[Seri Tausiyah] Terapi Mengatasi Bayang-Bayang Pasangan Idaman

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وبعد

Di zaman ini, jika ada di antara kita yang kesulitan melupakan pasangan idamannya, di sisi lain merasa tak mampu untuk menghalalkannya, alangkah baiknya mengingat hal-hal berikut ini, dan semoga saja kita termasuk orang yang dianugerahi taufik oleh Allah untuk mengamalkannya:

Pertama, Evaluasi diri, bertaubat dan banyak beristighfar, barangkali ada di antara kita pernah melakukan kemaksiatan dengan memikirkannya dan timbul syahwat, dan beragam kemaksiatan lainnya. Semoga kita termasuk orang yang bertaubat dari segala dosa, dan menutupinya dengan amal shalih.

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqaan [25] 70)

وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

“Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqaan [25]: 71)

Di samping itu lakukan ruqyah mandiri; mendawamkan dzikir, do’a-do’a ruqyah syar’iyyah. Ingat bahwa ketenangan qalbu, adalah buah dari dzikrullaah yang dilakukan dengan niat yang benar dan berkualitasBagaimana praktik ruqyah mandiri? Ini do’a-do’a yang dibaca: Do’a-Do’a Ruqyah Syar’iyyah

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah qalbu menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28)

Mendengarkan, menyimak, mempelajari, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur’an di antara terapi positif yang nyata. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’ân, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’râf [7]: 204)

Menafsirkan ayat ini, Imam Abu Ja’far al-Thabariy menuturkan:

يقول تعالى ذكره للمؤمنين به، المصدقين بكتابه، الذين القرآنُ لهم هدى ورحمة:(إذا قرئ)، عليكم، أيها المؤمنون، (القرآن فاستمعوا له)، يقول: أصغوا له سمعكم، لتتفهموا آياته، وتعتبروا بمواعظه (وأنصتوا) إليه لتعقلوه وتتدبروه … (لعلكم ترحمون)، يقول: ليرحمكم ربكم باتعاظكم بمواعظه، واعتباركم بعبره، واستعمالكم ما بينه لكم ربكم من فرائضه في آياته

“Allah SWT berfirman untuk memperingatkan orang-orang beriman, yakni orang-orang yang membenarkan kitab-Nya, yakni al-Qur’an yang menjadi petunjuk dan rahmat bagi mereka: (jika dibacakan (al-Qur’an)) terhadap kalian wahai orang-orang yang beriman (maka dengarkanlah) yakni dengarkan dengan pendengaran kalian agar memahami ayat-ayat-Nya dan mengambil pelajaran dari petunjuk-petunjuk-Nya, (dan perhatikanlah) untuk memikirkan dan mentadaburinya (agar kalian mendapat rahmat) agar Allah merahmati kalian dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, mempelajari ajaran-ajaran-Nya, dan menjalankan berbagai kewajiban yang dijelaskan-Nya terhadap kalian dalam ayat-ayat-Nya.”[1]

Imam al-Alusiy menafsirkan frase (لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ):

أي لكي تفوزوا بالرحمة التي هي أقصى ثمراته

“Yakni agar kalian meraih kemenangan dengan adanya rahmat Allah yang merupakan anugerah-Nya yang paling luhur.”[2]

Al-Qur’an merupakan penawar (syifaa’).

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan Al-Qur’an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Israa’ [17] : 82)

Imam Ibn Qayyim menjelaskan:

والأظهر أن “من” هنا لبيان الجنس فالقرآن جميعه شفاء ورحمة للمؤمنين

“Dan sudah jelas bahwa lafazh min dalam ayat ini untuk menjelaskan jenis, artinya seluruh ayat-ayat al-Qur’an merupakan penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.”[3]

Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad al-Sadhan mengatakan:

وانظر إلى كلمة شفاء، ولم يقل دواء لأنها نتيجة ظاهرة، أما الدواء فيحتمل أن يشفي وقد لا يشفي

“Dan lihatlah kata syifaa’ (penawar), Allah tidak mengatakan dawaa’ (obat) karena kata syifaa’ ini mendatangkan hasil yang jelas/nyata. Adapun ad-dawaa’ (obat) adakalanya menyembuhkan dan terkadang tidak.”

