Menjegal Arus Ajaran Para Pengikut Syaithan

Iblis

Oleh: Irfan Abu Naveed[1]

Indonesia sebagai negeri kaum muslimin terbesar yang dicengkeram sistem kufur Demokrasi, tak luput dari hantaman dan serangan massif ajaran syaithan dan sekutunya yang berupaya menyesatkan manusia dengan beragam sarana dan media. Kaum muslimin harus memahami hal ini, sebagaimana dikatakan dalam sya’ir:

عرفت الشرّ لا للشرّ        لكن لتوقيّه

ومن لا يعرف الشرّ      من النّاس يقع فيه

“Aku mengetahui keburukan bukan tuk melakukan keburukan, melainkan memproteksi diri darinya”

“Dan barangsiapa tak mengetahui keburukan, maka ia akan terjerumus ke dalamnya”[2]

Lagu Sesat Atheis & Pemuja Syaithan

  • Lagu Asereje, lagu ini dipopulerkan oleh Las Ketchup, berbahasa campuran Inggris dan Spanyol. Kejanggalannya terletak pada lirik-liriknya yang ganjil dan aneh bagi orang Spanyol sendiri. Kata brujeria dalam bahasa Spanyol artinya penyihir, dalam bahasa Meksiko artinya pemuja aliran syaithan yang menggabungkan budaya suku Astec dan ilmu hitam dari Eropa. Disamping kata ragatanga yang diketahui bermakna “upacara pemanggilan kekuatan jahat yang dikenal Bangsa Eropa”. Ironisnya lagu ini sempat hits di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Padahal lagu ini disebut-sebut sebagai lagu yang meramalkan kedatangan Sang Iblis dan sambutan terhadap kedatangannya. Disamping adegan-adegan video klipnya yang penuh dengan kemaksiatan (pornoaksi, ikhtilath).
  • Lagu Umbrella yang dinyanyikan oleh Rihanna dan Jay-Z, lagu pop rap ini banyak menyiarkan symbol-sombol satanisme. Tersebar dan laris manis di berbagai belahan dunia mencakup Australia, Canada, Jerman, Prancis, USA, Inggris, termasuk Indonesia. Pada tahun 2008, Rihanna memperoleh penghargaan Grammy Award sebagai Record of The Year dan Song of The Year, dan menduduki peringkat lagu teratas di Inggris selama 10 minggu. Jika diperhatikan, dalam lirik lagu ini terdapat pernyataan berbahaya “Under my umbrella laa Allah, Elah eh.. eh..” (di bawah payungku (syaithan), tidak ada Allah…).
  • Lagu Imagine yang dipopulerkan oleh John Lennon mengandung lirik atheism. Dalam lirik awalnya saja: “Imagine there’s no heaven… It’s easy if you try… No hell below usAbove us only skyImagine all of the people.. Living for today…” Bahkan terang-terangan ia mengatakan “And no religion too”. Di sisi lain, secara tersurat John Lennon mengakui bahwa pemahaman sesat ini tidak hanya diadopsi oleh dirinya sendiri melainkan pemahaman suatu kelompok dalam liriknya “You may say I’m dreamer.. But I’m not the only one…” dan mengajak orang lain untuk bergabung“I hope some day you’ll joint us… And the world will be as one.” Metro TV sebagai media pro liberal, menayangkan napak tilas John Lennon dan memuji lagu ini dalam kilasan beritanya. Ironisnya, lagu sesat ini pun dipopulerkan ulang oleh Avril Lavigne dan artis cilik Amerika, Connie Talbot, dengan sedikit tambahan (namun tetap dengan lirik-lirik sesatnya).
  • American Pop dan Korean Pop (K-Pop) mencakup Boy Band dan Girl Band diantaranya diduga kuat merupakan agen-agen penyebar satanism, hal itu terbukti dari video klip mereka yang membawakan pesan simbolik dari ajaran dan simbol satanism. Simbol Baphomet Pentagram dalam video klip salah satu Girl Band; Super Junior yang membentuk symbol baphomet dengan jari jemari mereka, ambigram tattoo bertuliskan Illuminati di lengan salah seorang personil B2ST, fose yang membentuk mata satu (one eye) Lucifer (syaithan), maupun beragam simbol-simbol one eye Lucifer yang dikenakan G Dragon berupa cincin, kalung. Dan beragam bukti lainnya, simbolisme ini sendiri sebagai bagian dari sihir sigil.

