Tanggapan Argumentatif Atas Pemberitaan Suara News tentang ‘Aib Individu Muslim

SN

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد

Saya tidak ingin menanggapi situs ini sebenarnya -karena beberapa kali menerbitkan pemberitaan bermasalah-. Namun kali ini perlu saya sampaikan sejumlah catatan penting atas pemberitaannya tentang ‘aib individu yang disebutkan sebagai syabab HTI. Dan ini sebagai nasihat dan koreksi atas sesama kaum muslimin.

Saya tegaskan bahwa pemberitaannya bermasalah dari sudut pandang Islam –bi fadhlillaahi ta’aalaa saya berpengalaman sebagai redaktur pelaksana sebuah majalah Islam di Tangerang-. Ada sejumlah catatan kritis:

1- Ini informasi dan judge sepihak pada syabab HT, tidak ada klarifikasi dari pihak tertuduh, kita belum mengetahui duduk permasalahan sebenarnya, benarkah syabab HT tersebut sengaja ingkar janji? Atau lupa? Atau memang tidak ada janji? Atau adakah udzur syar’i lainnya sehingga ia tak menetapi janjinya? Tabayyun jelas perlu dilakukan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

(QS. Al-Hujuraat [49]: 6)

Karena para syabab HT pun dibina untuk menepati janji. Apakah karena kebencian sehingga orang-orang yang terlibat dalam publikasi berita ini tak bisa berbuat adil dalam pemberitaan?

Dan saya sayangkan, biasanya akan kita temukan pemberitaan seperti ini menjadi senjata bagi sebagian oknum yang tidak senang pada pihak lainnya untuk menstigma negatif pihak tersebut tanpa melihat benar tidaknya konten beritanya (dan ini memang terbukti dengan adanya olok-olokan sebagian oknum), maka jadilah mereka semua bersekutu dalam kemaksiatan menyebarkan pemberitaan yang bermasalah ini dari sudut pandang Islam.

2- Jika berita ini tidak benar, maka mengandung fitnah. Namun jika berita ini benar maka jelas mengandung ghibah, menggunjing kesalahan individual orang lain yang tidak menepati janji. Adakah alasan syar’i untuk memberitakan ‘aib ini jika memang benar seperti itu? Padahal ‘aib tersebut pada asalnya tersembunyi (bukan dari berita publik melainkan di antara empat mata), terlebih dipajang pula foto yang spesifik menunjukkan jati diri fulan ybs. (ditambahi dengan kritikan pada hal lainnya) sehingga orang lain bisa mengetahui ‘aib ybs. Tunjukkan pada saya alasan syar’i dari pemberitaan ghibah ini jika memang ada?? Apakah ini bagian dari akhlak muslim yaa ikhwatii fillaah? Allaahummaghfirlanaa.

Pertanggungjawaban di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla kelak. Berdasarkan ilmu, saya tidak melihat alasan syar’i untuk memberitakannya, coba bandingkan dengan penjelasan para ulama berikut ini:

Penjelasan Al-Hafizh An-Nawawi tentang Perincian Ghibah

Padahal situs ini mengklaim di akun fb-nya:

____________________________

“Situs Web Berita Islami

Aktual, Ramah, Beragam dan Berbeda. Suaranews.com

Silahkan Berkomentar asal beradab, sopan, bukan menfitnah. Kebijakan kami akan menghapus komentar yang tidak sesuai.”

____________________________

Semoga saja situs ini memperbaiki konten-konten beritanya sehingga menggambarkan apa yang menjadi visi misinya di atas. Namun, perlu saya sampaikan peringatan agung firman Allah ‘Azza wa Jalla ini:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(QS. Ash-Shaff [61]: 3)

3- Apa yang mesti dilakukan ketika menemukan kesalahan individual seperti kasus ini?

Kita sepakat bahwa mengingkari janji tanpa ada udzur syar’i dan tanpa memberikan informasi pembatalan janji secara baik-baik adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. Apa yang mesti dilakukan untuk mengoreksinya? Dengan menyebarkan ‘aibnya? Menstigma negatif jama’ah dakwahnya??

Agama adalah nasihat, dan jika ada saudara sesama muslim melakukan kesalahan, siapapun ia, aktivis dakwah dari harakah islamiyyah manapun diantaranya syabab Hizbut Tahrir maka perhatikan bahwa Rasulullah  –shallallaahu ‘alayhi wa sallam-  bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

 “Agama itu adalah nasihat”

Para sahabat bertanya: “Untuk siapa?” Rasulullah  –shallallaahu ‘alayhi wa sallam-  bersabda:

لِلّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُوْلِهِ، وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَتِهِمْ

“Untuk Allah, kitab suci-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin pada umumnya.” (HR. Muslim)

Adapun penafsiran terdahap lafazh “an-nashiihah” dan jenis-jenisnya dalam hadits ini, dijelaskan Imam Ibn Daqiq al-‘Ied yang menukil pernyataan Imam al-Khithabi dan para ulama lainnya, diantaranya bentuk nasihat untuk kaum muslimin:

