Motivasi Bagi Mereka Yang Futur & Pengingat Kepada Mereka Yang Gugur

Konvoi Pejuang Syari’ah Khilafah – DPD II HTI Cianjur

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

PASAL I: Jama’ah Dakwah yang Mencintai Ilmu dan Amal Shalih.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Âli Imrân ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu jama’ah yang menyeru kepada al-khayr, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)

Frase (لتَكُنْ) yang diterjemahkan “haruslah ada” termasuk ke dalam shiyag al-amr (shighat bermakna perintah). Yakni kata lâm al-amr di depan kata kerja al-mudhâri’ (kata kerja yang sedang atau akan dilakukan) yakni lâm al-amr di depan kata yakûnu. (Balâghatul Qur’ân al-Karîm fî al-I’jâz: I’râban wa Tafsîran Bi I’jâz, Bahjat Abdul Wahid asy-Syaikhali, jilid II/ hlm. 139)

Para ulama ushul fikih, di antaranya Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami as-Salmi dan Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil menjelaskan di antara bentuk perintah adalah:

الفعل المضارع المقترن بلام الأمر (ليفعل

“Kata kerja al-mudhaari’ yang disertai lâm al-amr (liyaf’al).” (Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah, hlm. 182. Lihat pula penjelasan Prof. Dr. ‘Iyadh bin Sami al-Salmi dalam kitab Ushuul al-Fiqh Alladzî Lâ Yasa’u al-Faqîh Jahluhu, hlm. 220)

Imam Abu al-Qasim al-Husain bin Muhammad atau yang masyhur dikenal dengan nama ar-Raghib al-Ashfahani menuturkan:

وقوله: [ولتكن منكم أمة يدعون إلى الخير] أي: جماعة يتخيرون العلم والعمل الصالح يكونون أسوة لغيرهم

“Dan firman-Nya (Dan hendaklah ada di antara kalian ummat yang menyeru kepada al-khayr) -kata ummat dalam ayat ini- yakni sebuah jama’ah yang mencintai ilmu dan amal shalih dan mereka menjadi teladan bagi orang lainnya.” (Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân, Imam Ar-Raghib al-Ashfahani, juz. I/ hlm. 28)

Al-Hafizh ath-Thabari menjelaskan: “(وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ) Wahai orang-orang beriman (أُمَّةٌ) yakni sebuah jama’ah yang menyeru manusia (إِلَى الْخَيْرِ) yakni kepada al-Islam dan aturan-aturan syari’at yang telah disyari’atkan Allah pada hamba-hamba-Nya. (ويأمرون بالمعروف) memerintahkan manusia untuk mengikuti Muhammad SAW dan agamanya yang datang dari Allah. (وينهون عن المنكر) yakni melarang mereka mengkufuri Allah dan mendustakan Muhammad dan apa yang datang darinya (risalahnya) dari Allah..”

Dalam Tafsir al-Muyassar pun dijelaskan:

ولتكن منكم -أيها المؤمنون- جماعة تدعو إلى الخير وتأمر بالمعروف، وهو ما عُرف حسنه شرعًا وعقلاً، وتنهي عن المنكر، وهو ما عُرف قبحه شرعًا وعقلاً، وأولئك هم الفائزون بجنات النعيم.

“Dan hendaklah ada di antara kalian –wahai orang-orang beriman- sebuah jama’ah yang menyeru kepada al-khayr, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan ia adalah apa yang diketahui kebaikannya baik secara syar’i maupun akal (akal sehat), dan melarang dari yang mungkar, dan ia adalah apa yang diketahui keburukannya baik secara syar’i maupun akal.” (At-Tafsîr al-Muyassar. Hlm. 63.)

Syaikh Ahmad Mushthafa al-Maraghi menuturkan:

أي ولتكن منكم طائفة متميزة تقوم بالدعوة والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر

“Yakni harus ada di antara kalian kelompok istimewa yang menegakkan dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar.” (Tafsiir al-Maraaghii, Syaikh Ahmad Mushthafa al-Maraghi, juz. IV/ hlm. 22.)

Sudah sejauh mana kita terdorong untuk menuntut ilmu syar’i dan mengamalkannya? Memahamkan diri sendiri dan mengajarkannya serta mendakwahkannya kepada orang lainnya? Membina umat, memahamkannya terhadap berbagai kewajiban dan memperingatkan mereka dari berbagai kemungkaran.

PASAL II: Merekalah Orang-Orang yang Beruntung?

Tak ada keraguan bahwa dakwah merupakan jalan yang mulia, orang-orang yang istiqamah di jalannya adalah orang-orang terpilih yang akan meraih predikat agung (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) dalam QS. Ali Imraan 104, dimana Allah mensifati mereka yang berdakwah kepada al-khayr, menyuruh kepada yang ma’ruuf dan melarang dari yang mungkar dalam bentuk qashr shifah ‘alaa al-mawshuuf (قصر صفة على الموصوف) dengan kalimat (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ), yakni mensifati mereka yang diseru dalam ayat ini dengan sifat yang ringkas, padat namun bermakna mendalam.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam QS. Âli Imrân ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dalam kalimat (أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ), seakan dihilangkan sifat yang disebutkan sebelumnya setelah kata (أُولَٰئِكَ) yakni diringkas dalam kata (الْمُفْلِحُونَ). Lalu apa makna frase (وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ) dalam ayat ini?