Film-Film Sesat Khurafat

  • Film Aladdin: film kartun ini menggambarkan persekutuan manusia dan jin dalam berbagai urusan, dengan karpet ‘ajaib’ yang lebih mirip sapu tukang sihir dalam cerita-cerita mitos. Hadir dalam berbagai versi baik kartun maupun non-kartun. Bahkan Walt Disney telah merilis film kartun Aladdin: A Whole New World dengan rekaan yang ‘lebih menarik’ dan gambar berkualitas (padahal cerita film ini menyesatkan meski berlatar Timur Tengah).
  • Film-film bergenre horror nan porno di Indonesia: film-film ini dikenal banyak mengekspose pornografi dan pornoaksi. Keburukannya mencakup dua hal: Pertama, sisi mistisme; menggambarkan jin dengan beragam rekaan (khurafat), praktik perdukunan, jimat syirkiyyah. Kedua, sisi erotisme; adegan pornoaksi, pornografi, diantaranya dibintangi oleh artis-artis ‘panas’ Indonesia (Trio Macan, Jupe, Dewi Persik) dan bintang-bintang porno Jepang (Miyabi, Maria Ozawa) dan Amerika (Terra Patrick). Film-film berjudul: Hantu Goyang Karawang, Tali Pocong Perawan, Paku Kuntilanak, Menculik Miyabi, Hantu Jamu Gendong, Rumah Bekas Kuburan (Jupe Titisan Suzanna), Hantu Binal Jembatan Semanggi, Hantu Puncak Datang Bulan, dan puluhan judul lainnya (mencapai lebih dari 100 judul film) yang disuguhkan bebas ke tengah-tengah kaum muslimin. Ironisnya, salah satu produsen film Indonesia, Maxima, dalam waktu 4 tahun sudah memproduksi 20 film horor berbumbu seks. Pengakuan sang produser saat diwawancarai oleh insan media, mengaku pragmatis bahwa film-film horor seperti ini takkan laku tanpa seks (jadi harus memakai bumbu seks supaya laris–pen.).
  • Film Harry Potter (terbit hingga beberapa seri): film ini mempromosikan ilmu sihir syaithaniy dengan cara yang luar biasa, memutarbalikkan fakta tentang ilmu sihir. Banyak orang di dunia ‘tersihir’ dengan film ini yang terinspirasi dari novel J.K Rowling. Dari latar belakang kehidupannya, J.K Rowling dikenal sebagai sosok yang dekat dengan ilmu sihir. Pertama, kota Edinburg tempat dimana dia tinggal. Kedua, Universitas Exeter tempat dia menimba ilmu. Kedua tempat ini dikenal dekat dengan ilmu sihir, di mana Kabbalah -ritual Osirian Mesir Kuno- menjadi sumber utamanya.
  • Film Final Destination (Series) dan film-film horor barat yang jelas mengandung khurafat, Lord Of The Rings dan film-film Hollywood lainnya yang banyak mengekspose simbol-simbol dan ajaran-ajaran satanisme.

Fakta-fakta di atas hanya secuil dari beragam fenomena sesat yang tersebar di tengah-tengah kaum muslimin, bagaikan fenomena gunung es dan tumbuh subur bak cendawan di musim penghujan. Kondisi kaum muslimin ini sejalan dengan pernyataan Abu Sayf Jalil al-‘Abidiy al-‘Iraqiy:

لقد غزت الأمة الإسلامية في أواخر القرن التاسع عشر وخاصة بعد سقوط الدولة العثمانية بعض المفاهيم الخاطئة والمعتقدات الباطلة الدخيلة على ديننا الحنيف والتي تضاد وتصادم العقيدة الإسلامية من كل وجه وجانب.

“Sungguh pada akhir abad ke-19, khususnya paska runtuhnya al-Daulah al-‘Utsmaniyyah, umat islam diserbu pemahaman-pemahaman sesat dan keyakinan-keyakinan batil yang menyusup ke dalam Din kita yang lurus, menyelisihi dan menyerang akidah islam dari segala arah dan sisi.” [3]

Lebih jauh lagi, Allâh SWT sudah memperingatkan kita terhadap janji iblis untuk menyesatkan manusia dalam ayat-ayat-Nya yang agung, dimana Iblis berkata-kata dengan sangat serius (dalam tinjauan bahasa arab).

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (kemaksiatan) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya” (QS. al-Hijr [15]: 39)[4]

SOLUSI ISLAM SECARA PEMIKIRAN (الحلول الفكرية الإسلامية)

Islam Mengecam Segala Bentuk Perbuatan Mengikuti Iblis & Syaithan

Allâh SWT berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allâh) bagi orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Kahfi [18]: 50)

Menafsirkan ayat ini, al-Hafizh al-Imam Ibn Katsir berkata:

يقول تعالى منبهًا بني آدم على عداوة إبليس لهم ولأبيهم من قبلهم، ومقرعًا لمن اتبعه منهم وخالف خالقه ومولاه…

“Allâh SWT berfirman seraya memperingatkan bani Adam atas permusuhan iblis terhadap mereka dan bapak mereka (Adam). Dan mengecam keras siapapun yang mengikuti iblis, menentang Sang Pencipta dan Pelindungnya…”[5]

Allâh SWT memerintahkan kaum muslimin:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah [2]: 208)

Al-Hafizh Ibn Katsir menyatakan dalam tafsirnya:

يقول تعالى آمرًا عباده المؤمنين به المصدّقين برسوله: أنْ يأخذوا بجميع عُرَى الإسلام وشرائعه، والعمل بجميع أوامره، وترك جميع زواجره ما استطاعوا من ذلك.

