Tanya Jawab Seputar Ilmu Kekebalan & Terapi Pengobatannya yang Syar’i

Pertanyaan

Assalaamu’alaykum,wr,wb

Afwn tadz mau tanya, bagaimanakah metode untuk meruqyah seseorang yang pernah menuntut ilmu kebal? Dan orangnya pengen dikeluarin ilmu-ilmu tersebut dari badannya, dan susuk baja yang masih ada dalam tubuh beliau. Mhn penjelasannya tadz

Wandi Balaraja Banten

Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد.

Pertama, Ilmu Kekebalan Termasuk Ilmu Sihir

Allah menciptakan tubuh manusia sesuai dengan kadarnya, di antaranya bisa terluka ketika terkena tusukan atau sayatan benda tajam, jika ada tusukan atau sayatan tapi tak terluka sedikitpun padahal ghalibnya terluka maka ini yang dinamakan khawâriq lil ‘âdah (kejadian luar biasa), dan di antaranya termasuk sihir. Lalu apakah ilmu kekebalan yang diklaim sebagian orang di negeri ini apakah bisa tergolong sihir? Bagaimana ciri-ciri kejadian luar biasa yang termasuk sihir?

Pertama, Kejadian luar biasa yang termasuk sihir ada pada orang kafir, munafik, fasik, ahli maksiat dibantu oleh syaithan-syaithan golongan jin. Dalam dialog antara Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi dan Imam asy-Syafi’i kita mengetahui pandangan asy-Syafi’i. Yunus bin Abdul A’la ash-Shadafi menuturkan:

قُلْتُ لِلشَّافِعِيِّ: إِنَّ صَاحِبَنَا اللَّيْثَ كَانَ يَقُولُ: إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ فَلَا تَعْتَبِرُوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؟ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: قَصَّرَ اللَّيْثُ رَحِمَهُ اللَّهُ، بَلْ إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ، وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ، فَلَا تَعْتَبِرُوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.

“Aku berkata kepada asy-Syafi’i: “Sesungguhnya sahabat kami, Imam al-Laits bertutur: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air, janganlah kalian tertarik (terpedaya-pen.) padanya hingga kalian mengembalikan perkara ini kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.” Imam asy-Syafi’i menimpali: “Al-Laits –rahimahuLlâh- meringkasnya, tetapi yakni jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air, dan terbang di udara janganlah kalian tertarik padanya hingga kalian mengembalikan perkara ini kepada al-Qur’an dan as-Sunnah.”[1]

Syaikh Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Haddad menjelaskan:

و كل من لم يبالغ في التمسك بالكتاب و السنة و لم يبذل و سعه فى متابعة الرسول وهو مع ذلك يدعى أن له مكانة من الله تعالى فلا تلتفت إليه ولا تعرج عليه وإن طار في الهواء ومشى على الماء وطويت له المسافات وخرقت له العادات فإن ذلك يقع كثيرا للشياطين والسحرة والكهان والعرافين والمنجمين وغيرهم من الضلال

“Barangsiapa tak bersungguh-sungguh berpegang dengan al-Qur’ân dan al-Sunnah, juga tak mengerahkan kemampuan untuk mengetahui jejak Rasul kemudian ia mengaku mempunyai derajat tinggi di hadapan Allâh, maka jangan sampai engkau berpaling kepadanya dan mengikutinya meskipun dia bisa terbang, berjalan di atas air, bisa meringkas jarak perjalanan atau mempunyai keanehan-keanehan lain. Karena peristiwa-peristiwa semacam ini bisa dilakukan syaithân-syaithân, para tukang sihir (dukun), para tukang ramal, orang-orang yang mengetahui keadaan samar (al-‘arrâfîn) dan para ahli perbintangan (al-Munajjimîn). Mereka semua ini termasuk orang-orang sesat.”[2]

Imam Abdurrahman al-Jazairi dalam kitab fikih 4 madzhabnya menuturkan:

وأما السحر الوارد في الحديث فإن المراد به الأقوال، والأفعال التي تنافي أصول الدين، وتتعارض مع الأخلاق الشرقية، ولهذا عرفه الفقهاء: بأنه كلام مؤلف يعظم به غير الله تعالى، وتنسب إليه مقادير الكائنات، ولا ريب في أنه بهذا المعنى كبيرة من أفظع الكبائر، بل قد يكون ردة ظاهرة، بصرف النظر عما يترتب عليه من الآثار. لأن الذي يعظم غير الله بما هو مختص بالله وحده كافر.

