Bantahan Atas Dalih Pro Miss World (II): Demi Promosikan Budaya, Tingkatkan Pariwisata & Pendapat Negara

miss_world_tolak1

Dalih (II):

“Demi Mempromosikan Budaya, Meningkatkan Pendapatan Sektor Pariwisata Sehingga Indonesia Kian Dikenal Dunia”

Bantahan:

Dalih ini sarat dengan orientasi materialistik, menghalalkan segala cara untuk meraih harta dunia yang fana adalah ciri kapitalis. Dan seringkali kita mendengar alasan materi diungkapkan orang-orang yang menjustifikasi kemungkaran. Ini merupakan efek domino dari tegaknya Kapitalisme yang sarat dengan prinsip menjunjung tinggi nilai materi, meski hal itu menggilas batas-batas agama. Dengan kata lain menghalalkan segala cara, meski itu melanggar syari’at Islam. Karena itulah kami katakan:

# Wajib Tolak Miss World & Yang Semisalnya!

# Wajib Tolak Kapitalisme & Demokrasi yang Menjadi Asasnya!

Sesuatu yang semestinya mereka ungkapkan pula bahwa di balik penyelenggaraan Miss World ada kepentingan bisnis dengan mengeksploitasi tubuh wanita; bisnis kosmetik, bisnis fashion, dan yang semisalnya. Dan dibumbui dengan pertunjukkan wanita yang jadi kontestan dari sisi kecakapan dan kepandaian berbicara.

Dan kami tegaskan bahwa masih banyak cara lain yang terhormat dan jelas kebaikannya untuk mempromosikan budaya dan pariwisata, ini jika budaya dan pariwisata tersebut sejalan dengan Islam, tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Yang jadi masalah lainnya dan mencoreng kehormatan kaum muslimin di negeri ini adalah bahwa: “Budaya yang dipromosikan atas nama negeri mayoritas kaum muslimin ini adalah budaya yang bertentangan dengan syari’at Islam.” Salah satunya adalah Tari Kecak yang sarat dengan ajaran ritual Hindu. Ini diakui dalam status komunitas fp Miss World – Indonesia yang menuliskan:

“Selamat Sore teman teman semua. Terima kasih atas semua dukungannya yaa…Saya suka banget nonton Tari Kecak di Uluwatu, biasanya pas matahari terbenam. jadi sakral rasanya. Sebenarnya, Tari Kecak berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat. Sekitar tahun 1930-an Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies menciptakan tari Kecak berdasarkan tradisi Sanghyang dan bagian-bagian kisah Ramayana.” [1]

Lantas apa yang bisa kita banggakan wahai kaum muslimin? Sehingga jelas terang benderang bahwa pembelaan mereka yang mengaku muslim/ muslimah atas penyelenggaraan Miss World merupakan keganjilan!

“Wahai manusia…”

“Tak pantas bagi Anda berbangga hati tidak pada tempatnya….”

“Membanggakan sesuatu yang fana….”

“Akhirnya hanya penyesalan ketika harta tiada gunanya kecuali amal jariyyah darinya ketika hidup di dunia….”

“Kebanggaan apa yang lahir dari kemaksiatan kepada Allah Penguasa Alam Raya?? Kecuali kehinaan belaka…”

 1170692_540233519359096_1952818293_n

Menukil salah satu bait sya’ir Imam Sufyan Tsauri -rahimahullaah- kiranya sudah cukup menggambarkan penolakan kami –kaum muslimin- terhadap dalih palsu ini, wal ‘iyaadzu billaah:

لا خير في لذّة من بعدها النّار

“Tiada kebaikan dalam kenikmatan yang kesudahannya adalah siksa neraka”[2]

Dalam sya’ir di atas, Imam Sufyan al-Tsauri mengungkapkan kata “ladzdzatun” (لذّة) dalam bentuk lafazh nakirah (umum) maknanya umum (tidak spesifik), bertolak dari pemahaman ini kita mengerti bahwa maksud beliau adalah segala hal yang dinikmati manusia, kenikmatan seperti apa? Maksudnya kenikmatan dalam kemaksiatan, hal ini dipahami dari ungkapan “kesudahannya adalah siksa neraka” (من بعدها النّار).

Menghalalkan Segala Cara Demi Dunia Melupakan Rizki & Ikhtiar Dalam Islam

Menghalalkan segala cara untuk mengeruk harta merupakan bagian dari sifat tamak yang tercela. Seakan-akan mereka lupa bahwa Allah ’Azza wa Jalla Yang Maha Kaya yang memberikan rizki kepada makhluk-Nya.