“Allâh SWT berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk membenarkan Rasul-Nya: mengambil seluruh ikatan dan syari’at Islam, mengamalkan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya sesuai kemampuan (dengan segenap kemampuan-pen.).”

Ayat-ayat yang agung di atas sudah cukup menunjukkan kecaman Allah, yang mengharamkan secara tegas (jazm) menta’ati dan mengikuti ajaran Iblis dan para pengikutnya (termasuk ajaran demokrasi kufur). Berapa banyak orang-orang yang terpedaya menjadi pengikut Iblis dan syaithan di zaman ini yang secara terang-terangan menyesatkan umat, semisal para dukun?

Bahkan perbuatan meminta perlindungan dan bantuan jin pun sudah dikecam oleh Islam. Allâh SWT mengabarkan persekutuan manusia dan jin dalam banyak ayat al-Qur’an, diantaranya:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الْإِنسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُم مِّنَ الْإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

“Dan (ingatlah) hari diwaktu Allâh menghimpunkan mereka semuanya (dan Allâh berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Rabb kami, sesungguhnya sebagian dari kami telah mendapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allâh berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allâh menghendaki (yang lain).” Sesungguhnya Rabb-mu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An’âm: 128)

Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat ini:

فاستمتاع الجن من الإنس أنهم تلذّذوا بطاعة الإنس إياهم

“Maksud jin dapat merasakan kenikmatan dari manusia adalah bahwa para jin menikmati kepatuhan manusia terhadap mereka…”[6]

Imam al-Alusiy menafsirkan “Dan berkata sekutu-sekutu mereka” yakni: “Mereka (manusia) yang menta’ati dan mengikuti para jin.” Beliau pun menegaskan:

والجن بالإنس حيث اتخذوهم قادة ورؤساء واتبعوا أمرهم فادخلوا عليهم السرور بذلك

“Dan jin merasakan kenikmatan dari manusia ketika manusia menjadikan mereka sebagai pemegang kendali, pemimpin, dan mengikuti perintahnya. Maka manusia membuat para jin merasa senang.” [7]

Syari’at Islam Mengharamkan Tasyabbuh Bil Kuffar

Islam sebagai din yang sempurna (QS. al-Ma’idah [5]: 3) dan menyeluruh (QS. al-Nahl [16]: 89), tidak membutuhkan ajaran lain di luar Islam. Di sisi lain, Allâh SWT dan Rasul-Nya telah melarang hamba-hambanya menyerupai orang-orang kafir. Allâh SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”, dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS. Al-Baqarah [2]: 104)

Al-Hafizh Ibn Katsir menuturkan bahwa maksud ayat ini:

أن الله تعالى نهى المؤمنين عن مشابهة الكافرين قولا وفعلا.

 “Allâh SWT melarang orang-orang beriman menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan dan perbuatan mereka.”[8]

Imam Ibn Katsir pun menukil dalil hadits dari Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan kaum tersebut.”[9]

Al-Hafizh Ibn Katsir pun menegaskan:

ففيه دلالة على النهي الشديد والتهديد والوعيد على التشبه بالكفار في أقوالهم وأفعالهم، ولباسهم وأعيادهم، وعباداتهم وغير ذلك من أمورهم التي لم تشرع لنا ولا نُقَرر عليها.

“Di dalam hadits ini, terdapat larangan, ancaman dan peringatan keras terhadap sikap menyerupai orang-orang kafir dalam perkataan, perbuatan, pakaian (khas-pen.), ritual, ibadah mereka, dan perkara-perkara lainnya yang tidak disyari’atkan dan tak sejalan dengan kita (syari’at islam).”

Syaikh ‘Abdurrahman al-Baghdadi dalam bukunya yang membahas tentang seni dalam islam menyatakan bahwa kata “tasyabbuh” (menyerupai) dalam hadits tersebut adalah bentuk umum, sama halnya dengan kata “suatu kaum”. Ini adalah larangan menyerupai bangsa manapun dengan apa saja secara mutlak, baik dalam urusan akidah, ibadah, nikah, adat kebiasaan, hidup bebas, dan lain sebagainya.

Rasûlullâh SAW pun marah ketika menemukan ‘Umar bin al-Khaththab r.a. memegang sobekan lembaran Taurat (wajib diimani keberadaannya, namun syari’atnya telah di-nasakh oleh syari’at Islam). Beliau SAW bersabda:

مَا هذَا أَلَمْ آتِ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةًَ؟ لَوْ أَدْرَكَنِيْ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ

“Apa (yang kamu bawa) ini, bukankah aku telah membawa (al-Kitâb) yang jelas dan jernih? Kalau seandainya saudaraku Musa hidup di zamanku, tak ada jalan lain baginya selain mengikutiku.” (HR. Ahmad dan al-Bazzar dari Jabir r.a.)

لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ  دَخَلَ جُحْرَ ضَبٍِّ لَدَخَلْتُمْ

“Kamu pasti akan mengikuti tuntunan orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta hingga salah seorang dari mereka masuk lubang biawak pun kamu pasti akan mengikutinya.” (HR. Hâkim dari Ibn ‘Abbas)[10]

Hadits-hadits di atas menunjukkan celaan yang tegas (jazm)[11], yang menunjukkan keharaman mengambil dan mengikuti gaya hidup orang kafir, sekaligus menunjukkan bahwa Islam mempunyai gaya hidup yang unik.[12] Dalam hal ini, islam telah membimbing setiap manusia untuk berpegang teguh pada akidah dan syari’at islam (QS. Al-Baqarah [2]: 208, QS. ‘Ali-‘Imran: 103), serta mengingkari thaghut dan segala bentuk kebatilan (QS. Al-Baqarah: 256).

SOLUSI ISLAM SECARA SISTEMIK (الحلول الإسلامية النظامية)

  • Islam Menentang Sistem Politik Demokrasi Penyubur Kesyirikan & Kemungkaran

Tersebarnya kebatilan di tengah-tengah kaum muslimin, tak bisa dilepaskan dari peranan sistem demokrasi dengan asas kebebasannya dan ideologi kapitalisme yang matealistic oriented. Maka, berbagai kebatilan tersebar secara terorganisir.

Dalam diskusi dengan Syaikh Dr. Abu ‘Abdillah, penulis menuturkan:

قد وجدت الواقع أن الديمقراطية تسبب الفساد وانتشار الشرك والكهانة في إندونيسيا… ما رأيك يا شيخنا الكريم ؟

“Saya menemukan fakta demokrasi menyebabkan kerusakan dan tersebarnya kesyirikan dan perdukunan di Indonesia (khususnya). Lantas bagaimana pendapat Anda Wahai Syaikh?”

 Syaikh Dr. Abu ‘Abdullah menjelaskan kepada penulis:

فالواجب على من يتولى أمور المسلمين أن يمنع ما يضر المسلمين في دينهم ودنياهم

“Maka wajib bagi siapa saja yang menguasai urusan kaum muslimin (penguasa) untuk mencegah hal-hal yang bisa membayakan agama dan dunia kaum muslimin.”[13]

Adakah yang lebih berbahaya dari bahaya kesyirikan yang merajalela? Dan Allâh SWT telah menyifati kesyirikan sebagai kezhaliman terbesar dan berbagai keburukan lainnya (lihat: QS. al-Nisaa’: 48 & 116). Tentu, kita berlindung kepada Allah dari apa yang diungkapkan al-Hafizh Ibn ‘Abd al-Bar al-Andalusi dalam sya’irnya:

أأخي إن من الرجال بهيمة                                    في صورة الرجل السميع المبصر

                   فطن لكل مصيبة في ماله                                                   وإذا يصاب بدينه لم يشعر

“Wahai saudaraku, diantara manusia ada yang bersifat bagaikan binatang”

“Dalam rupa seseorang yang mampu mendengar dan berwawasan”

“Terasa berat baginya jika musibah menimpa harta bendanya”

“Namun jika musibah menimpa agamanya, tiada terasa”[14]

Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW dan pemahaman para ulama salaf maupun khalaf:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Seorang imam itu laksana perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (memberikan dukungan) dan berlindung (dari musuh) dengan kekuasaan-nya.” (HR. Muslim, Ahmad, Abû Dawud & al-Nasa’i)

Al-Hafizh al-Imam al-Nawawi menuturkan:

لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها

“Adalah suatu keharusan bagi umat adanya imam yang menegakkan agama dan yang menolong sunnah serta yang memberikan hak bagi orang yang didzalimi serta menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya.”[15]

Qâdhi Abû Ya’la al-Farrâ’ mengungkapkan: “Imam diwajibkan untuk mengurus urusan umat ini, yakni sepuluh urusan: Pertama, menjaga agama berkenaan dengan ushûl yang disepakati umat terdahulu. Jika orang yang bersekongkol mempunyai kesalahan terhadapnya, dia (imam) bertanggungjawab untuk menerangkan hujjah dan menyampaikan kebenaran terhadapnya. Dia juga yang bertanggungjawab untuk melaksanakan hak dan sanksi, agar agama ini tetap terjaga dan terpelihara dari kesalahan. Dan umat ini akan tetap terhindar dari ketergelinciran.”[16]

  • Kekhasan Paradigma Politik Islam

Islam telah menggariskan paradigma politik yang khas, para ulama mendefinisikan makna politik:

رعاية شؤون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية

“Pemeliharaan terhadap urusan umat dalam dan luar negeri berdasarkan syari’at islam.” [17]

Didasarkan pada hadits Rasulullah SAW:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim)

Islam telah menegaskan kedudukan imam (khalîfah) sebagai râ’in (penggembala) yang bertanggungjawab atas ra’iyyah (gembala)-nya. Dan memelihara akidah umat termasuk tanggung-jawabnya yang paling penting.