“Adapun sihir yang disebutkan dalam hadits yang dimaksudkan olehnya yakni berupa perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan pokok agama Islam, dan menyelisihi akhlak yang mulia, itulah yang didefinisikan oleh para ahli fikih: Bahwa ia adalah perkataan yang menghimpun pengagungan kepada selain Allah, dan menisbatkan kepada selain Allah kemampuan-kemampuan penciptaan, maka tak ada keraguan bahwa sihir dalam pengertian ini merupakan dosa besar termasuk seburuk-buruknya dosa besar, bahkan kemurtadan yang nyata, dengan memerhatikan pengaruh yang diakibatkannya. Karena orang yang mengagungkan selain Allah dalam hal-hal yang khusus bagi Allah itu sendiri adalah kafir.”[3]

As-Sayyid Abdurrahman Ba Alwi asy-Syafi’i dalam Bughyatul Mustarsyidîn menjelaskan:

السحر هو ما يحصُلُ بِتَعَلُّم و مباشرة سبب على يد فاسق أو كافر كالشعوذَة وهي خِفَّه اليد بالأعمال وحمل الحية ولَدغِها له واللعبُ بالنارِ من غير تأثيرٍ والطلاسم والتغْريمات المحرمة واستخدامِ الجان وغير ذلك، إذا عرفتَ ذلك علمتَ أن ما يتعاطاه الذين يضربون صدورَهم بدَبوس أو سكين أو يَطعَنون أعيُنَهم أو يحملون النار أو يأكلونها وينتَمون إلى سيدى أحمد الرفاعي أو سيدى أحمد بن علوان أو غيرهما من الأولياء إنهم إن كانوا مستقيمين على الشريعة قائمين بالاوامر تاركين للمناهِى عالمين بالفرض العين من العلم عاملين به لم يتعلموا السببَ المُحَصِّلَ لهذا العمل فهو من حيز الكرامة وإلا فهو من حيز السحر إذ الإجماعُ مُنْعَقِد أن الكرامة لاتظهر على يد فاسق وأنها لاتحصُلُ بتَعَلُّمِ أقوال واعمال وأن ما يظهر على يد الفاسق من الخوارق من السحر المحرم تعلّمُه وتعليمُه وفعلُه.

“Sihir ialah kejadian luar biasa yang dihasilkan dengan mempelajarinya dan melalui usaha-usaha yang dilakukan oleh orang kafir atau orang fasiq, seperti: sulap, membawa ular dan ular tersebut menggigit, bermain-main dengan api tanpa terpengaruh sama sekali (kebal), tulisan rajah-rajah Arab, mantra-mantra yang diharamkan, meminta bantuan jin dan lain sebagainya. Ketika engkau sudah mengetahui pengertian sihir seperti di atas, maka atraksi-atraksi yang dilakukan dengan menusuk badan memakai pisau, membawa api atau memakannya, yang mana ilmu kekebalan tersebut konon katanya berasal dari para wali seperti Sayyid Ahmad Rifa’i atau Ahmad Ibnu Alwan, untuk menghukuminya perlu dirinci, jika pelakunya disiplin syari’at serta ta’at menjalankan perintah-perintah Allâh dan menjauhi larangan-larangan-Nya dan mendapatkannya tidak melalui usaha-usaha atau belajar, maka kejadian tersebut jelas-jelas termasuk karâmah. Dan jika tidak memenuhi syarat-syarat di atas maka kejadian tersebut termasuk sihir yang diharamkan, karena menurut ijma’ ulama, karâmah tak mungkin timbul dari orang fasiq dan tak bisa diperoleh dengan cara belajar atau melalui usaha-usaha. Dan sesungguhnya kejadian luar biasa yang timbul dari orang fasiq termasuk sihir.”[4]

Dan sihir terjadi dengan bantuan syaithan-syaithan golongan jin, dalam kamus Lisân al-‘Arab Imam al-Laits berkata: “Sihir adalah suatu perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada syaithân dengan bantuannya.”

