Menimbang Prinsip Demokrasi “Kedaulatan di Tangan Rakyat (Manusia)” dengan Timbangan Islam

1002214_573049029397683_1279694311_n

الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله. أما بعد

Secara terminologi (ishthilaahi), demokrasi secara lugas ialah Sistem Pemerintahan yang secara konseptual memiliki prinsip dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Rakyat yang berdaulat, rakyatlah yang berkuasa dan berhak mengatur dirinya sendiri. Makna kata ‘Kedaulatan’ itu sendiri ialah “sesuatu yang mengendalikan dan melaksanakan aspirasi”.

Maka, dikenal istilah vox populi vox dei (suara rakyat suara Tuhan). Benar apa yang dijelaskan Syaikh Abu Sayf Jalil ibn Ibrahim al-‘Iraqi:

فصارت الكلمة المركبة من هاتين الكلمتين تعني: حكم الشعب أو سلطة الشعب، وعلى ذلك: فـ “الديمقراطية” هي ذلك النظام من أنظمة الحكم الذي يكون الحكم فيه أو السلطة أو سلطة إصدار القوانين والتشريعات من حق الشعب أو الأمة أو جمهور الناس.

“Maka jadilah frase ini tersusun dari dua kalimat: pemerintahan rakyat atau kedaulatan rakyat, oleh karena itu: Demokrasi merupakan salah satu sistem dari berbagai sistem pemerintahan yang menjadikan kedaulatan atau kedaulatan konstitusional sebagai hak rakyat, umat atau suara mayoritas.”

Syaikh Prof. ‘Abdul Qadim Zallum menyatakan:

والديمقراطية لفظة غربية، واصطلاح غربي يطلق على “حكم الشعب للشعب بتشريع الشعب” فالشعب هو السيد المطلق، وهو صاحب السيادة، يملك زمام أمره، ويمارس إرادته، ويسيرها بنفسه. ولا يُسأل أمام سلطة غير سلطته، وهو الذي يُشرِّعُ الأنظمة والقوانين -باعتباره صاحب السيادة- بواسطة نوابه الذين يختارهم، وينفذ هذه الأنظمة والقوانين التي شرَّعها بواسطة الحكام والقضاة الذين يعيّنهم، والذين يستمدون منه سلطاتهم، باعتباره مصدر السلطات. ولكل فرد من أفراده من الحق ما للآخرين من إيجاد الدولة، ونصب الحكام، وتشريع الأنظمة والقوانين.

“Demokrasi merupakan lafal dan istilah Barat yang digunakan untuk menunjukkan pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat. Rakyat adalah penguasa mutlak dan pemilik kedaulatan, yang berhak mengatur urusannya sendiri, serta melaksanakan dan menjalankan kehendaknya sendiri. Rakyat tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan siapapun, selain kekuasaan rakyat. Rakyat berhak membuat peraturan dan undang-undang sendiri —karena mereka adalah pemilik kedaulatan— melalui para wakil rakyat yang mereka pilih. Rakyat berhak pula menerapkan peraturan dan undang-undang yang telah mereka buat, melalui para penguasa dan hakim yang mereka pilih dan keduanya mengambil alih kekuasaan dari rakyat, karena rakyat adalah sumber kekuasaan. Setiap individu rakyat —sebagaimana individu lainnya— berhak menyelenggarakan negara, mengangkat penguasa, serta membuat peraturan dan undang-undang.”

Syaikh Hatim bin Hasan al-Dib ketika menjelaskan “min mabaadii’ al-diimuqraathiyyah” (diantara prinsip-prinsip demokrasi), ia menuturkan:

مبدأ سيادة الشعب: ومعناه أن الشعب هو مصدر السلطات، وعليه فما يراه الشعب حلالاً فهو حلال ولو كان حرامًا بالكتاب والسنة وإجماع الأمة مثل زواج الشواذ وشرب الخمر وبيعها، والتعامل بالربا.