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. al-Bukhârî, Muslim & Lainnya)

Dari paradigma ini, kita bisa memahami bahwa politik islam dalam institusi syar’i al-Khilafah al-Islaamiyyah mampu menjaga dan memelihara akidah umat. Lantas, bagaimana penguasa dan apa yang dilakukannya dalam sistem demokrasi kini? Berbagai bukti yang ada menyimpulkan: “sistem demokrasi menjadi penyubur berbagai kebatilan.”

Khilâfah sebagai metode syar’i untuk menerapkan syari’at islam secara kâffah, merupakan perisai penjaga akidah umat dari segala bentuk kekufuran. Negara pula yang mampu memerangi kesesatan, kemurtadan, kekufuran yang disebarkan di tengah-tengah kaum muslimin secara sistemik. Salah satu buktinya tergambar dalam sikap Khalîfah Abu Bakar al-Shiddiq t ketika ia memerangi orang-orang yang menolak kewajiban berzakat.[18] Muhammad bin Yusuf al-Farabiy berkata: “Diceritakan dari Abu ‘Abdullah dari Qabishah berkata:

هُمْ الْمُرْتَدُّونَ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ فَقَاتَلَهُمْ أَبُو بَكْرٍ

“Murtaddûn disini adalah orang-orang yang murtad (keluar dari Islam karena menolak membayar zakat) pada zaman (Khalîfah) Abu Bakr, lalu Abu Bakr r.a. memerangi mereka.” (HR. al-Bukhari)

  • Kedudukan Media Cetak & Elektronik dalam Islam & Filterisasi Arus Informasi

Dalam sistem demokrasi dengan asas kebebasannya, musuh-musuh Allâh SWT dan Rasul-Nya (termasuk dari kalangan illuminati, freemasonry) banyak menguasai media cetak dan elektronik untuk mengendalikan dan menyesatkan opini di tengah-tengah umat. Padahal islam telah menggariskan kewajiban penguasa untuk mengatur dan mengarahkan media cetak dan elektronik sehingga sejalan dengan islam. Dalam banyak dalil-dalil al-Qur’an dan al-Sunnah, syari’at islam telah merinci hukum-hukum umum berkaitan dengan larangan tajassus (aksi spionase terhadap sesama kaum muslimin); ghibah yang tidak syar’i (ada perincian); namimah (adu domba); maupun penyebaran informasi-informasi sesat menyesatkan semisal lagu-lagu dan film-film yang mempropagandakan kesesatan.

Dalam buku Manifesto Hizbut Tahrir tertulis: “Informasi yang sehat merupakan perkara penting bagi Daulah Khilafah, yaitu untuk menyatukan negeri-negeri muslim dan mengemban dakwah Islam ke seluruh umat manusia. Media informasi diperlukan untuk menggambarkan Islam dengan benar dan membina kepribadian masyarakat sehingga terdorong untuk hidup dengan cara yang Islami dan menjadikan syariah Islam sebagai tolok ukur dalam segala kegiatan hidupnya. Media informasi juga berperan dalam mengungkap kesalahan pemikiran, paham, dan ideologi serta aturan-aturan sekular. Dengan cara itu, masyarakat menjadi paham tentang mana yang benar dan mana yang salah, serta terhindar dari pemikiran, pemahaman, dan gaya hidup yang tidak Islami. Bila umat memiliki pemahaman Islam yang tinggi, maka mudah bagi Daulah Khilafah untuk menyingkirkan nilai-nilai sekulerisme dan mengokohkan nilai-nilai Islam yang agung itu di tengah masyarakat.”[19]

Lantas, bagaimana dengan keberadaan media cetak dan informasi? Dalam buku Manifesto Ht pun dijelaskan: “Setiap warga negara dalam Daulah Khilafah memiliki kesempatan untuk mendirikan perusahaan media, baik media cetak maupun media elektronik asal media itu dikelola dengan tidak melanggar ketentuan akidah dan syariah Islam. Tiap warga yang mendirikan perusahaan media hanya perlu memberitahukan kepada Departemen Informasi Daulah Khilafah mengenai perusahaan yang akan didirikannya itu. Dalam pelaksanannya, pemilik perusahaan media, sebagaimana warga negara lainnya, akan dimintai pertanggung-jawaban atas setiap pelanggaran syari’ah yang dilakukan oleh media itu.”

  • Politik Pendidikan Islam

Islam sangat memerhatikan pendidikan, karena ia salah satu kebutuhan esensi umat. Maka tidak mengherankan jika islam mewajibkan penguasa dalam pemenuhannya yang sejalan dengan islam, sunnah qawliyyah dan fi’liyyah Rasulullah SAW telah menunjukkan simpulan ini. Islam mengatur pendidikan, mencakup hal-hal esensi di dalamnya, diantaranya:

Pertama, kurikulum pendidikan Islam berbasis akidah Islam. Oleh karena itu, seluruh ilmu bahan ajar dan metode pengajarannya ditetapkan berdasarkan asas tersebut, tak boleh ada penyimpangan sedikit pun.