Sesungguhnya akidah Islam menuntut kita meyakini bahwa rizki merupakan pemberian Allah ‘Azza wa Jalla, hanya Allah memberi rizki, tiada selainnya. Banyak ayat-ayat yang menunjukkan dengan jelas dan tidak membuka pintu penakwilan lain, bahwa rizki itu hanya berasal dari Allâh, bukan dari makhluk-Nya. Hal ini mengharuskan kita memastikan bahwa apa yang kita saksikan berupa sarana maupun cara-cara yang bisa mendatangkan rizki hanyalah kondisi yang bisa mendatangkan rizki. Allâh berfirman[3]:

كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ

 “Makanlah dari rizki yang telah diberikan Allâh kepadamu.” (QS. Al-An’âm [6]: 142)

أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ

 “Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allâh kepadamu.” (QS. Yâsîn [36]: 47)

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

 “Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabût [29]: 60)

Al-‘Allamah Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan:

فهذه الايات وغيرها كثير، قطعية الثبوت قطعية الدلالة، ولا تحتمل إلا معنى واحدًا لا يقبل التأويل، وهو أن الرزق من الله وحده لا من غيره. وأن الله وحده هو الرزاق، فالرزق بيد الله وحده.

“Ayat-ayat ini dan banyak lagi yang lainnya[4] merupakan ayat-ayat yang bersifat qath’î tsubut[5] dan qath’î dilâlah[6]. Tidak mengandung makna lain kecuali hanya satu dan tidak ada lagi penakwilan lainnya, bahwa rizki berasal dari Allâh saja, bukan berasal dari selain Allâh. Allâh-lah yang memberi rizki. Jadi, rizki itu berada ditangan Allâh saja.”

Meskipun demikian, Allâh ‘Azza wa Jalla memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bekerja sehingga mereka mampu berikhtiar dengan menjalankan berbagai keadaan yang dapat menghasilkan rizki (ikhtiar menjemput rizki dari Allâh). Namun bukan berarti seluruh keadaan itu merupakan sebab yang mendatangkan rizki. Bukan pula mereka yang bisa mendatangkan rizki. Karena tercantum di dalam nash (ayat-ayat), hanya Allâh yang memberikan rizki melalui kondisi-kondisi tersebut, terlepas rizki itu dijemput dengan ikhtiar yang diwajibkan, diperbolehkan atau diharamkan syari’at, dan terlepas pula apakah melalui keadaan –keadaan tersebut bisa mendatangkan rizki atau tidak. Islam telah menjelaskan tata cara yang diperbolehkan bagi seorang muslim melaksanakan keadaan-keadaan yang bisa mendatangkan rizki. Begitu pula tata cara yang dilarang Islam. Islam telah menjelaskan sebab-sebab kepemilikan, bukan sebab-sebab yang mendatangkan rizki. Pemilikan dibatasi oleh sebab-sebabnya. Jadi, tidak seorangpun yang boleh memiliki rizki kecuali dengan sebab-sebab yang syar’i, karena rizki yang dimiliki berdasarkan sebab-sebab yang syar’i merupakan rizki yang halal. Dan rizki yang dimiliki dengan sebab-sebab yang tidak syar’i adalah rizki yang haram. Meskipun ada pengelompokkan rizki yang halal dan rizki yang haram, semuanya berasal dari Allâh.[7]

Wajib Berpegang Teguh pada Syari’at Islam dalam Ikhtiar Menjemput Rizki

Rizki itu dari Allah Yang Maha Kaya, dan Allah Yang Maha Memberi Rizki telah mengatur tata cara menjemput rizki (ikhtiar) yang sejalan dengan syari’at-Nya, ikhtiar inilah yang diridhai Allah dan diberkahi-Nya. Sedangkan rizki yang dijemput dengan cara yang diharamkan syari’at-Nya merupakan ikhtiar yang dimurkai-Nya dan jauh dari keberkahan dari-Nya. Lantas cara apa yang Anda pilih? Menghalalkan segala cara demi mengeruk keuntungan dunia yang fana dan melupakan penghisaban pada Hari Penghisaban??