Imam az-Zamakhsyari menjelaskan:

هم الأخصاء بالفلاح دون غيرهم

“Mereka adalah golongan yang dikhususkan menyandang predikat beruntung, tidak selainnya.” (Tafsîr al-Kasyf fî Haqâ’iq at-Tanzîl wa ‘Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh at-Ta’wîl. Imam az-Zamakhsyari. Hlm. 187)

Dr. Muhammad asy-Sya’rawi menjelaskan: “Bahwasanya kata (المفلحون) adalah sebuah kata yang mengandung petunjuk, dan kata al-muflih (kata tunggal dari al-muflihûn-pen.) yakni orang yang mengambil transaksi perniagaan yang menguntungkan (هو الذي أخذ الصفقة الرابحة). Karena kata ini diambil dari ungkapan (فلح الأرض) yakni seseorang telah menggarap tanahnya, maka orang yang menggarap tanahnya, menanaminya, kemudian memanennya akan meraih hasil yang datang pada akhir tiba masa panennya, dan sungguh telah datang kebenaran ini dengan permasalahan maknawi dari perkara yang terindera.” (Tafsîr asy-Sya’rawi. Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi. Jilid III/ Hlm. 1665)

Ketika menjelaskan kata (فلح), Imam ar-Raghib al-Ashfahani menjelaskan:

الفلاح: الظفر وإدراك بغية، وذلك ضربان: دنيوي وأخروي؛ فالدنيوي: الظفر بالسعادات التي تطيب بها حياة الدنيا، وهو البقاء والغنى والعز

“Al-Falaah: kemenangan dan meraih tujuan, hal itu dibagi menjadi dua sisi: duniawi dan ukhrawi; keberuntungan duniawi yakni kesuksesan meraih berbagai kebahagiaan yang menghiasi kehidupan dunia, panjangnya usia, kecukupan dan kemuliaan.” (Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân. Imam ar-Raghib al-Ashfahani. Kitâb al-Fâ’, Juz. II/ Hlm. 397)

Inilah yang dimaksudkan oleh syair berikut:

أَفْلِحْ بِمَا شِئْتَ فقد يُدْرَكُ بالضرُّ
ضَعْفٌ وقد يُخَدَعُ الأرِيبُ

 Adapun keberuntungan di akhirat:

وفلاح أخروي، وذلك أربعة أشياء: بقاء بلا فناء، وغنى بلا فقر، وعز بلا ذل، وعلم بلا جهل.

“Dan keberuntungan ukhrawi, mencakup empat hal: keabadian tanpa dibatasi kefanaan, kecukupan tanpa ada kefakiran, kemuliaan tanpa ada kehinaan, kecerdasan tanpa ada kejahilan.”

Oleh karena itulah dinyatakan:

لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْش الآخِرَةِ

“Tiada kehidupan kecuali kehidupan akhirat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bukankah aktivitas dakwah ini memuliakan mereka yang mengembannya di dunia dan akhirat –in syaa Allah-? Dari kehidupan yang hina sebelumnnya lalu meraih kemuliaan hidup dengan berdakwah, menyampaikan hidayah kepada umat manusia. Apakah mungkin seorang mukmin tak tergiur dengan janji Allah yang agung ini??

Merekalah Orang-Orang yang Beruntung… Semoga kita termasuk di antaranya.

اللّهمّ آمين

PASAL III: Sebaik-Baiknya Perkataan

Perkataan yang Mengandung Dakwah Kepada Allah adalah Sebaik-Baiknya Perkataan Manusia & Bagaikan Sedekah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33)

Syaikh Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi menjelaskan: “Allah SWT memuji kedudukan dakwah kepada Allah, dan menjadikannya sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh seorang manusia.” Asy-Sya’rawi pun menjelaskan bahwa Allah menjelaskan kepada kita kedudukan dakwah dan kedudukan da’i yang menyeru kepada Allah, namun ayat ini tidak datang dengan gaya pengungkapan khabariy tapi menggunakan gaya pengungkapan bernada pertanyaan yang maksudnya penafian (استفهام غرضه النفي), dengan frase (وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً); yakni:

لا أحدَ أحسنُ من هذا الذي يدعو إلى الله، ولا قولَ أحسن من قوله

“Tiada yang lebih baik daripada seseorang dan perkataannya yang menyeru kepada Allah.” (Dr. Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi. 1991. Tafsîr asy-Sya’rawi. Kairo: Akhbar al-Yawm)

Al-Hafizh al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat ini berlaku umum bagi setiap orang (muslim) yang berdakwah kepada Allah, ini adalah pendapat al-Hasan, Qays bin Abi Hazim.

Rasulullah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam– bersabda:

الكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ

“Kata-kata yang baik itu sedekah.” (HR. Muttafaq ‘alayh)

Dr. Mahmud Isma’il Shini: “Allah akan mengganjar seorang muslim atas perbuatan atau perkataan baiknya meskipun keduanya adalah perbuatan yang seakan sepele, karena di antara perbuatan manusia yang akan diganjar atasnya adalah kata-kata yang baik yakni perkataan yang jika dituturkan oleh seorang beriman bagaikan sedekah.” (Dr. Mahmud Isma’il Shini, dkk. 1992. Mu’jam al-Amtsaal al-‘Arabiyyah. Cet. I. Beirut: Maktabah Lubnan.)

Faidah dari hadist ini yakni dorongan untuk berkata-kata yang baik. Dakwah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar jelas merupakan bagian dari perkataan yang baik, bahkan disifati sebagai sebaik-baiknya perkataan.

Allah al-Musta’aan, semoga kita istiqamah dalam kebenaran dan menyampaikan kebenaran…

اللّهمّ آمين

One comment on “Motivasi Bagi Mereka Yang Futur & Pengingat Kepada Mereka Yang Gugur

  1. Nur Kholis Mansur mengatakan:

    Reblogged this on Cholis244 Note's.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s