Ruqyah Syar’iyyah VS Ruqyah Syirkiyyah (Part.2)

Adapun ruqyah syirkiyyah, berdasarkan penjelasan para ulama dan temuan penulis dalam banyak kasus di berbagai tempat, bisa penulis simpulkan pada poin-poin berikut:

Pertama,Meruqyah tapi menggunakan lafazh-lafazh syirik, batil atau campur aduk antara ayat-ayat al-Qur’an dan mantra-mantra syirkiyah misalnya permohonan kepada jin (syaithan).

Contoh Kasus:lafazh jangjawokan atau mantra kunjali asih untuk pelet, keduanya menggunakan kata-kata yang tak diketahui artinya, dan bisa dipastikan mengandung kemungkaran. Atau ada juga yang berbahasa arab yang bisa kita pahami maknanya namun jelas batil karena meminta bantuan jin, misalnya:

أجيبوا يا خدام هذه الأسماء : ……. الأرقام العربية

Artinya: “Kabulkanlah wahai jin pelayan nama-nama ini: ……… (angka-angka arab)”

Atau

جلبوا يا خدام هذه الأسماء : …… الأرقام العربية

Artinya: “Wujudkanlah wahai jin pelayan nama-nama ini: ……… (angka-angka arab)”

Islam telah melarang umatnya mempraktikkan ruqyah yang samar, tak diketahui maknanya karena mengandung dugaan adanya kebatilan, terlebih ruqyah yang jelas-jelas mengandung kesyirikan.

Ruqyah jenis ini merupakan ruqyah yang terlarang, termasuk ke dalam larangan dalam hadits dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i –radhiyallaahu ’anhu– yang berkata:

كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ

“Kami biasa meruqyah pada zaman jahiliyyah, maka kami bertanya,’Wahai Rasûlullâh, bagaimana menurut anda hal itu?’ Beliau r bersabda: ‘Perdengarkan kepadaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak apa-apa meruqyah selama tidak mengandung syirik’.” (HR. Muslim no. 4079)

‘Auf bin Malik al-Asyja’i pun mengaku pernah melakukan ruqyah pada zaman jahiliyyah, dan Rasulullah SAW memperbolehkan ruqyah yang tidak mengandung kesyirikan, ini salah satu dasar yang membedakan antara ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah. Keduanya memiliki perbedaan yang amat mendasar, takkan pernah bisa disandingkan apalagi diserupakan.

Dalam hadits lainnya, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah-ruqyah, jimat-jimat dan guna-guna itu syirik.” (HR. Muslim no. 4079)

Al-Hafizh al-Nawawi dalam Syarh Shahiih Muslim menjelaskan ketika menggabungkan hadits-hadits yang mengandung larangan dan kebolehan ruqyah:

أن المنهى عنه هو الرقية بكلام الكفار، والرقى المجهولة والتى بغير العربية وما لا يعرف معناها، فهى مذمومة لاحتمال أن معناها كفر أو قريب منه أو مكروه ، وأما الرقى بآيات القرآن والأذكار المعروفة فلا نهى عنها بل هى سنة

“Sesungguhnya larangan terhadap ruqyah berlaku bagi ruqyah yang menggunakan perkataan kufur, dan ruqyah yang tak diketahui artinya misalnya menggunakan bahasa selain bahasa arab atau apapun yang tak diketahui artinya. Ruqyah jenis ini tercela karena kemungkinan mengandung kekufuran atau mendekati kekufuran atau mengandung sesuatu yang dibenci. Adapun ruqyah dengan ayat-ayat al-Qur’an, zikir-zikir yang baik maka tidak terlarang bahkan dihukumi sunnah.”[1]

Syaikh al-Islam mengatakan:

نهى علماء الاسلام  عن الرُّقي التي لا يُفقه معناها ؛ لأنها مَظنَّة الشرك ، وإنْ لَمْ يَعرف الرَّاقي أَنهَّا شرك

“Para ulama islam melarang ruqyah-ruqyah yang tidak dipahami maknanya; karena diduga kuat mengandung kesyirikan, meski si peruqyah tidak mengetahui bahwa ruqyah tersebut syirik.”[2]

Dalam kitab al-Fataawaa al-Hadiitsiyyah (hlm. 88) dikatakan:

وممن صَرَّحَ بتحريم الرقيا بالإسم الأعجَمِيِّ الذي لا يُعْرَفُ معناهُ ابن الرشد المالكي والعز بن عبد السلام الشافعي وجماعة من أئمتنا وغيرِهِم

“Dan diantara ulama yang mengharamkan ruqyah dengan bahasa ‘ajam yang tak diketahui artinya adalah Imam Ibn Rusyd al-Malikiy, Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam al-Syafi’iy, satu golongan dari guru-guru kita dan para ulama lainnya.”

