Rasulullah SAW Tidak Berkompromi dalam Penegakkan Hudud (Syari’at Islam)

1341594663219630318

Rasulullah SAW tidak bermusyawarah dan tidak mengambil suara terbanyak (berkompromi) dalam menegakkan hukum syari’at Islam, salah satu contohnya sangat jelas sikap Rasulullah SAW ketika ada di antara sahabat yang meminta pengampunan atas sanksi had.

Dalam hadits shahih dari ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa saat penaklukan Kota Makkah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, orang-orang Quraisy pernah kebingungan menghadapi permasalahan seorang wanita (bangsawan) yang ketahuan mencuri. Maka mereka berkata: “Siapa kiranya yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” maka sebagian mereka mengusulkan: “Siapa lagi kalau bukan Usamah bin Zaid, orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lalu wanita itu dihadapkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Usamah bin Zaid pun mengadukan permasalahannya kepada beliau, tiba-tiba wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berubah menjadi merah seraya bersabda:

أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ

“Apakah kamu hendak meminta syafa’at terhadap sanksi dari Allah (yang telah ditetapkan)?!” [1]

Maka Usamah berkata kepada beliau:

اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ الله

“Mohonkanlah ampunan Allah bagiku wahai Rasulullah.”

Maka pada sore harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan berkhutbah (اختطب), setelah memuji Allah dengan pujian yang layak untuk-Nya, beliau bersabda:

أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Amma Ba’du. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah manakala ada orang yang terpandang (terhormat) dari mereka mencuri, maka merekapun membiarkannya. Namun jika ada orang yang lemah dan hina di antara mereka ketahuan mencuri, maka dengan segera mereka melaksanakan hukuman atasnya. Demi Dzat yang jiwaku berada tangan-Nya, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, sungguh aku sendiri yang akan memotong tangannya.”

Akhirnya beliau memerintahkan terhadap wanita yang mencuri, lalu dipotonglah tangan wanita tersebut.” Yunus berkata; Ibnu Syihab berkata; Urwah berkata; ‘Aisyah berkata: “Setelah peristiwa itu, wanita tersebut bertaubat sungguh-sungguh dan menikah, hingga pada suatu ketika ia datang kepadaku untuk meminta tolong mengajukan permintaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu aku memenuhi permintaannya tersebut.” (HR. Muslim. Lihat pula riwayat-riwayat lainnya dari Imam al-Bukhari, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah dan Imam al-Darimi)[2]

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits serupa di atas (riwayat Imam al-Bukhari) menuturkan:

وَسَبَبُ إِعْظَامِهِمْ ذَلِكَ خَشْيَةُ أَنْ تُقْطَعَ يَدُهَا لِعِلْمِهِمْ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُرَخِّص فِي الْحُدُود ، وَكَانَ قَطْع السَّارِق مَعْلُومًا عِنْدهمْ قَبْل الْإِسْلَام ، وَنَزَلَ الْقُرْآنُ بِقَطْعِ السَّارِق فَاسْتَمَرَّ الْحَال فِيهِ

“Dan penyebab kekhawatiran mereka (orang-orang Quraisy) adalah ketakutan akan dipotongnya tangan wanita ini, karena mereka menyadari bahwa Nabi SAW tidak akan meringankan sanksi hudud. Dan dahulu, sanksi potong tangan bagi pencuri sudah lumrah di antara mereka sebelum turunnya Islam, dan turunlah Al-Qur’an yang mensyari’atkan sanksi potong tangan bagi pencuri, maka sanksi ini tetap berlangsung.”

Dalam hadits yang mulia ini, ada beberapa hal yang menguatkan larangan meminta pengampunan terhadap sanksi ini (termasuk memusyawarahkan apakah dilaksanakan atau tidak):

Pertama, Usamah bin Zaid menyampaikan kasus ini kepada Rasulullah SAW untuk meminta pengampunan. Karena makna kalimat:

(مَنْ يُكَلِّم فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)

“Siapa yang berani mengadukan permasalahan ini kepada Rasûlullâh SAW?”

Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan maknanya:

أَيْ يَشْفَع عِنْده فِيهَا أَنْ لَا تُقْطَعَ إِمَّا عَفْوًا وَإِمَّا بِفِدَاءٍ

“Yakni pengampunan dari Rasulullah SAW terhadap pencurian ini agar tidak disanksi potong tangan apakah dimaafkan atau diganti dengan denda.”

Permintaan yang disampaikan Usamah bin Zaid ini, membuat merah wajah Rasulullah SAW, lantas beliau SAW menjawab:

(أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُود اللَّه)

Apakah engkau hendak meminta keringanan terhadap sanksi hudûd Allâh?!

Dan makna jawaban Rasulullah SAW di atas, meski bernada pertanyaan yakni sebagaimana dijelaskan Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani:

 بِهَمْزَةِ الِاسْتِفْهَام الْإِنْكَارِيّ لِأَنَّهُ كَانَ سَبَقَ لَهُ مَنْعُ الشَّفَاعَةِ فِي الْحَدّ قَبْل ذَلِكَ

Yakni hamzah bernada pertanyaan yang bermakna pengingkaran, karena telah ditetapkan sebelumnya larangan meminta pengampunan terhadap sanksi had.”

Kedua,  Usamah bin Zaid menyadari bahwa perbuatannya tersebut keliru, maka ia berkata:

اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ الله

“Mohonkanlah ampunan bagiku wahai Rasulullah.”

Ketiga, setelah peristiwa tersebut, pada sore harinya Rasulullah SAW berdiri dan berkhutbah dengan khutbah yang sangat kuat dan mendalam, karena makna اختطب dalam hadits di atas adalah:

خَطَبَ وبَالَغَ في الخطبة

“Berkhutbah namun bukan sembarang khutbah karena kuat dan mendalam dalam khutbah tersebut.”

Sebagaimana dituturkan salah seorang guru penulis dari Al-Azhar yang menjelaskan makna اختطب yakni خطبة شديدة (khutbah yang kuat)

Keempat,  Dalam khutbahnya ini Rasulullah SAW mengabarkan penyebab kehancuran kaum-kaum sebelum kaum muslimin adalah tidak adil dalam menegakkan hukum mengundang murka dan siksa Allah SWT. Sebagaimana dituturkan dalam syarh hadits ini:

 سَبَّبَ لهم الهلاك وهؤ غَضَبُ الله وعقابُه

“Penyebab kehancuran mereka adalah kemurkaan dan siksa Allah SWT.”

والله أعلم بالصواب


[1] Lihat: Hudud bagi pencuri berdasarkan QS. al-Mâ’idah [5]: 38 & dirinci al-Sunnah. Dalam penjabarannya, hukuman bagi pencuri itu apakah wajib dipotong tangan atau tidak (dihukum dengan bentuk hukuman lain), setelah hakim mengkaji ‘illat hukumnya (alasan si pencuri melakukan pencurian) dan kadar pencuriannya (dipotong tangan jika ¼ dinar atau lebih = 4 ¼ gram emas murni (hadits Ahmad, Nasa’i, Ibn Majah)).

[2] Lihat pula: ‘Umdatul Ahkaam min Kalaami Khayr Al-Anaam –‘Alayh al-Shalaatu wa al-Salaam-, Al-Hafizh ‘Abdul Ghani bin ‘Abdul Wahid Al-Maqdisi – Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut. Cet.II Tahun 1429 H/2008.

One comment on “Rasulullah SAW Tidak Berkompromi dalam Penegakkan Hudud (Syari’at Islam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s