Allah ’Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

”Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Imam Fakhruddin al-Razi dalam tafsir-nya menjelaskan:

ادخلوا في جميع شرائع الإسلام اعتقادا وعملا

“Masuklah kalian ke dalam seluruh aturan-aturan Islam (al-syarii’ah al-islaamiyyah) baik dari sisi keyakinan maupun amal.”[8]

Al-Hafizh Ibn Katsir menuturkan dalam tafsirnya:

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.

“Allâh SWT berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk membenarkan Rasul-Nya: mengambil seluruh ikatan dan syari’at Islam, mengamalkan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan (dengan segenap kemampuan-pen.).”[9]

Dan masih banyak ayat-ayat qath’iyyah (tegas, pasti) lainnya yang memerintahkan kaum muslimin berpegang teguh pada syari’at Allah dan Rasul-Nya. Islam, mengajarkan kita menjadikan hukum Allâh (syari’at Islam) sebagai standar perbuatan (miqyâs al-‘amal). Maka tak heran jika para ulama merumuskan kaidah syar’iyyah (berdasarkan nash-nash al-Qur’an dan al-Sunnah):

اْلأَصْلُ فِي اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِحُكْمِ الشرع

”Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’ (syari’at Islam).” [10]

Alasan Mempromosikan Pariwisata Agar Indonesia Kian Di Kenal Dunia Adalah Tipu Daya Syaithan

Maka, sudah jelas bahwa alasan palsu demi mempromosikan budaya dan meningkatkan pendapatan dari sektor pariwisata ini merupakan alasan yang diada-adakan dan jelas merupakan tipu daya syaithani. Dan bentuk tipu daya ini merupakan salah satu bentuk strategi Iblis dan syaithan mengelabui dan menyesatkan manusia yakni menghiasi perbuatan buruk dengan tampilan dan kemasan kebaikan.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

 “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu Syaithân-Syaithân (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’âm [6]: 112)

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr [15]: 39)

Inilah proklamasi iblis yang mengangkat bendera peperangan! Pernyataan iblis yang diinformasikan Allâh SWT dalam ayat-ayat di atas, menelanjangi visi misi yang diperjuangkannya menggunakan berbagai cara tanpa kenal lelah, termasuk melalui penyesatan pemikiran dan pemahaman kaum muslimin dengan paham liberalisme, sekularisme dan demokrasi.

Terekam dalam al-Qur’an, dengan jelas iblis mengungkapkan berbagai pernyataannya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni menggunakan laam al-ibtidaa’ wa nuun al-tawkiid yaitu penegasan-penegasan yang memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan, dalam ilmu balaaghah keberadaan penegasan-penegasan ini menafikan pengingkaran dan keraguan (syakk).

لأتخذنّ، لأضلنّ، لأمنينّ، لامرنّ، لأقعدنّ، لاتينّ، لأزيننّ، لأغوينّ

Dalam tinjauan pemahaman bahasa arab: semua kata kerja yang diungkapkan Iblis didahului dengan huruf lam al-ibtidaa’  yang mengandung makna sungguh diperkuat dengan nuun al-tawkiid yang berarti benar-benar.

Hasan bin Shalih berkata: “Seringkali syaithân membukakan sembilan puluh sembilan kebaikan, padahal yang dituju adalah satu keburukan yang fatal (membinasakan–pen.).”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

 “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’râf [7]: 27)

Al-Hafizh Ibn Katsir berkata:

يقول تعالى محذرًا بني آدم من إبليس وقبيله، ومبينًا لهم عداوته القديمة لأبي البشر آدم، عليه السلام

“Allah berfirman memperingatkan bani Adam dari tipu daya iblis dan sekutunya, seraya menjelaskan kepada manusia akan permusuhannya sejak zaman dahulu terhadap bapaknya umat manusia, Adam a.s.”

Lebih tegasnya, Imam Ibn Al-Jawzi menuturkan:

فالواجب على العاقل أن يأخذ حذره من هذا العدو الذي قد أبان عدواته من زمن آدم عليه الصلاة والسلام وقد بذل عمره ونفسه في فساد أحوال بني آدم وقد أمر الله تعالى بالحذر منه

“Maka wajib bagi orang yang berakal untuk berhati-hati terhadap musuh ini (Iblis) yang telah memproklamirkan permusuhannya sejak zaman Nabi Adam a.s. dan sungguh ia telah mengerahkan hidup dan jiwanya untuk merusak Bani Adam. Dan Allah SWT telah memerintahkan untuk berhati-hati terhadap hal ini.”[11]

