Menyerukan Demokratisasi Termasuk Perbuatan Menyerupai Orang Kafir

الحمدلله رب العالمين والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه، أما بعد

Amerika Serikat & Demokratisasi Dunia

03-Demokrasi-Harus-Bermanfaat-dan-Menjamin-Perubahan

Secara global AS telah lama melancarkan program “Demokratisasi Dunia”. AS menghendaki seluruh Negara di Dunia ini menjalankan kehidupan Demokratis seperti yang mereka ajarkan. Untuk menunjang program itu, berbagai kegiatan dilakukan. Beberapa kalangan terpelajar dari berbagai Negara diberi kesempatan mengunjungi AS untuk melihat bagaimana kehidupan Demokrasi di sana. Berbagai buku tentang Demokrasi diterjemahkan ke bahasa Nasional Negara yang menjadi sasaran. Indonesia ialah salah satunya. Salah satu buku kecil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Apakah Demokrasi Itu? Buku ini merupakan terjemahan dari buku kecil yang berjudul What is Democracy? Booklet ini disebarkan ke berbagai kalangan oleh USIA (United States Information Agency). Dan di antara proyek Demokratisasi terbaru mereka di Indonesia adalah penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bali Democracy Forum (BDF) V di Nusa Dua Bali, yang diselenggarakan dua hari; 8-9 November 2012. Dan dihadiri oleh 12 Kepala Negara dan delegasi dari 83 Negara Asia Pasific. KTT ini membahas sejumlah isu, di antaranya keamanan dan perdamaian dalam demokrasi, hak asasi manusia dalam demokrasi, serta demokrasi dan pembangunan ekonomi (lihat: http://bdf.kemlu.go.id/).

Point-point di bawah ini untuk membantu mempermudah penilaian obyektif yang disarikan dari berbagai sumber:

  • Di AS ada sebuah semboyan Demokrasi yang terkenal: “The Golden Rule of Democracy is Those who have Golds are Ruler” (aturan emas dari Demokrasi ialah siapa yang memiliki emas (uang), dialah penguasa), semboyan yang benar-benar Kapitalistik!
  • Walter Lippman mengungkapkan bahwa para Birokrat (penguasa) mengabdi secara khusus dan rahasia kepada para Kapitalis (pemilik modal) mereka bertugas memelihara anggapan umum mayoritas masyarakat awam bahwa mereka (masyarakat awam) mengelola kekuatan Demokrasinya, padahal sesungguhnya tidak.
  • Reynold mengutip ringkasan, The Report called “Civil Democratic Islam: partners, resources and strategies”, yang dipublikasikan oleh the Rand Corporation dengan bantuan dana dari the Smith Richardson Foundation, dalam laporan ini kelompok fundamentalis dimaknai sebagai : pihak yang menolak nilai-nilai Demokrasi dan kultur budaya barat Kontemporer, menginginkan Negara otoritarian dan puritan yang ingin mewujudkan pandangan ekstrem mereka tentang Hukum Islam dan nilai-nilai moral Islam.
  • Dalam makalah “Keamanan Internasional Abad Ke-21” oleh Juwono Sudarsono -Guru besar Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia- yang disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, mengangkat tema: Penegakan Hukum Dalam Era Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia RI, di Denpasar tanggal 14 -18 Juli 2003. Juwono menuliskan: “Karena Amerika Serikat demikian unggul dalam percaturan internasional pada awal abad ke-21 ini, dua pemikir terkemuka, Henry Kissinger dan Robert Mc Namara, merisaukan peran Amerika dimasa mendatang. Akankah Amerika menjadi pemimpin dunia dalam arti yang luhur, yakni mengajak bangsa-bangsa lain untuk menggalang perdamaian dan kemakumuran dengan membagi-bagi berkah ilmu dan teknologi yang diterimanya sebagai keniscayaan sejarah? Ataukah Amerika akan menjadi kemaharajaan, dengan menghalau setiap calon pesaing yang tampil dipentas dunia dengan mengandalkan kekuatan politik, ekonomi dan teknologi militernya?”

Penulis tegaskan: “Apa yang dirisaukan para pemikir barat ini memang terjadi. AS dengan ide-ide kufurnya, salah satunya Demokrasi, selalu menunjukkan arogansi. Demokrasi yang mereka agungkan tidak berlaku jika bertentangan dengan kepentingannya, faktanya bagi Negara-Negara ’Maestro Demokrasi’ (AS dan sekutu-sekutunya), Demokrasi hanya dijadikan sebagai salah satu senjata ampuh (manuver politik) untuk menyembunyikan Imperialisme Ideologis  mereka ke negeri-negeri kaum muslimin.”

