Demokrasi: Alat Imperialisme AS

7-D

Secara global AS telah lama melancarkan program “Demokratisasi Dunia”. AS menghendaki seluruh Negara di Dunia ini menjalankan kehidupan Demokratis seperti yang mereka ajarkan. Untuk menunjang program itu, berbagai kegiatan dilakukan. Beberapa kalangan terpelajar dari berbagai Negara diberi kesempatan mengunjungi AS untuk melihat bagaimana kehidupan Demokrasi di sana. Berbagai buku tentang Demokrasi diterjemahkan ke bahasa Nasional Negara yang menjadi sasaran. Indonesia ialah salah satunya. Salah satu buku kecil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berjudul Apakah Demokrasi Itu? Buku ini merupakan terjemahan dari buku kecil yang berjudul What is Democracy? Booklet ini disebarkan ke berbagai kalangan oleh USIA (United States Information Agency). Dengan buku itu dan buku lain yang sejenis, AS ingin memberikan wawasan tentang Demokrasi. Dengan demikian, secara lingkungan eksternal, Indonesia memungkinkan telah terpengaruh Demokrasi. Point-point di bawah ini untuk membantu mempermudah penilaian obyektif:[1]

  • Di AS ada sebuah semboyan Demokrasi yang terkenal: “The Golden Rule of Democracy is Those who have Golds are Ruler” (aturan emas dari Demokrasi ialah siapa yang memiliki emas (uang), dialah penguasa), semboyan yang benar-benar Kapitalistik!
  • Walter Lippman mengungkapkan bahwa para Birokrat (penguasa) mengabdi secara khusus dan rahasia kepada para Kapitalis (pemilik modal) mereka bertugas memelihara anggapan umum mayoritas masyarakat awam bahwa mereka (masyarakat awam) mengelola kekuatan Demokrasinya, padahal sesungguhnya tidak.
  • Reynold mengutip ringkasan, The Report called “Civil Democratic Islam: partners, resources and strategies”, yang dipublikasikan oleh the Rand Corporation dengan bantuan dana dari the Smith Richardson Foundation, dalam laporan ini kelompok fundamentalis dimaknai sebagai : pihak yang menolak nilai-nilai Demokrasi dan kultur budaya barat Kontemporer, menginginkan Negara otoritarian dan puritan yang ingin mewujudkan pandangan ekstrem mereka tentang Hukum Islam dan nilai-nilai moral Islam.
  • Dalam makalah “Keamanan Internasional Abad Ke-21” oleh Juwono Sudarsono -Guru besar Hubungan Internasional dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia-.[2]

“Karena Amerika Serikat demikian unggul dalam percaturan internasional pada awal abad ke-21 ini, dua pemikir terkemuka, Henry Kissinger dan Robert Mc Namara, merisaukan peran Amerika dimasa mendatang. Akankah Amerika menjadi pemimpin dunia dalam arti yang luhur, yakni mengajak bangsa-bangsa lain untuk rnenggalang perdamaian dan kemakumuran dengan membagi-bagi berkah ilmu dan teknologi yang diterimanya sebagai keniscayaan sejarah? Ataukah Amerika akan menjadi kemaharajaan, dengan menghalau setiap calon pesaing yang tampil dipentas dunia dengan mengandalkan kekuatan politik, ekonomi dan teknologi militernya?”

Apa yang dirisaukan para pemikir barat ini memang terjadi. AS dengan ide-ide kufurnya, salah satunya Demokrasi, selalu merasa benar sendiri dan menuduh kelompok anti Demokrasi, anti Pluralisme sebagai teroris (fundamentalis). Demokrasi tidak berlaku jika bertentangan dengan kepentingan, faktanya di Negara-Negara ’Maestro Demokrasi’ (AS dan sekutu-sekutunya), Demokrasi hanya dijadikan sebagai salah satu senjata ampuh (manuver politik) untuk menyembunyikan Imperialisme Ideologis  mereka.

  • Presiden AS, George W Bush sendiri dalam pidato kenegaraan, menyatakan: “Jika kita mau melindungi Negara kita dalam jangka panjang, hal yang terbaik yang dilakukan ialah menyebarkan kebebasan dan Demokrasi”*. Sebelumnya,  Bush menekankan pentingnya Demokratisasi Timur Tengah.
  • Richard P. dalam New York Observer edisi 17 September 2001, menulis: “Sungguh, Amerika adalah Imperium Kapitalisme Demokrasi.”
  • Mantan Presiden AS, Georde W. Bush Junior pada tahun 2003 menyatakan: “Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi”.[3] George W. Bush pun dalam “The National Endowment for Democracy” (Kamis 6/11/2003) menyatakan: “Selama kebebasan (freedom) belum tumbuh di Timur Tengah, kawasan itu akan tetap menjadi wilayah stagnan (jumud), peng’ekskpor’ kekerasan, termasuk menjadi tempat penyebaran senjata yang membahayakan negara AS.”[4]
  • Presiden AS Barack Obama yang disambut gembira sebagai pemimpin berwajah baru yang membawa hope (harapan), ternyata tak lebih baik dari pendahulunya George W. Bush Junior, bahkan bisa dikatakan lebih berbahaya sebagai musuh berwajah ramah bagi Islam dan kaum muslimin, dalam kampanyenya ia mendeklarasikan akan menarik sebagian pasukan AS dari Irak, tapi mengirim tambahan pasukan tempur ke Afganistan. Maka kian nyata bahwa Politik Luar Negeri AS di bawah kepemimpinan Obama tetap imperialistic. Dalam sebuah acara yang disponsori Kedutaan Besar Israel di Washington untuk mengagungkan hari deklarasi Negara Israel yang ke-60. Obama menyatakan: “Saya berjanji kepada Anda bahwa saya akan melakukan apapun yang bisa saya lakukan dalam kapasitas apapun untuk tak hanya menjamin keamanan Israel tapi juga menjamin bahwa rakyat Israel bisa maju, makmur dan mewujudkan banyak mimpi yang dibuat 60 tahun lalu.”[5]
  • Obama dalam pidato resminya pun menyatakan: “Saya akan melakukan apapun jika menyangkut keamanan Israel. Saya pikir ini hal yang fundamental. Saya kira ini menyangkut kepentingan AS karena hubungan kami yang istimewa, karena Israel tidak hanya telah membangun demokrasi di wilayah itu (Palestina) tapi juga merupakan sekutu terdekat dan loyal kepada kita.” (Barrack Obama, 2009). Dan dalam pidatonya, Obama bersumpah untuk melindungi rakyat Amerika dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Amerika. Obama mengatakan senjata yang paling ampuh adalah sistem keyakinan Amerika  seperti kebebasan, inilah akan membuat AS aman. []

8-O


[1] Disarikan dari berbagai sumber.

[2] Makalah ini disampaikan pada Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII, mengangkat tema: Penegakan Hukum Dalam Era Pembangunan Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman Dan Hak Asasi Manusia RI, di Denpasar tanggal 14 -18 Juli 2003.

[3] Lihat: Kompas edisi 6/11/2004

[5] Lihat: Menantang Amerika: Menyingkap Imperialisme Amerika di Bawah Obama, Farid Wajdi – Al-Azhar Press; Bogor. Cet. I: 2010.

This entry was posted in Politik.

One comment on “Demokrasi: Alat Imperialisme AS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s