Penjelasan al-‘Allamah al-Imam al-Nawawi Tentang Perincian Ghibah (Part. I)

Kajian Kitab al-Adzkaar al-Nawawiyyah lil Imaam al-Nawawi –rahimahullaah-

Penerjemah: Irfan Abu Mohammed Naveed

Akhlak

Ghibah Yang Diharamkan Syari’ah

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

QS. Al-Hujuraat [49]: 12

Mengghibah sesama muslim -tanpa ada alasan syar’i- dicela dengan celaan yang buruk oleh Allah ‘Azza wa Jalla yakni (أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ) yang wallaahu a’lam bi muraadihi –diserupakan dengan memakan daging bangkai saudaranya“, wal ‘iyaadzu billaah. Dalam hadits shahih:

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa ‘ala aalihi wa sallam– bersabda: “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau: “Lalu bagaimana jika kenyataan yang ada pada diri saudara saya itu sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda: “Jika apa yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataannya maka engkau telah mengghibahnya. Dan jika ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (buhtan/ fitnah).” (HR. Muslim).

Apa yang tidak disukainya berupa keburukan, ‘aib atau kekhilafannya.

Penjelasan Al-Hafizh An-Nawawi

Al-Hafizh an-Nawawi mendefinisikan ghiibah:

الغيبة: فهي ذكرُك الإِنسانَ بما فيه مما يكره، سواء كان في بدنه أو دينه أو دنياه، أو نفسه أو خَلقه أو خُلقه، أو ماله أو ولده أو والده، أو زوجه أو خادمه أو مملوكه، أو عمامته أو ثوبه، أو مشيته وحركته وبشاشته، وخلاعته وعبوسه وطلاقته، أو غير ذلك مما يتعلق به، سواء ذكرته بلفظك أو كتابك، أو رمزتَ أو أشرتَ إليه بعينك أو يدك أو رأسك أو نحو ذلك

“Adapun ghiibah adalah ungkapan dirimu tentang orang lain pada hal yang dibencinya, sama saja apakah berkaitan dengan fisiknya, agamanya, kehidupan dunianya, dirinya, penciptaannya, akhlaknya, hartanya, anaknya, orangtuanya, istrinya, pembantunya, harta benda miliknya, penutup kepalanya, pakaiannya, caranya berjalan, gerak tubuhnya, rona wajah kebahagiaannya, sikapnya yang berlebihan, rona wajah cemberutnya, dan kecendrungannya, atau pada perkara-perkara lainnya yang berkaitan dengannya, sama saja engkau menyebutkannya dengan lisan, tulisan, simbol, atau isyarat dengan mata, tangan, kepala atau dengan cara lainnya.” (Al-Adzkaar An-Nawawiyyah,Kairo: Dar al-Hadits. Hlm. 315)

Pengecualian dari Ghibah yang Diharamkan dalam Pandangan Al-Hafizh An-Nawawi

بابُ بَيانِ ما يُبَاحُ مِن الغِيبَة

اعلم أنَّ الغيبةَ وإن كانت محرّمة فإنها تُباح في أحوال للمصلحة، والمُجوِّزُ لهَا غرض صحيح شرعي لا يمكن الوصولُ إليه إلا بها، وهو أحد ستة أسباب‏:

Penjelasan tentang Ghibah yang Diperbolehkan

Ketahuilah bahwa ghibah meski pada asalnya diharamkan, sesungguhnya boleh pada kasus-kasus untuk mewujudkan kemaslahatan, dan kebolehan ini harus dilandasi tujuan yang benar dan syar’i yang tidak mungkin dicapai kecuali dengan mengghibah. Diantaranya dalam enam sebab-sebab berikut ini:

الأوّل‏:‏ التظلم، فيجوز للمظلوم أن يتظلَّم إلى السلطان والقاضي وغيرهما ممّن له ولاية أو له قدرة على إنصافه من ظالمه فيذكرُ أن فلاناً ظلمني وفعل بي كذا وأخذ لي كذا، ونحو ذلك‏.

