Berdialog dengan Jin (Mengoreksi Buku “Dialog dengan Jin Muslim”)

DIALOG DENGAN JIN MUSLIM

Pertanyaan
“Bagaimana Hukum Berdialog dengan Jin Melalui Lisan Orang yang Dirasukinya? Apakah mungkin jin berbicara dengan lisan orang yang dirasukinya? Lantas bagaimana Islam memandang fenomena semacam ini?”

Jawaban
Seringkali kita menyaksikan fenomena ini dalam realitas kehidupan ketika ada seseorang yang divonis kerasukan jin.

Syaikh Ibnu Taimiyyah berkata: “Keterangan tersebut merupakan perkataan mayoritas ulama yang terkenal. Jin merasuki jiwa manusia, kemudian manusia tersebut mengucapkan sesuatu yang ia sendiri tidak memahami maksudnya…. Intinya, ada banyak sekali contoh kasus yang menjelaskan bahwa yang berkata-kata pada lisan manusia, atau pun yang menggerakkannya adalah makhluk yang berjenis lain, yaitu jin.”

Penulis ungkapkan: “Fenomena tersebut mungkin saja terjadi, sebagaimana pengalaman penulis dalam sejumlah kasus menangani orang yang kerasukan jin.”

Lantas bagaimana syari’at Islam memandang dialog dalam kasus kerasukan semacam ini? Wajib dijaga batasan-batasan syari’at.

Hal-Hal yang Harus Diperhatikan!
Pertama, Tidak boleh bertanya tentang perkara-perkara gaib yang merupakan hak otoritas Allâh , misalnya tentang rizki dan usia.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧

“(dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. al-Jin [72]: 26-27)

Di sisi lain, syaithân golongan jin tidak mengetahui perkara gaib yang menjadi otoritas Allâh, yang mereka sebarkan ialah kedustaan semata.

Ustadz Hatim asy-Syurbati menuturkan dalam kitabnya, Ma’a al-Jin wa as-Sihr:

ممكن أن تكون علومهم ومعلوماتهم فيما حصل من أعمال غزيرة، إلا أن من الكذب الادعاء بمعرفتهم علوم الغيب فلا يعلم الغيب إلا الله تعالى، لذا فمن الخطورة الشديدة الاستعانة بهم لمعرفة علوم الغيب واستلهام البشائر، ويحرم شرعا القيام بذلك.

“Mungkin ilmu dan pengetahuan mereka telah mencapai banyak hal, akan tetapi merupakan suatu kedustaan pengakuan bahwa mereka mengetahui ilmu-ilmu ghaib, karena tak ada yang mengetahui hal ghaib selain Allah Ta’aalaa. Oleh karena itu, di antara hal yang sangat berbahaya dengan meminta bantuan jin adalah upaya untuk mengetahui hal-hal ghaib dan meminta penerawangan tentang manusia. Maka Islam mengharamkannya secara syar’i perbuatan tersebut.”

Kedua, Tidak mudah percaya atau asal membenarkan perkataan si jin, padahal ia syaithân yang berkarakter pandir (pendusta).

Dalam sebuah hadits Shahîh Bukhârî, dikabarkan bahwa syaithân pernah mengganggu Abu Hurairah yang ditugasi Rasûlullâh menjaga harta zakat, lantas syaithân berkata:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika kamu hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursiy (QS. al-Baqarah [2]: 255) karena dengannya kamu selalu dijaga oleh Allâh dan syaithân tidak akan dapat mendekatimu hingga pagi.”

Maka Rasulullah SAW bersabda:

صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ

“Ia jujur kepadamu padahal dia itu pendusta, dia itu syaithân.” (HR. al-Bukhârî)

Di antara hal yang mesti diwaspadai dari tipu daya syaithân ialah kedustaannya. Pengalaman penulis, tak jarang dialog dengan jin yang zhalim, ‘menguji’ pemahaman kita terhadap Islam. Maka konsistensi terhadap kebenaran akidah Islam dan pemahaman terhadap syari’at Islam mutlak diperlukan!

Syaikh ‘Abdul ‘Azhim menegaskan: “Pada dasarnya, syaithân akan selalu berdusta kepadamu dan menipumu, sehingga terkadang ia mengaku bahwa dirinya ialah saudara atau dirinya ialah muslim.” Sebagaimana dikabarkan Allâh dalam firman-Nya yang agung, syaithân bersumpah mengambil bagian dari manusia, syaithân itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bagian yang sudah ditentukan (untuk saya)’.” (TQS. Al-Nisâ’ [4]: 118)

Ketiga, Para ulama memperbolehkan seseorang berdialog dengan jin yang merasuki tubuh seseorang apabila mampu membedakan antara perkara yang haq dan bâthil (furqân). Sebagai contoh tak jarang syaithân mengaku sebagai arwah kerabat atau tokoh tertentu, padahal itu dusta, karena bertentangan dengan pandangan akidah Islam tentang ruh manusia setelah kematiannya.

Keempat, Tidak boleh berdialog dengan jin untuk meminta bantuannya karena dilarang syari’at (QS. al-Jin [72]: 6), dan atau memberinya sesaji.