“Prinsip kedaulatan rakyat: maknanya bahwa rakyat adalah sumber berbagai kedaulatan (otoritas), oleh karena itu apa-apa yang dipandang boleh oleh rakyat maka diperbolehkan (dilegalkan) meskipun sebenarnya diharamkan berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah dan kesepakatan umat ini, misalnya legalisasi pernikahan sejenis, mengkonsumsi khamr dan memperjualbelikannya, transaksi riba.” (Lihat: Maadzaa Ta’rifu ‘an Haadzihi al-Mushthalahaat karya Syaikh Hatim bin Hasan al-Dib)

Aspek terpenting dalam Demokrasi, adalah ketetapan bahwa pihak yang berhak membuat hukum (al-Musyarri’) adalah manusia itu sendiri, bukan Al-Khaliq. Konsep ini bisa diterima bagi penga­nut ide pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme), karena pemisahan agama dari kehidupan itu berarti memberikan otoritas menetapkan hukum kepada manusia, bukan kepada Al-Khaliq. (Lihat: Al-Hamlah Al-Amîrikiyyah lil Qadhâ-i ‘Alâ Al-Islâm).

Lantas bagaimana dengan Islam dengan kesempurnaannya yang diturunkan Allah al-‘Aziiz?

Setelah memahami fakta Demokrasi bahwa ia lahir dari filsafat Yunani; yang menyatakan bahwa rakyat/manusia yang berdaulat (termasuk berdaulat dalam membuat hukum (fungsi legislasi) yang diterapkan dalam sistem parlementer), bertentangan secara diametral dengan tuntutan akidah dan syari’at Islam yang menjadikan kedaulatan di tangan Allah (al-siyaadah lisy syaari’).

Konsep kedaulatan manusia ini benar-benar terlaksana di negara-negara Demokratis dengan adanya sistem parlementer (lembaga legislatif) yang merumuskan segala macam perundang-undangan, sekaligus sebagai turunan dari konsep Trias Politica yang memisahkan kekuasaan pada tiga aspek: kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif dan kekuasaan yudikatif. Termasuk Indonesia dengan keberadaan lembaga legislatif (DPR) yang merumuskan berbagai perundang-undangan, diantara buktinya Undang-Undang Perbankan yang mengakomodasi riba, Undang-Undang Migas yang mengakomodasi privatisasi sektor publik, dan berbagai perundang-undangan lainnya yang bertentangan dengan hukum Allah. Lantas, bagaimana Islam memandang permasalahan ini? Tentu wajib ditimbang berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah dengan pemahaman yang benar.

Kedaulatan dalam Pandangan Islam Hanya Milik Allah al-‘Aziiz

Diantara asas politik Islam –yang membedakannya dengan sistem Demokrasi- adalah menjadikan kedaulatan di tangan syara’, artinya menjadikan aturan Islam sebagai acuan menggelar kehidupan bermasyarakat dan acuan hukum/peraturan dalam segala aspek kehidupan, halal-haram dari sudut pandang syari’at Islam sebagai standar, bukan akal (ra’yu) manusia yang serba terbatas. Hal ini berdasarkan tuntutan Allah yang qath’iy, menegaskan dalam banyak ayat-ayat-Nya yang mulia serta melalui lisan Rasul-Nya dalam al-ahaadiits al-syariifah (penulis rinci dalam pembahasan selanjutnya) dan ditunjukkan secara marwiy dalam kehidupan masyarakat Islam (al-Dawlah al-Islaamiyyah) di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. Salah satu hujjah argumentasi syar’i kedaulatan milik Allah al-‘Aziiz ditegaskan dalam firman-Nya:

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ الْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

 “…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (Qs. Al-An’aam [6]: 57)

Ayat ini secara qath’iy (tegas, jelas) menunjukkan bahwa Allah yang berhak membuat hukum. Dalam kitab tafsir Fath al-Qadhiir, Imam al-Syawkani menjelaskan:

{ إِنِ الحكم إِلاَّ الله } أي ما الحكم في كل شيء إلا لله سبحانه… والمراد : الحكم الفاصل بين الحق والباطل.

