Penegasan Para Ulama: Al-Islam adalah Din dan Daulah

ص

Penyusun & Penerjemah:

Irfan Abu Naveed

Penulis Buku & Kajian Tsaqafah Islam

Syaikh Hasan al-Sayid menegaskan:

أن هذه الديمقراطية تسعى لحكم الدنيا بقوانين وضعية على خلاف شرع الله، بمعنى أنها تسعى لتعديل حكم الله، أما نظام الحكم في الدولة الإسلامية فيسعى لحفظ الدين ونشره وحمايته وحكم الدنيا به

“Demokrasi ada untuk menghukumi kehidupan dunia dengan perundang-undangan positif (yang diberlakukan negara-pen.) yang menyelisihi syari’at Allah, artinya Demokrasi berusaha menandingi hukum Allah. Adapun Sistem Pemerintahan dalam Negara Islam tegak untuk menjaga eksistensi Din al-Islam, menyebarkannya dan melindunginya, serta menghukumi kehidupan dunia dengannya.”[1]

Syaikh Dr. ‘Athiyyah ‘Adlan menegaskan:

إن الحق الذي لا مرية فيه أن الإسلام دين ودولة، وأن النبي -صلى الله عليه وسلم- أقام الدين الإسلامي وأقام كذلك الدولة الإسلامية، وأن الشريعة الإسلامية مشتملة على النظرية السياسية، وعلى نظام الحكم، وعلى القواعد التي يقيم عليها المسلمون دولتهم

“Sesungguhnya kebenaran yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa Islam merupakan agama dan negara, dan bahwa Nabi SAW disamping menegakkan Din Islam beliau pun menegakkan Negara Islam, dan bahwa Syari’at Islam mencakup pandangan tentang politik, sistem pemerintahan, serta asas-asas kaidah yang wajib ditegakkan kaum muslimin atas negaranya.” [2]

1381218_632415713470369_774173631_nSyaikh Prof. Dr. Muhammad Ahmad Mufti menjelaskan: “Adapun slogan pemisahan agama dari negara, sesungguhnya slogan ini hanya ‘sesuai’ untuk Dunia Barat yang merumuskan berbagai pandangan dan sistem peraturan yang menjadi tujuan mereka, yakni untuk menyelesaikan berbagai perbedaan pandangan antara pihak gereja dan penguasa, dan menghentikan perselisihan keduanya di tangan raja. Hal ini tidak pantas bagi kaum muslimin dengan alasan apapun, karena agama mereka adalah Islam dan negara mereka tidak boleh tegak kecuali di atas asas Islam, maka tidak boleh memisahkan antara Islam sebagai agama dan Negara Islam sebagai kekuasaan. Baik tegaknya pemerintahan di atas asas Islam maupun wajib adanya Negara Islamiyyah . Dan mustahil kaum muslimin bisa hidup seperti kaum muslimin tanpa negara yang dinaungi Islam, dan berharap eksistensi dan keberadaan mereka hidup secara islami. Lantas, bagaimana kita bisa memisahkan antara agama Islam dan Negara Islamiyyah, padahal ada perintah-perintah Allah SWT kepada kaum muslimin yang mewajibkan atas mereka menegakkan pemerintahan yang sesuai dengan syari’at agama mereka? Bukankah al-Qur’an al-Karim adalah kitab suci yang diturunkan Rabb Semesta Alam dan Dia menjelaskan di dalamnya kaidah-kaidah pemerintahan dalam al-Dawlah al-Islaamiyyah?

Syaikh Prof. Dr. Muhammad Ahmad Mufti menegaskan dalam subjudul Pentingnya Kedudukan  Kekuasaan Politis dalam Islam (ضرورة السلطة السياسية في الإسلام):

يعارض الإسلام الفوضى السياسية ويطالب بقيام السلطة المنظمة حتى في ما يتعلق بتنظيم الشؤون الخاصة، وفي ذلك يقول الرسول -ص-: ((إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدهم))[3

“Islam menolak segala kekacaun politis dan menuntut kekuasaan yang teratur hingga pada pengaturan berbagai urusan khusus. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Jika tiga orang bepergian maka angkatlah salah satunya menjadi pemimpin.”[4]

Lalu, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Ahmad Mufti pun menegaskan:

ومن هذا استنباط الفقهاء وجوب وجود القيادة السياسية والمجتمع السياسي المنظم، فقد أشار ابن تيمية إلى أنه إذا كان الرسول -صلى الله عليه وسلم- قد أوجبها في الاجتماع الأصغر فهذا دليل واضح على وجوبها في الاجتماع الأكبر وهو اجتماع الأمة

“Oleh karena itu, para ahli fikih menggali hukum tentang kewajiban adanya kepemimpinan politik dan masyarakat yang politis yang teratur. Syaikh Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa jika Rasulullah SAW telah mewajibkan adanya kepemimpinan ini terhadap lingkup kecil, maka hal ini menjadi dalil yang sangat jelas terhadap kewajiban adanya kepemimpinan politis bagi lingkup masyarakat yang lebih luas yakni umat ini.”

