Tanya Jawab Hukum Jual Beli Tempat Tidur Kucing & Hukum Memeliharanya

Cat-cats-2533807-1000-800

Pertanyaan

Assalaamu’alaikum wr wb

Saya manager di perusahaan exportir kerajinan rotan, salah satu produk yang saya export adalah tempat tidur kucing.

Salah satu saudara saya yang aktif di pengajian As-Sunnah mengatakan bahwa menjual produk tersebut hukumnya haram berdasarkan hadis yang melarang jual beli kucing dan anjing dan surat al-Maidah ayat 2 bahwa kita sudah termasuk tolong menolong dalam hal kejahatan, dalam hal ini dia mengqiyaskan seolah-olah sama saja kita mensuplai botol ke pabrik minuman keras. Pertanyaan saya apakah dalilnya mengena dalam masalah ini?

Sehubungan menyangkut hajat hidup orang banyak dan saya ingin mendapatkan rejeki yang betul- betul halal kiranya bapak bisa memberikan jawaban dan bimbingan kepada saya.

Semoga jawaban bapak menjadi amal kebaikan.
Terima kasih.

Wassalaamu’alaikum
Heri-Cirebon Jabar

Jawaban

Muqaddimah

 وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على سيد المرسلين وعلى آله وأصحابه أجمعين، وبعد

Islam, mengajarkan kita menjadikan hukum Allâh (syari’at Islam) sebagai standar perbuatan (miqyâs al-‘amal). Maka tak heran jika para ulama merumuskan kaidah syar’iyyah (berdasarkan nash-nash al-Qur’an dan al-Sunnah):

الأَصْلُ فِي اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِحُكْمِ اللهِ

“Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allâh.” [1]

Oleh karena itu, seorang muslim wajib mengetahui pandangan Islam atas suatu perbuatan sebelum ia melakukannya (العلم قبل العمل), apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram dan berbuat sesuai dengan Islam. Diantaranya hukum memperjualbelikan tempat tidur untuk kucing.

Pertama: Hukum Asal Tempat Tidur Kucing

Jika pertanyaan tersebut terkait hukum tempat tidur kucing, maka ini termasuk hukum asal benda. Dan hukum asal benda adalah halal kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya, dalam kaidah ushuul al-fiqh dikatakan:

الأَصْلُ فِي اْلأَشْيَاءِ اْلإِبَاحَةُ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيْلُ التَّحْرِيْمِ

Hukum asal benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.[2]

Syaikhul Ushuul ‘Atha bin Khalil menukil ayat-ayat ini tentang hukum benda, diantaranya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.(QS. Al-Baqarah [2]: 168)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ

Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang ada di bumi. (QS. Al-Hajj [22]: 65)

Beliau menjelaskan:

من هذه النصوص يتبين أن الشارع أباح الأشياء جميعها، بمعنى أنه أحلها، والإباحة في الأشياء معناها الحلال، أي: ضدّ الحرام، وبذلك فإن تحريم بعض الأشياء يحتاج إلى نصّ يستثنيها مما أبيح في الأصل. وهكذا فإن الأصل في الأشياء الإباحة ما لم يرد دليل التحريم

”Dari nash-nash ini terdapat penjelasan bahwa Asy-Syaari’ menghalalkan seluruh  benda, maknanya adalah bahwa Asy-Syaari’ menghalalkannya, dan kebolehan atas hukum benda maknanya adalah halal yakni kebalikan dari haram. Oleh karena itu, pengharaman atas sebagian benda membutuhkan dalil nash yang mengecualikan dari hukum asal kehalalan benda, dan karena itulah hukum asal benda adalah boleh (halal) selama tidak ada dalil yang mengharamkannya.”[3]

3556179424_a8cc9e3160

Maka, hukum asal tempat tidur kucing adalah halal, karena tidak pernah kami temukan dalil yang mengharamkannya. Keberadaan tempat tidur ini sendiri bisa membantu orang yang memelihara kucing untuk lebih menjaga kebersihan tempat, karena kucing ialah hewan yang menyukai kehangatan sehingga terkadang kita temukan kucing yang datang ke rumah tanpa di undang, lalu tidur di atas sofa dan tak jarang mengotori tempat tersebut.

