Jalanan Rusak Parah Merupakan Tanggungjawab Penguasa

Jalan Rusak

Kepada ikhwah fillaah sekalian yang melakukan perjalanan melalui rute Jalan Raya Cianjur Sukabumi, mesti berhati-hati karena banyak lubang menganga (dalam dan lebar) di sepanjang jalan yang tersebar sejauh puluhan kilometer. Jalanan ini sangat berbahaya, terlebih di sepanjang jalan raya daerah gekbrong yang berlubang-lubang ditambah dengan minimnya lampu penerangan jalan (gelap di malam hari) dan merupakan turunan cukup tajam (jika hujan cukup licin karena jalan berpasir).  Saya merasakan betul kesulitan karena jalanan yang rusak parah semacam ini karena setiap minggu ana safar Cianjur-Sukabumi beberapa kali (antara tempat tinggal dan tempat kerja di sebuah Perguruan Tinggi Islam di Sukabumi). Begitu pula dengan jalan turunan di area belakang Istana Presiden di Cipanas – Cianjur yang rusak parah (lebih tepat disebut sungai kecil karena berbatu-batu) ketika beberapa waktu saya, istri dan anak melakukan perjalanan menggunakan sepeda motor untuk mengisi pengajian, pelatihan ruqyah syar’iyyah.

الله المستعان

Ini tambahan informasinya:

Berita I

Berita II

Tak jarang saya temukan pengendara motor yang terjatuh atau minimal hampir terjatuh, sangat berbahaya, saya salah satu korbannya. Saya dan rekan kerja yang sama dari Cianjur pun merasakan kesulitan yang sama, dan motor pun mengalami masalah yang hampir serupa (terkadang goyang pada bagian segitiga karena beberapa kali benturan keras motor dengan lubang). Beberapa waktu lalu saja saya (berkendara dengan motor) nyaris bertabrakan dengan motor dari arah berlawanan karena faktor lubang..(pernah terjatuh dan hampir jatuh berkali-kali). Lubang-lubang ini pula yang seringkali menyebabkan kemacetan (saya alami sendiri).. Allah al-Musta’aan… 

Parahnya di jalanan tersebut:

  • Banyak kendaraan besar; bus antar kota dan bus pariwisata, berbagai jenis truk (banyak pabrik),

  • Banyak lubang menganga dan dalam, 

  • Jalan berpasir dan berbatu krikil, jalanan licin terutama jika basah setelah turun hujan,

  • Jalan kurang lebar untuk ukuran jalan ramai,

  • Jalanan ramai terutama pada jam pagi dan sore (PP kerja); banyak pabrik (tata kota semrawut),

  • Sikap pengguna jalan (mobil, motor, truk dan bus) yang tidak beradab di jalanan umum; menyalip sembarangan, tidak sabar, dan lainnya.

Dan setelah menyimak pemberitaan mengenai pesawat kepresidenan yang mewah dan berharga ‘wah’, mengingatkan saya pada sulitnya perjalanan Cianjur – Sukabumi. Hal ini kian membuktikan bobroknya pengaturan politik dalam Demokrasi; terutama pada sisi prioritas penggunaan anggaran (terkadang perbaikan jalan yang rusak parah ‘membunuh’ rakyat ditunda dengan alasan belum cairnya pendanaan). Ingat kita negeri yang kaya dengan SDA, diantaranya potensi batu bara (aspal), lantas kemana potensi SDA tersebut?? Diserahkan pada pihak asing?? Mengapa jalanan mudah rusak pula? Apakah karena rendah kualitas jalan semata atau ditambah hilang keberkahannya dengan penggunaan harta haram untuk pembangunan (ribawi, dll.)??