Alasan Menghalalkan Segala Cara Demi Keuntungan Materi Berasal dari Hawa Nafsu

Pendapat atau dalih apapun yang bertentangan dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya pasti berasal dari hawa nafsu.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (٣) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (٤

Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. An-Najm [53]: 3-4)

Ayat yang mulia ini mengisyaratkan bahwa segala hal yang bertentangan dengan al-wahyu berasal dari al-hawaa’ (hawa nafsu). Dan apa kecaman Rasulullaah –shallallaahu ‘alayhi wa sallam- pada orang yang menjadikan tuntunan hawa nafsunya sebagai pedoman hidup? Imam Ibn Daqiiq al-‘Ied meriwayatkan hadits Rasulullah SAW:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتى يَكُوْنَ هَوَاهُ تبعا لِمَا جِئْتُ بِهِ

“Tidak beriman seorangpun dari kalian hingga ia menjadikan hawa nafsunya tunduk pada apa yang aku bawa.”  (HR. Abu Muhammad ‘Abdullah bin al-Amr bin al-‘Ash. Hadits hasan shahih)

Imam al-Thabrani meriwayatkan dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir, diriwayatkan pula oleh Imam Al-Bazzaar, dengan sanad para perawi yang shahih, dari ‘Auf bin Malik, dari Rasulullah SAW yang bersabda:

تفترق أمتي على بضع و سبعين فرقة أعظمها فتنة على أمتي قـوم يقيسون الأمـور برأيهم فيحلّون الحرام و يحرمون الحلال

“Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh satu golongan, fitnah terbesar bagi umatku adalah golongan kaum yang menghukumi berbagai perkara dengan pendapatnya sendiri maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Islam dan mengharamkan apa yang dihalalkannya.”[12]

Tiada kemuliaan bagi yang diperbudak oleh hawa nafsunya. Sahabat Rasulullaah SAW sekaligus sepupunya, sayyidina ‘Ali r.a., menuturkan:

أخوف ما أخاف عليكم اتباع الهوى وطول الأمل. أما اتباع الهوى فيصد عن الحق

“Hal yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah mengikuti hawa nafsu dan terbuai dalam panjang angan-angan. Adapun dengan mengikuti hawa nafsu, seseorang akan menolak kebenaran.”

Al-‘Allaamah al-Imam al-Syafi’i -rahimahullaah- bertutur:

ولم تدر حيث الخطا والصواب

إذا حار أمرك فـي معنيين

يـــقــــود الـــنـــفـــس إلـــى مـــا يـــعـــاب

فخالف هواك فإن الهوى

“Jika samar urusanmu pada dua maksud

Dan engkau tak mengetahui mana yang keliru dan yang benar diantaranya

Maka selisihilah hawa nafsumu, karena hawa nafsu

Mengarahkan jiwa pada apa-apa yang dicela (keburukannya)”[13]

Dalam sya’ir-sya’ir nasihat pun diungkapkan:

واحذرْ هواك تجدْ رضاه

فإنما أصل الضلالة كلها الأهواء

“Berhati-hatilah dari hawa nafsumu, maka engkau raih keridhaan-Nya”

“Karena sesungguhnya hawa nafsu itulah sumber seluruh kesesatan”[14]

Dan apa ganjaran bagi orang yang menjauhi tuntunan jahat hawa nafsunya?

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ (٤٠) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ (٤١

“Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat [79]: 40-41)

Dunia Yang Fana’ Adalah Ladang Beramal & Akhirat Tempat Tujuan Yang Kekal

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ ﴿الرعد: ٢٦﴾

”Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’d [13]: 26)

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ ﴿الروم: ٧﴾

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang terhadap (kehidupan) akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Ruum [30]: 7) 

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang shalih lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta sebaik-baiknya pengharapan.” (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Ironis jika seorang muslim lebih takut kehilangan harta dunia yang fana’ karena pembatalan ajang Miss World atau kemaksiatan yang semisalnya, dan melupakan tuntutan ajaran agamanya. Maka sudah semestinya kita berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari sifat yang dituturkan al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi dalam sya’irnya:

أأخي إن من الرجال بهيمة                                    في صورة الرجل السميع المبصر

       فطن لكل مصيبة في مالــه                                       وإذا يصاب بدينه لـم يشعــر

“Wahai saudaraku, diantara manusia ada yang bersifat bagaikan binatang”

“Dalam bentuk seseorang yang mampu mendengar dan berwawasan”

“Terasa berat baginya jika musibah menimpa harta bendanya”

“Namun jika musibah menimpa agamanya, tiada terasa” [15]


[2] Lihat: Dâ’ al-Nufûs wa Sumûm al-Qulûb: al-Ma’âshi, Syaikh Azhari Ahmad Mahmud – Daar Ibn Khuzaimah: Riyaadh – Cet. Tahun: 1420 H.

