Mengkritisi Pola Pikir yang Menjustifikasi Demokrasi

De
الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين وبعد

Demokrasi berasal dari peradaban jahiliyyah Yunani Kuno, ia dirumuskan oleh para pencetusnya (orang-orang kafir) tentu bukan tanpa falsafah, karena ia berbicara tentang konsep pengaturan kehidupan bernegara (politik). Jadi jika ada fulan yang mengaku muslim namun ia mencoba menjelaskan Demokrasi kepada makna lain sehingga diklaim sesuai dengan ajaran Islam (baca: justifikasi mengatasnamakan Islam). Maka setidaknya ada beberapa poin kritis yang tak perlu diperdebatkan tapi dipikirkan dan dijawab oleh mereka yang mencoba-coba menjustifikasi Demokrasi:

Pertama: Apakah para filsuf pencetus dan pembangun sistem politik Demokrasi mencetuskannya tanpa falsafah dasar?? Seakan-akan Demokrasi itu sesederhana istilah jenis kuliner cilok (sunda: aci dicolok/ adonan aci ditusuk sate) yakni singkatan tanpa makna untuk merumuskan suatu konsep pengaturan bernegara (politik). Demokrasi itu sendiri hadir bukan tanpa kontroversi, dari asal-usulnya saja ia sudah mengundang kontroversi, lalu mengapa menjustifikasinya?? Syaikh Dr. Ja’far Syaikh Idris mengungkapkan:

لم تجد الديمقراطية في تاريخها كله رواجاً مثلما وجدت في عصرنا هذا : لقد كان معظم المفكرين الغربيين منذ عهد اليونان كثيري النقد لها ، بل ورفضها

“Demokrasi tidak pernah meraih popularitas sepanjang sejarahnya, seperti apa yang kita temukan di zaman ini: Padahal sungguh, sebagian besar pemikir Barat sendiri semenjak masa Yunani, telah mengkritik Demokrasi bahkan menolaknya.” (Lihat: Dr. Ja’far Syaikh Idris. “Al-Diimuqraathiyyah Ismun Laa Haqiiqata Lahu”: Majalah Al-Bayaan. No. 196)

Kedua: Jika ada ajaran furuu’ (cabang) dalam Demokrasi yang diklaim sejalan dengan ajaran Islam karena ada kemiripan, mana yang layak diambil? Ajaran Demokrasi yang mirip atau ajaran Islam seutuhnya? Seperti memilih kera betina dan seorang manusia wanita, kira-kira mana yang akan dipilih oleh mereka yang masih berpikir untuk dijadikan istri meski ada kemiripan (sama-sama punya dua kaki dan dua tangan)??

Ketiga: Jika kaum kuffaar, munafiqiin para pemuja sistem politik Demokrasi itu sendiri tak pernah mengklaim bahwa ia sejalan dengan ajaran Islam (karena jelas perbedaan-perbedaan ushuul dan furuu’nya dengan Islam), lalu mengapa masih ada di negeri ini fulan yang seakan rela merendahkan Islam yang agung dengan menyamakan sebagian ajaran Islam yang agung dari Rabb Semesta Alam, Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebagian furuu’ Demokrasi hanya dengan klaim adanya kemiripan?? Allah al-Musta’aan… (salah satu syubhat: syuraa’ dalam Islam = musyawarah Demokrasi??).

Islam ajaran yang sempurna yaa ikhwah, tak membutuhkan ajaran selainnya. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (TQS. Al-Maa’idah [5]: 3)

Al-‘Allamah asy-Syanqithi (w. 1339 H) ketika menjelaskan ayat ini mengatakan:

وقد صرح الله تعالى في هذه الاية الكريمة أنه أكمل لنا ديننا فلا ينقصه أبدًا، ولا يحتاج إلى زيادة أبدًا؛ ولذلك ختم الأنبياء بنبينا، عليهم صلوات الله وسلامه جميعًا

“Sungguh Allah telah menjelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa Dia telah menyempurnakan bagi kita agama kita, agama ini tidak kurang dan tidak membutuhkan tambahan selama-lamanya; dan oleh karena itu para Nabi ditutup oleh Nabi kita (Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alayhi wa sallam-) semoga Allah melimpahkan shalawat serta salam kepada mereka semuanya.” (Muhammad Al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syanqithi. Al-Islaam Diin Kaamil. Hlm. 3.)

Justifikasi atas Demokrasi tidak akan membuahkan kebaikan kecuali berbagai penyimpangan. Kewajiban bagi setiap da’i, muballigh, asaatidz, memahami paham-paham sesat menyesatkan semisal Demokrasi dan menjelaskannya kepada umat sebagaimana dituturkan sya’ir:

عرفت الشرّ لا للشرّ لكن لتوقيّه
ومن لا يعرف الشرّ من النّاس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan tuk melakukan keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”
“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”

Dan dikatakan kepada Umar bin al-Khaththab –radhiyallaahu ’anhu– bahwa seseorang tidak mengetahui sesuatu yang buruk, lalu Umar berkata:

أحذر أن يقع فيه

“Peringatkan ia agar tidak terjerumus pada keburukan.” (Lihat: Prof. Dr. Muhammad Ali ash-Shabuni. Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Aayât al-Ahkâm). Juz. I/ Hlm. 76. Damaskus: Maktabah al-Ghazali. Cet. III).

Dan memahamkan umat kewajiban menegakkan syari’at Islam kaaffah dalam naungan sistem warisan Rasulullah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- yakni al-Khilaafah ‘alaa minhaaj an-nubuwwah. Umat mesti dipahamkan agar segera mencampakkan Demokrasi dan sistem-sistem batil lainnya, karena pilar sistem adalah umat. []

Jawaban kami terhadap justifikasi atas Demokrasi: Link Artikel

Irfan Abu Naveed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s