Hukum Mengungkapkan Kesusahan atau Rasa Sakit yang Diderita Ketika Sakit

Cover Buku-1

(Bedah Buku “Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia”)

Di antara terapi psikis yang mendukung kesembuhan orang yang sakit ialah meringankan bebannya dengan mendengarkan segala keluhan-keluhannya (baca: tanpa maksud marah, tidak ridha’, mengeluhkan Allâh SWT), terapi ini dalam ilmu psikologi disebut dengan istilah ventilation. Dan Islam tidak melarang seseorang mengungkapkan penyakitnya kepada thabîb (dokter) untuk kepentingan pengobatan atau menjawab pertanyaan orang tentang penyakit yang dideritanya, diawali dengan memuji Allâh.

Dari ‘Abdullah, dia berkata: ‘Saya pernah menjenguk Rasûlullâh SAW ketika beliau sedang menderita sakit, lalu aku berkata: “Wahai Rasûlullâh, sepertinya anda sedang merasakan sakit yang amat berat” beliau bersabda:

أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ

“Benar, rasa sakit yang menimpaku ini sama seperti rasa sakit yang menimpa dua orang dari kalian.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Al-Hafizh Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani berkata: “Para ulama telah bersepakat, bahwa memberitahukan penyakit (yang diderita-pen.) kepada teman atau thabîb bukan perbuatan dosa.”

Imam Ahmad selalu memuji Allâh terlebih dahulu, sesuai dengan kabar dari Ibn Mas’ud: “Jika bersyukur terlebih dahulu sebelum mengeluh, maka tak dianggap sebagai keluhan.”[1] Dan mengadukan kesusahan atau penyakit hanya kepada Allâh adalah jalan terbaik. Dimana seorang hamba akan bermunajat meminta pertolongan-Nya.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah mengungkapkan: “Pemberitahuan terhadap sesama makhluk mengenai keadaan orang yang sakit untuk memberikan pertolongan yang berkaitan dengan meniadakan penderitaannya, maka hal itu bukan lah perbuatan tercela yang menghapus pahala kesabaran, misalnya memberikan keterangan kepada pemberi nasihat, memberikan keterangan penyakit kepada dokter sebelum pemeriksaan., dan lain sebagainya. Telah kita ketahui bahwa Rasûlullâh SAW apabila menjenguk orang yang sakit selalu bertanya tentang keadaannya, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu (bagaimana keadaanmu)?” [2]

Imam Ibn Qayyim pun berkata: “Mengeluh pada Allâh SWT tidak menghilangkan pahala kesabaran. Nabi Ya’qub ‘Alayhissalaam pun mengeluh (pada Allâh SWT). Padahal, dirinya telah berjanji dengan kesabaran yang baik dan seorang nabi tidak mungkin mengingkari janjinya.”

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ya’qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanya kepada Allâh aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allâh apa yang kamu tiada mengetahuinya.” (QS. Yûsuf [12]: 86)

Begitu pula apa yang dilakukan Nabi Ayyub ‘Alayhissalaam:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabbnya: “(Ya Rabb-ku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 83)

Di sisi lain, berbeda statusnya dengan orang sakit yang mengeluhkan penyakit karena kesal, marah dan tidak ridha’. Imam Ibn Qayyim berujar: “Tak termasuk mengeluhkan Allâh, jika orang yang sakit memuji-Nya, kemudian ia menceritakan penyakit yang dideritanya. Adapun jika menceritakan penyakitnya itu karena kekesalan, kemarahan, maka hal itu termasuk mengadukan Allâh atau tidak rela terhadap keputusan-Nya.”

Dan alangkah baiknya apabila momen menjenguk orang yang sakit dimanfaatkan sebaik-baiknya, misalnya terapis ruqyah memanfaatkannya untuk menjelaskan berbagai hal terkait ruqyah syar’iyyah, akidah Islam dan pemahaman Islam seputar perdukunan, sihir, ruqyah syirkiyyah dan sihriyyah, sehingga meyakinkan pasien pada ruqyah syar’iyyah dan menjauhi kemaksiatan dan ruqyah-ruqyah batil.

Syaikh Ibrahim ‘Abd al-‘Alim berpesan: “Dianjurkan bagi terapis untuk memberikan kesempatan kepada korban (pasien-pen.) untuk perlahan-lahan tanpa terburu-buru menceritakan keluhan-keluhan penyakitnya. Dan hendaklah ia mendengarkan seluruh hal-hal kecil dan besar keluhan korban, meskipun hal itu akan memakan waktu. Ini dianggap sebagai bagian dasar dan penting dalam mengobati korban gangguan jin dan sihir.”

Syaikh Abdul ‘Azhim: “Di antara cara pengobatan yang baik dan lembut adalah selalu memberi semangat kepada orang yang sakit dan memperkokoh keyakinannya… Membuat orang yang sakit menjadi senang mempunyai pengaruh yang sangat menakjubkan dalam menyembuhkan atau meringankan penyakitnya.”

Ibnu Majah telah meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudriy r.a., ia berkata bahwa Rasûlullâh SAW bersabda:

إِذَا دَخَلْتُمْ عَلَى الْمَرِيضِ فَنَفِّسُوا لَهُ فِي الْأَجَلِ فَإِنَّ ذَلِكَ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَهُوَ يَطِيبُ بِنَفْسِ الْمَرِيضِ

“Apabila kalian menjenguk orang sakit maka berilah ia semangat dalam menghadapi ajal, meskipun itu tidak dapat menolak sesuatu tetapi akan membuat jiwa yang sakit menjadi baik.” (HR. Ibnu Majah no. 1428)


[1] Lihat: Anîs al-Marîdh, Hamud bin ‘Abdullah al-Mathar.

[2] Lihat: Anîs al-Marîdh, Hamud bin ‘Abdullah al-Mathar.

2 comments on “Hukum Mengungkapkan Kesusahan atau Rasa Sakit yang Diderita Ketika Sakit

  1. Najemstuff mengatakan:

    […] Mas’ud:“Jika bersyukur terlebih dahulu sebelum mengeluh, maka tak dianggap sebagai keluhan.”[1] Dan mengadukan kesusahan atau penyakit hanya kepada Allâh adalah jalan terbaik. Dimana seorang […]

    Suka

  2. […] Hukum Mengungkapkan Kesusahan atau Rasa Sakit yang Diderita Ketika Sakit […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s