Syaikh Dr. Shalah Al-Shawi menegaskan kekhasan politik dalam Islam:

فإقامة الدين وسياسة الدنيا به هو الفارق الأساسي بين نظام الإمامة وغيره من النظم الوضعية المعاصرة التي فصلت بين الدين والدنيا، وساست حياتها بمعزل عن دينها، وحملت الكافة على مقتضى الهوى والشهوة

“Maka menegakkan agama dan mengatur urusan dunia dengan Islam merupakan perbedaan yang paling pokok antara sistem Imamah (Khilafah) dengan sistem-sistem politik yang tegak di zaman ini yang memisahkan antara Din dan pengaturan dunia, dan mengurusi urusan dunia dengan memisahkannya dari agamanya, dan mengemban seluruh tuntutan hawa nafsu dan syahwat.”[5]

Syaikh Dr. Muhammad bin Hamid Muhammad Hawari menuturkan:

العقيدة الإسلامية هي أساس الدولة، بحيث لا يتأتى وجود شيء في كيانها أو جهازها أو محاسبتها، أو كل ما يتعلق بها، إلا بجعل العقيدة الإسلامية أساسًا له. وهي في نفس الوقت أساس الدستور والقوانين الشرعية بحيث لا يسمح بوجود شيء مما له علاقة بأي منهما إلا إذا كان منبثقًا عن العقيدة الإسلامية

“Akidah Islamiyyah adalah asas Negara, sehingga tidak ada sesuatu apa pun (selain akidah Islam-pen.) dalam Institusi Perangkat Negara, Struktur dan aktivitas muhasabah atasnya atau apapun yang berkaitan dengannya kecuali menjadikan akidah islamiyyah sebagai asas dari hal-hal tersebut. Pada saat yang sama, akidah ini pula yang menjadi asas Undang-Undang Dasar dan perundang-undangan syar’iyyah ketika Islam tidak memberikan peluang kepada apapun yang berkaitan dengan keduanya kecuali harus tergali dari akidah islamiyyah.”[6]

Syaikh Dr. Muhammad bin Hamid Muhammad Hawari menjelaskan lebih rinci:

لما كانت الدولة التي تطبق هذا الدستور ليست أي دولة بل دولة محددة الهوية، وأنها إسلامية، فإنها لابد أن تقيمه على أساس من الإسلام في فكرته الأولى التي تنبثق عنها وتبنى عليها جميع أفكاره الأخرى الفرعية

“Negara yang menerapkan Undang-Undang Dasar seperti ini bukan sembarang negara melainkan negara tertentu yang unik, yakni Negara Islamiyyah, karena negara wajib tegak di atas asas Islam dalam pemikiran paling dasarnya (akidah) yang tergali dan diadopsi seluruh pemikiran cabang berdasarkan asas akidah tersebut.”

Catatan Kaki:

[1] Lihat: Al-Dawlah wa Nizhaam al-Hukm fii al-Islaam, Syaikh Hasan al-Sayid, dinukil dari tulisan Syaikh Fahd bin Shalih “Su’aal al-Siyaadah fii al-Fikr al-Islaami al-Mu’aashir” dalam Majalah Al-Bayaan, No. 303, Tahun ke-27, Bulan Dzul Qa’dah 1433 H/ September 2012.

[2] Lihat: Al-Ahkaam Al-Syar’iyyah Li Al-Nawaazil Al-Siyaasiyyah, Syaikh Dr. ‘Athiyyah ‘Adlan.

[3] Lihat:

أخرجه أبو داود، راجع: جامع الأصول من أحاديث الرسول، الجزء السادس، ص ١٣

[4] Lihat: Arkaanun wa Dhamaanaat: Al-Hukm Al-Islaamiy, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Ahmad Mufti – Mu’assasah al-Riyaadh: Beirut – Lebanon.

[5] Lihat: Al-Wajiiz fii Fiqh Al-Khilaafah, Syaikh Dr. Shalah Al-Shawi – Dar al-I’lam al-Duwali.

[6] Lihat: ‘Isyruuna Nadwah fii Syarh wa Munaaqasyah Masyruu’i Tathbiiq Al-Islaam fii Al-Hayaah.

One comment on “Penegasan Para Ulama: Al-Islam adalah Din dan Daulah

  1. […] Lihat pula: Penegasan Para Ulama: Al-Islam adalah Din dan Daulah […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s