“[Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah] yakni tidak ada hukum dalam hal apapun kecuali hak Allah SWT…. dan maksudnya: Hukum yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.”

Syaikh Abu Sayf Jalil ibn Ibrahim al-‘Iraqi menuturkan:

أن قولهم الحكم للشعب وأن الشعب هو مصدر التشريع هو بحد ذاته كفر بالله العظيم ، وإلا من منح الشعب هذه السلطة ، ومن الذي جعله مشرعاً يشرع لنفسه ما يشاء ، وأين ذهبت شريعة الله التي أقسم الله بذاته المقدسة أنه لا يؤمن من لم يتحاكم إليها عن رضى وتسليم قال تعالى: فلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً [النساء : 65].

“Pernyataan mereka (penganut demokrasi) bahwa kedaulatan untuk rakyat dan bahwa rakyat adalah sumber hukum, pada asalnya sudah merupakan kekufuran kepada Allah Yang Maha Agung, jika tidak siapa yang memberikan rakyat kedaulatan ini, dan siapa yang menjadikannya pembuat hukum yang mengatur dirinya sendiri sesuai kehendaknya sendiri, lantas kemana syari’at Allah dimana Allah telah bersumpah dengan Dzat-Nya yang Maha Suci bahwa tidak beriman orang yang tidak mau berhukum dengan syari’at-Nya dengan keridhaan dan berserah diri. Allah SWT berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. al-Nisaa’: 65)

Syaikh Dr. Shalah ash-Shawiy menuturkan:

لمن الحكم اليوم؟ سؤال تتقرر في ضوء الإجابة عليه هوية البلاد والعباد. لقد أجاب عنه أهل الإيمان في كل زمان ومكان بقوله تعالى: إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ﴿يوسف: ٤٠﴾ فكانوا بذلك عبادًا لله، واستحقوا أن يثبت لهم بذلك عقد الإسلام.

“Siapa yang berhak membuat hukum saat ini?” Pertanyaan berulang penduduk negeri-negeri dan para hamba dengan jawaban yang sebenarnya terang benderang. Ahlul Iman menjawab pertanyaan ini kapanpun dimanapun dengan firman Allah SWT: “Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia.” Karena mereka adalah hamba di hadapan Allah, dan mereka sudah selayaknya menerima ketetapan islam tersebut.”[1]

Berbeda dengan orang beriman, para pengikut hawa nafsu menjawab sebagaimana dituturkan Syaikh Dr. Shalah al-Shawiy:

وأجاب عنه أهل الضلالة بإجابات شتى، تلتقي جميعًا حول تحكيم الهوى، والخصومة مع الوحي، وفصل الدولة عن الدين.

“Para pengikut hawa nafsu menjawab pertanyaan ini dengan jawaban beragam, namun mereka semua bersekutu pada poin berhukum dengan hawa nafsu, permusuhan terhadap wahyu, dan pemisahan negara dari agama.”

Allah SWT berfirman:

فلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa berat dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. al-Nisaa’: 65)

Al-Hafizh al-Imam al-Thabari menafsirkan ayat ini:

“فلا” فليس الأمر كما يزعمون: أنهم يؤمنون بما أنزل إليك، وهم يتحاكمون إلى الطاغوت، ويصدّون عنك إذا دعوا إليك يا محمد = واستأنف القسم جل ذكره فقال:”وربك”، يا محمد =”لا يؤمنون”، أي: لا يصدقون بي وبك وبما أنزل إليك =”حتى يحكموك فيما شجر بينهم”، يقول: حتى يجعلوك حكمًا بينهم فيما اختلط بينهم من أمورهم

