Dialog Menakjubkan Seorang Anak, Apa yang Telah Kita Perbuat untuk Al-Qur’an??

Ada dialog menarik (berikut ini sebagiannya saya terjemahkan) intinya: Seorang anak bernama Mu’adz, dalam keadaan buta ia terbiasa melakukan safar yang jauh untuk muraja’ah hafalan Qur’annya kepada para Syaikh, karena Syaikh-Syaikhnya tidak tinggal disekitar rumahnya, dan bukan mereka yang mendatanginya namun anak ini yang mendatangi para Syaikh-nya, ia pernah muraja’ah hafalan al-Qur’annya, setengah al-Qur’an (sekitar 15 juz di awal) selama tiga hari saja, dan kadang dalam beberapa hari ia tidak bermain sama sekali…

Namun apa yang ia katakan dengan kebutaannya yaa ayyuhal ikhwah?? Saya tertegun mendengar perkataannya yang bisa jadi menjadi nasihat bagi kaum dewasa yang banyak menghabiskan waktunya untuk banyak hal yang tak berfaidah, bukan beramal yang akan memberatkan amal kebaikan malah sibuk dengan keburukan…. Allah al-Musta’aan…

DIALOG MENGGUGAH

Mu’adz: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku kenikmatan ini dan mengambil penglihatanku ini… Maha Suci Allah aku bersyukur atas nikmat karunia-Nya ini… Dan sungguh dalam shalatku, aku tak pernah ingin memohon kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku.”

Syaikh Fahd: “Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu??”

Mu’adz: “Tanyakan kepadaku (alasannya)”

Syaikh Fahd: “Mengapa??”

Mu’adz: “Aku berharap (kepada Allah) agar keadaanku ini (kebutaan) menjadi hujjah bagiku kelak di hari kiamat… agar Dia memudahkanku atas adzab-Nya (penghisaban kelak di hari penghisaban).. Aku tahu bahwa aku akan sangat ketakutan dan menggigil.. Dia akan bertanya: “Apa yang telah engkau perbuat dengan al-Qur’an??” Aku berharap Dia akan meringankan penghisabanku kelak.. Dan Allah akan merahmati siapapun yang dikehendaki-Nya… Tetapi Allah telah banyak merahmatiku dengan wasilah al-Qur’an… Dan alhamdulillaah jika aku ingin bepergian, maka aku memilih seorang diri.. Hanya aku seorang, tak ada orang lain bersamaku, akan tetapi ayahku mengkhawatirkanku jika aku pergi seorang diri” 

Syaikh Fahd: ”Dalam kesempatan ini, saya memikirkan keadaan banyak dari kaum muslimin yang bermalas-malasan dalam menghafalkan al-Qur’an… Yaa Allah apa yang akan menjadi hujjah bagi mereka dihadapan Allah??”

Mu’adz: ”Segala puji bagi Allah atas segala hal”

Syaikh Fahd: ”Maa syaa Allah wahai Syaikh Mu’adz, saya tahu bahwa engkau memahami kaidah dari Syaikh Ibn Qayyim al-Jawziyyah”

Mu’adz: ”Ya”

Syaikh” ”Apa kaidah itu?”

Mu’adz: ”Ibn Qayyim –rahimahullaah- mengatakan:

مَا أَغْلَقَ اللهُ عَلَى عَبْدٍ بَاباً بِحِكْمَتِهِ ،، إِلاَّ فَتَحَ لَهُ بَابَيْنِ بِرَحْمَتِه

”Tidaklah Allah menutup satu pintu untuk seorang hamba dengan hikmah-Nya, kecuali Allah akan membukakan untuknya dua pintu dengan rahmat-Nya.”

Lalu ia mengungkapkan bahwa ia pernah keberatan dengan kebutaannya, namun saat ini ia ridha karena kebutaannya adalah qadha’-Nya dan ia memuji Allah karena hal itu…

Syaikh Fahd: ”(Dalam hadits Qudsiy):

إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيْبَتَيْهِ فَصَبَرَ عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَةَ

Allah ta’ala berfirman: “Apabila Aku menguji salah seorang hamba-Ku dengan kebutaan kedua penglihatannya kemudian ia bersabar, maka Aku akan menggantikannya dengan surga.” (HR. Al-Bukhari)

Mu’adz: “Kami memohon kepada Allah agar Allah menjadikan kita termasuk golongan yang masuk Jannatul Firdaus.”