Sebab Pertama: terzhalimi, maka boleh bagi orang yang dizhalimi melaporkan kezhaliman (orang yang zhalim) kepada penguasa, hakim atau kepada selain keduanya yang memiliki kewenangan dan kekuasaan‏ untuk menegakkan keadilan dari orang yang menzhaliminya. Misalnya ia mengatakan bahwa si fulan telah menzhalimi aku dan telah melakukan “begini” dan merampas “ini” dariku, dan lain sebagainya.

الثاني‏:‏ الاستعانة على تغيير المنكر وردّ العاصي إلى الصواب، فيقول لمن يرجو قدرته على إزالة المنكر‏:‏ فلان يعملُ كذا فازجرْه عنه ونحو ذلك، ويكون مقصوده التوسل إلى إزالة المنكر، فإن لم يقصد ذلك كان حراماً‏.‏

Sebab Kedua: Meminta pertolongan untuk mengubah kemungkaran dan mendorong orang yang bermaksiat untuk kembali kepada kebenaran. Misalnya ia berkata kepada orang yang diharapkan mampu untuk menghilangkan kemungkaran: si fulan melakukan “begini” maka cegahlah si fulan dari perbuatan itu, dan perkataan yang semisalnya.

الثالث‏:‏ الاستفتاء، بأن يقولَ للمفتي‏:‏ ظلمني أبي أو أخي أو فلان بكذا، فهل له ذلك أم لا‏؟‏ وما طريقي في الخلاص منه وتحصيل حقّي ودفع الظلم عني‏؟‏ ونحو ذلك‏.‏

Sebab Ketiga: Meminta fatwa, dengan mengatakan kepada seorang ahli fatwa: bapakku atau saudaraku atau seseorang telah menzhalimiku dengan berbuat ‘’begini”, maka apakah ada solusi untuk mengatasinya atau tidak? Karena aku tidak memiliki solusi untuk mengatasinya dan mendapatkan kembali hakku serta menolak kezhalimannya dariku? Dan perkataan yang semisalnya.

وكذلك قوله‏:‏ زوجتي تفعلُ معي كذا، أو زوجي يفعلُ كذا ونحو ذلك، فهذا جائز للحاجة، ولكن الأحوط أن يقول‏:‏ ما تقولُ في رجل كان من أمره كذا، أو في زوج أو زوجة تفعلُ كذا، ونحو ذلك، فإنه يحصل به الغرض من غير تعيين، ومع ذلك فالتعيين جائز لحديث هند الذي سنذكره إن شاء اللّه تعالى وقولُها‏:‏ يا رسول اللّه‏!‏ إن أبا سفيانَ رجلٌ شحيح‏.‏‏.‏ الحديث‏.‏ ولم ينهها رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم‏.‏

Dan juga pernyataan: istriku melakukan “ini” kepadaku, atau suamiku melakukan “ini” kepadaku atau perkataan yang semisalnya. Maka perkataan semacam ini diperbolehkan jika memang dibutuhkan, akan tetapi sebagai bentuk kehati-hatian, maka: jangan engkau sebutkan orang tertentu dengan perbuatannya “begini”, atau suami/ istri berbuat “begini” dan yang semisalnya, jika perkataan seperti ini bisa menyampaikan pada maksud tanpa harus menyebutkan pelakunya dengan jelas. Disamping kebolehan menyebutkan orang tertentu berdasarkan hadits dari Hindun yang akan kami sebutkan riwayat lengkapnya nanti insyaa Allaah, ia mengatakan: “Wahai Rasulullaah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang kikir… (hadits).” Namun Rasulullaah SAW tidak melarangnya mengatakan demikian (menyebut nama Abu Sufyan dengan jelas).

الرابع‏:‏ تحذير المسلمين من الشرّ ونصيحتهم، وذلك من وجوه‏:‏

Sebab Keempat: Memperingatkan kaum muslimin dari keburukan sekaligus sebagai nasihat bagi mereka, dalam hal ini ada beberapa contoh (satu contoh saja yang ana nukil dan terjemahkan):‏

ومنها إذا رأيت متفقهاً يتردَّدُ إلى مبتدعٍ أو فاسقٍ يأخذ عنه العلم خِفْتَ أن يتضرَّرَ المتفقّه بذلك، فعليك نصيحته ببيان حاله، ويُشترط أن يقصدَ النصيحةَ، وهذا مما يُغلَطُ فيه، وقد يَحملُ المُتكلمَ بذلك الحسدُ، أو يُلَبِّسُ الشيطانُ عليه ذلك، ويُخيَّلُ إليه أنه نصيحةٌ وشفقةٌ، فليتفطَّنْ لذلك‏.