“Frase fa laa (dan tidaklah) artinya tidak seperti apa yang mereka klaim: bahwa mereka beriman terhadap apa yang diturunkan kepadamu (al-Qur’an) tapi berhukum kepada thaghut-thaghut, dan memalingkan diri darimu ketika mereka menyerumu wahai Muhammad; kemudian dipertegas sumpah dalam firman-Nya yang mulia: “Demi Rabb-mu” wahai Muhammad; “mereka tidak beriman” yakni tidak membenarkan-Ku, dirimu dan terhadap apa yang diwahyukan kepadamu; “hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan” , artinya: “hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perselisihan di antara mereka dalam berbagai urusan.”[2]

“ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجًا مما قضيت”، يقول: لا يجدوا في أنفسهم ضيقًا مما قضيت. وإنما معناه: ثم لا تحرَج أنفسهم مما قضيت = أي: لا تأثم بإنكارها ما قضيتَ، وشكّها في طاعتك، وأن الذي قضيت به بينهم حقٌّ لا يجوز لهم خلافه.

“Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan”, yakni: tidak ada kesempitan dalam diri mereka terhadap keputusanmu. Dan maknanya: kemudian tidak ada keterpaksaan dalam diri mereka menerima apa yang engkau putuskan. Yakni tidak berbuat dosa dengan mengingkari apa yang engkau putuskan, dan keputusanmu benar sehingga tidak diperbolehkan bagi mereka menyelisihinya.”

“ويسلموا تسليما”، يقول: ويسلّموا لقضائك وحكمك، إذعانًا منهم بالطاعة، وإقرارًا لك بالنبوة تسليمًا.

“Dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati ” artinya: dan mereka menerima keputusan dan hukum darimu (Muhammad), ketundukan mereka demi keta’atan, dan sebagai pengakuan terhadap dirimu yang mengemban nubuwwah dengan sepenuhnya.”

Islam pun memandang segala bentuk perundang-undangan dalam negara; mencakup Undang-Undang Dasar (dustûr) & perundang-undangan (qânûn) harus terpancar dari akidah Islam. Maksudnya, harus bersumber dari al-Qur’ân, al-Sunnah, Ijmâ’ Sahabat, Qiyas Syar’iyyah.[3] Pemahaman ini ditegaskan Imam Taqiyuddin berdasarkan banyak dalil, namun dua diantaranya:

Pertama, karena ada dalil (dalil qath’iy) yang mewajibkan umat Islam berhukum dengan hukum yang diturunkan Allâh (QS. al-Nisâ’ [4]: 65, QS. al-Mâ’idah [5]: 48)

Kedua, karena ada dalil yang melarang tegas berhukum dengan selain hukum Allâh (QS. al-Mâ’idah [5]: 44). Al-Qadhi al-‘Allamah Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan tafsir ayat tersebut: “Apabila seorang muslim menerapkan selain hukum Allâh, ia menjadi kafir (murtad) jika ia ber-i’tiqâd (keyakinan secara pasti) akan kebenaran selain hukum Allâh itu dan ber-i’tiqâd pula bahwa hukum Islam tidak layak diterapkan. Jika muslim tersebut tidak ber-i’tiqâd seperti itu, ia tidak murtad tapi berdosa.”[4]

Kewajiban Berhukum dengan Hukum Allah & Larangan Berhukum dengan Selain Hukum-Nya

Demokrasi dengan prinsip kedaulatan di tangan rakyat/manusia, memberikan kewenangan bagi manusia untuk membuat hukum, maka kita temukan riba yang diharamkan secara keras oleh Allah SWT bisa dilegalkan dalam bentuk perundang-undangan ketika manusia dalam sistem Demokrasi –melalui perwakilan di parlemen legislatif- menyepakatinya, begitu pula legalisasi khamr dengan beragam jenis dan namanya. Padahal, Allâh SWT mewajibkan kita melaksanakan syari’at-Nya (al-Syarii’ah al-Islaamiyyah) dalam setiap aspek kehidupan (kâffah). Poin ini sangat jelas menunjukkan perselisihan antara konsep politik Demokrasi thaghut dengan konsep politik Islam (al-siyaasay al-syar’iyyah), lantas mengapa masih ada di antara kaum muslimin yang berdalih masih membenarkan Demokrasi? Allâh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah [2]: 208)

