Bantahan Atas Dalih Pro Miss World (I): Inikan Negara Demokratis, Harus Saling Menghargai Perbedaan

1236396_4520796996814_1471259654_n

Dalih I: “Inikan Negara Demokratis, Jadi Harus Saling Menghargai”

Bantahan-Bantahan Argumentatif:

Perselisihan: Wajib Dikembalikan Kepada Kebenaran Dalil

Kebenaran –dalam Islam- tidak ditentukan oleh suara terbanyak, inilah salah satu perbedaan prinsipil antara Islam dan ajaran Demokrasi yang jelas sesat menyesatkan. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan kita jika berbeda pendapat, harus dikembalikan pada al-Qur’an dan al-Sunnah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (Al-Qur’ân) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. Al-Nisâ’ [4]: 59)

Imam Ibnu Qayyim berkata: “Ini adalah dalil qath’i yang menunjukkan wajibnya mengembalikan semua perselisihan yang terjadi di kalangan manusia dalam perkara agama kepada Allah dan Rasul-Nya tidak kepada selain Allah dan Rasul-Nya.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam kitab tafsirnya:

وهذا أمر من الله عز وجل بأن كل شيء تنازع الناس فيه من أصول الدين وفروعه أن يرد التنازع في ذلك إلى الكتاب والسنة

“Ini adalah perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar supaya setiap sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia baik itu masalah prinsip-prinsip agama maupun cabang-cabangnya dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Al-Hafizh Ibn Katsir menukil dalil firman Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah.” (QS. Al-Syuura [42]: 10)

Al-Hafizh Ibnu Katsir –rahimahullaah-:

فما حكم به الكتاب والسنة وشهدا له بالصحة فهو الحق وماذا بعد الحق إلا الضلال ولهذا قال تعالى ” إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ” أي ردوا الخصومات والجهالات إلى كتاب الله وسنة رسوله فتحاكموا إليهما فيما شجر بينكم إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر فدل على أن من لم يتحاكم في محل النزاع إلى الكتاب والسنة ولا يرجع إليهما في ذلك فليس مؤمنا بالله ولا باليوم الآخر وقوله ” ذلك خير أي التحاكم إلى كتاب الله ” وسنة رسوله والرجوع إليهما في فصل النزاع خير وأحسن تأويلا أي وأحسن عاقبة ومآلا

“Maka apa saja yang telah dihukumi oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah dan yang telah disaksikan oleh keduanya sebagai kebenaran maka itulah kebenaran, dan apa lagi setelah kebenaran itu jika bukan kesesatan? Karena Allah Ta’aalaa berfirman: “jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir” yakni kembalikan perselisihan-perselisihan dan ketidaktahuan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, maka berhukumlah dengan keduanya dalam hal apa yang kalian perselisihkan “jika kalian beriman kepada Allah dan Hari Akhir”, maka hal itu menjukkan bahwa siapa saja yang tidak mau berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah ketika timbul perselisihan dan tidak kembali kepada keduanya dalam menyelesaikannya maka ia bukanlah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, dan frase firman-Nya “yang demikian itu lebih utama” yakni berhukum dengan Kitabullaah dan Sunnah Rasul-Nya dan kembali kepada petunjuk keduanya dalam menyelesaikan perselisihan dan “dan lebih baik akibatnya” yakni lebih baik akibat dan kesudahannya.”

Syaikh ‘Abdul Hamid al-Ju’bah menuturkan:

و قوله تعالى : “فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ” و غيرها من الآيات التي دلت  بشكل قاطع على جعل الكتاب و السنة أصلاً و مرجعاً للأحكام الشرعية .

“Dan firman Allah SWT “jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allâh (Al-Qur’ân) dan Rasul (sunnahnya)” dan ayat-ayat al-Qur’an yang lainnya menunjukkan secara tegas (qath’iy) wajibnya menjadikan al-Qur’an dan al-Sunnah sebagai asas dan rujukan hukum-hukum Islam.”[1]

Lebih jelasnnya, KH. Drs. Hafizh ‘Abdurrahman, MA menuturkan: “Konsep Kebenaran Islam tak ditentukan oleh pendapat mayoritas orang, namun ditentukan oleh pandangan yang paling ashwab (benar). Meskipun hanya dikemukakan hanya oleh satu orang. Dalam masalah Hukum Syara’, pandangan yang paling benar ditentukan oleh kekuatan dalil, meskipun hanya dikemukakan oleh seorang ‘ulama. Karena itu untuk menentukan kebenaran pandangan (atas suatu perkara), tidak dikembalikan kepada mayoritas atau minoritas ‘ulama yang menyatakannya, melainkan dikembalikan kepada hujjah siapakah yang lebih kuat.”[2]

