Islam Mengatasi Permasalahan Kesehatan dan Pendidikan Umat

(Dinukil dari buku “Menyingkap Jin & Dukun Hitam Putih Indonesia” – Ust.Irfan Ramdhan al-Raaqiy: Link Buku)

Islam, memahamkan penguasa akan kewajiban mengurusi urusan umat (ri’âyah al-su’ûn al-ummah), diantaranya di bidang kesehatan dan pendidikan umat. Faktanya, kedua hal tersebut termasuk kebutuhan asasi umat. Dalam Islam, kesehatan individu sangat dihargai, dan hal ini dianggap sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, bersama dengan kebutuhan pangan dan keamanan. Rasûlullâh bersabda: “Siapa pun yang dalam satu harinya terbebas dari penyakit, aman dari gangguan orang lain dan memiliki makanan pada hari itu, maka hal itu adalah seperti memiliki dunia dan seisinya.” (HR. al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Islam telah menegaskan kedudukan Khalîfah sebagai râ’in (penggembala) yang bertanggungjawab atas ra’iyyah (gembala)-nya.

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya..” (HR. al-Bukhârî, Muslim & Lainnya)

Menyediakan fasilitas kesehatan gratis kepada masyarakat adalah kebijakan yang dicontohkan Rasûlullâh . Diriwayatkan bahwa Rasûlullâh mengirimkan dokter kepada rakyatnya. Dari Jabir radhiyallaahu ‘anhu ia berkata:

بَعَثَ رَسُولُ اللهِ إِلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ طَبِيبًا فَقَطَعَ مِنْهُ عِرْقًا ثُمَّ كَوَاهُ عَلَيْهِ

Rasûlullâh pernah mengirim seorang tabib kepada Ubay bin Ka’ab. Kemudian tabib tersebut membedah uratnya dan menyundutnya dengan besi panas. (HR. Muslim, Ahmad dan lainnya. Lafal Muslim)

Rasûlullâh sebagai pemimpin umat Islam saat itu, mengirimkan thabib kepada warganya (Ubay bin Ka’ab ).

Dalam riwayat lainnya, Raja Mesir yang bernama Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang thabîb (dokter) untuk Rasûlullâh . Oleh Rasûlullâh , thabîb tersebut dijadikan sebagai dokter kaum muslimin dan untuk seluruh rakyat, dengan tugas mengobati setiap anggota masyarakat yang sakit.

Syaikh ‘Abd al-‘Aziz al-Badri berkata: “Tindakan Rasûlullâh itu, dengan menjadikan dokter tersebut sebagai dokter kaum muslimin, menunjukkan bahwa hadiah tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi, tapi untuk kaum muslimin atau untuk negara…. Kesehatan dan pendidikan, adalah dua hal yang merupakan kebutuhan asasi dan harus dirasakan oleh manusia dalam hidupnya. Keduanya termasuk masalah pelayanan umum (ri’âyah al-su’ûn) dan kemaslahatan hidup terpenting. Dalam hal ini, negaralah yang berkewajiban mewujudkan pemenuhannya terhadap seluruh rakyat. Islam telah menentukan bahwa yang bertanggungjawab menjamin dua jenis kebutuhan dasar tersebut adalah negara. Negaralah yang harus mewujudkannya, agar dapat dinikmati seluruh rakyat, baik muslim maupun non muslim. Baik kaya atau miskin. Sedangkan seluruh biaya yang diperlukan, ditanggung Bait al-Mâl.” Berbeda dengan pengaturan Islam, Sistem Kapitalisme-Demokrasi yang meliberalisasi sektor kesehatan, membuat biaya kesehatan kian tak terjangkau rakyat miskin.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dalam buku Sirah-nya, bahwa sebuah kemah yang dibangun di masjid dan dinamai Rufaidah (nama seseorang dari suku Aslam) digunakan untuk mendiagnosa dan mengobati orang-orang secara gratis (baik orang kaya maupun orang miskin). Ketika Sa’ad bin Mu’adz terkena panah selama Perang Khandaq. Rasûlullâh memerintahkan kepada para Sahabat untuk membawanya ke kemah Rufaidah. Rufaidah dibayar oleh negara dari ghanimah, sebagaimana yang dikabarkan al-Waqidi dalam bukunya al-Maghazi.

Dan tercatat, fasilitas kesehatan gratis untuk warga negara terus berlangsung sepanjang masa kekhilafahan Islam dan kaum kafir menjadi saksi atas kebijakan mulia ini.

