Pemuda yang Tak Jelas Arah dalam Naungan Sistem Demokrasi (Dalam Sindiran Syi’ir Jahiliy)

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه، أما بعد

Syi'ir Jahiliy

Di bawah naungan demokrasi, tak sedikit pemuda yang terjerumus ke dalam dunia malam, dunia gelap, dunia kejahatan. Apakah berbentuk geng motor, tenggelam dalam dunia free seks, dan beragam keburukan lainnya. Tentu hal ini tak pernah kita kehendaki dan kehidupan rusak seperti ini wajib diubah dengan kehidupan islam. Lihat:http://hizbut-tahrir.or.id/2012/04/20/maraknya-geng-motor-bukti-kegagalan-sistem-saat-ini/

Para pemuda seperti di atas, jika mereka tak bertaubat dan kembali kepada jalan Islam, barangkali termasuk tipe pemuda yang dijelaskan oleh Syaikh Dr. ‘Abdullah al-Khaathir berikut ini:

الشاب الضائع يعاني من فراغ فكري، وخواء عقدي، ولعل الأبيات التالية لإيليا أبي ماضي تعبر عن حالته وتصورها

“Pemuda sia-sia (lemah, tak jelas arah tujuan hidupnya-pen.) yang mengalami kehampaan pemikiran dan krisis keyakinan, dan barangkali bait-bait Iliya Abi Madhi berikut ini yang bisa menggambarkan kondisi pemuda seperti ini:

جئتُ لا أعلم من أين # ولكني أَتيْتُ
ولقد أبصرتُ طريقًا # قُدَّامي فَمَشَيْتُ
وسَأبقى سَائرًا # شِئْتُ هذا أم أَبَيْتُ
كيف أَبصرتُ طريقي # كيف جِئتُ
لستُ أدري
ولماذا لستُ أدري # لستُ أدري
“Aku telah datang namun entah dari mana # Tapi aku telah tiba”
“Sungguh telah kulihat sebuah jalan # dihadapanku maka aku berjalan”
“Dan aku terus berjalan # entah ku kehendaki hal ini atau sebenarnya ku enggan”
“Dan bagaimana kulihat jalanku # bagaimana tibanya diriku”
“Aku tak tahu”
“Dan mengapa ku tak tahu # aku tak tahu” [1]

Gambaran pemuda dalam syi’ir di atas tentu sangat menyedihkan, ia tak tahu arah hidupnya dan mengikuti arus kehidupan, hidup di atas jalan pragmatis tak jelas arah tujuan. Ironisnya, rusaknya kehidupan di bawah naungan demokrasi menjerumuskan mereka ke dalam lembah yang kelam.

Namun, pemuda seperti ini bisa bangkit dengan Islam. Imam Taqiyuddin al-Nabhani menuturkan dalam kitab Nizhaam al-Islaam, bab. Thariiq al-Iimaan:

“Bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan Zat yang ada sebelum alam kehidupan dan alam yang ada sesudah kehidupan dunia. Oleh karena itu, harus ada perubahan yang mendasar dan menyeluruh terhadap pemikiran manusia dewasa ini, untuk kemudian diganti dengan pemikiran lain agar ia mampu bangkit. Sebab, pemikiranlah yang membentuk mafahim (persepsi) terhadap segala sesuatu serta yang memperkuatnya. Selain itu, manusia selalu mengatur tingkah lakunya di dalam kehidupan ini sesuai dengan mafahim-nya terhadap kehidupan. Sebagai contoh, mafahim seseorang terhadap orang yang dicintainya akan membentuk perilaku terhadap orang tersebut, yang nyata-nyata berlawanan terhadap orang lain yang dibencinya, dimana ia memiliki mafahim kebencian terhadapnya. Begitu juga akan berbeda terhadap orang yang sama sekali tidak dikenalnya, dimana ia tidak memiliki mafhum apapun terhadap orang tersebut. Demikianlah, tingkah laku manusia selalu berkaitan erat dengan mafahim yang dimilikinya. Maka dari itu, apabila kita hendak mengubah tingkah laku manusia yang rendah menjadi luhur, tidak ada jalan lain kecuali harus mengubah mafhum-nya terlebih dahulu. Dalam hal ini.” [2]

Imam Taqiyuddin al-Nabhani menukil dalil firman Allah SWT:

إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka” (QS. Al-Ra’du: 11)

Maka pemuda seperti ini membutuhkan pembinaan Islam secara intensif dan sistematis (tatsqiif murakkazah) sebagaimana Rasulullah SAW berhasil membuktikan keberhasilan pembinaannya kepada para sahabat, diantaranya ‘Umar bin al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu- yang pernah hidup di bawah naungan sistem jahiliyyah. Dan terhadap pemuda yang hanya diam tak mau berubah dan stagnan dalam status quo keburukan, kiranya tepat nasihat Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman al-‘Arifi dalam syi’irnya:

وَمَنْ يَتَهَيَّبُ صُعُوْدَ الجِبَالِ # يَعِشْ أَبَدَ الدَّهْرِ بَيْنَ الحُفَرِ
“Siapa yang takut naik gunung # Akan hidup di antara lubang selamanya.” [3]

والله أعلم بالصواب

___________________

[1] Lihat: Al-Iltizâm bil-Islâm Marâhil wa ‘Uqbât, Syaikh Dr. ‘Abdullah al-Khaathir – Silsilah dari Majallatul-Bayân – Dar al-Kutub al-Mishriyyah – Cet. Tahun: 2006
[2] Lihat: Nizhâm al-Islâm, Imam Taqiyuddin al-Nabhani – Dâr al-Ummah: Beirut – Cet. Tahun: 1422 H.
[3] Lihat: Istamti’ bi Hayaatika: Funun al-Ta’ammil Ma’a al-Naas fii Zhilli Shiraath Dzikrayyaat Aktsar min ‘Isyriin Sanah, Syaikh Dr. Muhammad bin ‘Abdurrahman al-‘Arifi.

One comment on “Pemuda yang Tak Jelas Arah dalam Naungan Sistem Demokrasi (Dalam Sindiran Syi’ir Jahiliy)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s