Para ulama pun menjelaskan:

من: هنا بيانية فالقرآن كله شفاء ودواء لكل داء فمن آمن به وأحلَّ حلاله وحرّم حرامه انتفع به انتفاعا كبيرا، ومن صَدَقَ الله في قصده وإرادته شفاه الله تعالى وعافاه من دائه

“Kata min dalam ayat ini sebagai penjelasan, maka al-Qur’an seluruh ayat-ayatnya merupakan penawar dan obat bagi segala penyakit. Barangsiapa mengimani al-Qur’an, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya maka ia meraih manfaat yang besar dari al-Qur’an. Dan barangsiapa membenarkan Allah, mencakup tujuan dan kehendak hidupnya, maka Allah akan menyembuhkan dan mengampuninya dari segala penyakit.”

Allah pun berfirman:

قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

”Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang beriman.” (QS. Fushshilat [41]: 44)

Syaikh ‘Abdurrahman al-Sa’di mengungkapkan:

أي يهديهم لطريق الرشد، والصراط المستقيم، ويعلمهم من العلوم النافعة ما به تحصل الهداية التامة. وشفاء لهم من الأسقام البدنية، والأسقام القلبية، لأنه يزجر عن مساوئ الأخلاق، وأقبح الأعمال، ويحث على التوبة النصوح، التي تغسل الذنوب، وتشفي القلب.

“Yakni: Allah membimbing mereka ke jalan petunjuk dan jalan yang lurus, Allah pun mengajari mereka ilmu-ilmu bermanfaat yang mengantarkan kepada petunjuk yang sempurna. Serta sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit badan dan penyakit hati yang menimpa mereka, karena al-Qur’an melarang akhlak dan amal perbuatan yang buruk, disamping mendorong manusia untuk bertaubat sungguh-sungguh, yang mencuci dosa-dosa dan menjadi penawar qalbu.”[4]

Kedua, Hati-hati dengan menyekutukan Allah dalam hal mahabbah, maka luruskan dan bersihkan tauhid kita dari menduakan Allah dalam hal mahabbah. Bukan keberkahan hidup yang diraih jika kita menduakan-Nya, wal ’iyaadzu billaah. Dan menduakan Allah merupakan kezhaliman terbesar, wa na’uudzubillaahi min dzaalik.

Ketika membahas mengenai kisah tipu daya Iblis -la’natullaahi ‘alayhi- terhadap Adam -’alayhissalaam- dan Hawa, al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil mendefinisikan kata kezhaliman (azh-zhulm) yakni:

والظلم هو وضع الشيء في غير محله وبناء عليه نفهم معنى الآية (إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ) لأن الشرك يعني وضع المخلوق في مرتبة الخالق، أي وضع المخلوق في غير محله وكلّ من وضع شيئا في غير محله فقد ظلم

“Dan kezhaliman adalah mendudukkan sesuatu tidak pada tempatnya dan kita memahaminya berdasarkan makna ayat“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (TQS. Luqman [31]: 13).” Karena kesyirikan yakni menempatkan makhluk pada kedudukan Sang Pencipta, yakni menempatkan makhluk tidak pada tempatnya dan siapa saja yang meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya telah berbuat zhalim.” [5]

Jika bencana dunia lebih membuat kita susah ketimbang bencana yang menimpa agama, sudah semestinya kita semua berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari keburukan yang dituturkan al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi (w. 463 H) dalam sya’irnya:

أأخي إن من الرجال بهيمة                                    في صورة الرجل السميع المبصر

فطن لكل مصيبة في مالــه                                       وإذا يصاب بدينه لـم يشعــر

“Wahai saudaraku, diantara manusia ada yang bersifat bagaikan binatang”

“Dalam bentuk seseorang yang mampu mendengar dan berwawasan”

“Terasa berat baginya jika musibah menimpa harta bendanya”

“Namun jika musibah menimpa agamanya, tiada terasa”[6]

Semoga saja kita termasuk orang yang pandai mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan, Allah al-Musta’aan. Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi (w. 742 H) menuturkan:

واعلم أن الله تعالى إذا أراد بعبد خيرًا بصره بعيوب نفسه، فمن كملت بصيرته لم تخف عليه عيوبه، وإذا عرف العيوب أمكنه العلاج، ولكن أكثر الناس جاهلون بعيوبهم، يرى أحدهم القذى في عين أخيه ولا يرى الجذع في عينه

