Menjustifikasi Demokrasi dengan Dalih Menikmatinya? (Jawaban Argumentatif)

431614_363611627056358_1926515089_n

Oleh: Al-Faqiir Ilallaah Irfan Ramdhan W, S.Pd.I (Abu Naveed)

Mari Berpikir dan Berargumentasi Cerdas Yaa Ikhwatii Fillaah

Jika seandainya demokrasi dijustifikasi dengan dalih bahwa kita hidup dalam naungan demokrasi; makan, minum, bekerja menggunakan jalan, serta fasilitas kesehatan yang diklaim sebagai produk demokrasi, sehingga dikatakan bahwa kita pasti menikmati demokrasi sistem kufur, dan mengkritik mereka yang anti demokrasi dengan ungkapan “inkonsistensi”. Bagaimana kita menjawab logika batil ini?

JAWABAN:

Pertama, jika logika salah ini dipakai, niscaya orang-orang sekularis, munafik akan menjadikan dalih serupa untuk menjustifikasi KOMUNISME, KAPITALISME, SEKULARISME, bagi mereka yang hidup di negeri komunis misalnya, dan ini jelas penyimpangannya.. laa yahtaaju ilaa syarhin katsiirin.

Kedua, selama ini oknum yang menuduh ‘menikmati demokrasi’ tidak pernah menjelaskan batasan yang jelas dan tegas dari tuduhan ‘menikmati demokrasi’. Jika tidak dibatasi, maka istilah ini menjadi istilah absurd dan menggelinding bagaikan bola panas yang bisa dialamatkan pada setiap orang secara ‘liar’, bagaimana tidak? Karena hidup di negeri yang dinaungi sistem demokrasi kini memang realitas, dan bermu’amalah di dalamnya pun sesuatu yang tidak bisa dihindari untuk mempertahankan hidup (dengan segenap daya upaya berpegangteguh pada syari’at Islam). Namun sudah barangtentu kehidupan di bawah naungan demokrasi merupakan realitas yang fasad, rusak dan batil yang wajib diubah dengan kehidupan Islam (QS. al-Ra’d: 11).

Apakah ketika Rasulullah SAW hidup di bawah naungan sistem jahiliyyah, bermu’amalah makan dan minum di dalamnya, berdakwah dan meraih pengikut. Apakah dikatakan menikmati sistem jahiliyyah? Wal ‘iyaadzu billaah, Rasulullah SAW dan para sahabat mulia dan bersih dari hal itu semua.

Semua perkara wajib dikaji berdasarkan sudut pandang Islam; membuat KTP, surat-surat administratif, aktivitas dakwah, hukum bermu’amalah secara rinci dan lain sebagainya dengan sudut pandang Islam, dan itu semua tak menjadi dalih atas Demokrasi.

Ingat yaa ikhwatii fillaah.. Dakwah adalah kewajiban dari Allah, dan keberhasilannya pun berkat pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla bukan prinsip sesat kebebasan ala Demokrasi, lantas bagaimana mungkin kami ‘bersyukur’ pada Demokrasi dan paham sesat kebebasannya?? Padahal Demokrasi mengajarkan manusia takabbur kepada Allah -Dzat Yang Berhak Membuat Hukum- sehingga RIBA dan lokalisasi perzinaan yang termasuk dosa besar pengundang murka Allah LEGAL di negeri ini, kita temukan para penggiat perzinaan pendukung gang Dolly dan acara maksiat Miss World pun bebas berdalih akibat kebebasan sesat ajaran Demokrasi.

Maka jelas, Dialah Allah yang menolong dakwah ini…. Cukuplah kami bersyukur pada Allah. Sesungguhnya seorang mukmin da’i yang berjuang menegakkan syari’at Allah tidak akan pernah terhina dengan celaan orang yang mencela.

Ketiga, bagaimana mungkin kita menikmati demokrasi? Padahal kata menikmati identik dengan ridha’ dan puas. Jika kita merujuk pada KBBI Online (http://kbbi.web.id/), maka kita dapati makna kata “nikmat”, “menikmati” sebagai berikut:

nikmat /nik·mat/ 1 a enak; lezat: masakannya memang –; 2 a merasa puas; senang: — rasanya tidur di kamar sebagus ini; 3 npemberian atau karunia (dr Allah): Allah telah memberi — kpd manusia;

menikmati /me·nik·mati /v 1 merasai (sesuatu yg nikmat atau lezat): kami ~ makan minum; 2 mengecap; mengalami (sesuatu yg menyenangkan atau memuaskan): ~ hasil kemerdekaan;

penikmat /pe·nik·mat/ n orang yg menikmati (merasai, merasakan, mengecap, mengalami): mereka ~ puisi; ia memang seorang ~ hidup;

penikmatan /pe·nik·mat·an/ n proses, cara, perbuatan menikmati; pengecapan;

kenikmatan /ke·nik·mat·an/ n keadaan yg nikmat; keenakan; kesedapan; kesenangan: mengecap ~ peradaban modern

Lantas, bagaimana mungkin kita ridha’ menikmati sistem kufur Demokrasi yaa ikhwah fillaah?? Padahal Demokrasi sesat adalah sistem yang jelas-jelas mengajari manusia takabur membuat hukum mengambil hak Allah??