Di‏antaranya: jika engkau melihat seorang pelajar menjadi pengikut ahli bid’ah atau orang fasik dan mengambil ilmu darinya, dan engkau mengkhawatirkan pelajar tersebut akan disesatkan olehnya. Maka wajib bagimu menasihatinya dengan menjelaskan kondisi sebenarnya, dan disyaratkan harus didasari niat untuk memberikan nasihat, karena ada orang yang lalai dari hal ini dan berbicara disertai kedengkian, atau syaithan menghiasi perbuatannya ini dengan kedengkian dan menimbulkan khayalan seakan-akan hal itu merupakan nasihat dan sikap simpatik, maka timbulah fitnah karenanya.

الخامس‏:‏ أن يكون مُجاهراً بفسقه أو بدعته كالمجاهر بشرب الخمر، أو مصادرة الناس وأخذ المُكس، وجباية الأموال ظلماً، وتولّي الأمور الباطلة، فيجوز ذكره بما يُجاهر به ويحرم ذكره بغيره من العيوب إلا أن يكون لجوازه سبب آخر مما ذكرناه‏.‏

Sebab Kelima: seseorang yang terkenal dengan kefasikan dan kebid’ahannya, misalnya dikenal sering meminum khamr, atau merampas hak orang-orang, memalak, dan mengumpulkan harta secara zhalim, dan melakukan berbagai hal yang batil. Maka diperbolehkan menyebutkan keburukan-keburukan yang sudah diketahui secara umum ini, dan dilarang menyebutkan ‘aib-‘aib lainnya, kecuali jika ada faktor lain yang memperbolehkan ghibah berdasarkan apa yang telah kami sebutkan.

السادس‏:‏ التعريف، فإذا كان الإِنسان معروفاً بلقب كالأعمش والأعرج والأصمّ والأعمى والأحول والأفطس وغيرهم، جاز تعريفه بذلك بنيّة التعريف، ويحرمُ إطلاقُه على جهة النقص، ولو أمكن التعريف بغيره كان أولى‏.‏

Sebab Keenam: Pengenalan (identifikasi), misalnya ada seseorang yang dikenal dengan panggilan “si wajah muram”‏, “si pincang”, “si tuli”, “si buta”, “si mata juling”, “si hidung pesek”, dan panggilan-panggilan lainnya.  Maka diperbolehkan penyebutan panggilan ini dengan maksud untuk mengidentifikasinya (misalnya ketika bertanya kepada seseorang tentang si fulan yang dikenal dengan salah satu panggilan tersebut –pen.), dan haram secara mutlak jika dimaksudkan untuk melecehkannya. Tapi jika memungkinkan mengidentifikasi tanpa menyebutkan panggilan buruk tersebut maka hal itu lebih utama untuk dilakukan.

فهذه ستة أسباب ذكرها العلماء مما تُباح بها الغيبة على ما ذكرناه‏. وممّن نصّ عليها هكذا الإِمام أبو حامد الغزالي في الإِحياء وآخرون من العلماء، ودلائلُها ظاهرة من الأحاديث الصحيحة المشهورة، وأكثرُ هذه الأسباب مجمع على جواز الغيبة بها‏.‏

Inilah enam sebab yang disebutkan para ulama mengenai kebolehan ghibah pada hal-hal yang telah kami sebutkan. Dan diantara ulama yang menjelaskan hal ini adalah Imam Abu Hamid al-Ghazaaliy dalam kitab al-Ihyaa’ dan para ulama lainnya. Dalil-dalil kebolehannya berdasarkan hadits-hadits shahih yang masyhur. Dan ghibah pada sebagian besar sebab-sebab diatas telah disepakati kebolehannya (oleh para ulama).

