Memahami Sosok Ghaib “Jin”

Apa Definisi Jin?
“Mengapa makhluk ghaib yang sering jadi buah bibir ini dinamakan jin?”

Jawaban

Definisi Etimologis (التعريف اللغوي)

Jin dalam bahasa arab yakni al-Jinnu (الجن) makna asalnya ‘terhalangnya sesuatu dari panca indera’. Jannatul layli wa ajannahu (جنة اليل وأجنه) yakni gelap malam menghalanginya & menyembunyikannya. (Lihat: Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, Imam al-Raghib al-Ashfahani)

Dinamai jin karena tersembunyi dari pandangan manusia. Syaikh Ibrahim ‘Abd al-‘Alim menjelaskan bahwa kata jin berasal dari kata janna (جن) yang artinya ‘menutupi sesuatu’ atau ‘segala sesuatu yang tak terlihat olehmu’. Arti lainnya adalah; menyelimuti malam (menjadi gelap gulita).

Al-Jan secara bahasa dijelaskan juga dalam kitab tafsir:

وسمي جاناً لتواريه عن الأعين، كما سمي الجنين جنيناً لهذا السبب، والجنين متوارٍ في بطن أمه، ومعنى الجان في اللغة الساتر

“Dinamakan Jan karena Ia tersembunyi dari pandangan mata manusia, sebagaimana al-Janin yang dinamakan begitu karena tersembunyi, yakni dalam perut ibunya, maka makna al-Jan secara bahasa adalah al-Satir (suatu tabir).”

Definisi Terminologis (التعريف الاصطلاحي)

Adapun definisi jin dalam istilah syar’i (berdasarkan dalil al-Qur’an dan al-Sunnah) :

الجن : خلاف الأنس ، والجان أبوهم. مخلوقات لا نراها ، مكلفون كالإنسان ، أصل خلقهم من النار

“Al-Jin: berbeda dengan manusia, al-Jân bapak mereka (QS. al-Hijr [15]: 27, QS. al-Rahmân [55]: 15 -pen.). Makhluk-makhluk yang tidak bisa kita lihat (ghayb) (QS. al-A’râf [7]: 27-pen.). Mereka dikenai taklif (syari’at) sebagaimana manusia (QS. al-Dzâriyât [51]: 56-pen.). Asal penciptaan mereka (para jin) dari api (QS. al-Hijr [15]: 27, QS. al-Rahmân [55]: 15, QS. al-A’râf [7]: 12-pen.). ” (Lihat: Mu’jam Lughah al-Fuqâhâ’, Prof. Dr. Rawwas Qal’ah Ji)

Jin adalah makhluk ghaib yang diciptakan Allâh dari api yang sangat panas (السموم نار).

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. al-Hijr [15]: 27)

Menafsirkan ayat ini, Ibn ‘Abbas r.a. menyatakan: “(Dari api yang sangat panas) yakni dari api yang tidak berasap.” (Lihat: Tafsiir Ibn ‘Abbas)

Imam al-Baqa’iy dalam tafsirnya pun berujar: “Yakni api yang sangat panas, dikatakan juga yakni api yang tidak berasap.” (Lihat: Nazhm al-Durar fii Tanâsubi al-Aayât wa al-Suwar)

Dipertegas dalam kalam-Nya yang agung:

وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ
“Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS. Al-Rahmân [55]:15)

Ibnu ‘Abbas, Ikrimah, Mujahid berpendapat bahwa yang dimaksud “api yang sangat panas” (السموم نار) atau “nyala api” (نار) dalam firman Allâh di atas ialah “api murni”. Dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas: “dari bara api”. (Lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr)

Lantas bagaimana wujud rupa jin sebenarnya? Al-Qur’ân tak menjelaskannya, dan Allâh pun tidak memerintahkan kita untuk memikirkannya. Maka berhati-hatilah terhadap tipu daya syaithan melalui orang-orang yang berhasil dikelabuinya menggambarkan wujud rupa jin; gambaran jin dalam film Aladin; film-film horor; informasi aneh wujud jin dalam buku “Dialog dengan Jin Muslim” , aksi mantan anggota tim “Pemburu Hantu” yang sering beraksi ‘melukis’ jin, dan beragam gambaran sesat lainnya di zaman ini.

Al-‘Allamah Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani menjelaskan: “..Oleh karena itu, (iman kepada Allâh ) akan menjadi dasar kuat bagi kita untuk beriman terhadap perkara-perkara ghayb dan segala hal yang dikabarkan Allâh . Jika kita telah beriman kepada Allâh yang memiliki sifat-sifat ketuhanan, maka wajib pula bagi kita untuk beriman terhadap apa saja yang dikabarkan oleh-Nya. Baik hal itu dapat dijangkau oleh akal maupun tidak, karena semuanya dikabarkan oleh Allâh . Dari sini kita wajib beriman kepada Hari Kebangkitan dan Pengumpulan di Padang Mahsyar, Surga dan Neraka, hisab dan siksa. Juga beriman terhadap adanya malaikat, jin, dan syaithân, serta apa saja yang telah diterangkan Al-Qur’ân dan hadîts yang qath’iy (mutawâtir).” (Dalam kitab Nizhâm al-Islâm bab. al-Tharîq al-îman)

Syaikh Amin Al-Kurdi dalam Tanwir Al-Qulub berkata:

ويجب الإيمان بوجود الجن إجماعا لثبوت ذلك بالكتاب والسنة في مواضع اشهر مِن أن تُذْكر.

“Wajib beriman dengan adanya jin yang merupakan ijma’, karena hal tersebut ditetapkan berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunnah yang menyebutkannya di banyak tempat.”

One comment on “Memahami Sosok Ghaib “Jin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s