Tanya-Jawab Irfan Abu Naveed dengan Al-‘Alim Al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil (Amir HT) Tentang Demokrasi

Jawab

(سلسلة أجوبة الشيخ العالم عطاء بن خليل أبو الرشتة أمير حزب التحرير على أسئلة رواد صفحته على الفيسبوك)

جواب سؤال عن الديمقراطية
Irfan Abu Naveed إلى

Sumber:

Sumber Website Resmi Maktab I’lan HT

Sumber Facebook Resmi Amir HT

 

Pertanyaan Irfan Abu Naveed

السؤال: لقد غزت الأمة الإسلامية في عصرنا الحاضر المفاهيم الخاطئة والمعتقدات الباطلة الدخيلة على ديننا الحنيف والتي تضاد وتصادم العقيدة الإسلامية من كل وجه وجانب، ومنها الديمقراطية الباطلة. المشكلة الخطيرة عندنا في إندونيسيا، قد وجدنا بعض المسلمين في إندونيسيا يزعمون أن الديمقراطية من الإسلام، وهم يقولون عنها بالأدلة الشرعية من القرآن الكريم والسنة النبوية بالمفاهيم الضالة، بالتكلف في استعمال هذه الأدلة.
1. وما رأيك يا شيخنا عن الديمقراطية؟
2. وكيف تخلص من هذه المشكلة الخطيرة؟
3. أنا أريد أن أكتب الكتاب فيما يتعلق بهذا الأمر. ما رأيك يا شيخنا؟ وأطلب منك النصيحة المتعقلة بهذا الأمر.

“Sungguh, umat Islam pada masa kini telah diserang berbagai pemahaman sesat dan keyakinan yang batil, yang menyusup ke dalam Din kita (Al-Islam) yang lurus ini, menyelisihi dan menghantam akidah Islam dari berbagai arah dan sisi, di antaranya paham Demokrasi yang jelas batil. Permasalahan yang berbahaya bagi kami di Indonesia, sungguh telah kami temukan sebagian kaum muslimin di Indonesia yang mengklaim bahwa Demokrasi berasal dari Islam, dan mereka berpendapat dengan dalil-dalil syar’iyyah dari al-Qur’an al-Karim dan al-Sunnah al-Nabawiyyah tapi dengan pemahaman yang batil, dan memaksakan diri dalam menggunakan dalil-dalil ini (memaksakan dan menafsirkan dalil agar sesuai dengan maksudnya yang batil-pen).”

  1. Bagaimana pendapat Anda wahai Syaikh tentang Demokrasi?
  2. Bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan berbahaya ini?
  3. Saya bermaksud menyusun sebuah buku yang berkaitan dengan permasalahan ini, bagaimana pendapat Anda wahai Syaikh? Dan Saya meminta nasihat Anda berkaitan dengan maksud Saya ini.

الجواب: 

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

الديمقراطية تعني السيادة للشعب، فهو يشرع من دون الله، أي يحلل ويحرم من دون الله، والله سبحانه يقول: (إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ)، وفي الحديث الشريف الذي أخرجه الطبراني في الكبير عن عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ اطْرَحْ هَذَا الْوَثَنَ مِنْ عُنُقِكَ»، فَطَرَحْتُهُ فَانْتَهَيْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَقْرَأُ سُورَةَ بَرَاءَةَ فَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ) حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا، فَقُلْتُ: إنَّا لَسْنَا نَعْبُدُهُمْ، فَقَالَ: «أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»،

“Demokrasi yakni paham yang menjadikan kedaulatan berada di tangan rakyat (manusia-pen.), maka rakyat yang berhak membuat hukum selain Allah, yakni menghalalkan dan mengharamkan sesuatu mengenyampingkan Allah, padahal Allah SWT berfirman:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’aam [6]: 57)

Dan berdasarkan al-hadiits al-syariif yang diriwayatkan Imam al-Thabraniy dalam kitab al-Mu’jam al-Kabiir [1]dari ‘Adiy bin Hatim, ia berkata: “Aku pernah mendatangi Nabi SAW dan di leherku tergantung sebuah salib yang terbuat dari emas.” Lantas Rasulullah SAW bersabda: “Wahai ‘Adiy, tanggalkan berhala itu dari lehermu. Lalu aku tanggalkan salib ini (dari leherku-pen.) lalu beliau SAW membaca ayat bara’ah (surat al-Tawbah) yakni membaca ayat ini:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ

“Mereka menjadikan para pendeta dan rahib mereka sebagai Rabb selain Allah” (QS. Al-Tawbah [9]: 31)

Hingga beliau terdiam, maka aku berkata: ”Sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”. Lalu Rasulullah SAW bersabda: ”Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan kalian ikut mengharamkannya? Dan mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan kalian pun ikut menghalalkannya?”. Aku berkata: ”Ya”. Lalu beliau SAW bersabda: ”Itulah bentuk penyembahan kepada mereka”.