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah pun mengemukakan:

والسِّحر هو مركَّب من تأثيرات الأرواح الخبيثة، وانفعال القُوَى الطبيعية عنها

“Sihir adalah gabungan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat (baca: para syaithân), serta interaksi berbagai kekuatan alam dengannya.”[5]

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji:

الاستعانة بالشياطين على تحصيل ما لا يقدر عليه

“(Sihir) dengan meminta pertolongan syaithan-syaithan untuk meraih apa-apa yang tidak mampu dilakukannya (kejadian luar biasa).”[6]

Syaikh Wahid Abdussalam Bâli memperingatkan: “Bisa jadi seseorang itu bukan tukang sihir sama sekali dan dia pun tak berpegang pada syari’at, bahkan justru senang melakukan perbuatan dosa besar, meski demikian, pada dirinya tampak beberapa kejadian luar biasa dan tidak jarang hal itu terjadi pada ahli bid’ah atau orang yang suka menyembah kuburan. Maka mengenai hal tersebut, dapat dinyatakan bahwa hal itu merupakan bantuan syaithân sehingga jalan bid’ah yang ditempuhnya dibuat indah sedemikian rupa sehingga tampak indah bagi orang lain, lalu mereka mengikutinya dan meninggalkan sunnah. Hal seperti itu banyak terjadi dan sudah sangat populer, khususnya jika orang itu seorang pemimpin salah satu thariqat shufi yang diwarnai perbuatan bid’ah.”[7]

Kedua, Sihir bisa dipelajari dan diajarkan. Lain halnya dengan mukjizat dan karamah, sihir bisa diupayakan dengan ikhtiar manusia, bisa diajarkan (diwariskan) dan bisa dipelajari, dimana keduanya diisyaratkan Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 102. Yakni pada kata (يُعَلِّمُونَ) dan kata (يَتَعَلَّمُونَ). Maka para ulama pun menjelaskan mengenai hukum mempelajari ilmu sihir berdasarkan firman Allah SWT:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Ketiga, Sihir bisa diupayakan dan dipertontonkan sekehendaknya. Di antaranya dengan sesaji, pembacaan mantra-mantra syirik, amalan bid’ah, keburukan, pembacaan ayat suci al-Qur’an yang diiringi dengan kemungkaran (misal: disyaratkan harus emosi, mantra syirik, -), di sisi lain bisa dipertontonkan sekehendaknya.

Imam al-Mazari berkata: “Perbedaan antara sihir, karâmah dan mukjizat adalah bahwa sihir berlangsung melalui proses beberapa bantuan sejumlah bacaan dan perbuatan (ritual khusus –pen.) sehingga terwujud apa yang menjadi keinginan tukang sihir. Sedangkan karâmah tidak membutuhkan hal tersebut, tetapi biasanya karâmah ini muncul berkat taufik dari Allâh. Adapun mukjizat, ia mengandung kelebihan atas karâmah, yaitu adanya tantangan terhadap musuh Allâh.”[8]

Al-Hafizh Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani berujar: “Imam al-Haramain menukil ijma’ yang menyatakan bahwa sihir itu tidak muncul kecuali dari orang fasik, sedangkan karâmah tidak akan muncul pada orang fasik.” Beliau merinci, “Perlu juga diperhatikan keadaan orang yang mengalami kejadian luar biasa seperti itu, jika dia berpegang teguh pada syari’at dan menjauhi dosa-dosa besar, maka berbagai kejadian luar biasa yang tampak pada dirinya merupakan karâmah, dan jika dia tidak berpegang teguh pada syari’at serta melakukan perbuatan dosa besar, maka hal tersebut merupakan sihir karena sihir muncul dari salah satu jenisnya, misalnya  memberi bantuan kepada syaithân.”[9]

Fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitsami: “Ditanyakan kepada beliau: “Apa yang dilakukan oleh kumpulan orang yang duduk melingkar di tepi-tepi jalan, dengan atraksi-atraksi aneh, seperti: memenggal kepala manusia kemudian dikembalikan seperti semula dan dipanggilnya potongan kepala tersebut sebelum dikembalikan pada keadaan semula, dan potongan kepala itu pun menyahutinya, debu di ubah wujudnya menjadi dirham dan berbagai atraksi lainnya yang sudah begitu populer di kalangan mereka, apakah semua ini termasuk sihir? Begitu juga mengenai hukum menulis mahabbah atau pelet dan juga hukum mengeluarkan jin (dengan ruqyah atau amalan batil)?” Beliau menjawab: bahwa mereka itu tergolong tukang sihir dan seandainya bukan tergolong tukang sihir, perbuatan seperti itu sudah barangtentu tidak boleh dilakukan. Dan siapapun tidak boleh menonton pertunjukkan semacam ini. Karena akan memberikan dorongan kepada mereka untuk terus menerus melakukan kemaksiatan dan perbuatan jahat yang sangat tercela. Mereka itu jelas-jelas membuat kerusakan dan kerusakan itu benar-benar kita rasakan. Oleh karena itu, wajib hukumnya bagi setiap orang yang mampu untuk mencegah perbuatan yang mereka lakukan. Dan juga melarang masyarakat untuk menontonnya.”[10]