“Dan ketahuilah bahwa Allah SWT jika menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia memperlihatkan kepada hamba-Nya dengan aib-aibnya sendiri, maka siapa saja yang sempurna bashirah-nya maka aib-aibnya tidak akan tersembunyi darinya, jika seseorang menyadari aib-aibnya maka memungkinkan baginya menemukan obatnya, namun sebagian besar manusia jahil terhadap aib-aib mereka sendiri, di antara manusia ada yang melihat keburukan pada saudaranya tapi ia sendiri tidak menyadari keburukan yang ada pada dirinya.”[7]

Ketiga, Ubah pola pikir: pahami bahwa cinta hakiki adalah kepada Allah (semoga kita dimudahkan meraihnya) dan berpikir positif bahwa kita mampu bangkit kembali menatap masa depan. Berpikir positif dan merencanakan masa depan yang lebih baik bukanlah thuulul amal (berpanjang angan-angan) yang dicela syari’at.

Meluruskan pola pikir dan pemahaman ini penting. Al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani menuturkan dalam kitab Nizhaam al-Islaam, bab. Thariiq al-Iimaan:

“Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan Zat yang ada sebelum alam kehidupan dan alam yang ada sesudah kehidupan dunia. Oleh karena itu, harus ada perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain agar ia mampu bangkit. Sebab, pemikiranlah yang membentuk mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu serta yang memperkuatnya. Selain itu, manusia selalu mengatur tingkah lakunya di dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim seseorang terhadap orang yang dicintainya akan membentuk perilaku terhadap orang tersebut, yang nyata-nyata berlawanan terhadap orang lain yang dibencinya, dimana ia memiliki mafahim kebencian terhadapnya. Begitu juga akan berbeda terhadap orang yang sama sekali tidak dikenalnya, dimana ia tidak memiliki mafhum apapun terhadap orang tersebut. Demikianlah, tingkah laku manusia selalu berkaitan erat dengan mafahim yang dimilikinya. Maka dari itu, apabila kita hendak mengubah tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur, tidak ada jalan lain kecuali harus mengubah mafhum-nya terlebih dahulu.”[8]

Taqiyuddin al-Nabhani menukil dalil firman Allah SWT:

إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Al-Ra’du [13]: 11)

Sejauh yang saya pahami dari penjelasan para guru, lafazh anfuus adalah lafzh musytarak, dan salah satu makna terpilih adalah ‘aql (pola pikir) atau pemahaman, dengan kata lain bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah pemahaman mereka, maka mesti dikuatkan pemikiran positif bahwa kita mampu bangkit, meluruskan kembali tujuan hidup untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 56)

Ingat bahwa hidup kita amat berharga dan lebih dari sekedar memikirkan dirinya yang jelas-jelas menolak kehadiran kita dalam kehidupannya. Kita pun sudah tahu bagaimana Allah bersumpah dalam QS. Al-’Ashr dengan masa (waktu). Wal ’ashr (demi masa), itu menunjukkan berharganya waktu bagi kita. Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)

Ayat ini menjelaskan, bahwa manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Pertama, dijelaskan dengan qassam (sumpah) “والعصر” (demi masa). Kedua, dijelaskan dengan ta’kid “إنّ” (benar-benar). Ketiga, dijelaskan dengan ta’kid “لفي” (sungguh dalam). Ketiga bentuk penjelasan ini, semuanya menguatkan makna pembahasan ayat ini, yaitu kerugian manusia yang sangat luar biasa. Kecuali orang yang beriman, beramal shalih dan saling menasihati dalam kebaikan dan penuh kesabaran, secara terus-menerus, sehingga selamat dari kesalahan.

