Islam: Secara Politis akan Mengatasi Masalah Perdukunan

arroworange1

Islam memiliki konsep politik yang berbeda dengan konsep politik Demokrasi, berbeda dalam tataran asas maupun konsep cabang. Maka, tak sanksi jika dinyatakan bahwa “Politik Islam Mampu Mengatasi Masalah Krusial Tersebarnya Perdukunan”

Mengapa? Tentu dengan paradigma yang shahih berikut ini:

Politik (al-siyasah) berasal dari kata sasa-yasusu-siyasatan bi ma’na ra’iyatan (pengurusan).[1]

Imam al-Jauhari berkata sustu al-raiyata siyasatan artinya aku memerintah dan melarang kepadanya atas sesuatu dengan sejumlah perintah dan larangan. Wa al-siyasah maksudnya al-qiyâmu ‘alâ syai-in bima yashluhuhu (politik adalah melakukan sesuatu yang memberi maslahat padanya).[2]

Secara lebih spesifik pengertian politik di dalam Islam dideskripsikan dalam Mu’jamu Lughatil Fuqaha’:

رعاية شؤون الامة بالداخل والخارج وفق الشريعة الاسلامية

“Pemeliharaan terhadap urusan umat baik di dalam negeri maupun di luar negeri sesuai dengan syari’ah Islam.”[3]

Makna tersebut, terdapat dalam hadits shahih berikut ini:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ

“Adalah bani Israil, urusan mereka diatur oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain, sesungguhnya tidak ada nabi setelahku, dan akan ada para Khalîfah yang banyak.” (HR. Bukhari & Muslim. Lafal al-Bukhârî)

Imam al-Nawawi menjelaskan pengertian “tasûsuhum al-anbiyâ'” dengan: Mengatur urusan mereka sebagaimana yang dilakukan oleh para pemimpin dan wali terhadap rakyat (nya).[4]

Makna politik berdasarkan hadits di atas:

“(Mereka diutus oleh para nabi), maksudnya tatkala tampak kerusakan di tengah-tengah umat, Allâh pasti mengutus pada mereka seorang nabi yang menegakkan urusan mereka dan menghilangkan hukum-hukum Taurat yang mereka ubah. Di dalamnya juga terdapat isyarat, bahwa harus ada orang yang menjalankan urusan di tengah-tengah rakyat yang membawa rakyat menapaki jalan kebaikan dan membebaskan orang yang terzhalimi dari pihak yang zhalim.”[5]

Maka jelas, politik bermakna mengurusi urusan berdasarkan suatu aturan tertentu yang tentu berupa perintah dan larangan.[6]

Politik Islam memiliki 4 asas: kedaulatan di tangan syara’ (السيادة للشرعي), kekuasaan di tangan umat (السلطان للأمة), pegangkatan seorang Khalîfah untuk seluruh kaum muslimin hukumnya wajib (وجوب الخليفة الوحيد للمسلمين), dan hanya Khalîfah yang berhak mengadopsi hukum syara’ untuk dijadikan undang-undang (للخليفة وحدة حق التبن).

Islam telah menegaskan kedudukan Khalîfah sebagai râ’in (penggembala) yang bertanggungjawab atas ra’iyyah (gembala)-nya.

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya..” (HR. al-Bukhârî, Muslim & Lainnya)

Penjelasan singkat ini sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi kita untuk menegaskan kembali bahwa politik di dalam Islam adalah hal yang ma’lûm[un] min al-dîn bi al-dharûrah. Banyak nash baik dalam al-Qur’ân maupun as-Sunnah yang menegaskan hal yang sama.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’ân) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (TQS. An-Nahl [16]: 89)

‘Abdullah Ibn Mas’ud menjelaskan, sebagaimana dikutip oleh Al-Hafidz Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya: “Sungguh Dia (Allah) telah menjelaskan untuk kita semua ilmu dan semua hal.”[7]

Syaikh Abu Bakar al-Jazairiy menjelaskan frasa tibyaan[an] li kulli syay[in] bermakna “menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat.” termasuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Ayat di atas juga menegaskan bahwa al-Qur’ân adalah petunjuk, rahmat dan sumber kebahagiaan bagi umat.[8]

(Lihat pembahasan lengkap tentang ini dalam buku “Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia” – Irfan Ramdhan al-Raaqiy: disini)
____________
1- Kamus al-Muhîth

2- Lisân al-‘Arab, Ibn Mandzur

3- Mu’jamu Lughatil Fuqaha’ (I/253), Prof. Dr. Muhammad Qal’ahji.

4- Syarh al-Nawawi ‘ala Shahihil Muslim (VI/316)Imam Al-Hafidz Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Marwa al-Nawawi , syarah hadits nomor 3420.

5-Lihat: Fat-h al-Bârî’ Syarh Shahîh al-Bukhârî.

6- Lihat: Booklet Partai Politik dalam Islam, Hizbut Tahrîr Indonesia (2008).

7- Tafsîrul Qur’ânil Azhîm (IV/594), Imam Al-Hafidz Abul Fida’ Ismail Ibn Katsir,

8- Aysar al-Tafâsiir (II/84)

One comment on “Islam: Secara Politis akan Mengatasi Masalah Perdukunan

  1. […] Islam: Secara Politis akan Mengatasi Masalah Perdukunan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s