilmu sihir, akan tetapi (Allah melalui kedua malaikat ini) memperingatkan manusia untuk tidak mengamalkan ilmu sihir dan mengabarkan kepada mereka bahwa kedua malaikat ini (yang membawa ilmu sihir) merupakan ujian bagi manusia dan cobaan berat bagi mereka (“keduanya (Harut & Marut) tidak mengajarkan (ilmu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.”).”

Syaikh Atha’ bin Khalil pun menegaskan:

وتعليم السحر للناس هو ابتلاء لهم، فمن آمن بالسحر وعمل به فقد كفر، ومن لم يؤمن به ولم يعمل به فقد نجا (إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Pengajaran ilmu sihir bagi manusia merupakan bencana bagi mereka, karena barangsiapa mengimani (pembenaran yang pasti-pen.) sihir dan mengamalkannya maka sungguh kufur dan barangsiapa yang tak mengimani sihir dan tak mengamalkannya maka selamat. (“Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”).[5]

Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shabuni mengatakan: “Mayoritas ulama mengharamkan mempelajari dan mengajarkan ilmu sihir, karena al-Qur’ân[6] menyebut ilmu ini untuk mencela dan menjelaskan bahwa sihir itu kufur. Lantas bagaimana mungkin bisa diperbolehkan?”[7]

Ali ash-Shabuni pun berhujjah bahwa Rasûlullâh SAW menggolongkan perbuatan tersebut sebagai dosa besar yang membinasakan (al-kabaa’ir al-muhlikah).

اجْتَنِبُوُا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ, قُلْنَا: وَمَا هُنّ يَا رَسُوْلََ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالحْقِّ وَأَكْلَ الرِّبَا وَأَكْلَ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلَّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقًَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتَ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Kami bertanya: “Apa itu wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Allâh, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berlari dari pertempuran, menuduh zina mukminah yang menjaga kehormatannya.” (HR. al-Bukhârî & Muslim)

Imam ar-Raghib al-Ashfahani menegaskan bahwa lafazh ijtanibû (jauhilah) maknanya lebih mendalam daripada kata utrukû (tinggalkanlah), ia menuturkan:

اجتنبوا الطاغوت:  عبارة عن تركهم إياه، (فاجتنبوه لعلكم تفلحون) ، وذلك أبلغ من قولهم: اتركوه

“(Jauhilah thaghut-thaghut) yakni ungkapan agar kalian wajib meninggalkannnya (jauhilah ia mudah-mudahan kalian menjadi golongan yang beruntung), hal itu karena lafazh ijtanib lebih mendalam daripada perkataan: utrukûhu (tinggalkanlah oleh kalian hal itu).”[8]

Dan Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– menggunakan lafazh ijtanib ketika memerintahkan kita menjauhi perbuatan dosa-dosa besar tersebut. Dan urutan tingkat dosanya yang kedua setelah menyekutukan Allah adalah perbuatan sihir, lalu bagaimana dengan sihir yang diupayaka dengan menggabungkan berbagai macam kemungkaran demi mencari keridhaan syaithan? Syirik memuja syaithan atau bersekutu dengannya, perzinaan, pembunuhan dan lain sebagainya.

Maka mereka yang mempelajari ilmu sihir kekebalan dan mempraktikkannya wajib bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).(QS. At-Tahriim [66]: 8)

Ketiga, Mengeluarkan Susuk dari Dalam Tubuh

Lalu bagaimana cara mengeluarkan susuk tersebut? Apakah harus dengan mendatangi si dukun yang memasangkannya?

Tidak boleh mendatangi kembali dukun atau tukang sihir yang memasangkan susuk tersebut untuk mengeluarkan susuknya, karena Islam mengharamkan perbuatan mendatangi dukun atau paranormal (‘arraaf) termasuk kembali mendatangi mereka setelah bertaubat. Karena di antara wujud taubat yang sebenar-benarnya adalah tekad untuk tidak mengulangi kesalahannya dan kesalahan pertama mereka yang memasang susuk adalah mendatangi dan memakai jasa dukun tersebut.

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi ‘arrâf lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 4137 & Ahmad no. 22138)

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa mendatangi kâhin lalu membenarkan (meyakini) apa yang dikatakannya maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimi)

Hadits dari Mu’awiyah bin al-Hakam r.a.:

قَالُوا وَمِنَّا رِجَالٌ يَأْتُونَ الْكُهَّانَ قَالَ فَلَا تَأْتُوا كَاهِنًا

“Aku berkata: Dulu kami biasa mendatangi dukun. Nabi –shallaLlaahu ‘alayhi wa sallam– bersabda: “Janganlah kalian mendatangi dukun.” (HR. Ahmad & Muslim. Lafal Ahmad)

Dalam ceramah Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Abbad, ia menyatakan bahwa bagaimana mungkin seorang muslim mendatangi dukun, tukang sihir, paranormal untuk mengharapkan kebaikan dari mereka (dengan praktik perdukunan, sihirnya)? Padahal Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan bahwa mereka tidak akan meraih keberuntungan dari sisi mana pun datangnya:

وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَىٰ

“Tidak akan beruntung tukang sihir itu dari arah manapun datangnya.” (QS. Thaahaa [20]: 69)

Imam Ahmad pun meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah –shallaLlaahu ‘alayhi wa sallam– pernah ditanya tentang pengobatan dukun, beliau menyatakan bahwa itu perbuatan syaithan.

Lalu bagaimana cara ‘mengeluarkan’ susuk tersebut? Lakukan ruqyah syar’iyyah, karena tidak jarang saya lakukan terapi ruqyah syar’iyyah untuk mereka yang pernah memasang susuk dan bertaubat, dan seketika saya larang untuk kembali mendatangi dukun atau tukang sihirnya.

Keempat, Lakukan Ruqyah Mandiri

Yang mesti dilakukan oleh mantan pelaku kekebalan:

  • Taubat dengan sebenar-benarnya,

  • Menegakkan amal kebaikan; misalnya mendawamkan shalat berjama’ah di masjid (bagi pria), menggiatkan diri menghadiri majelis-majelis ilmu, berjama’ah dalam jama’ah dakwah Islam dan berkawan dengan orang-orang shalih di lingkungan yang baik, dan lain sebagainya,

  • Melakukan ruqyah mandiri secara rutin. Praktik ruqyah mandiri dan dibantu ruqyah orang lain bisa dipelajari di sini:

Praktik Ruqyah Mandiri: Terapi Ruqyah Mandiri

Praktik Ruqyah Dibantu Oleh Pihak Lain: Terapi Ruqyah Dibantu Oleh Orang Lain

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Zâd al-Ma’âd (4/126).

[2] Mu’jam Lughatil Fuqaahaa’, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji.

[3] Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah Juz. IV, al-Syaikh ‘Abd al-Rahman al-Jazayri.

[4] Fat-h al-Bârî (X/225) buah tangan al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalaniy.

[5] Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, al-‘Alim al-Syaikh Atha’ ibn Khalil.

[6] QS. al-Baqarah [2]: 102.

[7] Rawâ-‘i al-Bayân, Juz. I, Hal. 83-84

[8] Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Ar-Raghib al-Ashfahani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s