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (TQS. Al-An’aam [6]: 57)

Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammad al-‘Umar menuturkan:

أرى من الواجب عليَّ وعلى كل عالم وكاتب إسلامي يؤمن بما أوجب الله سبحانه عليه من الدعوة إليه سبحانه وتعالى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والسعي لإنقاذ الإنسانية عامة والأمة الإسلامية خاصة من أسباب الهلاك والشقاء.. أرى من الواجب المحتم: أن نبين للناس جميعًا حكامًا ومحكومين خطرًا عظيمًا يتهددهم بهلاك عقدي وأخلاقي واجتماعي واقتصادي وصحي.. يتهددهم بشقاء محتوم لكل من وقع في شراكه وسار في ركاب الواقعين فيه.. هذا الخطر العظيم هو ما يسمى بـ: الديمقراطية

“Saya memandang di antara kewajiban bagiku, bagi seluruh orang berilmu dan jurnalis muslim yang beriman terhadap apa yang diwajibkan Allah SWT kepadanya yakni berdakwah menyeru kepada-Nya, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan berupaya keras menyelamatkan umat manusia dan khususnya umat Islam dari berbagai hal yang membinasakan dan menimbulkan kesengsaraan.. Saya memandang diantara kewajiban yang tegas: wajib bagi kita menjelaskan kepada masyarakat, penguasa dan rakyatnya bahaya besar yang mengancam mereka dengan kehancuran akidah, akhlak, pergaulan sosial, perekonomian dan dunia kesehatan… serta mengancam mereka dengan kesengsaraan yang pasti bagi orang yang bersekutu di dalamnya dan berjalan di atas jalan kaum pragmatis.. Inilah bahaya besar yang dinamakan DEMOKRASI.” (Lihat: Haadzihi Hiya Al-Diimuqraathiyyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammaad al-‘Umar – Dar al-Hulayyah: Riyadh – Cet. I: 1424 H)

KESIMPULAN

Maka jawaban saya dan mereka yang sadar -meminjam salah satu bait sya’ir Imam Sufyan Tsauri -rahimahullaah- kiranya sudah cukup menggambarkan penolakan kami -kaum muslimin- terhadap tuduhan rendah ini… wal ‘iyaadzu billaah:

لا خير في لذّة من بعدها النّار

“Tiada kebaikan dalam kenikmatan yang akhirnya adalah neraka” (Lihat: Dâ’ al-Nufûs wa Sumûm al-Qulûb: al-Ma’âshi, Syaikh Azhari Ahmad Mahmud – Daar Ibn Khuzaimah: Riyaadh – Cet. Tahun: 1420 H/ 2000)

NASIHAT

Sebelum berbicara, alangkah baiknya jika ia memahami terlebih dahulu apa yang menjadi produk materi yang lahir dari akidah/ peradaban tertentu (madaniyyah khaashshah yang lahir dari hadharah) dan produk materi atau sains yang sifatnya umum tak terkait akidah, hadharah tertentu. Demokrasi harus dipahami dengan mentahqiiq faktanya benar-benar, lalu menghukuminya dengan pandangan Islam (dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah); karenanya ilmu amatlah penting.

Ucapan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, jika tidak memahami apa yang dibicarakan sebaiknya diam, jika tidak itu akan menjadi bomerang di hari penghisaban. Alangkah baiknya mengingat pesan yang mulia dari Rasulullaah SAW:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad & Malik)

Al-Hafizh al-Nawawi menjelaskan hadits di atas:

فمعناه أنه إذا أراد أن يتكلم فإن كان ما يتكلم به خيرا محققا يثاب عليه، واجبا أو مندوبا فليتكلم . وإن لم يظهر له أنه خير يثاب عليه، فليمسك عن الكلام سواء ظهر له أنه حرام أو مكروه أو مباح مستوي الطرفين . فعلى هذا يكون الكلام المباح مأمورا بتركه مندوبا إلى الإمساك عنه مخافة من انجراره إلى المحرم أو المكروه . وهذا يقع في العادة كثيرا أو غالبا

“Maknanya adalah jika seseorang ingin mengatakan sesuatu, jika didalamnya mengandung kebaikan dan ganjaran pahala, sama saja apakah wajib atau sunnah untuk diungkapkan maka ungkapkanlah. Jika belum jelas kebaikan perkataan tersebut diganjar dengan pahala maka ia harus menahan diri darinya, sama saja apakah jelas hukumnya haram, makruh atau mubah. Dan dalam hal ini perkataan yang mubah dianjurkan untuk ditinggalkan, disunnahkan untuk menahan diri darinya, karena khawatir perkataan ini berubah menjadi perkataan yang diharamkan atau dimakruhkan. Dan kasus kesalahan seperti ini banyak terjadi.”

الله المستعان

Lihat Lengkapnya:

Syabab HT Menikmati Demokrasi?

Inilah Jawaban-Jawaban Kami atas Berbagai Dalih Pembenaran Atas Demokrasi (Kumpulan Makalah Ilmiyyah)

Menikmati Demokrasi? Apa Kata Imam Sufyan al-Tsauri? 

Berterima Kasih Pada Demokrasi?

KH Shiddiq al-Jawi: Islam Menolak Demokrasi

Kerusakan Negeri Oleh Demokrasi

Siapa Diskriminatif?

Dalam Demokrasi, Siapapun Cenderung Jadi Buruk

Dampak Buruk Sistem Demokrasi

Wajah Buruk Demokrasi

Hakikat Buruk Demokrasi

Dengan Demokrasi, Orang Jadi Munafik

4 comments on “Menjustifikasi Demokrasi dengan Dalih Menikmatinya? (Jawaban Argumentatif)

  1. […] Menjustifikasi Demokrasi dengan Dalih Menikmatinya? (Jawaban Argumentatif) […]

    Suka

  2. ramli_lubis mengatakan:

    Assalamu’alaikum ustadz, mohon izin copas artikelnya ya, trmksh.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s