  • Presiden AS, George W Bush sendiri dalam pidato kenegaraan, menyatakan: “Jika kita mau melindungi Negara kita dalam jangka panjang, hal yang terbaik yang dilakukan ialah menyebarkan kebebasan dan Demokrasi”*. Sebelumnya,  Bush menekankan pentingnya Demokratisasi Timur Tengah.
  • Richard P. dalam New York Observer edisi 17 September 2001, menulis: “Sungguh, Amerika adalah Imperium Kapitalisme Demokrasi.”
  • Mantan Presiden AS, Georde W. Bush Junior pada tahun 2003 menyatakan: “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi” (lihat: Kompas edisi 6/11/2004). George W. Bush pun dalam “The National Endowment for Democracy” (Kamis 6/11/2003) menyatakan: “Selama kebebasan (freedom) belum tumbuh di Timur Tengah, kawasan itu akan tetap menjadi wilayah stagnan (jumud), peng’ekskpor’ kekerasan, termasuk menjadi tempat penyebaran senjata yang membahayakan negara AS” (lihat: http://www.globalsecurity.org).
  • Berikut ini sebuah surat resmi informasi dari Pemerintah AS kepada rakyat Amerika pada tanggal 16 Maret 2006.
  • Presiden AS Barack Obama yang disambut gembira sebagai pemimpin berwajah baru yang membawa hope (harapan), ternyata tak lebih baik dari pendahulunya George W. Bush Junior, bahkan bisa dikatakan lebih berbahaya sebagai musuh berwajah ramah bagi Islam dan kaum muslimin, dalam kampanyenya ia mendeklarasikan akan menarik sebagian pasukan AS dari Irak, tapi mengirim tambahan pasukan tempur ke Afganistan. Maka kian nyata bahwa Politik Luar Negeri AS di bawah kepemimpinan Obama tetap imperialistic. Dalam sebuah acara yang disponsori Kedutaan Besar Israel di Washington untuk mengagungkan hari deklarasi Negara Israel yang ke-60. Obama menyatakan: “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang bisa saya lakukan dalam kapasitas apapun untuk tak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju, makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.” (lihat:  Menantang Amerika: Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama, Farid Wajdi – Al-Azhar Press; Bogor. Cet. I: 2010)
  • Obama dalam pidato resminya pun menyatakan: “Saya akan melakukan apapun jika menyangkut keamanan Israel. Saya pikir ini hal yang fundamental. Saya kira ini menyangkut kepentingan AS karena hubungan kami yang istimewa, karena Israel tidak hanya telah membangun demokrasi di wilayah itu (Palestina) tapi juga merupakan sekutu terdekat dan loyal kepada kita.” (Barrack Obama, 2009). Dan dalam pidatonya, Obama bersumpah untuk melindungi rakyat Amerika dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Amerika. Obama mengatakan senjata yang paling ampuh adalah sistem keyakinan Amerika  seperti kebebasan, inilah akan membuat AS aman.

Maka, kian jelas bahwa Demokratisasi memang menjadi salah satu senjata ideologis kaum kuffaar dalam menjajah negeri-negeri kaum muslimin dengan imperialisme ideologis. Lantas, bagaimana jika ada di antara kaum muslimin yang menyerupai kaum kuffaar menyerukan DEMOKRATISASI?

Islam Mengecam Perbuatan Menyerupai Kaum Kuffaar
Ketahuilah! Diantara prinsip agung bagi kaum muslimin yang diletakkan syari’at yang mulia dari Dzat Yang Maha Mulia adalah larangan meniru kebiasaan, gaya hidup, perayaan dan pakaian khas orang-orang kafir. Termasuk meniru orang-orang kafir yang mendebat dan mencela Din al-Islam, mencela Rasulullah SAW sehingga mereka termasuk orang-orang yang dilaknat, dikecam Allah dengan siksa-Nya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’inaa”, tetapi Katakanlah: “Unzhurnaa”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Imam al-Alusi –hafizhahullaah– menuturkan sebab turunnya ayat ini:

وسبب نزول الآية كما أخرج أبو نعيم في «الدلائل» عن ابن عباس رضي الله تعالى عنه أن اليهود كانوا يقولون ذلك سراً لرسول الله صلى الله عليه وسلم وهو سب قبيح بلسانهم ، فلما سمعوا أصحابه عليه الصلاة والسلام يقولون : أعلنوا بها ، فكانوا يقولون ذلك ويضحكون فيما بينهم ، فأنزل الله تعالى هذه الآية ، وروي أن سعد بن عبادة رضي الله تعالى عنه سمعها منهم ، فقال : يا أعداء الله عليكم لعنة الله، والذي نفسي بيده لئن سمعتها من رجل منكم يقولها لرسول الله صلى الله عليه وسلم لأضربن عنقه ، قالوا : أوَلستم تقولونها؟ فنزلت الآية ونهي المؤمنون سداً للباب ، وقطعاً للألسنة وإبعاداً عن المشابهة