Kita tak boleh putus harapan. Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman al-’Arifi memperingatkan kita dalam sya’irnya:

وَمَنْ يَتَهَيَّبُ صُعُوْدَ الجِبَالِ # يَعِشْ أَبَدَ الدَّهْرِ بَيْنَ الحُفَرِ

“Siapa yang takut naik gunung # Akan hidup di antara lubang selamanya.”[9]

Ketiga, Islam mengajari kita berlindung dari malapetaka fitnah. Dan di antara fitnah terbesar bagi kaum pria adalah keburukan fitnah wanita, yakni diantaranya fitnah wanita-wanita yang mengundang syahwat kaum pria, wal ’iyaadzu billaah. Dalam hadits shahih diriwayatkan bahwa Nabi –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:

مَا تَرَكْتُ فِيْ النَّاسِ بَعْدِيْ فِتْنَةً أَضَرَّ عَلى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan umat manusia setelahku suatu fitnah yang paling berbahaya bagi kaum pria melainkan kaum wanita.” (HR. Muslim)

Maka, Islam pun mengajari kita do’a-do’a untuk berlindung dari keburukan fitnah, sebagaimana termaktub dalam hadits-hadits berikut:

  1. Do’a berlindung kepada Allah dari adzab dan fitnah:

اللّهم إني أعوذ بك من عذاب القبر، وعذاب النار، ومن فتنة المحيا والممات، ومن فتنة المسيح الدجال [10

  1. Do’a berlindung kepada Allah dari keburukan fitnah, dari Qatadah r.a., dari Anas bahwa ia mengatakan kepada mereka dari Nabi Muhammad –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:

عائذ بالله من شر الفتن [11

Keempat, Menyibukkan diri dengan hal-hal positif, dan tinggalkan aktivitas-aktivitas yang bisa membuka peluang masuknya tipu daya dan godaan syaithan:

  1. Melamun, membuang waktu pada perkara yang tidak berfaidah,
  2. Mendengarkan musik-musik jahiliyyah dan yang paling berbahaya dalam kasus ini adalah musik melankolis, atau musik yang mengandung lirik sendu dengan kata-kata pilu yang menggambarkan keputusasaan.

Di sisi lain, kita perlu berupaya menjauhi segala hal yang bisa membuat diri kita mengingatnya. Misalnya jika kita pernah diberi hadiah benda berupa boneka, maka hadiahkan boneka itu kepada orang lain (adik perempuan misalnya). Semoga kita dijauhkan dari tipu daya syaithan dan pengaruh hawa nafsu yang mengalahkan akal sehat, Allah al-Musta’aan.

Alangkah cakapnya peringatan Imam al-Mawardi tentang bahanya al-hawa’ dalam Aadab al-Dunyaa wa ad-Diin:

وَأَمَّا الْهَوَى فَهُوَ عَنْ الْخَيْرِ صَادٌّ، وَلِلْعَقْلِ مُضَادٌّ؛ لِأَنَّهُ يُنْتِجُ مِنْ الاخْلاَقِ قَبَائِحَهَا، وَيُظْهِرُ مِنْ الافْعَالِ فَضَائِحَهَا، وَيَجْعَلُ سِتْرَ الْمُرُوءَةِ مَهْتُوكًا، وَمَدْخَلَ الشَّرِّ مَسْلُوكًا

Sayyidina ‘Ali –radhiyallaahu ‘anhu- menuturkan:

أخوف ما أخاف عليكم اتباع الهوى وطول الأمل. أما اتباع الهوى فيصد عن الحق

“Hal yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan terbuai dalam panjang angan-angan. Adapun dengan mengikuti hawa nafsu, seseorang akan menolak kebenaran.”

Wal ’iyaadzu billaah.

Kelima, Menyegerakan menikah dengan wanita muslimah lainnya, dengan proses menuju pernikahan yang sesuai syari’at, tidak berpacaran sebelum sah menikah. Untuk itu, kita bisa menela’ah penjelasan guru kami, al-‘Allamah Taqiyuddin an-Nabhani seputar interaksi pria dan wanita dalam Islam dalam kitabnya, An-Nizhaam al-Ijtimaa’iy fii al-Islaam (Donwload Kitab Bahasa Arab, Download Terjemahnya), dan laksanakan pernikahan yang sesuai syari’at Islam: Meniti Pernikahan Islami.