Allaahumma Aamiin.

Apa yang sudah kita lakukan untuk al-Qur’an? Sejauhmana mengamalkannya dalam kehidupan?? 

Syaikh Riyadh Muhammad Samahah dalam kitab tulisannya yang berbicara tentang ruqyah syar’iyyah menuturkan: “Ketika orang-orang musyrik semakin sering mencaci maki al-Qur’ân, dada Rasûlullâh -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- terasa semakin sesak. Beliau -shallallaahu ‘alayhi wa sallam- mengadu kepada Allâh ‘Azza wa Jalla:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’ân ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. al-Furqân [25]: 30)

Syaikh Ibnu Qayyim berkata: “Meninggalkan al-Qur’ân atau hijrah dari al-Qur’ân ada beberapa macam;

1. Tidak mau mendengarkannya,
2. Tidak mau beriman kepadanya,
3. Tidak mau tunduk dan berhukum kepadanya,
4. Tidak mau melakukan tadabbur dan tidak mau memahami maknanya,
5. Tidak mau berobat dan menerapi diri dengannya ketika menderita segala macam penyakit hati, walaupun satu macam hijrah lebih ringan daripada macam hijrah yang lain.

Lantas, ada di pihak mana kita hari ini?? Jadi bahan renungan!

Mendengarkan, menghafal, menyimak, mempelajari, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur’an? Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’râf [7]: 204)

Menafsirkan ayat ini, Imam Abu Ja’far al-Thabariy menuturkan:

يقول تعالى ذكره للمؤمنين به، المصدقين بكتابه، الذين القرآنُ لهم هدى ورحمة:(إذا قرئ)، عليكم، أيها المؤمنون، (القرآن فاستمعوا له)، يقول: أصغوا له سمعكم، لتتفهموا آياته، وتعتبروا بمواعظه (وأنصتوا) إليه لتعقلوه وتتدبروه … (لعلكم ترحمون)، يقول: ليرحمكم ربكم باتعاظكم بمواعظه، واعتباركم بعبره، واستعمالكم ما بينه لكم ربكم من فرائضه في آياته

“Allah SWT berfirman untuk memperingatkan orang-orang beriman, yakni orang-orang yang membenarkan kitab-Nya, yakni al-Qur’an yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi mereka: (jika dibacakan (al-Qur’an)) terhadap kalian wahai orang-orang yang beriman (maka dengarkanlah) yakni dengarkan dengan pendengaran kalian agar memahami ayat-ayat-Nya dan mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk-Nya, (dan perhatikanlah) untuk memikirkan dan mentadaburinya (agar kalian mendapat rahmat) agar Allah merahmati kalian dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, mempelajari ajaran-ajaran-Nya, dan menjalankan berbagai kewajiban yang dijelaskan-Nya terhadap kalian dalam ayat-ayat-Nya.” [1]

Imam al-Alusiy menafsirkan frase (لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ):

أي لكي تفوزوا بالرحمة التي هي أقصى ثمراته

“Yakni agar kalian meraih kemenangan dengan adanya rahmat Allah yang merupakan anugerah-Nya yang paling luhur.” [2]

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Imam Abu Ja’far al-Thabariy. Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan. al-Maktabah al-Syamilah.

[2] Lihat: Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayniy al-Alusiy. Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaaniy. al-Maktabah al-Syamilah.

3 comments on “Dialog Menakjubkan Seorang Anak, Apa yang Telah Kita Perbuat untuk Al-Qur’an??

  1. xbalz1996 mengatakan:

    Reblogged this on Syuaibar Iqbal's Blog and commented:
    Sungguh dialog yang sangat bermanfaat, sebagai sarana melembutkan hati dan bertaubat..

    Suka

  2. Meida Prefik Nugraeni mengatakan:

    وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
    “Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’ân ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. al-Furqân [25]: 30)

    masya Allah…😦 semoga kita tidak termasuk kedalam orang-orang yang mengabaikan Al-Quran… aamiin

    Suka

  3. prefikmeida mengatakan:

    وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَـٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
    “Berkatalah Rasul: “Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’ân ini sesuatu yang ditinggalkan.” (QS. al-Furqân [25]: 30)

    astaghfirullahal’adziim..
    semoga kita tidak termasuk kedalam orang-orang yang menjauh dari Al-Qur’an.. aamiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s