Imam al-Raziy dalam tafsir-nya menjelaskan kalimat “udkhuluu fii al-silmi kaaffah” yakni:

أي في شرائع الإسلام كافة، ولا يتمسكوا بشيء من أحكام التوراة اعتقادا له وعملا به، لأنها صارت منسوخة

“Yakni masuklah ke dalam aturan-aturan syari’at Islam secara menyeluruh, dan jangan berpedoman terhadap sesuatu pun dari hukum-hukum taurat secara akidah maupun amal, karena syari’atnya sudah dihapus (diganti oleh syari’at Islam-pen.).”

Al-Hafizh Ibn Katsir menyatakan dalam tafsirnya:

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.

“Allâh Ta’aalaa berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk membenarkan Rasul-Nya: mengambil seluruh ikatan dan syari’at Islam, mengamalkan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan (dengan segenap kemampuan-pen.).”

Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairy ketika menjelaskan ayat tersebut berkata: “Atas dasar itu, dapatkah Islam menerima orang-orang yang mengaku muslim tetapi berkata: “…….Saya menerima Islam, tetapi Saya tidak setuju dengan syari’at Islam yang menetapkan bahwa hak wanita dalam warisan adalah setengah dari bagian laki-laki.” Atau “Saya mengakui kebenaran Islam, namun saya menolak hukum potong tangan bagi pencuri dan rajam bagi pezina?” Jawabannya adalah tidak. Islam selamanya tidak akan menerima orang-orang seperti itu. Mereka adalah orang-orang kafir yang akan menghuni neraka selama-lamanya apabila ketika mati belum sempat bertaubat dan masih dalam kekafirannya.”[5]

Meski sebab turunnya ayat ini berkaitan dengan kitab Taurat, namun ayat ini berlaku umum, mencakup larangan terhadap setiap ajaran di luar Islam, termasuk ketika orang-orang beriman dihadapkan dengan ajaran dan sistem kufur Demokrasi, sesuai kaidah syar’iyyah yang masyhur:

الْعِبْرَةُ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ

“Berlakunya hukum dilihat dari umumnya lafadz, bukan khususnya sebab.”[6]

Maka tidak mengherankan jika Imam al-Raziy pun menegaskan:

ادخلوا في جميع شرائع الإسلام اعتقادا وعملا.

“Masuklah kalian ke dalam seluruh aturan-aturan Islam (al-syarii’ah al-islaamiyyah) baik dari sisi keyakinan maupun amal.”

Di sisi lain, frase “khuthuwaat al-syaithaan” dijelaskan para ahli tafsir, di antaranya al-Hafizh al-Imam al-Qurthubi yang mengungkapkan:

(خطوات الشيطان) وقال مقاتل: استأذن عبدالله بن سلام وأصحابه بأن يقرؤوا التوراة في الصلاة، وأن يعملوا ببعض ما في التوراة، فنزلت. “ولا تتبعوا خطوات الشيطان” فإن اتباع السنة أولى بعد ما بعث محمد صلى الله عليه وسلم من خطوات الشيطان. وقيل: لا تسلكوا الطريق الذي يدعوكم إليه الشيطان. “إنه لكم عدو مبين” ظاهر العداوة

“(Langkah-langkah syaithan): Muqatil berkata: ‘Abdullah bin ‘Abdissalam dan sahabat-sahabatnya meminta izin (kepada Rasûlullâh SAW) untuk membaca taurat dalam shalat dan mengamalkan sebagian isi taurat, maka turunlah ayat: “dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah syaithan”. Maka sesungguhnya mengikuti sunnah yang benar (wajib-pen.) diikuti setelah diutusnya Muhammad SAW daripada mengikuti langkah-langkah syaithan. Dan dikatakan: “Janganlah kalian menempuh jalan yang diserukan syaithan kepada kalian.” (Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu) yakni makhluk yang menampakkan permusuhan.”[7]

