Hati-Hati dengan Penyesatan Istilah Batil “Selamat Natal”

Kholid

Hati-hati yaa ikhwatii fillaah

Saya membaca komentar yang jelas ganjil dan jelas kesalahannya dengan membedakan ucapan “selamat natal” dan ucapan “selamat merayakan natal”

Oknum akun ini menuliskan:

——————————————————-

“mengucapkan selamat natal dgn mengucapkan selamat merayakan natal bagi yg yg merayakan sama??? cek pelajaran bhs Indonesianya..pasti jebokkkk..”

“mengucapkan selamat natal dgn mengucapkan selamat merayakan natal bagi yg meramaikan sama??? ….(-sensor olok-olokan-).. belajar bhs indonesia dulu sana!!!

——————————————————-

Saya tak ragu untuk mengatakan bahwa ini adalah pernyataan aneh dan ganjil yang bisa timbul dari dua kemungkinan: – Ketidakpahaman terhadap bahasa indonesia,- ‘Ashabiyyah hizbiyyah (fanatisme buta golongan) membela tokoh golongannya -yg disebutkan tidak representatif atas institusinya-.

Padahal kata selamat itu sendiri dalam KBBI Online membantah pernyataannya, dan sudah menjadi pemahaman umum bahwa kata selamat natal dan selamat merayakan natal memiliki persamaan makna, sama seperti ungkapan selamat idul fithri dan selamat merayakan idul fithri -orang sudah jelas memahaminya sama-. Perbedaannya hanya pada PENGHEMATAN KATA (ini ilmu bahasa indonesia), BUKAN PERBEDAAN MAKNA:

Kata “Selamat” dalam kamus KBBI Online (http://kbbi.web.id/):

selamat /se·la·mat / 1 a terbebas dr bahaya, malapetaka, bencana; terhindar dr bahaya, malapetaka; bencana; tidak kurang suatu apa; tidak mendapat gangguan; kerusakan, dsb: ia — dr pembunuhan; 2 a sehat; 3 a tercapai maksud; tidak gagal; 4 n doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb): ketika ia kawin, banyak handai tolannya yg memberi ucapan — kepadanya; 5 n pemberian salam mudah-mudahan dl keadaan baik (sejahtera, sehat dan afiat, dsb): — datang; — jalan; — malam (pagi, siang); — tahun baru; — tinggal;– berbahagia semoga mendapat kebahagiaan; — berjumpa mudah-mudahan selamat atas perjumpaan (ini); — berpisah mudah-mudahan selamat atas (selama) perpisahan; — datang mudah-mudahan selamat atas kedatangan (seseorang, tamu, dsb); — jalan mudah-mudahan selamat dl perjalanan; — malam mudah-mudahan selamat pd malam hari (ini); — menempuh hidup baru mudah-mudahan berbahagia dl pernikahan yg dilangsungkan; — pagi mudah-mudahan selamat pd pagi hari (ini); — sejahtera mudah-mudahan selamat tidak kurang suatu apa; — siang mudah-mudahan selamat pd siang hari (ini); — sore mudah-mudahan selamat pd sore hari (ini); — tinggal mudah-mudahan selamat bagi yg tinggal; — ulang tahun mudah-mudahan selamat dl memperingati hari lahir;

Maka makna selamat natal bermakna do’a keselamatan baginya -padahal mereka yang kafir jelas qath’iy akan diadzab Allah ‘Azza wa Jalla-.

SIKAP KITA

Islam mengajari kita prinsip dalam mengadopsi suatu ungkapan dan melarangnya jika ungkapan tersebut mengandung makna batil semisal ucapan “selamat natal”.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’inaa”, tetapi Katakanlah: “Unzhurnaa”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (TQS. al-Baqarah [2]: 104)[14]

Dalam banyak kutub tafsir, ayat ini menjelaskan dengan sangat gamblang, bahwa Allah melarang orang-orang beriman menggunakan istilah raa’inaa dan mewajibkan mereka menggunakan istilah lain, yakni unzhurnaa. Secara bahasa, raa’inaa dan unzhurnaa bermakna sama: “Perhatikan urusan kami yaa Rasulullah.” Ketika para sahabat mengungkapkan kata raa’inaa kepada Rasulullah saw, orang Yahudi pun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut raa’inaa. Padahal yang mereka katakan ialah ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, bebal dalam kejahilan sebagai ejekan kepada Rasulullah saw. Selanjutnya Allah melarang penggunaan kata raa’inaa. Sehingga, sejak itu para sahabat tidak lagi menggunakan istilah itu di hadapan Rasulullah saw, dan memakai istilah lain yang bebas dari penyimpangan.

Para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil keharaman menggunakan istilah-istilah atau ungkapan yang bertentangan dengan Islam, dan larangan menyerupai orang kafir semisal penjelasan Al-Hafizh ibn Katsir dalam tafsirnya.

Ketika menafsirkan ayat ini, al-Hafizh al-Imam Ibn Katsiir berkata dalam kitab tafsirnya:

والغرض: أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا

“Maksudnya: Allah SWT melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”

Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud:

من تشبه بقوم فهو منهم

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.”[18]

Al-Hafizh Ibn Katsir pun menegaskan:

ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد، على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها

“Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan dan tak sejalan dengan kita.”

Dan faktanya kita temukan bahwa para orang-orang nasrani terbiasa mengucapkan ungkapan ini sebagai do’a di antara mereka, sama seperti kaum muslimin yang saling mengucapkan selamat pada hari raya ‘Idul Fithri. Maka, jelas ucapan selamat natal adalah ucapan khas orang-orang Nasrani dan do’a di antara mereka di samping ungkapan yang mengandung kebatilan dalam pandangan Islam.

Di sisi lain:

– Islam mengajari kita prinsip AL-WALAA’ WAL BARAA”

– Islam pun melarang kita menjawab salam kaum kafir

– Islam pun melarang kita mencampuradukkan antara yang haq dan bathil

– Islam pun mengajari kita menjaga lisan- Islam pun melarang kita menyerupai orang-orang kafir yang saling mengucapkan selamat natal -ini termasuk kekhususan mereka-

– Islam pun mengajari kita menghormati perbedaan pendapat khilaafiyyah pada permasalahan yang dalil-dalilnya zhanniyyah, namun perbedaan pendapat dalam perkara qath’iyyah semisal akidah dan furuu’iyyah yang dalilnya dalil-dalil qath’iyyah adalah inhiraaf (penyimpangan) yang wajib ditolak!

– Ilmu memang penting

– Jauhi ‘ashabiyyah hizbiyyah (fanatisme golongan) yaa ikhwatii fillaah…

Lihat: Menyingkap Syubhat Kebebasan Berbicara Ajaran Sesat Demokrasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s