Kedua, strategi pendidikan Islam untuk membentuk pola pikir (‘aqliyyah) dan pola kecendrungan jiwa (nafsiyyah) Islam. Maka, seluruh bahan pelajaran disusun berdasarkan strategi tersebut.

Ketiga, tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk kepribadian Islam, membekali masyarakat dengan ilmu pengetahuan dan sains yang berkaitan dengan masalah kehidupan. Tidak diperbolehkan adanya metode yang mengarah pada tujuan lain atau bertentangan dengan tujuan tersebut.

Politik pendidikan islam akan membentuk proteksi individual dari berbagai serangan pemikiran sesat dalam beragam bentuknya. Sebaliknya, kebodohan akan dihapuskan oleh islam. Syaikh Ali bin Abi Bakr dalam sya’irnya:

الجهل نار لدين المرء يحرقه                                 والعلم ماء لتلك النّار يطفيها

“Kebodohan adalah api bagi agama seseorang yang bisa membakarnya”

“Sedangkan ilmu adalah air untuk api itu, yang bisa memadamkannya.” [20]

  • Politik Ekonomi Islam

Khalifah dibai’at kaum muslimin untuk menegakkan hukum-hukum Allâh SWT, menjadikan kedaulatan al-Syâri’ di atas kehendak dan kemauan hawa nafsu. Maka, tidak dibenarkan melestarikan budaya atau tradisi syirkiyyah, melegalkan produksi dan distribusi film-film dan lagu-lagu sesat dengan alasan mengandung kemaslahatan materil. Atau memberikan izin praktik kepada para dukun atau paranormal di tengah-tengah kaum muslimin karena adanya pungutan uang perizinan. Karena fakta yang menyimpang dari Islam, wajib diluruskan dan disesuaikan dengan Islam, tidak boleh dilokalisasi atau bahkan dilegalisasi.

Syaikhul islam (24/280) berkata: “Bukan menjadi hak hamba untuk menepis setiap mudharat dengan apa saja yang disukai, dan tidak pula meraih setiap manfaat dengan apa saja yang disukai, melainkan ia tidak boleh meraih manfaat kecuali dengan apa yang mengandung taqwa pada Allâh SWT, dan tidak pula menepis mudharat kecuali dengan sesuatu yang mengandung taqwa kepada Allâh SWT.”

Penulis syarh kitab al-Thahawiyyah menegaskan bahwa pemerintah dan pihak yang berwajib harus berusaha keras memberantas praktik-praktik mistik, baik yang digelar oleh dukun, peramal, paranormal, tukang sulap, ahli perbintangan dan orang-orang yang memiliki ilmu-ilmu hitam lainnya. Di samping itu, segala macam sarana dan prasarana yang dapat menyuburkan praktik perdukunan, harus dilarang keras. Sehingga di jalan-jalan, di rumah dan di tempat umum lainnya, tak ditemukan lagi praktik perdukunan.[21]

Secara prinsip, kemaslahatan hakiki ialah ketika umat Islam mengamalkan syariat Allâh SWT, bukan kemaslahatan menurut hawa nafsu dan akal yang serba relatif.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

”Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS al-Anbiyâ’ [21]: 107)

Berkaitan dengan ayat di atas, Syaikh Muhammad Nawawi al-Jawi menafsirkan:

أي وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع إلا رحمة للعالمين

“Tidaklah Allâh mengutus Nabi Muhammad SAW dengan membawa berbagai peraturan (syari’at islam) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”[22]

Syari’at Islam pasti mengandung maslahat, dalam kaidah ushûl al-fiqh:

حَيْثُمَا يَكُوْنُ الشَّرْعُ تَكُوْنُ اْلمَصْلَحَةُ

“Jika hukum syara’ diterapkan, maka pasti akan ada kemaslahatan.”[23]

  • Penegakkan Sanksi bagi Pelaku Kriminal (Termasuk Orang Murtad)

Ketika islam memandang penyebaran lagu-lagu dan film-film sesat ke tengah-tengah kaum muslimin sebagai bentuk kebatilan, maka ia dihukumi sebagai kejahatan yang wajib dicegah dan dikenakan sanksi hukuman secara tegas. Sebagaimana ketegasan Rasulullah SAW menghukum perempuan bangsawan al-Makhzumiyyah yang melakukan pencurian, hadits ini diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahihayn.

Islam jelas mengharamkan aktivitas kemungkaran dan melindungi pelakunya. Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasûlullâh SAW bersabda:

لَعَنَ اللهُ مَنْ أَحْدَثَ حَدَثا أَوْ اوَى مُحْدِثا

Allâh mela’nat orang yang melakukan kejahatan atau orang yang melindunginya.” (HR. Muslim no. 1370)

Dalam ilmu ushûl al-fiqh, hadits ini jelas mengandung indikasi tegas (qarînah jâzimah)[24] mengharamkan segala bentuk kemungkaran (‘âm) dengan lafazh la’ana yang dimaknai para ‘ulama sebagai berikut:

اللعن في اللغة: هو الإبعاد والطرد من الخير و قيل الطرد والإبعاد من الله ومن الخلق السب والشتم. و أما اللعن في الشرع: هو الطرد والإبعاد من رحمة الله وهو جزء من جزئيات المعنى اللغوي فمن لعنه الله فقد طرده وأبعده عن رحمته واستحق العذاب. و الأعمال التي لعن مقترفها هي من كبائر الذنوب.