“Sebab turunnya ayat ini sebagaimana diriwayatkan Abu Na’im dalam kitab al-Dalaail dari Ibn ‘Abbas r.a. bahwa Kaum Yahudi berbicara pelan kepada Rasulullaah SAW, yakni pernyataan yang mengandung penghinaan buruk dengan lisan mereka, ketika mereka mendengar para sahabat Rasulullaah SAW berkata: “Kalian terlaknat dengan perbuatan tersebut.” Ketika para sahabat berkata demikian, orang-orang Yahudi malah tertawa, maka turunlah ayat ini. Dan diriwayatkan bahwa Sa’ad bin ‘Ubaadah r.a. mendengarkan penghinaan mereka, maka ia berkata: “Wahai musuh-musuh Allah, laknat Allah atas kalian. Demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya jika aku mendengar salah satu dari kalian mengatakan hal itu lagi kepada Rasulullaah SAW maka sungguh akan aku penggal lehernya.” Orang-orang Yahudi ini berkata: “Bukankah kalian pun mengatakan demikian?” Maka turunlah ayat ini dan  melarang orang-orang beriman (dari kebatilan) sebagai penutup pintu kebatilan bagi mereka, meluruskan lisan dan menghindari perbuatan menyerupai orang kafir.”[1]

Meski ayat di atas berkaitan dengan para sahabat, namun simpulan hukum dalam ayat ini berlaku umum bagi seluruh orang-orang beriman, sesuai kaidah syar’iyyah yang raajih:

الْعِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ

“Berlakunya hukum dilihat dari umumnya lafadz, bukan khususnya sebab.”[2]

Al-Hafizh Ibn Katsir menuturkan:

والغرض: أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا

 “Maksudnya: Allâh SWT melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[3]

Al-Hafizh al-Imam Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut. (HR. Ahmad & Abu Dawud, dishahihkan oleh Imam Ibn Hibban)[4]

Al-Hafizh Ibn Katsir pun menegaskan:

ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد، على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها

“Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan dan tak sejalan dengan kita.”

Syaikh Dr. Nashr bin Abdul Karim menjelaskan:

“Al-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. Al-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meiru dan mengikutinya.”[5]

Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Qur’ân dan al-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka (kaum kafir-ed.).

Syaikh al-‘Utsaimin berkata:

“Standar Tasyabbuh adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang menyerupainya, menyerupai orang-orang kafir artinya, seorang muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas mereka. adapun jika hal tersebut telah berlaku umum di kalanagan kaum muslimin dan hal itu tidak merupakan ciri khas dari orang-orang kafir maka yang demiikan bukan tasyabbuh” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibn Utsaimin: 3/47)

Syaikh Dr. Shalih Fauzan ketika menjelaskan tentang gambaran loyalitas terhadap orang kafir, yang pertama:

التشبه بهم في الملبس والكلام وغيرهما، لأن التشبه بهم في الملبس والكلام وغيرهما يدل على محبة المتشبه للمتشبه به، ولهذا قال النبي -صلى الله عليه وسلم-: ((مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ)) فيحرم التشبه بالكفار فيما هو من خصائصهم ومن عاداتهم وعباداتهم وسمتهم وأخلاقهم.

“Menyerupai mereka (orang-orang kafir) baik dalam berpakaian maupun berbicara dan selainnya, karena menyerupai mereka dalam hal-hal tersebut menunjukkan kecintaan orang menyerupai kepada orang yang diserupai, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan kaum tersebut.” Maka diharamkan menyerupai orang-orang kafir dalam hal-hal yang khusus bagi mereka, adat istiadat dan tata cara ibadah mereka, jalan hidup dan akhlak mereka.”[6]

Syaikh Dr. ‘Abdurrahman al-Baghdadi menyatakan bahwa kata “tasyabbuh” (menyerupai) dalam hadits tersebut adalah bentuk seruan umum yang sama halnya dengan kata “suatu kaum”. Ini adalah larangan menyerupai bangsa manapun dengan apa saja secara mutlak, baik dalam urusan akidah, ibadah, nikah, adat kebiasaan, hidup bebas, dan lain sebagainya.[7]

Syaikh ‘Utsman Kurki dalam kitab Syarh Thibb al-Nabawiy menyatakan:

“Rasulullah saw membenci segala bentuk upacara, istilah, lambang yang berasal dari agama jahiliyyah atau dari Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani yang telah merusak wasiat Nabinya dan telah mengambil agama lain sebagai penghias bid’ahnya itu.”

