Da’i yang Menyeru Kepada Petunjuk atau Kesesatan?

Dakwah merupakan poros hidup para Nabi dan Rasul, ia adalah jalan mulia yang memuliakan orang-orang mengembannya dan menghinakan para penentangnya, hal itu terukir dalam kisah agung perjalanan dakwah para utusan Allah –’alayhim as-salaam-. Prof. Dr. Ahmad Ahmad Ghulusy, Dekan Fakultas Dakwah Al-Asbaq, menuturkan[1]: “Sesungguhnya amal yang paling mulia dan paling luhur adalah dakwah kepada Allah, di dalamnya terkandung keagungan dari apa yang disampaikan, kebesaran wasilah, kemuliaan amal perbuatan, dan keluhuran tujuan.” Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal salih dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (QS Fushshilat [41]: 33).

Prof. Dr. Ahmad pun menegaskan bahwa Allah telah memberikan kekhususan bagi para Rasul-Nya yang mulia untuk memulai amal mulia ini, dan mentaklif mereka dengannya dan mengutus mereka dengan membawa wahyu dari-Nya untuk mereka sampaikan kepada umat manusia[2]:

رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 165)

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maa’idah [5]: 67)

Dengan perantaraan dakwah, Islam –bi fadhlillaahi ta’aalaa- tersebar ke seluruh penjuru dunia dari Timur ke Barat, dari Utara ke Selatan. Bisa dibayangkan jika seandainya tiada wasilah dakwah, maka Islam tidak akan hadir di tengah-tengah kita saat ini. Dari Mekkah-Madinah sampai ke Nusantara. Hal itu karena objek dakwah mencakup mereka yang masih dalam kekafiran agar memeluk Islam,[3] dan kaum muslimin yang melakukan kemaksiatan agar kembali kepada keta’atan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyerukan kebajikan, menyuruh kemakrufan dan mencegah kemungkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 104).

Imam ath-Thabari menjelaskan ayat ini: “Hendaklah ada di antara kalian, wahai orang-orang Mukmin, segolongan umat yang menyeru manusia pada kebajikan, yakni kepada Islam dan syariah-syariahnya.”[4] 

Namun sebagai evaluasi, da’i seperti apakah anda? Imam Ibn Manzhur (w. 711 H) ketika mendefinisikan kata da’i menyatakan:

الدعاة: قوم يدعون إلى بيعة هُدى أو ضلالة، واحدهم داع. ورجل داعية إذا كان يدعو الناس إلى بدعة أو دين، أُدخلت الهاءَ فيه للمبالغة. والنبي -صلى الله عليه وسلم- داعي الله تعالى، وكذلك المؤذن

“Du’aat adalah kaum yang menyeru kepada petunjuk atau kesesatan, tunggalnya adalah daa’i. Dan seorang disebut daa’iyyah jika ia menyeru manusia kepada bid’ah atau din, dan ditambahkan kata haa’ sebagai penguatan. Dan Nabi –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- adalah da’i Allah, begitu pula orang yang berazan.”[5] 

Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- adalah teladan bagi para da’i ilaa Allah. 

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”(QS. Al-Ahzâb [33]: 21)

Ayat yang agung ini diawali dengan penegasan-penegasan, dimana dalam ilmu balaghah penegasan-penegasan ini menafikan segala bentuk keraguan dan penolakan. Keteladanan beliau pun mencakup metode dakwah dan keteguhan dalam berdakwah tanpa kenal lelah. Semoga kita termasuk orang yang menempuh jalannya dan berupaya meneladani keteguhannya.

Da’i ilaa Allah sudah semestinya mendakwahi umat agar menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan, mengungkapkan keburukan sistem dan ideologi rusak produk hawa nafsu manusia (saat ini; demokrasi, sekularisme, kapitalisme, komunisme, -), mengadopsi permasalahan umat dan menjelaskan hukum syara’ atasnya, memahamkan umat akan kesesatan ajaran SEPILIS dan yang semisalnya, dikatakan sebagaimana dituturkan sya’ir:

عرفت الشرّ لا للشرّ لكن لتوقيّه
ومن لا يعرف الشرّ من النّاس يقع فيه
“Aku mengetahui keburukan bukan tuk melakukan keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”
“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”[6] 

Dan dikatakan kepada Umar bin al-Khaththab –radhiyallaahu ’anhu– bahwa seseorang tidak mengetahui sesuatu yang buruk, lalu Umar berkata: 

أحذر أن يقع فيه

“Peringatkan ia agar tidak terjerumus pada keburukan.”[7] 

Semoga kita termasuk da’i yang menyeru kepada Allah, meneladani Rasulullah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- dan termasuk dalam golongan orang yang meraih keutamaan ini:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.” (HR. Muslim)

Allah al-Musta’aan

اللهم اجعلنا من الدعاة الصالحين الناجحين…

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Prof. Dr. Ahmad Ahmad Ghulusy. Silsilatu Târiikh ad-Da’wah ilâ Allâh Ta’âlâ: Da’watur Rusuul ‘Alayhim as-Salâm. Hlm. 5.

[2] Ibid.

[3] Lihat: Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji & Dr. Hamid Shadiq. Mu’jam Lughatil Fuqâhâ’.

[4] Lihat: Al-Hafizh Ath-Thabari. Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân. VII/90.

[5] Lihat: Imam Ibn Manzhur. Lisaan al-‘Arab. Juz. IV, Hlm. 361. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabiy; Lihat pula al-Mu’jam al-Wasiith, Hlm. 287.

[6] Lihat: Prof. Dr. Muhammad Ali ash-Shabuni. Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Aayât al-Ahkâm). Juz. I/ Hlm. 76. Damaskus: Maktabah al-Ghazali. Cet. III.

[7] Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s