Dalam banyak kitab tafsir, para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa al-Baqarah ayat 208 turun kepada segolongan ahli kitab (yahudi) yang masuk islam, namun mereka hendak mengagungkan sebagian syi’ar dan syari’at taurat. Maka turun ayat yang melarang mengikuti langkah-langkah syaithan dengan mengambil sebagian syari’at taurat yang sudah di nasakh (dihapus oleh syari’at islam) yang berarti meninggalkan sebagian syari’at islam. Di sisi lain taurat adalah kitab samawi yang Allah turunkan kepada Nabi Musa ‘alayhissalam yang wajib kita imani keberadaannya. Lantas bagaimana dengan ‘syari’at’ demokrasi yang jelas-jelas bersumber dari pemikiran kaum kuffar yang mengkufuri ayat-ayat Allah??!

Diperkuat dengan riwayat Rasûlullâh SAW yang menasihati ‘Umar bin al-Khaththab r.a. ketika ia memegang lembaran ‘Taurat’.

أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى -عليه السلام- كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Bukankah isinya hanya orang-orang yang jahil Wahai Ibn al-Khaththab? Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya datang kepada kalian dengan membawa cahaya yang terang. Janganlah kalian bertanya kepada mereka (Yahudi) tentang sesuatu! Bagaimana jika mereka mengabari kalian kebenaran lalu kalian mendustakannya atau mereka (menyampaikan) kebatilan lalu kalian membenarkannya?. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa u hidup maka tidak ada jalan lain baginya selain mengikutiku.” (HR. Ahmad no. 14623 dari Jabir bin ‘Abdullah r.a.)

لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  دَخَلَ جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمْ

“Kamu pasti akan mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun kamu pasti akan mengikutinya.” (HR. Hâkim dari Ibn al-‘Abbas)[8]

Ibn ‘Abbas r.a., sahabat sekaligus saudara sepupu Rasûlullâhshallallaahu ‘alayhi wa sallam– yang dikenal sebagai ahli tafsir dan ahli fikih berkata: “Bagaimana mungkin kamu bisa bertanya kepada Ahli Kitab mengenai suatu perkara, sedangkan kitab yang ada di sisimu yang diturunkan kepada Rasûlullâh ini lebih baru. Bacalah itu saja dan tak perlu ditambah-tambah.”[9]

Sistem politik Demokrasi jelas sesat dengan memberikan kewenangan kepada manusia (kedaulatan rakyat) untuk mengganti hukum-hukum syari’at Islam dengan hukum-hukum thaghut.

Hadits di atas menunjukkan celaan yang tegas (jaazimatun)[10], yang menunjukkan keharaman mengambil dan mengikuti kekhasan orang kafir, sekaligus menunjukkan bahwa Islam mempunyai ajaran lengkap yang unik. Sedangkan pernyataan Ibn ‘Abbas t di atas, menjelaskan kelengkapan al-Qur’ân sehingga sumber lain selain Islam tidak diperlukan lagi. Islam memiliki konsep politik yang khas (al-siyaasah al-syar’iyyah) yang berbeda dengan konsep politik Demokrasi.

Para ulama’ sepakat bahwa berhukum dengan hukum kufur dilarang keras oleh Dinul Islam, berdasarkan nash-nash yang tegas (nushuushun qath’iyyatun). Wasilah menuju yang haram adalah haram pula. Hukum ini berlaku baik di Negara Islam (Dâr al-Islâm) maupun Negara Kufur (Dâr al-kufr). Ketika al-Qur’ân menyebut orang Yahudi dan Nasrani menjadikan pendeta-pendeta mereka sebagai ‘arbâb’ (QS. al-Tawbah: 31), Adi bin Hatim berkata: “Bukankah mereka tidak menyembah pendeta dan rahib-rahib mereka?” Rasûlullâh SAW pun menegaskan: “Tapi mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Lalu mereka, orang Nashrani dan Yahudi, mengikuti mereka, maka itulah (pengertian) bahwa mereka beribadah pada pendeta dan rahib mereka.”[11]

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allâh, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allâh kepadamu.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 49)