Rasûlullâh SAW memberitakan kepada kita dengan kabar yang pasti benar dan tidak mungkin keliru, bahwa sebagian umat ini pasti akan mengikuti jejak orang-orang terdahulu dari umat lain. Hadits mengenai hal ini merupakan hadits shahîh, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab Shahîh dan kitab-kitab Sunan.

لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  دَخَلَ جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ

“Kamu pasti akan mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun kamu pasti akan mengikutinya.” (HR. Hâkim dari Ibn ‘Abbas)[8]

Dalil-dalil di atas menunjukkan celaan yang tegas (jazm)[9], yang menunjukkan keharaman mengambil dan mengikuti ajaran khas para penganut ajaran-ajaran lain selain Islam, sekaligus menunjukkan kekhasan Islam.[10] Dalam hal ini, islam telah membimbing setiap manusia untuk berpegang teguh pada akidah dan syari’at islam, serta mengingkari thaghut dan segala bentuk kebatilan.

Begitu pula peringatan dalam hadits-hadits lainnya yang sampai pada derajat jazm (pasti). al-Sunan (jalan atau jejak) yang dikabarkan Nabi seperti kata para ahli ilmu, meliputi aqidah, ibadah, hukum, adat kebudayaan, tingkah laku, dan hari-hari besar atau perayaan-perayaan. Yang dimaksud dengan umat-umat sebelumnya berdasarkan sejumlah keterangan hadits Nabi lainnya, dalah bangsa Persia dan Romawi. Ada pula yang menyatakan bahwa mereka dari kalangan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani. Juga, ada yang menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang kafir secara mutlak. Bahkan, ada yang menafsirkan bahwa mereka adalah orang-orang musyrik. Nash-Nash tersebut saling mendukung antara satu dengan lainnya.[11]

Dengan ber-tasyabbuh terhadap orang kafir, maka seorang muslim akan mengikuti jalur orang-orang yang tidak beriman. Padahal dalam perkara ini terdapat peringatan yang sangat keras, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firman-firman-Nya yang agung:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepadanya petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman. Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan orang-orang kafir-pen.) kemudian Kami seret ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Nisâ’ [4]: 115)

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’âm [6]: 153)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imraan [3]: 85)


[1] Lihat: Ruuh al-Ma’aaniy fii Tafsiir al-Qur’aan al-‘Azhiim wa al-Sab’u al-Matsaniy, Imam Syihabuddin Mahmud ibn ‘Abdullah al-Husayni al-Alusi.

[2] Kaidah ini merupakan kaidah yang diistinbath dari dalil-dalil syara’, sudah disepakati oleh jumhur ‘ulama.

[3] Lihat: Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Imam Ibn Katsiir.

[4] Musnad Ahmad (2/92), Sunan Abi Dawud (no. 4031)

[5] Lihat: Man Tasyabbaha bi Qawmin fa Huwa min Hum, Syaikh Nashr bin Abdul Karim Al-‘Aql

[6] Lihat: Al-Irsyâd ilâ Shahiih al-I’tiqâd wa al-Radd ‘alâ Ahl al-Syirk wa al-Ilhâd (hlm. 292), Syaikh Dr. Shalih bin Fawzan bin ‘Abdullah al-Fawzan – Dar Ibn al-Jawzi: Arab Saudi. Cet. III: 1433 H

[7] Dalam buku Syaikh ‘Abdurrahman al-Baghdadi yang menjelaskan mengenai seni dalam pandangan Islam.

[8] Dalam al-Jâmi’ al-Shaghîr.

[9] Lihat: penjelasan ilmu ushûl al-fiqh tentang ini, cukup lengkap dibahas dalam kitab Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl karya al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil.

[10] Lihat pula penjelasan dalam Islam Politik Spiritual (hlm. 7), KH. Drs. Hafizh ‘Abdurrahman, MA.

[11] Lihat: Man Tasyabbaha bi Qawmin fa Huwa min Hum, Syaikh Dr. Nashr bin Abdul Karim Al-‘Aql.

One comment on “Menyerukan Demokratisasi Termasuk Perbuatan Menyerupai Orang Kafir

  1. […] Menyerukan Demokratisasi Termasuk Kemaksiatan Tasyabbuh bil Kuffar (Menyerupai Orang Kafir) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s