Pertanyaan ini sama kasusnya jika seseorang ditanya tentang hukum bejana yang akan digunakan untuk memberi minum kucing yang tak serta merta bisa dikaitkan dengan dalil keharaman memperjualbelikan kucing. Begitu pula hukum makanan kucing, dan yang semisalnya.

Terlebih Saudara penanya, Bapak Heri setelah Saya konfirmasi terkait siapa importir (pembeli) tempat tidur kucing tersebut. Beliau menjawab:

“Dia (importir Jepang) hanya menjual tempat tidur kucingnya saja Pak. Dia spesialis supplier tempat tidur kucing, bukan jual beli kucing, Saya sudah minta konfirmasi dari dia.”

Kedua: Hukum Jual Beli Tempat Tidur Kucing

Adapun terkait pengharaman memperjualbelikan tempat tidur kucing dengan menggunakan dalil-dalil keharaman memperjualbelikan kucing, qiyas jual beli botol khamr dan dalil QS. Al-Maa’idah [5]: 2, menurut kami hal itu merupakan penggalian hukum yang tidak tepat, terlalu cepat mengambil simpulan dengan pendalilan yang tidak tepat. Penggalian hukum, mesti melalui 3 proses –jika keliru salah satunya, maka akan keliru dalam mengambil simpulan hukum-:

  • Tahqiiq al-manath (penelurusan dan pemahaman terhadap fakta objek hukum (fahm al-waaqi’))

  • Istidlaal (penggalian dalil-dalil (fahm an-nushuush))

  • Proses mengaitkan antara fakta dan dalil-dalilnya (ini berkaitan dengan ilmu ushuul al-fiqh, -)

Karena faktanya seseorang membeli tempat tidur kucing itu barangkali untuk berbuat baik (ihsan) pada kucing yang tiba-tiba datang ke rumahnya yang ia perlakukan dengan baik, dan dijadikan sebagai hewan peliharaan yang dipelihara dengan baik; diberi makan minum dan tempat tinggal. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa kucing banyak berkeliaran bebas dan seringkali datang tanpa diundang meminta makan. Hal ini diisyaratkan Rasulullaah –shallallaahu ’alayhi wa sallam-:

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ

Sesungguhnya kucing tidak najis, ia merupakan hewan jantan dan betina yang biasa berkeliaran di sekeliling kalian. (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud & Malik. Dan ini lafazh At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih)

Lantas apakah tepat jika jual beli tempat tidur kucing lantas diharamkan? Padahal ia membeli tempat tidur kucing untuk berbuat baik pada kucing yang ia pelihara, dimana hal itu merupakan tanda kasih sayang pada sesama makhluk ciptaan Allah ‘Azza wa Jalla dan berbuat ihsan pada makhluk ciptaan-Nya. Rasulullaah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barangsiapa tidak mengasihi maka dia tidak akan di kasihi.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)

Rasulullaah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- pun mengabari kita tentang pahala yang akan diraih dari orang yang berbuat baik pada hewan –diantaranya kucing-:

بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

“Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu dia merasakan kehausan yang sangat sehingga dia turun ke suatu sumur lalu minum dari air sumur tersebut. Ketika dia keluar didapatkannya seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata: “Anjing ini sedang kehausan seperti yang aku alami tadi”. Maka dia (turun kembali ke dalam sumur) dan diisinya sepatunya dengan air dan sambil menggigit sepatunya dengan mulutnya dia naik keatas lalu memberi anjing itu minum. Maka Allah membalas kebaikannya (diterima amalnya) dan Allah pun mengampuninya”.

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا

“Wahai Rasulullah, apakah kita meraih pahala dengan berbuat baik kepada hewan?”

