Peringatkan Manusia dari Kerusakan Sistem Demokrasi, Jangan Gentar dengan Celaan Orang yang Mencela

at_tahdhir_ul_mubin

Demokrasi adalah sistem kehidupan yang rusak dan jelas kerusakannya merusak kaum muslimin, itu sudah kami jelaskan dan uraikan pada link ini: Inilah Jawaban-Jawaban Kami atas Berbagai Dalih Pembenaran Atas Demokrasi (Kumpulan Makalah Ilmiyyah).

Syaikh Abdurrahman bin Hammad al-Umar menuturkan:

أرى من الواجب عليَّ وعلى كل عالم وكاتب إسلامي يؤمن بما أوجب الله سبحانه عليه من الدعوة إليه سبحانه وتعالى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والسعي لإنقاذ الإنسانية عامة والأمة الإسلامية خاصة من أسباب الهلاك والشقاء.. أرى من الواجب المحتم: أن نبين للناس جميعًا حكامًا ومحكومين خطرًا عظيمًا يتهددهم بهلاك عقدي وأخلاقي واجتماعي واقتصادي وصحي.. يتهددهم بشقاء محتوم لكل من وقع في شراكه وسار في ركاب الواقعين فيه.. هذا الخطر العظيم هو ما يسمى بـ: الديمقراطية

“Saya memandang di antara kewajiban bagiku, bagi seluruh orang berilmu dan jurnalis muslim yang beriman terhadap apa yang diwajibkan Allah SWT kepadanya yakni berdakwah menyeru kepada-Nya, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan berupaya keras menyelamatkan umat manusia dan khususnya umat Islam dari berbagai hal yang membinasakan dan menimbulkan kesengsaraan.. Saya memandang diantara kewajiban yang tegas: wajib bagi kita menjelaskan kepada masyarakat, penguasa dan rakyatnya bahaya besar yang mengancam mereka dengan kehancuran akidah, akhlak, pergaulan sosial, perekonomian dan dunia kesehatan… serta mengancam mereka dengan kesengsaraan yang pasti bagi orang yang bersekutu di dalamnya dan berjalan di atas jalan kaum pragmatis.. Inilah bahaya besar yang dinamakan Demokrasi.” (Haadzihi Hiya Al-Diimuqraathiyyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammaad al-Umar, Riyadh: Dar al-Hulayyah)

Menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, menyadarkan masyarakat dari akidah dan pemahaman jahiliyyah adalah kewajiban berdasarkan al-Qur’an dan sunnah Rasulullaah -shaLlaahu ‘alayhi wa sallam-.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu jama’ah yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Âli Imrân [3]: 104)

Dalam Tafsir al-Muyassar dijelaskan:

ولتكن منكم -أيها المؤمنون- جماعة تدعو إلى الخير وتأمر بالمعروف، وهو ما عُرف حسنه شرعًا وعقلاً، وتنهي عن المنكر، وهو ما عُرف قبحه شرعًا وعقلاً، وأولئك هم الفائزون بجنات النعيم.

“Dan hendaklah ada di antara kalian –wahai orang-orang beriman- sebuah jama’ah yang menyeru kepada al-khayr, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan ia adalah apa yang diketahui kebaikannya baik secara syar’i maupun akal (akal sehat), dan melarang dari yang mungkar, dan ia adalah apa yang diketahui keburukannya baik secara syar’i maupun akal.”[1]

Dan memahami keburukan Demokrasi itu sebagaimana dalam sya’ir (dalam kitab Rawaa’i al-Bayaan-nya Prof. Dr. Muhammad Ali Ash-Shabuni):

عرفت الشرّ لا للشرّ لكن لتوقيّه
ومن لا يعرف الشرّ من النّاس يقع فيه

“Aku mengetahui keburukan bukan untuk keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”
“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”[2]

Namun tak sebatas dipahami lalu diam dari menyampaikan kebenaran al-Islam dan diam dari menjelaskan berbagai kemungkaran. Jika begitu, ia bisa termasuk apa yang dituturkan oleh Abu ‘Abdullah ad-Daqqaq:

الساكت عن الحق شيطان أخرس

“Orang yang diam dari menyampaikan kebenaran adalah syaithan yang bisu.”

Dan ketika dikatakan kepada Umar bin al-Khaththab r.a. bahwa seseorang tidak mengetahui sesuatu yang buruk, lalu Umar berkata:

أحذر أن يقع فيه

“Peringatkan ia atas ketergelinciran terhadapnya (agar tak terjerumus pada keburukan-pen.).”[3]

Salah seorang ulama al-Azhar, al-’Allamah Muhammad al-Khudhari Husain menegaskan: “Adapun orang-orang yang berpegang-teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, maka wajib bagi mereka memperingatkan (umat manusia) dari meridhai ajaran atheisme (dan semisalnya-pen.) dimanapun berada, meski kaum atheis tersebut adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka.”[4]

Catatan Kaki:

[1] At-Tafsîr al-Muyassar, hlm. 63.

[2] Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Âyât al-Ahkâm), Prof. Dr. Muhammad Ali ash-Shabuni, Juz. I, Hlm. 76.

[3] Ibid.

[4] Silsilatu Milal wa Nihal [3]: Al-Ilhâd, Muhammad al-Khudhari Husain, hlm. 3-4.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s