Ayat di atas, begitu pula QS. al-Mâ’idah [5]: 48, secara tersurat (tekstual/manthûq) memerintahkan Rasul untuk menghukumi dengan apa yang diturunkan Allâh SWT. Kata mâ pada kalimat mâ anzala Allâh merupakan lafazh ‘âm (umum). Maka ayat di atas bermakna perintah untuk menghukumi sesuai dengan apa-apa yang diturunkan Allâh (syari’at Islam) dan larangan untuk mengikuti hukum atau ajaran yang lain, karena yang lain berasal dari hawa nafsu, yang bisa memalingkan dari apa yang diturunkan Allâh SWT. Maknanya; memalingkan kamu dari sebagian al-Qur’ân, meski amat sepele, dengan menggambarkan kebatilan sebagai kebenaran.[12]

Dalam Tafsir al-Jalalayn disebutkan ayyaftinûka yaitu yudhillûka (menyesatkan kamu (Muhammad SAW)).

Perintah di atas pun berlaku bagi umat Rasulullaah SAW, karena berlaku kaidah syar’iyyah:

خِطَابُ الرَّسُوْلِ خِطَابٌ ِلأُمَّتِهِ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيْلٌ يُخَصِّصُ بِهِ

“Seruan kepada Rasul merupakan seruan kepada umatnya selama tidak ada dalil yang mengkhususkan kepada Rasul.”

Di sisi lain, tidak ada dalil yang mengkhususkan seruan Allâh –Ta’aalaa– itu hanya untuk Rasul. Diperkuat banyaknya qarînah (indikasi) yang mengindikasikan bahwa perintah tersebut adalah perintah yang tegas.

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allâh, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 45)

Al-‘Allamah Muhammad Nawawi al-Jawi menjelaskan tentang berbagai kemaksiatan, diantaranya:

والحكم بغير حكم الله لقوله تعالى: وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ. وقوله تعالى: فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ.

“Berhukum dengan selain hukum Allah berdasarkan firman-Nya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allâh” dan firman-Nya: “Dan hukumilah mereka dengan ‘adil.[13]

والله أعلم بالصواب


[1] Lihat: Nazhriyyatus-Siyaadah wa Atsaruhaa ‘alaa Syar’iyyatul Anzhimah al-Wadh’iyyah, Syaikh Dr. Shilah al-Shawiy.

[2] Lihat: Jaami’ al-Bayaan fii Ta’wiil al-Qur’aan, al-Hafizh al-Imam Abu Ja’far al-Thabari (224-310 H)

[3] Lihat: Muqaddimah al-Dustûr, hlm. 8.

[4] Ibid., hlm. 8.

[5] Lihat: Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy dalam Nidâ’âtu al-Rahmân li Ahli al-Imân.

[6] Kaidah ini merupakan kaidah yang diistinbath dari dalil-dalil syara’, sudah disepakati oleh jumhur ‘ulama.

[7] Tafsiir al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’aan, Imam al-Qurthubi.

[8] Dalam al-Jâmi’ al-Shaghîr. Lihat pula shahih al-Bukhari & Fath-al-Baariy (13/300) shahih Muslim (4/2054).

[9] Majalah al-Wa’yi, al-Usus hlm. 6 dinukil dari Islam Politik Spiritual hlm. 6.

[10] Lihat: penjelasan ilmu ushûl al-fiqh tentang ini, cukup lengkap dibahas dalam kitab Taysîr al-Wushûl Ilâ al-Ushûl karya al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil.

[11] Lihat: Tafsîr Ibn Katsîr (II/66).

[12] Lihat: Tafsîr Abu Syu’ud (II/251).

[13] Lihat: Mirqaatu Shu’uud al-Tashdiiq fii Syarh Sullam al-Tawfiiq, Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Syafi’iy – Dar al-Kutub al-Islamiyyah.

One comment on “Menimbang Prinsip Demokrasi “Kedaulatan di Tangan Rakyat (Manusia)” dengan Timbangan Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s