Gomar, salah seorang pemimpin Prancis pada masa Napoleon menggambarkan pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan berusia 600 tahun, “Semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan (rumah sakit) bagi kaum miskin dan kaya, tanpa perbedaan. Dokter berasal dari berbagai tempat di wilayah Timur dan mereka pun memperoleh bayaran yang baik. Ada apotek yang penuh dengan obat-obatan dan intrumentasi, dengan dua perawat yang melayani setiap pasien. Mereka yang memiliki gangguan fisik dan kejiwaan diisolasi dan dirawat secara terpisah. Mereka kemudian dihibur dengan cerita-cerita dari orang-orang yang telah sembuh (baik fisik maupun kejiwaan) dan akan dirawat di bagian rehabilitasi. Ketika mereka selesai dirawat, setiap pasien akan diberi lima keping emas sehingga para mantan pasien itu tak perlu bekerja segera setelah ia meninggalkan rumah sakit.”

Seorang orientalis Prancis, Prisse D’Avennes menggambarkan rumah sakit yang sama, “Kamar-kamar pasien terasa dingin karena menggunakan kipas besar yang terpasang dari satu sisi ruang hingga ke sisi yang lain, atau terasa hangat karena parfum yang dihangatkan. Lantai-lantai kamar pasien itu ditutupi oleh cabang-cabang (Hinna) pohon delima atau pohon aromatik lainnya.”

Dalam buku DR. Ja’far Khadem Yamani tercatat, Pada masa kekhilafan Islam, di Baghdad telah dibangun rumah sakit yang cukup mewah, bersih dan teratur perawatannya. Bertolak belakang dengan bangsa Romawi yang masih mempercayai dukun-dukun; penyakit sampar diobati dengan jampi-jampi dukun dan air jernih, orang buta dibawa ke dukun untuk diludahi matanya, penyakit-penyakit yang dianggapnya ajaib masih dihubung-hubungkan dengan pengaruh hantu-hantu yang senang menjelma menjadi kelelawar atau serigala di waktu malam. Ironisnya, hingga kini film-film Box Office Hollywood pun dihiasi film-film horor bertema ‘Vampire’ si manusia kelelawar penghisap darah manusia, dan ‘Wolfman’ si manusia serigala.

Hingga pertengahan abad XII Masehi, dukun-dukun mengobati dan membunuh pasiennya berdasarkan pesanan gereja; orang yang sakit demam harus mengusap patung Maria, tahi himar (keledai) dikonsumsi sebagai obat kuat birahi, jika ingin menunda kehamilan maka digosokkan batu putih oleh dukun, dan batu merah bagi yang ingin hamil. Di Eropa, umpamanya di Bulgaria dan Roma, hingga saat ini masih terdapat dukun-dukun yang merangkap pastur. Inilah secuil fakta kerusakan yang ditimbulkan agama dan paham kufur.

Penulis tegaskan, salah satu bukti besarnya perhatian Islam terhadap kesehatan ialah adanya kewajiban yang dibebankan kepada penguasa dalam pemenuhannya, karena kesehatan termasuk pelayanan umum (ri’âyah al-su’ûn) yang wajib diurusi oleh penguasa. Konsep ini, salah satu ciri khas yang membedakan antara konsep politik dalam Islam dan konsep politik Demokrasi. Politik dalam Islam ialah ri’âyah al-su’ûn al-ummah bi ahkâm al-syar’iyyah dâkhiliyy[an] wa khârijiyy[an] (memelihara urusan umat dengan hukum-hukum syari’at Islam (politik) dalam dan luar negeri), berbeda jauh dengan politik Demokrasi yang lahir dari akidah sekularisme (memisahkan Islam dari kehidupan) dan bercorak seperti jual beli, standarnya kemaslahatan versi manusia (bukan halal haram), perhitungannya untung rugi, penguasa ibarat produsen dan rakyat seperti konsumen, penguasa sebagai penjual dan rakyat layaknya pembeli, na’ûdzu billâhi min dzâlik. Hasilnya, bisa kita saksikan dan rasakan sendiri.

Syari’at Islam yang agung menghendaki fasilitas kesehatan harus bisa dinikmati dengan mudah dan gratis (jika tak dikatakan sangat murah) oleh seluruh warga negara Dawlah Islam, baik miskin ataupun kaya, muslim ataupun non muslim. Ketika kewajiban ini diabaikan penguasa, maka potensial menjadi salah satu penyebab kerusakan masyarakat. Coba kita evaluasi, “Berapa banyak orang yang berobat ke dukun karena tak memiliki biaya yang cukup untuk berobat ke rumah sakit? Berapa banyak pula di antara mereka yang mendatangi dukun karena tak memahami Islam?”

Lantas bagaimana kaum muslimin saat ini terhadap akses pelayanan kesehatan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s