Sudah terlalu lama jalan tersebut rusak tambal sulam. Apakah tak ada standar kualitasnya?? Barangkali ada di antara pihak yang bertanggungjawab atas infrastruktur jalan, dan pejabat-pejabat terkait (bupati, gubernur jabar, dll.) yang membaca catatan ini, saya ingatkan dengan hadits Rasulullaah -shallallaahu ‘alayhi wa sallam-:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ingatlah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR. al-Bukhârî, Muslim & Lainnya)

Saya pernah mewawancarai sejumlah syaikh doktor dari Timur Tengah dan Afrika ketika terjalin dalam diskusi “أهمية مكانة السلطان في إزالة المنكرات” (pentingnya kedudukan penguasa dalam menghapuskan berbagai kemungkaran di tengah-tengah kaum muslimin). Diantaranya Syaikh Dr. Abu ‘Abdullah menjelaskan kepada penulis:

فالواجب على من يتولى أمور المسلمين أن يمنع ما يضر المسلمين في دينهم ودنياهم

“Maka wajib bagi siapa saja yang menguasai urusan kaum muslimin (penguasa) untuk mencegah hal-hal yang bisa membayakan agama dan dunia kaum muslimin.”

Al-‘Allamah asy-Syanqithi pun menegaskan dalam kitabnya Al-Islam Din[un] Kaamil[un]:

وأما السياسة الداخلية: فمسائلها راجعة إلى نشر الأمن والطمأنينة داخل المجتمع، وكفّ المظالم، وردّ الحقوق إلى أهلها

“Adapun politik dalam negeri (dalam Islam-pen.), maka permasalahannya kembali kepada jaminan keamanan dan kenyamanan di tengah-tengah masyarakat, mencegah kezhaliman dan mengembalikan hak-hak kepada pemiliknya.”

Di sisi lain jalan raya ini adalah jalan provinsi yang juga menjadi tanggungjawab Pemprov Jabar dan elemen-elemen terkait (Dinas PU). Apakah mereka lupa dengan hadits di atas dan atsar bagaimana besarnya kekhawatiran Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallaahu ‘anhu– yang khawatir jika ada keledai atau dalam keterangan lain hewan melata yang terperosok jalan berlubang? Sedangkan di zaman ini bukan ‘sekedar’ hewan, jelas rakyat yang melintas menjadi korban.

Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab –radhiyallaahu ‘anhu– menuturkan:

لو أنّ دابّة بسواد العراق عَثَرَتْ لَخشيتُ أن يسألني اللهُ عنها لما لم أمهِّد الطريق

“Andaikan ada seekor binatang melata di wilayah Irak yang kakinya terperosok di jalan, aku sangat takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku karena aku tidak memperbaiki jalan tersebut.” (Lihat: Syaikh Prof. ‘Abdul Qadim Zallum. 1415 H. Afkaar Siyaasiyyah (hlm. 41). Cet. I.)

Realitas buruk semacam ini, kian meyakinkan saya dan kaum muslimin yang menyadarinya akan pentingnya kehidupan Islam yang menegakkan asy-syarii’ah al-islaamiyyah kaaffah dalam naungan al-Khilaafah al-Islaamiyyah yang akan menerapkan poliltik sebagaimana paradigma islam.

Secara lebih spesifik pengertian politik di dalam Islam dideskripsikan Syaikh Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dalam Kitab Mu’jamu Lughatil Fuqaha’:

رعاية شؤون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية

“Pemeliharaan terhadap urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri sesuai dengan syari’ah Islam.”

Ini semakin membuktikan benar apa yang saya tuliskan disini:

Politik Islam Berbeda dengan Politik Demokrasi

Di sisi lain, begitu banyak kemungkaran lainnya yang subur dalam kehidupan saat ini di bawah naungan sistem jahiliyyah Demokrasi dan pertentangannya dengan pengaturan politik dalam Islam:

Muhasabah Merajalelanya Riba yang Subur di Alam Demokrasi

Murtadnya Muslim dalam Sistem Demokrasi VS Sistem Islam (Al-Khilaafah)

Sekilas Tentang Al-Khilafah Penjaga Akidah Umat

Penegakkan Hukum dalam Khilafah Islam: Tegas & Berfungsi Sebagai Penebus Dosa & Pencegah Kemaksiatan

2 comments on “Jalanan Rusak Parah Merupakan Tanggungjawab Penguasa

  1. Paris RM mengatakan:

    Hidup Sejah Mulia Dengan Syari’ah wa Khilafah

    Suka

  2. […] Artikel lainnya: Jalanan Rusak Parah Merupakan Tanggung Jawab Penguasa […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s