Maka gugurlah argumentasi kaum sekularis yang menjustifikasi kemungkaran Miss World dengan alasan: “Inikah Negara Demokratis… harus saling menghargai pendapat dan bertoleransi.” Kami katakan:

“Demokrasi itu sendiri paham sesat, maka dalih yang Anda pakai untuk membenarkan penyelenggaraan Miss World sudah gugur dari asasnya. Dan pendapat yang jelas-jelas bertentangan dengan syari’at Al-Qur’an dan As-Sunnah tertolak dan wajib ditolak karena jelas pasi sesat menyesatkan.”

431614_363611627056358_1926515089_n

Perbedaan Pendapat yang Tercela

Syaikh Dr. Khalid al-‘Arusiy –Pembantu Rektor Fakultas Syari’ah Universitas Umm al-Quraa’- menjelaskan bahwa perbedaan pendapat itu harus dirinci, menukil pernyataan Imam al-Syafi’i ia berkata:

وهذا التفصيل ذكره الإمام الشافعي – رحمه الله – في (( رسالته )) حيث جعل لهذا الاختلاف المرحوم قسيماً آخر ، وهو : الاختلاف المحرَّم ، فلما سئل – رحمه الله – ما الاختلاف المحرّم ؟ قال: (( كل ما أقام الله به الحجة في كتابه ، أو على لسان نبيِّه منصوصاً بيّناً لم يحلَّ الاختلاف فيه لمن علمه))

“Perincian dalam masalah ini (perbedaan pendapat) dijelaskan Imam al-Syafi’i –rahimahullaah- dalam kitab Al-Risaalah, ketika ia menjelaskan pembagian lain di samping perbedaan yang dirahmati, yakni: perbedaan pendapat yang diharamkan. Dan ketika Imam al-Syafi’i ditanya, apa yang dimaksud dengan perbedaan yang diharamkan? Ia menjawab: “Setiap perkara yang hujjahnya sudah ditegaskan Allah dalam kitab suci-Nya atau melalui lisan Nabi-Nya dengan nash-nash petunjuk yang jelas, yang tidak memperbolehkan adanya perbedaan pendapat bagi orang-orang yang mengetahuinya”.[3]

Imam al-Syafi’i berdalil dengan firman Allah SWT:

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 4)

Dan firman Allah SWT:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

 “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. Âli Imrân [3]: 105)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

 “Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang sentiasa menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. dan bertaqwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mâ’idah [5] : 8)

Bagaimana Sikap Muslim Ketika Islam Telah Memutuskan Suatu Perkara?

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa berat dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An-Nisaa’ [4]: 65)

Al-Hafizh al-Imam al-Thabari menafsirkan ayat ini:

“فلا” فليس الأمر كما يزعمون: أنهم يؤمنون بما أنزل إليك، وهم يتحاكمون إلى الطاغوت، ويصدّون عنك إذا دعوا إليك يا محمد = واستأنف القسم جل ذكره فقال:”وربك”، يا محمد =”لا يؤمنون”، أي: لا يصدقون بي وبك وبما أنزل إليك =”حتى يحكموك فيما شجر بينهم”، يقول: حتى يجعلوك حكمًا بينهم فيما اختلط بينهم من أمورهم

“Frase fa laa (dan tidaklah) artinya tidak seperti apa yang mereka klaim: bahwa mereka beriman terhadap apa yang diturunkan kepadamu (al-Qur’an) tapi berhukum kepada thaghut-thaghut, dan memalingkan diri darimu ketika mereka menyerumu wahai Muhammad; kemudian dipertegas sumpah dalam firman-Nya yang mulia: “Demi Rabb-mu” wahai Muhammad; “mereka tidak beriman” yakni tidak membenarkan-Ku, dirimu dan terhadap apa yang diwahyukan kepadamu; “hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan” , artinya: “hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perselisihan di antara mereka dalam berbagai urusan.”

“ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجًا مما قضيت”، يقول: لا يجدوا في أنفسهم ضيقًا مما قضيت. وإنما معناه: ثم لا تحرَج أنفسهم مما قضيت = أي: لا تأثم بإنكارها ما قضيتَ، وشكّها في طاعتك، وأن الذي قضيت به بينهم حقٌّ لا يجوز لهم خلافه.

“Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan”, yakni: tidak ada kesempitan dalam diri mereka terhadap keputusanmu. Dan maknanya: kemudian tidak ada keterpaksaan dalam diri mereka menerima apa yang engkau putuskan. Yakni tidak berbuat dosa dengan mengingkari apa yang engkau putuskan, dan keputusanmu benar sehingga tidak diperbolehkan bagi mereka menyelisihinya.”

“ويسلموا تسليما”، يقول: ويسلّموا لقضائك وحكمك، إذعانًا منهم بالطاعة، وإقرارًا لك بالنبوة تسليمًا.

“Dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati ” artinya: dan mereka menerima keputusan dan hukum darimu (Muhammad), ketundukan mereka demi keta’atan, dan sebagai pengakuan terhadap dirimu yang mengemban nubuwwah dengan sepenuhnya.”[4]

Bertolak dari ayat yang agung ini, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Amhazun menegaskan:

لقد نفي الله عز وجل الإيمان عن الذين لا يتحاكمون إلى شرعه، ولا يرضون بحكمه وقضائه

“Sungguh Allah SWT telah menafikan keimanan bagi orang-orang yang tidak mau berhukum kepada syari’at-Nya, tidak ridha’ terhadap hukum-Nya dan keputusan-Nya.” [5]

Asy-Syaikh pun menukil penjelasan Imam Abu Bakr al-Jashshash yang berkata:

في هذه الآية دلالة على أن من ردّ شيئًا من أوامر الله تعالى أو أوامر رسوله –صلى الله عليه وسلم- فهو خارج من الإسلام، سواء ردّه من جهة الشك فيه أو من جهة ترك القبول والانقياد والامتناع عن التسليم.. لأن الله تعالى حكم بأن من لم يسلّم للنبي –صلى الله عليه وسلم- قضاءه وحكمه ليس من أهل الإيمان.

“Dalam ayat ini terdapat petunjuk bahwa barangsiapa menolak sesuatu dari perintah Allah atau perintah Rasulullah SAW, maka ia keluar dari Islam, sama saja apakah menolak karena faktor keraguan terhadapnya atau karena tidak mau menerima, tidak mau tunduk dan berserah diri… Karena Allah SWT memvonis orang yang tidak mau menerima keputusan dan hukum dari Nabi SAW sebagai orang yang tidak beriman.”[6]

Syaikh ‘Abdul Hamid al-Ju’bah menuturkan:

إن الإيمان يحتم علينا التسليم المطلق بكل ما حكم الله به ، فإيماننا بالله خالقاً للوجود لا ينفصل إطلاقاً عن إيماننا به مشرعاً ، لأن الفصل بين الأمرين ضلال والعياذ بالله

“Sesungguhnya keimanan menuntut kita untuk tunduk secara mutlak terhadap hukum Allah, dan keimanan kita kepada Allah sebagai Sang Pencipta segala hal yang ada tidak dapat dipisahkan dari keimanan kita bahwa Allah adalah Yang Maha Membuat Hukum, karena memisahkan kedua hal ini merupakan kesesatan, dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini.”[7]

Lantas, mengapa masih ragu untuk menolak ajang maksiat Miss World, yang semisalnya, dan segala kemungkaran termasuk paham-paham sesat semisal Demokrasi jika Anda mengaku sebagai seorang mukmin??

images.jpgمكن

[1] Lihat: Al-Ahzaab fii Al-Islaam, Syaikh ‘Abdul Hamid al-Ju’bah – Risaalah Maajistiir

[2] Lihat: Diskursus Islam Politik Spiritual, KH. Drs. Hafizh Abdurrahman, MA.

[3] Lihat: Ar-Risaalah, Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’i (hlm. 352), dinukil dari: Al-Tarakhkhush bi Masaa-il Al-Khilaaf: Dhawaabithuhu wa Aqwaal Al-‘Ulamaa fiihi, Syaikh Dr. Khalid al-‘Arusiy.

[4] Lihat: Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan, al-Hafizh al-Imam Abu Ja’far al-Thabari (224-310 H)

[5] Lihat: Thaaghuut Al-‘Ashr, Syaikh Prof. Dr. Muhammad Amhazun dalam Majalah Al-Bayaan, No. 303.

[6] Lihat: Ahkaam Al-Qur’aan (hlm. 213-214)Imam Abu Bakr al-Jashshash.

[7] Lihat: Al-Ahzaab fii Al-Islaam, Syaikh ‘Abdul Hamid al-Ju’bah.

2 comments on “Bantahan Atas Dalih Pro Miss World (I): Inikan Negara Demokratis, Harus Saling Menghargai Perbedaan

  1. […] Bantahan Atas Dalih Pro Miss World (I): Inikan Negara Demokratis, Harus Saling Menghargai Perbedaan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s