Kedua,Bergantung pada bantuan jin-jin yang dijadikan khadam disamping keyakinan bahwa jin-jin ini yang berkuasa atas urusannya.

Contoh Kasus:banyak dukun atau yang semisalnya mengatakan bahwa si jin atau ilmu sihir yang menyerang pasiennya kuat, sehingga ia kewalahan dan menyerah. Menurut kesaksian orang-orang yang datang kepada penulis untuk diruqyah, di antara dukun ini ada yang kabur dari rumah ‘klien’, ada juga yang terang-terangan mengaku tak mampu dan angkat tangan, ada juga yang diserang balik hingga muntah darah. Tapi ketika penulis ruqyah, tak terjadi apa yang dialami dukun alhamdulillaah wa bi idznillaah. Kenapa itu semua terjadi? Bukankah logis saja jika para dukun mengandalkan bantuan jin, dan jin yang ia jadikan khadam tak lebih ‘kuat’ dari jin yang mengganggu, ibarat bodyguard yang dikalahkan preman pengganggu. Namun, para syaithan ini bisa saja bekerja sama untuk tidak mengganggu si sakit beberapa lama untuk meyakinkannya pada pengobatan si dukun dan menyiarkannya pada orang lain sehingga si dukun ini kian terkenal. Sehingga tercapailah tujuan batil para dukun dan syaithan; dukun meraih nilai materi dan syaithan berhasil menyesatkan bani Adam.

Keharaman meminta bantuan jin, sudah penulis jelaskan pada modul tentang alam jin. Pada kasus seperti ini, perhatikan pula hal-hal berikut:

Pertama, keyakinan bahwa makhluk yang berkuasa memberikan manfaat dan madharat sudah dibantah ayat-ayat al-Qur’ân al-Karîm.

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

 “Kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatan pun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” (QS. al-Furqân [25]: 3)

Dan keyakinan tersebut merupakan bagian dari tipu daya syaithan. Seorang muslim meyakini bahwa tipu daya syaithân terlaknat dinyatakan Allâh adalah “lemah.”

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“.. sesungguhnya tipu daya syaithân itu lemah.” (QS. al-Nisâ’ [4]: 76)

Kedua, bertawakal dan bergantung kepada jin, bukan kepada Allah SWT suatu kebatilan dalam islam! Tawakkal merupakan buah keimanan; suatu keyakinan qalbu bahwa Allâh satu-satunya Zat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya. Dan Islam menuntut tawakal seorang hamba, hanya wajib ditujukan kepada Allâh dengan perintah yang mutlak, tanpa syarat dan tanpa kecuali. Hal itu dinyatakan secara tegas oleh dalil-dalil yang qath’iy.

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Apabila kamu mempunyai ‘azzam, bertawakkallah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 159)

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

(Dia-lah) Allâh tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin Bertawakalkepada Allâh saja.” (QS. at-Taghâbun [64]: 13)

Imam al-Alusi mendefinisikan tawakkal sebagai sikap menampakkan kelemahan dan ketergantungan pada yang lain, serta merasa cukup hanya kepadanya dalam melakukan aktivitas yang diperlukannya.[3]

Ketawakalan pada Allâh disamping keta’atan pada-Nya merupakan senjata ampuh mengalahkan syaithân:

إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ

“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. al-Hijr [15]: 42)

Tidak dipungkiri bahwa kesalehan seseorang memiliki pengaruh dan manfaat tersendiri dalam praktik ruqyah. Allâh berfirman:

قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Allâh hanya menerima dari orang-orang yang bertaqwa” (QS. al-Mâ’idah [5]: 27)

Ketiga,Menggunakan sarana-sarana yang aneh dan tidak ilmiah misalnya air namun disyaratkan dengan syarat-syarat tertentu yang ganjil.