Berikut dalil-dalil yang dinukil dan dijelaskan Imam al-Nawawi dalam kitabnya:

1/897 روينا في صحيحي البخاري ومسلم،عن عائشة رضي اللّه عنها؛ أن رجلاً استأذنَ على النبيّ صلى اللّه عليه وسلم فقال‏:‏ ‏”‏ائْذَنُوا لَهُ بِئْسَ أخُو العَشيرَةِ‏”‏ احتجّ به البخاري على جواز غيبة أهل الفساد وأهل الرِّيَبِ‏.‏ (29)

2/898 وروينا في صحيحي البخاري ومسلم، عن ابن مسعود رضي اللّه عنه قال‏:‏قسمَ رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم قسمةً، فقال رجلٌ من الأنصار‏:‏ واللّه ما أرادَ محمدٌ بهذا وجهَ اللّه تعالى، فأتيتُ رسولَ اللّه صلى اللّه عليه وسلم فأخبرتُه، فتغيَّرَ وجهُه وقال‏:‏ ‏”‏رَحِمَ اللَّهُ مُوسَى لَقَدْ أُوذِيَ بأكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ‏”‏ وفي بعض رواياته‏:‏ قال ابن مسعود‏:‏ فقلتُ لا أرفعُ إليه بعد هذا حديثاً‏.‏ (30)

قلتُ‏:‏ احتجّ به البخاري في إخبار الرجل أخاه بما يُقال فيه‏.‏

3/899 وروينا في صحيح البخاري، عن عائشةَ رضي اللّه عنها قالت‏:‏قال رسولُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏مَا أظُنُّ فُلاناً وَفُلاناً يَعْرِفانِ مِنْ دِينِنا شَيْئاً‏”‏‏.‏(31)

قال الليث بن سعد ـ أحد الرواة ـ‏:‏ كانا رجلين من المنافقين‏.‏

4/900 وروينا في صحيحي البخاري ومسلم، عن زيد بن أرقمَ رضي اللّه عنه قال‏:‏خرجنا مع رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم في سفر فأصابَ الناسَ فيه شدةٌ، فقال عبدُ اللّه بن أُبيّ‏:‏ لا تُنفقوا على مَن عند رسول اللّه حتى يَنْفَضُّوا من حوله، وقال‏:‏ لئن رجعنَا إلى المدينة ليُخْرِجَنَّ الأعزُّ منها الأذلَّ، فأتيتُ النبيَّ صلى اللّه عليه وسلم فأخبرتُه بذلك، فأرسلَ إلى عبد اللّه بن أُبيّ‏.‏ وذكر الحديث، وأنزل اللّه تعالى تصديقه‏:‏ ‏{‏إذَا جَاءَكَ المُنافِقونَ‏}‏ ‏[‏المنافقون‏:‏1‏]‏‏.‏ ‏(32)

وفي الصحيح حديث هند ‏(33) امرأة أبي سفيان وقولها للنبي صلى اللّه عليه وسلم‏:‏ ‏”‏إن أبا سفيان رجل شحيح‏”‏ إلى آخره‏.‏

وحديث فاطمة بنت قيس (34) وقول النبيّ صلى اللّه عليه وسلم لها‏:‏ ‏”‏أما معاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ، وأمَّا أبُو جَهْمٍ فَلا يَضَع العَصَا عَنْ عاتِقِهِ‏”‏‏.‏

8 comments on “Penjelasan al-‘Allamah al-Imam al-Nawawi Tentang Perincian Ghibah (Part. I)

  1. Widjojo mengatakan:

    Reblogged this on Metafisis and commented:
    Terhadap admin blog in ada banyak celaan dengan alasan kami melakukan ghibah. Padahal, jika dibahas secara terperinci ada ghibah yang diperbolehkan. Salah satunya dalam rangka memperingatkan kaum muslimin dari keburukan dan menjaga agama. Silakan baca bahasannya dari Imam Nawawi rahimahullah di kitab Al-Adzkar.

    Suka

  2. […] Penjelasan al-’Allamah al-Imam al-Nawawi Tentang Perincian Ghibah (Part. I) […]

    Suka

  3. […] Penjelasan al-’Allamah al-Imam al-Nawawi Tentang Perincian Ghibah (Part. I) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s