Keempat, Sihir berbeda dengan mukjizat, karena sihir bisa dibatalkan dengan upaya manusia. Kisah yang membuktikan tentang ini banyak sekali. Ilmu-ilmu tipuan syaithân yang didemonstrasikan bisa dibatalkan bi idznillâh dengan isti’adzah, ruqyah syar’iyyah atau azan. Syaikh Abdurrahman bin Nashir Alu Sa’di (w. 1476 H) menjelaskan:

كمن يدعي النبوة أو السحرة والمشعوذون فإن لهم خوارق للعادة ولكن لا يمكن بأي حال أن تصل إلى خوارق الأنبياء، فإن خوارق السحرة والمشعوذين ومدعي النبوة مبناها على الفسق والكذب والظلم والشرك والكفر والفواحش ولذا كانت خوارقهم يمكن إبطالها ومعارضتها بخلاف ما اختص الله به الأنبياء فإن خوارقهم لا يمكن غيرهم أن يعارضها ولا يمكن إبطالها

“Seperti orang yang mengaku nubuwwah (Nabi-pen.), atau tukang sihir, sesungguhnya ada pada mereka berbagai kejadian luar biasa, akan tetapi tidak mungkin bagi mereka dalam kondisi apapun untuk sampai pada mukjizat para nabi, karena sesungguhnya kejadian luar biasa pada tukang sihir dan orang yang mengaku nabi tegak di atas asas kefasikan, kedustaan, kezhaliman, kesyirikan, kekufuran dan kekejian. Dan oleh karena itulah kejadian-kejadian luar biasa yang ada pada mereka bisa saja dibatalkan atau dipalingkan, berbeda dengan apa yang Allah khususkan kepada para nabi karena sesungguhnya kejadian luar biasa (mukjizat) mereka tidak mungkin bagi selain para nabi untuk menolaknya dan membatalkannya……”[11]

Kesimpulannya, ciri-ciri sihir:

  • Diraih dengan usaha-usaha ritual tertentu, misalnya dengan puasa-puasa bid’ah, atau satu paket ritual khusus yang mencampurkan antara amalan yang benar dan amalan yang batil,

  • Bisa dipelajari,

  • Bisa diprogramkan untuk didemonstrasikan dan bisa dibatalkan dengan asma’-asma’ Allâh.

  • Bisa ditransfer dan diwariskan. Karena yang sebenarnya ditransfer atau diwariskan adalah khadam syaithân golongan jin.

  • Dan termasuk ciri mendasar, istidrâj ini Allâh wujudkan terjadi pada orang kafir, orang munafik, ahli bid’ah, orang fasik, ahli maksiat, termasuk mereka yang mencampurkan perkara haq dan bâthil.

Apa yang masyhur di negeri ini dengan istilah “debus” itu jelas termasuk sihir yang banyak mempertontonkan kekebalan dari benda tajam, api dan yang semisalnya. Maka jelas bahwa ilmu kekebalan tersebut termasuk sihir, dan pelakunya berarti mempraktikkan ilmu sihir.

Kedua, Wajib Bertaubat dari Praktik Sihir

Pelaku ilmu kekebalan sebelum diterapi dengan ruqyah syar’iyyah wajib bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Karena ilmu kekebalan termasuk ilmu sihir, dan para ulama bersepakat atas keharaman mempraktikkan ilmu sihir, karena bahkan bisa menyebabkan kekufuran dan kemurtadan, hal itu terjadi jika si pelaku meyakini keyakinan syirik misalnya keyakinan bahwa jin yang berkuasa atas urusannya, dan atau melakukan perbuatan bersujud kepada makhluk-Nya, menghinakan ayat-ayat suci al-Qur’an dengan darah haid atau darah sembelihan (seperti fakta yang ada) dan lain sebagainya.