ولذلك فإن من يشرع من دون الله إثمه كبير كبير

“Oleh karena itu, barangsiapa yang membuat hukum selain Allah maka dosanya sangat besar.”

• فالديمقراطية من هذا الباب نظام كفر لأنها تجعل التشريع للبشر وليس لرب البشر.

“Maka demokrasi dari sisi ini termasuk sistem kufur karena menjadikan hak membuat hukum bukan kepada Rabb-nya manusia (Allah ’Azza wa Jalla, tapi kepada manusia-pen.)”

ومن باب آخر فهي تقول بالحريات الأربع: العقيدة، والفكر، والملكية، والشخصية.

“Dari sisi lainnya, Demokrasi menyerukan 4 prinsip kebebasan: kebebasan berakidah; berpikir/berbicara; kepemilikan dan kepribadian.”

فتجيز أن يعتقد المرء ما يشاء، فله أن يبدل دينه كما يشاء، وله أن يقول الرأي الذي يريد حتى لو طعن في المقدسات… وله أن يملك بالحلال والحرام، وله أن يعاشر بالزنا ما دام يرضي الطرفين. وهذا أمر محرم في الإسلام، فالردة حرام، والزنا حرام، والتملك بوسائل غير مشروعة حرام، والقول بالسب والشتم كذلك حرام. وهكذا فإن الديمقراطية بإطلاقها للحريات كذلك هي نظام كفر لأنها تعني التحلل من الأحكام الشرعية.

“Maka Demokrasi memperbolehkan seseorang untuk memeluk agama apapun dan berganti agama sekehendak hatinya; memperbolehkan menyampaikan pendapat apapun yang dinginkannya meski menghujam (merendahkan-pen.) hal-hal yang dimuliakan (dalam Islam-pen.), memperbolehkan memiliki segala hal baik yang halal maupun yang haram; memperbolehkan perzinaan suka sama suka padahal hal itu diharamkan dalam Islam, murtad dari Islam diharamkan, zina hukumnya haram, kepemilikan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan syari’at diharamkan, begitu pula perkataan yang mengandung celaan dan hinaan itu diharamkan Islam. Maka Demokrasi dengan seruan prinsip-prinsip kebebasannya pun menunjukkan bahwa ia adalah sistem kufur, karena Demokrasi jelas menghancurkan hukum-hukum syari’ah.”

وهناك كتاب “الديمقراطية نظام كفر” اطلبه من مكتب الحزب في بلدك، ففيه تفصيل مسألة الديمقراطية وكيف أنها نظام كفر.

“Ada sebuah kitab berjudul “Demokrasi Sistem Kufur” , mintalah kitab ini ke kantor Hizb al-Tahrir di negeri Anda, didalamnya terkandung perincian terkait Demokrasi dan penjelasan bagaimana Demokrasi dinyatakan sebagai sistem kufur.”

وفي الختام أقرئك السلام، وأدعو لك بالعون والتوفيق فيما تكتبه من خير للإسلام والمسلمين.

“Dan dalam akhir penjelasan ini, saya ucapkan salam sejahtera kepada Anda, dan saya mendo’akan Anda agar diberikan pertolongan dan taufik dari Allah, dari apa yang Anda tulis untuk kebaikan Islam dan kaum muslimin.”

أخوكم عطاء بن خليل أبو الرشتة

20 رجب 1434هـ

30 أيار/مايو 2013 م

“Saudaramu ‘Atha’ bin Khalil Abu al-Rusythah”

20 Rajab 1434 H

30 Mei 2013


[1] Lihat pula: Al-Taariikh Al-Kabiir (VII h.108), Sunan Al-Tirmudzi (V h.279 no.3020), Al-Mu’jam Al-Kabiir (XVII h.92), Sunan Al-Bayhaqi Al-Kubra (X h.116).

This entry was posted in Politik.

4 comments on “Tanya-Jawab Irfan Abu Naveed dengan Al-‘Alim Al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil (Amir HT) Tentang Demokrasi

  1. irfanramdhanarraaqiy mengatakan:

    Bismillaah

    Suka

  2. […] Tanya Jawab Irfan Abu Naveed dengan Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah […]

    Suka

  3. […] Lihat pula: Tanya Jawab Irfan Abu Naveed dengan Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasythah […]

    Suka

  4. […] Lihat bahasan lainnya dari al-’Alim asy-Syaikh ‘Atha bin Khalil mengenai Demokrasi: Link Artikel […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s