Beliau shallallaahu ‘alayhi wasallam menjawab:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“(Berbuat baik) terhadap setiap makhluq bernyawa diberi pahala.” (HR. Al-Bukhari & Muslim. Dan ini lafazh Al-Bukhari)

Di sisi lain, keberadaan tempat tidur kucing ini pun membantu orang tersebut menjaga kebersihan rumah. Dan tak bisa digeneralisir seseorang yang membeli tempat tidur kucing, lantas dikatakan mendukung upaya jual beli kucing, dimana hukum jual beli kucing ini sendiri merupakan pembahasan hukum lainnya yang dijelaskan para ulama. Ini terkait perincian pembahasan hukum dan tak serta merta bisa dicampuradukkan.

Karena –sebagaimana yang Saya sampaikan- bisa jadi seseorang membelikan tempat tidur tersebut untuk kucing yang datang ke rumahnya tanpa diundang lalu ia pelihara dengan baik karena hukum memelihara kucing itu sendiri hukumnya boleh selama memenuhi syarat-syarat yang akan kami jelaskan kemudian.

Meskipun demikian, kiranya patut diperhatikan pesan yang memperingatkan agar tidak jatuh pada pintu berlebih-lebihan (baab al-israaf), misalnya jual beli tempat tidur kucing yang terbuat dari permata, emas, dan lain sebagainya, dimana hal tersebut tidak berfaidah dan tidak dibutuhkan, wallaahu a’lam bish-shawaab.

Ketiga: Hukum Memelihara Kucing[4]

Hukum memelihara hewan peliharaan secara syar’i adalah boleh, selama memenuhi 4 (empat) syarat sebagai berikut:

Pertama, hewannya bukan hewan najis, yakni najis secara dzatnya (najis ‘ain/hissi), seperti anjing dan babi. Memelihara hewan piaraan yang najis tidak boleh, karena termasuk memanfaatkan najis yang telah dilarang oleh syariah. Kaidah fiqih menetapkan :

لا يجوز الانتفاع بالنجس مطلقًا

“Tidak boleh memanfaatkan najis secara mutlak.”[5]

Kecuali terdapat nash syariah yang membolehkannya (sebagai pembatasan atasnya), misalnya memelihara anjing untuk menjaga ternak atau berburu berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ أَنَّ السَّائِبَ بْنَ يَزِيدَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ سُفْيَانَ بْنَ أَبِي زُهَيْرٍ رَجُلًا مِنْ أَزْدِ شَنُوءَةَ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا لَا يُغْنِي عَنْهُ زَرْعًا وَلَا ضَرْعًا نَقَصَ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عَمَلِهِ قِيرَاطٌ قُلْتُ أَنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِي وَرَبِّ هَذَا الْمَسْجِدِ

“Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Yazid bin Khushaifah bahwa As-Sa’ib bin Yazid menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Sufyan bin Abi Zuhair, seorang yang berasal dari suku Azdi Syanu’ah yang juga merupakan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang memelihara anjing yang bukan digunakan untuk menjaga ladang atau mengembalakan ternak berarti sepanjang hari itu dia telah menghapus amalnya sebanyak satu qirath”. Aku (as-Sa’ib) bertanya; “Apakah benar kamu mendengar ini dari Rasulullah -shallallaahu ‘alayhi wasallam-? Dia menjawab: “Ya demi Rabb masjid ini”.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wasallam– bersabda:

مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبًا ضَارِيًا لِصَيْدٍ أَوْ كَلْبَ مَاشِيَةٍ فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

“Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap hari.” (HR. Al-Bukhari)

Lihat pula riwayat Imam Muslim tentang hadits semisal di atas. Al-Hafizh An-Nawawi menuturkan:

وأمَّا القيراطُ هنا: فهو مقدارٌ معلومٌ عند الله تعالى، والمرادُ: نَقَصَ جُزْءٌ من أَجْر عَمَلِهِ