“Lafazh al-la’n secara bahasa yakni jauh dan terhempas dari kebaikan, dikatakan pula yakni terjauhkan dari rahmat Allâh dan dari makhluk-Nya secara terhina dan terkutuk. Adapun makna laknat (al-la’n) secara syar’i adalah terhempas dan terjauhkan dari rahmat Allâh dan makna ini merupakan bagian dari maknanya secara bahasa pula, maka barangsiapa yang dilaknat Allâh, maka Allâh telah menghempaskan dan menjauhkannya dari rahmat-Nya dan layak mendapatkan adzab-Nya. Dan perbuatan-perbuatan yang terlaknat itu merupakan dosa besar.”[25]

Imam al-Raghib al-Ashfahani menjelaskan:

معنى اللعن : الطرد والإبعاد على سبيل السخط، وذلك من الله في الآخرة عقوبة، وفي الدنيا انقطاع من قبول رحمته وتوفيقه.

“Makna laknat (al-la’n) adalah terhempas dan terjauhkan masuk ke jalan kemurkaan, yakni terhempas dan terjauhkan dari Allâh SWT, di akhirat mendapat siksa, dan di dunia ia terputus dari rahmat dan taufik-Nya.”[26]

Islam telah merinci hukum-hukum persanksian (nizhâm al-‘uqûbât), termasuk sanksi bagi tukang zindiq, penyihir (nb: perincian hukum dan pembuktian) dan sanksi bagi orang yang murtad berdasarkan sabda Rasûlullâh SAW:

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

“Barangsiapa mengganti agamanya (murtad dari Islam), maka bunuhlah ia.” (HR. al-Bukhârî & Ahmad)

  • Kontrol Sosial Umat Terhadap Beragam Kemungkaran

Diantara karakter umat terbaik ialah umat yang beriman kepada Allâh SWT, dan ia berdakwah memerintahkan umat manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Allâh SWT berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allâh.” (QS. Âli ‘Imrân [03]: 110)

Tingginya kontrol sosial umat, merupakan gambaran riil umat yang paham kewajiban dakwah. Islam akan membangun masyarakat yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan dan kepemimpinan berpikir. Dengan demikian akan lahir ketakwaan dalam diri anggota masyarakat, di mana ketakwaan tersebut akan memancarkan sifat protektif (itqâ’), sehingga mampu mengendalikan diri setiap individu dan mendorong mereka melaksanakan perintah Allâh SWT serta meninggalkan segala larangan-Nya. Masyarakat ini akan membawa pemikiran dan perasaan Islam, sehingga menjadikan masyarakatnya aktif dan peka dalam memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran sebagai kontrol sosial. Ketika ada di antara elemen umat atau penguasa yang bermaksiat pada Allâh SWT dan Rasul-Nya, maka dicegah, diberantas dan digantikan dengan kebaikan Islam. Para ulama pun menegaskan kewajiban amar makruf nahi mungkar. Sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan QS. Ali Imran [3]: 104.[27] Syaikh Yasin bin Ali menegaskan pendapat senada dengan argumentasi bahwa perintah amar makruf nahi mungkar seringkali disandingkan dengan amalan-amalan fardhu ‘ain, seperti shalat dan zakat, misalnya firman Allâh SWT dalam QS. al-Hajj [22]: 41, QS. al-Tawbah [9]: 71.[28] Dalil-dalil lainnya:

وَالْعَصْرِ ﴿١﴾ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ﴿٢﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ﴿٣

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr: 1-3)

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, al-Tirmidzi, al-Nasa’i, Ibn Majah)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, hendaknya kalian beramar ma’ruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allâh akan mengirimkan siksa-Nya dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. al-Tirmidzi & Ahmad. Hadits Hasan)

Oleh karena itu, kontrol sosial (dakwah), baik secara individual maupun kolektif merupakan kewajiban dan kebutuhan.[]


[1] Dipresentasikan di Cianjur, 27 Oktober 2012 dalam Halqah Syahriyyah.

[2] Lihat: Rawâ’i al-Bayân (Tafsîr Aayât al-Ahkâm), Syaikh Prof. ‘Ali ‘Ashabuniy (Juz. I).

[3] Lihat: al-Dîmuqrâthiyyah wa Akhawâtuhâ, Abu Sayf Jalil ibn Ibrahim al-‘Abidiy al-‘Iraqiy.