وأما نصيحة عامة المسلمين، وهم من عدا ولاة الأمر، فإرشادهم لمصالحهم في آخرتهم ودنياهم، وإعانتهم عليها، وستر عوراتهم وسد خلاتهم، ودفع المضار عنهم وجلب المنافع لهم، وأمرهم بالمعروف ونهيهم عن المنكر برفق وإخلاص، والشفقة عليهم وتوقير كبيرهم ورحمة صغيرهم، وتخولهم بالموعظة الحسنة وترك غشهم وحسدهم، وأن يحب لهم ما يحب لنفسه من الخير ويكره لهم ما يكره لنفسه من المكروه، والذب عن أموالهم وأعراضهم وغير ذلك من أحوالهم بالقول والفعل، وحثهم على التخلق بجميع ما ذكرناه من أنواع النصيحة. والله أعلم

“Adapun nasihat untuk kaum muslimin pada umumnya –selain para penguasa-, yakni dengan menunjuki mereka kepada kemaslahatan diri di akhirat dan di dunia, menolong mereka untuk mewujudkannya, menasihati agar mereka menutupi ‘auratnya, menutupi ‘aib mereka, menyingkirkan bahaya dari mereka dan mewujudkan kemaslahatan-kemaslahatan bagi mereka, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran dengan cara yang lembut dan niat ikhlas, mengasihi mereka, menghormati orang tua dan mengasihi yang kecil di antara mereka, memikat hati mereka dengan nasihat yang baik serta menjauhi sifat culas dan dengki, mencintai kebaikan bagi mereka sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri, dan membenci keburukan terjadi pada mereka sebagaimana ia benci jika hal itu terjadi padanya, membela harta, kehormatan dan lain sebagainya yang menjadi hak mereka dengan perkataan dan perbuatan dan  mendorong mereka untuk bertingkahlaku sebagaimana yang telah kami sebutkan dari beragam nasihat ini. Wallaahu A’lam.”

4- Judul berita ini provokatif, dan mengandung permasalahan

Saya memerhatikan biasanya judul berita yang provokatif (misalnya mengandung fitnah atau berlebihan) dibuat oleh oknum situs pragmatis sekular yang level situsnya masih di bawah standar. Ini merupakan fitnah ajaran kebebasan berpendapat  demokrasi sistem kufur. Benar apa yang disampaikan asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammad al-‘Umar menuturkan:

أرى من الواجب عليَّ وعلى كل عالم وكاتب إسلامي يؤمن بما أوجب الله سبحانه عليه من الدعوة إليه سبحانه وتعالى والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر والسعي لإنقاذ الإنسانية عامة والأمة الإسلامية خاصة من أسباب الهلاك والشقاء.. أرى من الواجب المحتم: أن نبين للناس جميعًا حكامًا ومحكومين خطرًا عظيمًا يتهددهم بهلاك عقدي وأخلاقي واجتماعي واقتصادي وصحي.. يتهددهم بشقاء محتوم لكل من وقع في شراكه وسار في ركاب الواقعين فيه.. هذا الخطر العظيم هو ما يسمى بـ: الديمقراطية

“Saya memandang di antara kewajiban bagiku, bagi seluruh orang berilmu dan jurnalis muslim yang beriman terhadap apa yang diwajibkan Allah SWT kepadanya yakni berdakwah menyeru kepada-Nya, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran, dan berupaya keras menyelamatkan umat manusia dan khususnya umat Islam dari berbagai hal yang membinasakan dan menimbulkan kesengsaraan.. Saya memandang diantara kewajiban yang tegas: wajib bagi kita menjelaskan kepada masyarakat, penguasa dan rakyatnya bahaya besar yang mengancam mereka dengan kehancuran akidah, akhlak, pergaulan sosial, perekonomian dan dunia kesehatan… serta mengancam mereka dengan kesengsaraan yang pasti bagi orang yang bersekutu di dalamnya dan berjalan di atas jalan kaum pragmatis.. Inilah bahaya besar yang dinamakan DEMOKRASI.” (Lihat: Haadzihi Hiya Al-Diimuqraathiyyah, Syaikh ‘Abdurrahman bin Hammaad al-‘Umar – Dar al-Hulayyah: Riyadh – Cet. I: 1424 H)

Judul seperti itu dibuat untuk mendongkrak rank situsnya, sehingga menarik perhatian pembaca dumay, menarik iklan dari konsumen.

Motif situs sekular seperti ini jelas rendah, maka mengherankan jika cara ini dicontoh pula oleh situs yang menyebut dirinya sebagai situs “berita islami aktual, ramah” terlepas apa motifnya sebenarnya, karena kebencian kah? Motif materi kah? Semoga saja Allah memberikan petunjuk-Nya dan mengampuni segala kekhilafan. Allaahummaghfirlanaa. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita semua.

Namun sayangnya mereka perlu memahami, bahwa pembaca yang cerdas terlebih muslim yang paham agama justru akan membenci pemberitaan seperti ini yang sebenarnya tidak berbobot, tidak memenuhi standar pemberitaan ilmiyah, terlebih jika mengandung ghibah muharramah atau fitnah yang merupakan dosa besar. Pemberitaan seperti ini akan berbalik menjadi senjata mematikan bagi situs yang bersangkutan.

Ini nasihat dan koreksi saya. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita semua, dan membimbing kita senantiasa di jalan-Nya yang lurus.

Rasulullah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:

 مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari,  Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ahmad & Malik)

Akhuukum fillaah

Irfan Abu Naveed

One comment on “Tanggapan Argumentatif Atas Pemberitaan Suara News tentang ‘Aib Individu Muslim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s