“Dan adapun yang dimaksud dua qirath dalam hadits ini: ukuran yang diketahui oleh Allah Ta’ala, dan maksudnya: berkurangnya bagian pahala dari amalnya.”[6]

Al-Hafizh An-Nawawi pun menuturkan:

وأمَّا اقْتِناءُ الكلاب؛ فمذهبُنا -الشافعيَّة- أنَّه يَحْرُمُ اقْتِناءُ الكلبِ بغير حاجةٍ. ويَجُوزُ اقْتِناؤهُ للصَّيْد وللزَّرْع وللماشية

“Adapun memelihara anjing, maka madzhab kita -Asy-Syafi’iyyah- mengharamkan memelihara anjing yang tidak dibutuhkan, dan diperbolehkan memeliharanya untuk kebutuhan membantu berburu hewan buruan, menjaga ladang dan hewan ternak.”

Dalam riwayat hadits lainnya:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا أَوْ اتَّخَذَ كَلْبًا لَيْسَ بِضَارٍ وَلَا كَلْبَ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani’ berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu Umar ia berkata: “Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing, atau mengambil anjing tanpa ada kebutuhan, tidak juga anjing yang digunakan untuk menjaga ternak, maka setiap hari pahalanya akan berkurang sebanyak dua qirath.” (HR. At-Tirmidzi. Hadits hasan shahih)[7]

Dalam riwayat hadits lainnya:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلَّا كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ

“Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Ali Al Hulwani dan banyak, mereka berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk menjaga ternak, atau untuk berburu, atau untuk menjaga tanaman, maka pahalanya akan berkurang satu qirath setiap harinya.” (HR. At-Tirmidzi)

Terkait riwayat ini, Abu Isa (Imam At-Tirmidzi) berkata:

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَيُرْوَى عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّهُ رَخَّصَ فِي إِمْسَاكِ الْكَلْبِ وَإِنْ كَانَ لِلرَّجُلِ شَاةٌ وَاحِدَةٌ حَدَّثَنَا بِذَلِكَ إِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَطَاءٍ بِهَذَا

“Hadits ini derajatnya hasan shahih”, dan diriwayatkan dari ‘Atha bin Abu Rabah, bahwasanya beliau memberi keringanan untuk memelihara anjing meskipun hanya memiliki seekor kambing. Hal itu telah diceritakan kepada kami oleh Ishaq bin Manshur telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad, dari Ibnu juraij, dari ‘Atha.”

Kedua, hewannya wajib diberi makan dan minum yang cukup. Memelihara hewan tanpa diberi makan dan minum yang cukup hukumnya haram. Dalilnya sabda Rasulullaah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- bersabda:

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Ada seorang wanita masuk neraka disebabkan mengikat seekor kucing. Dia tidak memberinya makan dan tidak melepaskannya agar dapat memakan serangga tanah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim. Dan ini lafazh Al-Bukhari)

Sebaliknya, Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memuji orang yang memberi minum pada anjing yang sedang kehausan:

بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلَأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

“Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu dia merasakan kehausan yang sangat sehingga dia turun ke suatu sumur lalu minum dari air sumur tersebut. Ketika dia keluar didapatkannya seekor anjing yang sedang menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata: “Anjing ini sedang kehausan seperti yang aku alami tadi”. Maka dia (turun kembali ke dalam sumur) dan diisinya sepatunya dengan air dan sambil menggigit sepatunya dengan mulutnya dia naik keatas lalu memberi anjing itu minum. Maka Allah membalas kebaikannya (diterima amalnya) dan Allah pun mengampuninya”.