Jumhur ulama mengharamkan secara mutlak pembelajaran ilmu sihir meskipun tidak dipraktikkan. Artinya, lebih tercela lagi jika dipraktikkan. Dikatakan: “Mempelajari ilmu sihir haram tanpa ada perselisihan di kalangan para ulama, dan meyakini kehalalan sihir itu kufur.” [12] Allâh SWT berfirman:

إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Sesungguhnya kami cobaan (bagimu), maka janganlah kamu kafir” (QS. Al-Baqarah [2]: 102)

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata: “Di dalam firman-Nya ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa mempelajari sihir adalah kufur.”[13]

Syaikhul Ushul ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah ketika menafsirkan ayat ini berkata: “(Sihir) diajarkan oleh dua malaikat Harut dan Marut kepada manusia. Allah telah menurunkan keduanya di negeri Babil untuk mengajarkan kepada manusia ilmu sihir, akan tetapi (Allah melalui kedua malaikat ini) memperingatkan manusia untuk tidak mengamalkan ilmu sihir dan mengabarkan kepada mereka bahwa kedua malaikat ini (yang membawa ilmu sihir) merupakan ujian bagi manusia dan cobaan berat bagi mereka (“keduanya (Harut & Marut) tidak mengajarkan (ilmu sihir) kepada seorangpun sebelum mengatakan: ‘Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir’.”).”

Syaikh Atha’ bin Khalil pun menegaskan:

وتعليم السحر للناس هو ابتلاء لهم، فمن آمن بالسحر وعمل به فقد كفر، ومن لم يؤمن به ولم يعمل به فقد نجا : إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ

“Pengajaran ilmu sihir bagi manusia merupakan bencana bagi mereka, karena barangsiapa mengimani (pembenaran yang pasti-pen.) sihir dan mengamalkannya maka sungguh kufur dan barangsiapa yang tak mengimani sihir dan tak mengamalkannya maka selamat. (“Sesungguhnya Kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”).[14]

Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shabuni mengatakan: “Mayoritas ulama mengharamkan mempelajari dan mengajarkan ilmu sihir, karena al-Qur’ân[15] menyebut ilmu ini untuk mencela dan menjelaskan bahwa sihir itu kufur. Lantas bagaimana mungkin bisa diperbolehkan?”[16]

Ali ash-Shabuni pun berhujjah bahwa Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– menggolongkan perbuatan tersebut sebagai dosa besar yang membinasakan (al-kabâ’ir al-muhlikah).

اجْتَنِبُوُا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ, قُلْنَا: وَمَا هُنّ يَا رَسُوْلََ اللهِ؟ قَالَ: الشِّرْكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالحْقِّ وَأَكْلَ الرِّبَا وَأَكْلَ مَالِ الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلَّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقًَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتَ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan. Kami bertanya: “Apa itu wahai Rasûlullâh?” Beliau menjawab: “Menyekutukan Allâh, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berlari dari pertempuran, menuduh zina mukminah yang menjaga kehormatannya.” (HR. al-Bukhârî & Muslim)

Imam ar-Raghib al-Ashfahani menegaskan bahwa lafazh ijtanibû (jauhilah) maknanya lebih mendalam daripada kata utrukû (tinggalkanlah), ia menuturkan:

اجتنبوا الطاغوت:  عبارة عن تركهم إياه، (فاجتنبوه لعلكم تفلحون) ، وذلك أبلغ من قولهم: اتركوه

“(Jauhilah thaghut-thaghut) yakni ungkapan agar kalian wajib meninggalkannnya (jauhilah ia mudah-mudahan kalian menjadi golongan yang beruntung), hal itu karena lafazh ijtanib lebih mendalam daripada perkataan: utrukûhu (tinggalkanlah oleh kalian hal itu).”[17]

Dan Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– menggunakan lafazh ijtanib ketika memerintahkan kita menjauhi perbuatan dosa-dosa besar tersebut. Dan urutan tingkat dosanya yang kedua setelah menyekutukan Allah adalah perbuatan sihir, lalu bagaimana dengan sihir yang diupayaka dengan menggabungkan berbagai macam kemungkaran demi mencari keridhaan syaithan? Syirik memuja syaithan atau bersekutu dengannya, perzinaan, pembunuhan dan lain sebagainya.