Contoh Kasus: Ada seorang dukun di sukabumi yang menjampi air, dan mensyaratkan tidak boleh diminum melebihi batas tertentu, jika melanggar pantangan ini akan menimbulkan efek panas pada orang yang meminumnya. Di sisi lain, air itu hanya air kemasan biasa yang dibeli di warung, dan jika diminum tidak menimbulkan efek panas.

            Pertanyaan balik dan peringatan untuk dukun seperti ini:

  1.        Mengapa air tersebut mesti dibatasi dan bisa menimbulkan efek panas pada tubuh padahal hanya air biasa? Adakah alasan ilmiah yang mendasarinya? Jika tak ada alasan ilmiah, apakah lebih pantas dinyatakan sebagai pantrangan mistis belaka? Dalam banyak kasus, syaithan banyak melarang apa yang diperbolehkan islam atau melanggar perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, sehingga adanya pengorbanan dari si pemuja syaithan demi mengharapkan keridhaan makhluk terlaknat ini
  2.       Bukankah air yang dibacakan ruqyah syar’iyyah bagus untuk kesehatan tubuh? Apakah karena engkau membacakan padanya bacaan ruqyah syirikiyyah demi mengemis bantuan kepada syaithan sehingga dibatasi dengan batasan tak ilmiah dan cenderung mistis? Na’uudzubillaahi min dzaalik!

Para pelaku ini sudah semestinya ingat, bahwa Allah SWT tak lantas membiarkan mereka tanpa adanya penghisaban!

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. al-Zalzalah [99]:8)

Keempat, Dilakukan dengan praktik yang mengandung kemaksiatan, kemungkaran.

Contoh Kasus:dukun pria dan ‘klien’ perempuannya berdua-duaan (khalwat), dan melarang mahram atau suaminya untuk masuk ruangan khusus praktiknya, kasus dukun cabul misalnya. Atau disamping ruqyahnya yang batil, si dukun pun meminta berbagai persyaratan ritual atau sesaji berupa binatang sembelihan yang disembelih untuk selain-Nya atau meminta pasien wanita memperlihatkan auratnya tanpa ada kebutuhan darurat atasnya. Keharaman perkara-perkara ini sudah jelas!

Kemaksiatan itu sendiri termasuk syarat dari syaithan golongan jin yang dimintai bantuan. Mengapa? Karena syaithân tak sudi menjadi pembantu manusia hingga manusia melakukan kekufuran pada Allâh. Manusia menggunakan jampi-jampi yang mereka ucapkan dan jimat-jimat yang mereka tuliskan yang mengandung kesyirikan dan kekafiran yang sangat jelas. Terkadang mereka melantunkan beberapa ayat al-Qur’ân sebagai tipuan, sehingga orang-orang yang tidak tahu akan menganggap benar apa yang dilakukan para dukun.

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (٢٢١) تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (٢٢٢) يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (٢٢٣

“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaithân- syaithân itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa, mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithân) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta.” (QS. Asy-Syu’arâ [26]: 221-223)

Syaikh Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar menegaskan bahwa tukang sihir (termasuk dukun) tak dapat mengembangkan sihirnya apabila tak mengabdikan diri kepada syaithân. Oleh karena itu, tukang sihir mengotori dirinya dengan perbuatan keji dan rusak serta merasa nyaman dalam melakukan keburukan.[4]

Lihat pula: Download Makalah-Makalah Tentang Ruqyah, Jin & Sihir

[1]Lihat: Syarh Shahiih Muslim (14/196)

[2]Lihat: Iidhah al-Dalaalah fii ‘Umuum al-Risaalah, al-Rasaail al-Muniiriyyah (2/103).

[3]Lihat: Rûh al-Ma’âni, juz. IV, hlm. 107.

[4]Lihat: Âlam al-Sihri wa al-Sya’wadzah.

One comment on “Ruqyah Syar’iyyah VS Ruqyah Syirkiyyah (Part.2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s