Para sahabat bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا

“Wahai Rasulullah, apakah kita akan meraih pahala dengan berbuat baik kepada hewan?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ

“Terhadap setiap makhluq bernyawa diberi pahala.” (HR. Al-Bukhari & Muslim. Dan ini lafazh Al-Bukhari)

Ketiga, hewannya tak menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. Misalnya hewan-hewan buas seperti singa, beruang, atau buaya yang dipelihara dalam kandang yang tak memenuhi standar keamanan bagi manusia, membahayakan. Namun jika diletakkan di kandang yang aman bagi manusia, hukumnya boleh. Diriwayatkan bahwa Rasulullah –shallallahu’alaihi wasallam- bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

“Tidak boleh melakukan perbuatan (mudharat) yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain“ (HR. Ibn Majah, Ahmad, Malik)

Al-Hafizh An-Nawawi memasukkan hadits ini dalam kitab Al-Arba’iin-nya, yakni hadits ke-32. Dalam kitab Al-Arba’iin An-Nawawiyyah dituliskan:

حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه وَالدَّارُقُطْنِي وَغَيْرُهُمَا مُسْنَداً، وَرَوَاهُ مَالِك فِي الْمُوَطَّأ مُرْسَلاً عَنْ عَمْرو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيْهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْقَطَ أَبَا سَعِيْدٍ وَلَهُ طُرُقٌ يُقَوِّي بَعْضُهَا بَعْضاً

“Hadits hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Daruqutni serta selainnya dengan sanad yang bersambung, juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Muwattho’ secara mursal dari Amr bin Yahya dari bapaknya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, dia tidak menyebutkan Abu Sa’id. Akan tetapi dia memiliki jalan-jalan yang menguatkan sebagiannya atas sebagian yang lain.”

Keempat, hewan yang dipelihara tak menjadi sarana untuk perbuatan yang haram. Misalnya, memelihara ayam jantan (jago) yang akan digunakan untuk perjudian, dan perjudian itu sendiri merupakan dosa besar. Disebutkan dalam kaidah syar’iyyah:

الوسيلة إلى الحرام حرام

”Segala sarana menuju yang haram, hukumnya haram.”[8]

Di sisi lain, tak disyaratkan hewan piaraan tersebut adalah hewan yang halal dimakan. Dalilnya, meski memakan daging kucing haram hukumnya, tapi memelihara kucing itu sendiri diperbolehkan.

Syaikh Khalid ‘Abdul Mun’im Ar-Rifaa’iy menuturkan:

أما اقْتِناءُ القِطط: فجائزٌ؛ لأنَّ الأصلَ في قِنْيَة الحيوانات الأليفة الجَوازُ، إلا ما خصَّه الدَّليلُ بالمَنْع

“Adapun hukum memelihara kucing: maka hukumnya boleh, karena hukum asal memelihara hewan yang jinak adalah halal, kecuali hewan yang dikhususkan oleh dalil akan keharaman memeliharanya.”[9]

Asy-Syaikh pun menukil dalil hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dan Abu Dawud berikut ini: Abu Qatadah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah –shallallaahu ‘alayhi wasallam– bersabda:

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّمَا هِيَ مِنْ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ أَوْ الطَّوَّافَاتِ

Sesungguhnya kucing tidak najis, ia merupakan hewan jantan dan betina yang biasa berkeliaran di sekeliling kalian. (HR. At-Tirmidzi, Abu Dawud & Malik. Dan ini lafazh At-Tirmidzi, beliau berkata bahwa hadits ini hasan shahih)[10]

KH. Muhammad Shiddiq al-Jawi menjelaskan: “Adapun memperjualbelikan hewan peliharaan, hukumnya boleh jika hewannya halal dimakan, misalnya kelinci, kuda, tupai, dsb. Jika hewannya haram dimakan, seperti anjing, babi, kucing, ular, singa, burung elang, dsb, maka memperjualbelikannya haram. Dalilnya kaidah fiqih yang berbunyi:

كل ما حُرِّمَ على العباد فبيعه حرام

”Apa saja yang diharamkan atas para hamba-Nya, maka memperjualbelikannya pun haram.”[11]

