Koreksi Atas Media yang Mengghibah ‘Aib Individu Muslim (Part. II)

Akhlak

Ketahuilah yaa ikhwah, mengghibah, membicarakan ‘aib individu muslim yang pada asalnya tersembunyi antara dua pihak misalnya dan tidak lantas membahayakan masyarakat secara umum/ secara luas, sehingga tidak ada alasan syar’i untuk mengghibah-nya di tengah-tengah masyarakat (tidak ada kemaslahatan apapun), terlebih mengghibah-nya dengan status di jejaring sosial FACEBOOK ATAU posting di SITUS. BUKAN HANYA “STATUS POSTINGAN TAK BERMUTU (jika tak mau dikatakan “VIRUS” MENYEBARKAN KEMAKSIATAN LISAN), BAHKAN LEBIH BURUK DARI ITU DALAM PANDANGAN ISLAM, dan bertambah keburukannya jika ada yang menggiring kekhilafan individual ini untuk memfitnah suatu gerakan dakwah dan aktivisnya secara umumWal ‘iyaadzu billaah.

Status/ posting berita seperti ini, kontra produktif bahkan destruktif terhadap perjuangan itu sendiri, apa yang dihasilkan selain dosa mengghibah dan “investasi” dosa dari orang-orang yang terlibat menyebarkan dan menstigmatisasi negatif gerakan dakwah Islam dengan hal seperti itu?

Allaahummaghfirlanaa

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

QS. Al-Hujuraat [49]: 12

Mengghibah sesama muslim -tanpa ada alasan syar’i- dicela dengan celaan yang buruk oleh Allah ‘Azza wa Jalla yakni (أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ) yang diserupakan dengan memakan daging bangkai saudaranya“, wal ‘iyaadzu billaah.

Dalam hadits shahih:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam– bersabda: “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau: “Lalu bagaimana jika kenyataan yang ada pada diri saudara saya itu sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda: “Jika apa yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataannya maka engkau telah mengghibahnya. Dan jika ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (buhtan/ fitnah).” (HR. Muslim).

Apa yang tidak disukainya berupa keburukan, ‘aib atau kekhilafannya. Al-Hafizh an-Nawawi mendefinisikan ghiibah:

الغيبة: فهي ذكرُك الإِنسانَ بما فيه مما يكره، سواء كان في بدنه أو دينه أو دنياه، أو نفسه أو خَلقه أو خُلقه، أو ماله أو ولده أو والده، أو زوجه أو خادمه أو مملوكه، أو عمامته أو ثوبه، أو مشيته وحركته وبشاشته، وخلاعته وعبوسه وطلاقته، أو غير ذلك مما يتعلق به، سواء ذكرته بلفظك أو كتابك، أو رمزتَ أو أشرتَ إليه بعينك أو يدك أو رأسك أو نحو ذلك

“Adapun ghiibah adalah ungkapan dirimu tentang orang lain pada hal yang dibencinya, sama saja apakah berkaitan dengan fisiknya, agamanya, kehidupan dunianya, dirinya, penciptaannya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orangtuanya, istrinya, pembantunya, harta benda miliknya, penutup kepalanya, pakaiannya, caranya berjalan, gerak tubuhnya, rona wajah kebahagiaannya, sikapnya yang berlebihan, rona wajah cemberutnya, dan kecendrungannya, atau pada perkara-perkara lainnya yang berkaitan dengannya, sama saja engkau menyebutkannya dengan lisan, tulisan, simbol, atau isyarat dengan mata, tangan, kepala atau dengan cara lainnya.” (Al-Adzkaar An-Nawawiyyah,Kairo: Dar al-Hadits. Hlm. 315)

Koreksi Argumentatif I Atas Suara News: (Link)

Kajian Islam tentang Ghiibah: (Link Download File)

Kita tidak membenarkan perbuatan khilaf melanggar janji bertemu jika itu memang itu kenyataannya, wajib meminta maaf, namun adakah alasan syar’i menyebarkan ‘aib individu muslim pada kasus ghibahnya Suara News & informan-nya “Ian as-Suti” di jejaring sosial dan website-nya? Jika kita bandingkan dengan ilmu yang dijelaskan para ulama, diantaranya ulama ahli hadits dan faqih madzhab syafi’i yakni al-Hafizh an-Nawawi, ghibah tersebut JELAS termasuk ghiibah muharramah dan tidak termasuk pengecualian ghibah sebagaimana yang dijelaskan para ulama:

Perincian Al-Hafizh an-Nawawi tentang Ghiibah: (Link)

 Allaahummaghfirlanaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s