[3] Lihat: al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, Bab. al-Rizqu Biyadillâhi Wahdah.

[4] QS. al-Rûm [30]: 40, QS. ar-Ra’d [13]: 26, QS. ‘Ali Imran [3]: 37, QS. al-Hajj [22]: 58.

[5] Keberadaannya pasti, yakni al-Qur’ân, tak bisa dipungkiri.

[6] Penunjukkan maknanya pasti, yakni tidak bisa ditakwilkan kepada makna yang lain. Berbeda dengan zhanniy al-dilâlah yang multiinterpretatif (multi penafsiran).

[7] Pembahasan lebih lengkap, bisa dirujuk dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah. Bab. al-Rizqu Biyadillâhi Wahdah

[8] Lihat: Mafâtiih Al-Ghayb, Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Umar bin al-Hasan bin al-Husayn al-Raazi (Fakhruddin al-Raazi)

[9] Lihat: Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, Al-Hafizh Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Dimasyqi (Imam Ibn Katsir (700-774 H)).

[10] Mahmud al-Khalidi menyandarkan kaidah tersebut kepada ulama madzhab Hanafi, Ibn Najim. Di sisi lain, Ibn Najim mengutip pandangan penulis kitab al-Mukhtâr bahwa tidak ada hukum sebelum turunnya syari’at. Imam al-Suyuthi pun memiliki pandangan serupa, bahkan beliau memaparkan argumentasi pengambilan kaidah hukum asal perbuatan ini secara lebih jelas. Lihat buku Islam Politik Spiritual, hlm. 68 pada bagian catatan kakinya hlm. 287. Adapun Imam Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan dalam kitab al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, juz. III, hlm. 19 bahwa hukum asal perbuatan (mukallaf) adalah terikat dengan hukum syara’.

[11] Lihat: Talbiis Ibliis, Imam Jamaluddin Abu al-Faraj ’Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad al-Jawzi (w. 597) – Dar al-Fikr: Beirut – Cet. I: 1421 H/ 2001.

[12] Diriwayatkan pula oleh Imam al-Haytsami dalam Majma’ Al-Zawaaid – Dar al-Rayyaan lit Turaats: Kairo & Dar al-Kitab al-‘Arabiy: Beirut, juz. I/ hlm. 179. Imam al-Haytsami berkata:

رواه الطبراني في الكبير و البزار و رجاله رجال الصحيح

“Imam al-Thabrani meriwayatkan hadits ini dalam kitab Al-Kabiir dan Imam al-Bazzar dengan para perawi yang shahih.”

[13] Lihat: Diiwaan al-Imaam al-Syaafi’i, Qaafiyatul Hamzah, subjudul al-Hawaa’ wa al-‘Aql.

[14] Lihat: Dâ’ al-Nufûs wa Sumûm al-Qulûb: al-Ma’âshi, Syaikh Azhari Ahmad Mahmud – Daar Ibn Khuzaimah: Riyaadh (1420 H/ 2000 M)

[15] Lihat: Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis (I/169).

3 comments on “Bantahan Atas Dalih Pro Miss World (II): Demi Promosikan Budaya, Tingkatkan Pariwisata & Pendapat Negara

  1. eccy mengatakan:

    Jangan menilai segala hal hnya dri satu sisi trmsuk mslah ini . Sangat trlmbat memang bru komen skrg, tapi biarkn mreka yg mmang ingin mlkukan itu (mmperlihatkn bntuk tbuh) untuk mnanggung akibatny sndiri klo kita bcara mslah dosa. Saya yakin anda paham betul ttg itu. Untuk tarian kecak, bali memang wilyah yg mayoritas bragama hindu, tdak perlu diprmsalahkan. Ingat kita tinggal brdmpingan dgn bgtu bnyak prbedaan. Jgn mengatasnamakan satu keyakinan atau satu kebudayaan utk mnentang yg lainnya . Pada akhirny hnya akan mmprcpat perpecahan . Bukankah tuhan jauh lbih tdak suka manusiany sling mmutuskan tali silaturahmi? Jgn brpikir sempit ..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s