Ingat, di dunia ini bukan hanya dirinya dan bisa jadi masih banyak wanita lain yang lebih shalihah. Dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita shalihah. Istri shalihah akan ’menyihir’ kita dengan ketulusan cintanya (bukan cinta semu tapi cinta karena Allah), dengan kelembutan dan ketakwaannya, semoga Allah menganugerahi kita istri dan keturunan shalihah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Untuk lebih melengkapi pembahasan ini berkaitan dengan sisi lainnya; gangguan jin atau sihir pelet, berikut ini solusi praktis dan ideologisnya dalam Islam, lihat dan tela’ah selengkapnya di sini: Link Artikel-Artikel Kajian Ruqyah Syar’iyyah, Jin dan Sihir

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Referensi:

  • Imam Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi. 1418 H.  Mukhtashar Minhaaj al-Qaashidiin. Cet. III. Beirut: Dar al-Khayr.
  • Abu ‘Amru ‘Utsman bin Sa’id al-Muqri ad-Dani (w. 444 H). As-Sunan al-Waaridah fii al-Fitani wa Ghawaa-ilihaa wa as-Saa’ati wa Asyraathihaa. Muhaqqiq: Dr. Ridha’ Allah bin Muhammad Idris. Juz I. Dar al-‘Ashimah.
  • Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Ar-Rusythah. 1427 H. At-Taysîr fî Ushûl At-Tafsîr (Sûratul-Baqarah). Cet. II. Beirut: Dar al-Ummah.
  • Imam Taqiyuddin al-Nabhani. 1422 H. Nizhâm al-Islâm. Beirut: Dâr al-Ummah.
  • Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman al-‘Arifi. Istamti’ bi Hayaatika: Funun al-Ta’ammil Ma’a al-Naas fii Zhilli Shiraath Dzikrayyaat Aktsar min ‘Isyriin Sanah.
  • Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan.
  • Imam Abu Ja’far al-Thabariy. Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan. al-Maktabah al-Syamilah.
  • Imam Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayniy al-Alusiy. Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaaniy. al-Maktabah al-Syamilah.
  • Al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi. Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Imam ‘Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi asy-Syafi’iy. Âdab Al-Dunyâ’ wa Ad-Dîn.
  • Dll.

 

Catatan Kaki

[1] Lihat: Imam Abu Ja’far al-Thabariy. Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan. al-Maktabah al-Syamilah.

[2] Lihat: Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayniy al-Alusiy. Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaaniy. al-Maktabah al-Syamilah.

[3] Lihat: Ibn Qayyim al-Jawziyyah. Ighaatsatul Lahfan (1/24).

[4] Lihat: Syaikh Abdurrahman as-Sa’di. Taysiir al-Kariim ar-Rahmaan (4/ 403).

[5] Lihat: Al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Ar-Rusythah. 1427 H. At-Taysîr fî Ushûl At-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cet. II. Beirut: Dar al-Ummah.

[6] Lihat: Al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi. Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis (I/169). Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

[7] Lihat: Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisi. 1418 H.  Mukhtashar Minhaaj al-Qaashidiin. Cet. III. Beirut: Dar al-Khayr.

[8] Lihat: Al-‘Allamah asy-Syaikh Taqiyuddin al-Nabhani. 1422 H. Nizhâm al-Islâm. Beirut: Dâr al-Ummah.

[9] Lihat: Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman al-‘Arifi . Istamti’ bi Hayaatika: Funun al-Ta’ammil Ma’a al-Naas fii Zhilli Shiraath Dzikrayyaat Aktsar min ‘Isyriin Sanah.

[10] Lihat hadits riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitaab al-Janaa’iz, Baab at-Ta’awwudz min ‘Adzaab al-Qabr (3/ 241, no. 1377), begitu pula riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitaab al-Masaajid, Baab Maa Yusta’aadzu Minhu fii ash-Shalaati (1/ 413, no. 131); lihat Imam al-Muqri ad-Dani (w. 444 H). As-Sunan al-Waaridah fii al-Fitani wa Ghawaa-ilihaa wa as-Saa’ati wa Asyraathihaa. Muhaqqiq: Dr. Ridha’ Allah bin Muhammad Idris. Juz I. Dar al-‘Ashimah.

[11] HR. Al-Bukhari, Kitaab al-Fitan, Baab At-Ta’awwudz min al-Fitan, (13/ 44); lihat Imam al-Muqri ad-Dani (w. 444 H). As-Sunan al-Waaridah fii al-Fitani wa Ghawaa-ilihaa wa as-Saa’ati wa Asyraathihaa. Muhaqqiq: Dr. Ridha’ Allah bin Muhammad Idris. Juz I. Dar al-‘Ashimah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s