 والله أعلم بالصواب


[1] Syaikh Dr. Mahmud al-Khalidi menyandarkan kaidah tersebut kepada ulama madzhab Hanafi, Ibn Najim. Di sisi lain, Ibn Najim mengutip pandangan penulis kitab al-Mukhtâr bahwa tidak ada hukum sebelum turunnya syari’at. Imam al-Suyuthi pun memiliki pandangan serupa, bahkan beliau memaparkan argumentasi pengambilan kaidah hukum asal perbuatan ini secara lebih jelas. Lihat buku Islam Politik Spiritual, hlm. 68 pada bagian catatan kakinya hlm. 287. Adapun Imam Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, juz. III, hlm. 19 bahwa hukum asal perbuatan (mukallaf) adalah terikat dengan hukum syara’.

[2] Imam Ibn Najim dan al-Karkhi berpandangan berdasarkan dalil-dalil syari’at bahwa “hukum asal benda adalah mubah.” Kaidah ini pun diadopsi oleh banyak ‘ulama lainnya.

[3] Lihat: Taysiir Al-Wushuul Ilaa Al-Ushuul, Asy-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu Ar-Rasytah – Dar Al-Ummah: Beirut.

[4] Lihat pula penjelasan salah seorang guru Saya, KH. Muhammad Shiddiq al-Jawi dalam: http://konsultasi.wordpress.com/2013/09/05/hukum-memelihara-dan-menjualbelikan-hewan-piaraan/

[5] Lihat: Al-Jaami’ li Ahkaam Ash-Shalah (1/115), Syaikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah.

[6] Lihat: Syarh Shahiih Muslim, Al-Hafizh An-Nawawi.

[7] Abu Isa (Imam At-Tirmidzi) berkata:

حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَوْ كَلْبَ زَرْعٍ

“Hadits Ibnu Umar ini derajatnya hasan shahih. Telah diriwayatkan pula dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda; “Atau anjing untuk menjaga kebun.”

[8] Lihat: Muqaddimah Ad-Dustuur (1/85), Imam Taqiyuddin An-Nabhani. Lihat pula penjelasan Asy-Syaikh al-‘Alim ‘Atha’ bin Khalil dalam kitab Ushuul al-Fiqh-nya Taysiir al-Wushuul ilaa Al-Ushuul.

[9] Lihat: http://ar.islamway.net/fatwa/33591

[10] Lihat: Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 42/267-269; Imam Suyuthi, Al-Jaami’ Ash-Shaghiir, 2/191, Imam Nawawi, Al-Majmuu’, 9/3. Dalam Sunan At-Tirmidzi dijelaskan:

وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِثْلِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ لَمْ يَرَوْا بِسُؤْرِ الْهِرَّةِ بَأْسًا وَهَذَا أَحَسَنُ شَيْءٍ رُوِيَ فِي هَذَا الْبَابِ وَقَدْ جَوَّدَ مَالِكٌ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ إِسْحَقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ وَلَمْ يَأْتِ بِهِ أَحَدٌ أَتَمَّ مِنْ مَالِكٍ

“Ini adalah pendapat kebanyakan ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tabi’in dan orang-orang setelah mereka seperti Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Mereka berpendapat bahwa sisa minum kucing tidak apa-apa. Dan ini adalah hadits yang paling baik dalam bab ini. Imam Malik menganggap baik hadits ini, yaitu dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah. Dan tidak ada yang lebih sempurna dalam periwayatannya selain Malik.”

[11] Lihat: Asy-Syakhshiyyah Al-Islaamiyyah (2/287), Imam Taqiyuddin An-Nabhani.

One comment on “Tanya Jawab Hukum Jual Beli Tempat Tidur Kucing & Hukum Memeliharanya

  1. SAYA mengatakan:

    maaf mau tanya, saya punya kucing dan kucing itu hasil jual beli dr teman saya, apakah itu diperbolehkan, karena dari keterangan yang sudah saya baca tidak boleh memperjual belikan hewan yang haram
    dan saya baru mengetahui setelah saya memelihara kucing saya sekarang
    sebelumnya terimakasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s