Maka mereka yang mempelajari ilmu sihir kekebalan dan mempraktikkannya wajib bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhâ (taubat yang semurni-murninya).” (QS. At-Tahrîm [66]: 8)

Ketiga, Memusnahkan Benda yang Menjadi Wasilah Sihir Kekebalan

Dalam sejumlah kasus temuan penulis, ada sihir kekebalan yang menggunakan wasilah berupa jimat-jimat syirkiyyah (misalnya mengandung mantra berdo’a kepada khadam (syaithan golongan jin)), maka hal yang harus disegerakan menyempurnakan taubat pelakunya adalah memusnahkan benda-benda syirik tersebut, misalnya jimat berupa wifiq atau rajah yang ditulis di atas kertas atau kain maka segera dibakar. Jika bendanya berupa keris maka bisa dibasuh dengan air garam yang dibacakan ruqyah, lalu dipatahkan; intinya benda-benda tersebut dimusnahkan, dihinakan dan tidak dibuang di tempat sembarangan (menjaga agar tidak diambil dan dimanfaatkan orang yang rusak akidahnya).

Memusnahkan benda sihir ini berdasarkan dalil hadits dari ‘Aisyah r.a., ia berkata:

مَكَثَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- كَذَا وَكَذَا يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَأْتِي أَهْلَهُ وَلَا يَأْتِي قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَالَ لِي ذَاتَ يَوْمٍ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِي أَمْرٍ اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ أَتَانِي رَجُلَانِ فَجَلَسَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رِجْلَيَّ وَالْآخَرُ عِنْدَ رَأْسِي فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رِجْلَيَّ لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي مَا بَالُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ يَعْنِي مَسْحُورًا قَالَ وَمَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ قَالَ وَفِيمَ قَالَ فِي جُفِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ فِي مُشْطٍ وَمُشَاقَةٍ تَحْتَ رَعُوفَةٍ فِي بِئْرِ ذَرْوَانَ فَجَاءَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم-  فَقَالَ هَذِهِ الْبِئْرُ الَّتِي أُرِيتُهَا كَأَنَّ رُءُوسَ نَخْلِهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ وَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ فَأَمَرَ بِهِ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- فَأُخْرِجَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ فَهَلَّا تَعْنِي تَنَشَّرْتَ فَقَالَ النَّبِيُّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَّا اللهُ فَقَدْ شَفَانِي وَأَمَّا أَنَا فَأَكْرَهُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا قَالَتْ وَلَبِيدُ بْنُ أَعْصَمَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي زُرَيْقٍ حَلِيفٌ لِيَهُودَ

“Nabi –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- tetap termenung seperti ini dan ini, sehingga beliau dibuat seakan-akan telah melakukan sesuatu terhadap isterinya padahal beliau tidak melakukannya.” ‘Aisyah melanjutkan; “Sampai di suatu hari beliau bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah kamu telah merasakan bahwa Allâh telah memberikan fatwa (menghukumi) dengan apa yang telah aku fatwakan (hukumi)? Dua orang laki-laki telah datang kepadaku, lalu salah seorang dari keduanya duduk di kakiku dan satunya lagi di atas kepalaku. Kemudian orang yang berada di kakiku berkata kepada orang yang berada di atas kepalaku; “Kenapakah laki-laki ini?” temannya menjawab; “Dia terkena sihir.’ Salah seorang darinya bertanya; “Siapakah yang menyihirnya?” temannya menjawab; “Labid bin Al A’sham.” Salah satunya bertanya; “Dengan benda apakah dia menyihir?” temannya menjawab; “Dengan seladang mayang kurma dan rambut yang terjatuh ketika disisir yang diletakkan di bawah batu dalam sumur Dzarwan.” Kemudian Nabi –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- mendatanginya, lalu bersabda: “Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku, seakan-akan pohon kurmanya bagaikan kepala syetan dan seolah-olah airnya berubah bagaikan rendaman pohon inai.” Lalu Nabi –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- memerintahkan untuk mengeluarkannya, kemudian barang tersebut pun dikeluarkan. Aisyah berkata; “aku bertanya; “Wahai Rasûlullâh, tidakkah anda menjampinya (meruqyahnya)?” maka Nabi –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- menjawab: “Tidak, sesungguhnya Allâh telah menyembuhkanku dan aku hanya tidak suka memberikan kesan buruk kepada orang lain dari peristiwa itu.” Aisyah berkata; “Labid bin A’sham adalah seorang laki-laki dari Bani Zuraiq yang memiliki hubungan dengan orang-orang Yahudi.” (HR. al-Bukhârî & Muslim, dan lainnya)[18]

