Al-Ikhwan Al-Muslimin dan Khilafah dalam Risalah Hasan al-Banna

Hasan al-Banna

Ikhwah Fillaah, berikut ini pernyataan Imam Hasan al-Banna tentang Khilafah yang tercatat dalam risalahnya (رسائل الإمام الشهيد حسن البنا) halaman 109 dalam bahasan tentang IM dan al-Khilafah, yang sudah saya terjemahkan (Terjemah Irfan Abu Naveed):

_______________________________

Pandangan Hasan al-Banna tentang Kewajiban Menegakkan Khilafah

و لعل من تمام هذا البحث أن أعرض لموقف الإخوان السلمين من الخلافة و ما يتصل بها , و بيان ذلك أن الإخوان يعتقدون أن الخلافة رمز الوحدة الإسلامية , و مظهر الارتباط بين أمم الإسلام , و إنها شعيرة إسلامية يجب على المسلمين التفكر في أمرها و الاهتمام بشأنها , و الخليفة مناط كثير من الأحكام في دين الله , و لهذا قدم الصحابة رضوان الله عليهم النظر في شأنها على النظر في تجهيز النبي و دفنه , حتى فرغوا إلى تلك المهمة و اطمأنوا إلى إنجازها

“Dan barangkali di antara kesempurnaan pembahasan ini; yakni memerhatikan posisi IM terhadap al-Khilafah dan apa yang menyampaikan kepada tegaknya al-Khilafah, dan penjelasan tentang ini sesungguhnya IM meyakini bahwa al-Khilafah adalah simbol kesatuan umat, dan gambaran atas keterikatan di antara umat islam. Dan al-Khilafah adalah syi’ar Islam dimana kaum muslimin wajib memerhatikan urusan ini dan memusatkan perhatian untuk menegakkannya, dan al-Khalifah adalah tempat (tegaknya) banyak hal dari hukum-hukum dalam Din Allah. Oleh karena itu, para sahabat –radhiyallaahu ‘anhum– mendahulukan perhatian atasnya daripada mengurusi pemakaman jenazah Rasulullah SAW dan memakamkannya hingga mereka menyelesaikan kepentingan tersebut (pengangkatan Khalifah) dan tentram dengan hasilnya.”

و الأحاديث التي وردت في وجوب نصب الإمام , و بيان أحكام الإمامة و تفصيل ما يتعلق بها , لا تدع مجالا للشك في أن من واجب المسلمين أن يهتموا بالتفكير في أمر خلافتهم منذ حورت عن منهاجها ثم ألغيت بتاتا إلى الآن

“Dan hadits-hadits yang menyebutkan kewajiban mengangkat al-Imam (Khalifah), dan penjelasan atas hukum-hukum al-Imaamah (kepemimpinan) dan perincian yang berkaitan dengannya, tidak meninggalkan celah keraguan terhadap kewajiban kaum muslimin untuk memusatkan perhatiannya dalam urusan penegakkan Kekhilafahan mereka semenjak diubah manhajnya kemudian dihancurkan keberadaannya hingga sekarang (oleh musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya-pen.).”

Referensi:

Lihat kitab Rasaail al-Imaam asy-Syahiid Hasan al-Banna (رسائل الإمام الشهيد حسن البنا). Halaman 109.

Download Kitab: (رسائل الإمام الشهيد حسن البنا)

Nasihat Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil untuk Mempelajari Bahasa Arab

admin-ajax (1)

Al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha bin Khalil membantah pemahaman yang menafikan pentingnya pemahaman bahasa arab dalam menafsirkan al-Qur’an. Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil pun menegaskan:

ومن الجدير ذكره أن من أراد أن يفهم القرآن بغير لغته التي بها أنزل يكون قد عطّل فهم القرآن والعمل به، ويكون بذلك قد ارتكب إثما عظيما لأن القرآن قد أنزل باللغة العربية وبغيرها لا يمكن أن يفهم فهما سليما

“Dan di antara hal yang sudah semestinya disampaikan bahwa siapa saja yang ingin memahami al-Qur’an tanpa ada kemauan untuk memahami bahasanya (bahasa arab) yang Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa tersebut, pasti akan gagal memahami al-Qur’an dan mengamalkannya, dan karena faktor ini ia telah berdosa dengan dosa yang besar karena al-Qur’an telah turun dengan bahasa arab dan tanpa memahami bahasa arab tidak mungkin ia memahami al-Qur’an dengan pemahaman yang benar.”

Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menambahkan:

ولهذا حرص الفقهاء على العربية وعلومها، ناهيك عن المجتهدين ليتمكنوا من فهم القرآن واستنباط الأحكام الشريعة منه

“Dan oleh karena itu, para ulama ahli fikih memerhatikan bahasa arab dan ilmu-ilmunya, belum lagi para mujtahidin (dimana salah satu syarat asasi ijtihad adalah bahasa arab-pen.), sehingga mampu memahami al-Qur’an dan menggali hukum-hukum syari’ah darinya.”

Dan dalam kitab tafsirnya pun Al-Syaikh ‘Atha bin Khalil menyatakan bahwa diantara sebab kesesatan adalah kelemahan dalam memahami bahasa arab.

Lihat: al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasythah. 1427 H/ 2006. At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (Sûrah Al-Baqarah). Cetakan ke-2. Beirut: Dar al-Ummah.

Artikel Lebih Lengkap:

Nasihat Al-Qur’an, Al-Sunnah, Atsar & Ulama (Taqiyuddin An-Nabhani, dll): Pelajarilah Bahasa Arab

Download Kitab-Kitab Pelajaran Bahasa Arab:

Download Kitab-Kitab Materi Pelajaran Bahasa Arab

Download Kitab-Kitab Balaghah (Pdf)

Meneladani Semangat al-Imam asy-Syafi’i dalam Mempelajari dan Mendalami Seluk Beluk Bahasa & Sastra Arab

Syafii

Imam asy-Syafi’i merupakan salah seorang ulama besar yang tak hanya terkenal kepakarannya dalam ilmu fikih, tapi juga kefasihannya dalam bahasa arab, dalam salah satu kitab*, ternyata beliau -rahimahullaah- mempelajari dan memperdalam bahasa dan sastra arab hingga seluk beluknya kurang lebih selama dua puluh tahun. Sudah saatnya kita pun bersemangat, sebagaimana asy-Syafi’i menuturkan:

ما أردتُ منه إلا الاستعانة على الفقه

“Tidaklah saya menginginkannya (bersemangat mempelajari dan memahami seluk beluk bahasa dan sastra arab-pen.) kecuali untuk mencari bantuan memahami fikih.” (Manaaqib asy-Syaafi’i (hlm. 72-73), al-Hafizh ibn Katsir)

* Download Kitab Referensi (pdf):

 القديم والجديد من أقوال الشافعي من خلال كتاب منهاج الطالبين للدكتور محمد سميعي سيد عبد الرحمن الرستاقي

Dalam sebuah pernyataan pun dituliskan:

 ويقول الشافعي: “لا أسأل عن مسألةٍ من مسائل الفقه، إلا أجبت عنها من قواعدِ النحو”، وهذا يدلُّ على تمكنِه – رحمه الله – في العربية، وقال أيضًا: “ما أردت بها – يعني: العربية – إلا الاستعانةَ على الفقه”، وقال: “من تبحَّرَ في النحوِ، اهتدى إلى كلِّ العلوم”،وتُنسبُ هذه المقولةُ أيضًا للكسائي

“Imam al-Syafi’i menuturkan: “Tidaklah Saya ditanya tentang suatu permasalahan dari permasalahan fiqh, kecuali saya jawab dengan kaidah nahwu.” Dan hal ini menunjukkan kecakapan beliau –rahimahullaah– terhadap ilmu bahasa arab, al-Syafi’i pun menuturkan: “Tidaklah saya menginginkan kecakapan atasnya yakni kecakapan terhadap bahasa arab kecuali untuk membantu saya dalam mengkaji permasalahan fikih”, dan beliau pun berkata: “Barangsiapa mendalami ilmu nahwu, maka meraih petunjuk untuk memahami seluruh ilmu”, pernyataan ini pun dinisbahkan pada Imam al-Kasaa’iy.”

Dan kita saat ini hidup di bawah naungan sistem kehidupan rusak demokrasi dimana bahasa arab diabaikan dalam pendidikan umum; dan dakwah wajib ditegakkan dan hal itu menuntut kuatnya pemahaman terhadap Islam, dan bahasa arab adalah salah satu wasilah penting untuk memahami al-Islam (al-Qur’an dan as-Sunnah) dan khazanah ilmu para ulama islam.

Selengkapnya: 

Nasihat Al-Qur’an, Al-Sunnah, Atsar & Ulama (Taqiyuddin An-Nabhani, dll): Pelajarilah Bahasa Arab