[4] Terekam dalam al-Qur’an, dengan jelas iblis mengungkapkan berbagai pernyataannya dengan kata-kata yang diperkuat, yakni menggunakan لام الابتداء ونون التوكيد yaitu penegasan-penegasan yang memberi arti sangat serius dan menuntut keseriusan. Dalam tinjauan pemahaman bahasa arab: semua kata kerja yang diungkapkan Iblis didahului dengan huruf ل yang mengandung makna sungguh dan ditambah dengan نّ yang berarti benar-benar.

[5] Lihat: Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, al-Hafizh al-Imam ibn Katsîr.

[6] Lihat: Tafsir al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, al-Hafizh al-Imam al-Qurthubi.

[7] Lihat: Rûh al-Ma’âniy fî Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm wa al-Sab’u al-Matsaniy, Imam Ibn ‘Abdillah al-Husayniy al-Alusiy.

[8] Lihat: Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Imam Ibn Katsir.

[9] Musnad Ahmad (2/92), Sunan Abi Dawud (no. 4031).

[10] Dalam al-Jâmi’ al-Shaghîr.

[11] Penjelasan ini bisa dirujuk dalam kitab Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl karya al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil.

[12] Lihat penjelasan dalam Islam Politik Spiritual, hlm. 7.

[13] Di STIBA AR-Raayah, Sukabumi.

[14] Lihat: Bahjatul-Majâlis wa Unsul-Majâlis (I/169).

[15] Al-Hafizh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa Al-Nawawi, Rawdhatuth Thâlibîn wa Umdatul Muftin (II/433).

[16] Lihat: al-Ahkâm al-Sulthâniyyah (hlm. 27), Imam al-Mawardi.

[17] Lihat: Mu’jamu Lughatil Fuqahâ (I/253) karya Muhammad Qal’ahji.

[18] Di sisi lain, sistem Islam akan diterapkan secara utuh dalam Khilafah Islam. Apakah dengan diterapkannya sistem pendidikan Islam berbasis akidah Islam, penerapan sistem hukum Islam secara tegas atas kekufuran (misalnya hudud bagi bagi para pelaku riddah (murtadîn) dan hukuman atas tukang sihir), menyaring segala bentuk informasi produk media massa (media elektronik, media cetak) sehingga menjauhkan umat dari upaya penyesatan opini dan akidah, dan lain sebagainya.

[19] Lihat: Manifesto Hizbut Tahrir, Bab. Media & Informasi (hlm. 42).

[20] Lihat: Risâlatul Mudzâkarah (al-Da’wah al-Tâmmah wa al-Tadzkirah al-‘ Âmmah), al-Habib al-Hadad.

[21] Lihat: Syarh al-‘Aqîdah al-Thahawiyyah, hlm. 568, cet. ke-4, terbitan Al-Maktab Al-Islami.

[22] Lihat: Tafsîr Marah Labid (Tafsîr Munîr) (II/47).

[23] Lihat: al-Fikr (hlm. 41-43), Muhammad Isma’il.

[24] Pembahasan tentang ini bisa dirujuk dalam Taysîr al-Wushûl ilâ al-Ushûl, al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil (Amir HT).

[25] Lihat: al-Mal’ûnûn fî al-Sunnah al-Shahîhah, Doktor Fayshal al-Jawabirah – Wizârah al-Syu’ûn al-Islâmiyyah.

[26] Lihat: Mufradât Alfâzh al-Qur’ân al-Karîm, Imam al-Raghib al-Ashfahani. Lihat pula As-ilatun Bayâniyyatun fî al-Qur’ân al-Karîm karya Dr. Fadhil Shalih al-Saamarâ-iy.

[27] Lihat: Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, Imam ibn Katsir (I/391).

[28] Lihat: Min Ahkâm al-Amr bi al-Ma’rûf wa al-Nahy ‘an al-Munkar, hlm. 24.

6 comments on “Menjegal Arus Ajaran Para Pengikut Syaithan

  1. Lusy Distyaning mengatakan:

    Like .. (y)

    Suka

  2. […] Sebagai peringatan dan penjelasan solusi, bacalah ini: Menjegal Arus Ajaran Pengikut Syaithan: […]

    Suka

  3. […] Menjegal Arus Ajaran Para Pengikut Syaithan […]

    Suka

  4. […] Realitasnya banyak kemungkaran yang dibiarkan bahkan disuburkan dalam sistem jahiliyyah Demokrasi. Tumbuh suburnya aliran sesat, riba dan perzinaan di antara bukti yang tak terbantahkan, termasuk murtadnya orang (diantaranya diberitakan artis) dari Islam bebas lepas saja dalam sistem kehidupan saat ini. Menjegal arus ajaran syaithan? (http://irfanabunaveed.com/2013/01/09/menjegal-arus-ajaran-para-pengikut-syaithan/) […]

    Suka

  5. kuntilanak 2006 mengatakan:

    Heya great website! Does running a blog such as this
    take a massive amount work? I have virtually no knowledge of computer programming
    however I was hoping to start my own blog soon.
    Anyway, should you have any suggestions or tips for new blog owners please share.
    I know this is off topic nevertheless I just wanted
    to ask. Many thanks!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s