Dari hadits di atas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa di antara upaya untuk memusnahkan sihir -termasuk sihir untuk kekebalan- adalah memusnahkan benda yang menjadi wasilah sihir tersebut. Dalam I’lâm al-Muwâqi’în (III/104), ditegaskan bahwa ketika Rasûlullâh –shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam– mengeluarkan benda tersebut, hilanglah pengaruh sihir yang ada di dalam dirinya, sampai beliau merasa sehat kembali. Cara tersebut adalah pengobatan paling tepat yang dilakukan oleh orang yang terkena pengaruh sihir. Cara itu seperti menghilangkan sesuatu yang kotor dan membuangnya dari dalam tubuh dengan cara memuntahkannya.

Sebelum dibakar atau dihancurkan, benda wasilah sihir tersebut hendaknya dibacakan ruqyah syar’iyyah terlebih dahulu, dengan pembacaan seperti pembacaan ruqyah pada umumnya (termasuk ayat-ayat yang mengandung makna pembatal sihir), lalu ditiupkan pada bendanya sebelum dibakar atau dihancurkan. Jika bendanya berupa keris atau benda yang tidak mudah terbakar hendaknya dibasuh terlebih dahulu dengan air larutan garam yang sudah dibacakan ruqyah sebelum dimusnahkan.

Keempat, Lakukan Ruqyah Mandiri

Yang mesti dilakukan oleh mantan pelaku kekebalan:

  • Taubat dengan sebenar-benarnya,

  • Menegakkan amal kebaikan; misalnya mendawamkan shalat berjama’ah di masjid (bagi pria), menggiatkan diri menghadiri majelis-majelis ilmu, berjama’ah dalam jama’ah dakwah Islam dan berkawan dengan orang-orang shalih di lingkungan yang baik, dan lain sebagainya,

  • Melakukan ruqyah mandiri secara rutin. Praktik ruqyah mandiri bisa dipelajari di sini:

    Link: Terapi Ruqyah Mandiri & Terapi Ruqyah Dibantu Oleh Orang Lain

 Kajian Mengenai Perdukunan, Sihir, Alam Jin, Ruqyah Syar’iyyah & Solusi Ideologis-Sistemik: Link Artikel & Download

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والله أعلم بالصواب

Catatan Kaki:

[1] Syarh al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, Shadruddin Muhammad bin ‘Alauddin ad-Dimasyqi (w. 792 H).

[2] Risâlatul Mu’âwanah, hlm. 13, al-Hidayah.

[3] Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-‘Arba’ah, Abdurrahman al-Jazairi, hlm. 403.

[4] Bughyatul Mustarsyidîn, hlm. 371.

[5] Lihat: Zâd al-Ma’âd (4/126).

[6] Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’, Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji.

[7] Ash-Shârim al-Battâr fî al-Tashaddi li al-Saharat al-Asyrâr, Wahid bin Abdussalam Bâli.

[8] Fat-hul Bârî (X/223).

[9] Ibid.

[10] Dalam al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, hlm. 78.

[11] Mukhtashar fî Ushûl I’tiqâd Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, Abdurrahman bin Nashir Alu Sa’di, Editor: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad ath-Thayyar.

[12] Al-Fiqh ‘alâ al-Madzâhib al-Arba’ah Juz. IV, al-Syaikh ‘Abd al-Rahman al-Jazayri.

[13] Fat-h al-Bârî (X/225) buah tangan al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalaniy.

[14] Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr, al-‘Alim al-Syaikh Atha’ ibn Khalil.

[15] QS. al-Baqarah [2]: 102.

[16] Rawâ-‘i al-Bayân, Juz. I, Hal. 83-84

[17] Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Ar-Raghib al-Ashfahani.

[18] Lihat: al-Bukhari no. 3028, Muslim no. 4059, Ahmad no. 18467, al-Nasa’i no. 4012, Ibnu Majah no. 3535. Dan masih banyak lagi riwayat lain yang senada.

2 comments on “Tanya Jawab Seputar Ilmu Kekebalan & Terapi Pengobatannya yang Syar’i

  1. […] Tanya Jawab Part. I: Tanya Jawab Seputar Ilmu Kekebalan & Terapi Pengobatannya Secara Syar’i […]

    Suka

  2. […] Tanya Jawab Seputar Ilmu Kekebalan & Terapi Pengobatannya yang Syar’i […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s