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan (pertolongan) kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin [72]: 6)

Dalam ayat yang mulia ini, terdapat qarînah jazimah (indikasi yang tegas) yang mengharamkan perbuatan meminta pertolongan/perlindungan kepada jin.

Termasuk perbuatan berkompromi dengan mereka, misalnya menyembelih binatang sebagai wadal untuk si jin. Wadal atau sesaji seperti ini, merupakan perbuatan yang diharamkan syari’at.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. al-Mâ’idah [5]: 90)

Dalam ayat yang mulia ini, Allâh menilai perbuatan berkurban untuk berhala (termasuk sesaji/wadal untuk syaithân) merupakan perbuatan syaithân dan bagi yang meninggalkannya akan memperoleh keberuntungan. Ini merupakan indikasi yang tegas (qarînah jazimah) yang menunjukkan keharaman berkurban untuk berhala (termasuk sesaji untuk jin). Dipertegas sabda Rasûlullâh :

لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ

“Laknat Allâh atas orang yang menyembelih untuk selain-Nya.” (HR. Muslim)

Dalam ilmu ushul al-fiqh, hadits ini jelas mengandung indikasi tegas (qariinah jaazimah) -tentang pembahasan ini, bisa dirujuk dalam kitab ushul fikih Taysiir al-Wushuul ilaa al-Ushuul, al-‘Alim al-Syaikh ‘Atha’ bin Khalil (Amir HT)- mengharamkan perbuatan berkurban menyembelih binatang untuk selain-Nya dengan adanya lafazh la’ana yang dimaknai para ‘ulama sebagai berikut:

اللعن في اللغة: هو الإبعاد والطرد من الخير و قيل الطرد والإبعاد من الله ومن الخلق السب والشتم. و أما اللعن في الشرع: هو الطرد والإبعاد من رحمة الله وهو جزء من جزئيات المعنى اللغوي فمن لعنه الله فقد طرده وأبعده عن رحمته واستحق العذاب. و الأعمال التي لعن مقترفها هي من كبائر الذنوب.

“Lafazh al-la’n secara bahasa yakni jauh dan terhempas dari kebaikan, dikatakan pula yakni terjauhkan dari rahmat Allah dan dari makhluk-Nya secara terhina dan terkutuk. Adapun makna laknat (al-la’n) secara syar’i adalah terhempas dan terjauhkan dari rahmat Allah dan makna ini merupakan bagian dari maknanya secara bahasa pula, maka barangsiapa yang dilaknat Allah, maka Allah telah menghempaskan dan menjauhkannya dari rahmat-Nya dan layak mendapatkan adzab-Nya. Dan perbuatan-perbuatan yang terlaknat itu merupakan dosa besar.” (Lihat: al-Mal’uunuun fii al-Sunnah al-Shahiihah, Syaikh Dr. Fayshal al-Jawabirah)

Imam al-Raghib al-Ashfahani menjelaskan:

معنى اللعن : الطرد والإبعاد على سبيل السخط، وذلك من الله — في الآخرة عقوبة، وفي الدنيا انقطاع من قبول رحمته وتوفيقه

“Makna laknat (al-la’n) adalah terhempas dan terjauhkan masuk ke jalan kemurkaan, yakni terhempas dan terjauhkan dari Allah SWT, di akhirat mendapat siksa, dan di dunia ia terputus dari rahmat dan taufik-Nya.” (lihat: Mufradaat Alfaazh al-Qur’aan)

Para ulama pun men-syarh hadits ini. Imam al-Nawawi menuturkan:

و أما الذبح لغير الله فالمراد به أن يذبح باسم غير الله تعالى كمن ذبح للصنم أو الصليب أو لموسى أو لعيسى صلى الله عليهما أو للكعبة ونحو ذلك، فكل هذا حرام ، ولا تحل هذه الذبيحة ، سواء كان الذابح مسلما أو نصرانيا أو يهوديا ، نص عليه الشافعي، واتفق عليه أصحابنا ، فإن قصد مع ذلك تعظيم المذبوح له غير الله تعالى والعبادة له كان ذلك كفرا، فإن كان الذابح مسلما قبل ذلك صار بالذبح مرتدا، وذكر الشيخ إبراهيم المروزي من أصحابنا : أن ما يذبح عند استقبال السلطان تقربا إليه أفتى أهل بخارة بتحريمه ؛ لأنه مما أهل به لغير الله تعالى ، قال الرافعي : هذا إنما يذبحونه استبشارا بقدومه فهو كذبح العقيقة لولادة المولود ، ومثل هذا لا يوجب التحريم ، والله أعلم

“Adapun perbuatan berkurban untuk selain Allah yakni menyembelih binatang atas nama selain Allah seperti berhala, simbol salib, Nabi Musa, Nabi ‘Isa, atau Ka’bah, dan yang semisalnya, semua itu hukumnya haram, tidak halal binatang sembelihan ini, sama saja siapapun yang menyembelihnya apakah ia seorang muslim, nasrani atau yahudi, ini merupakan pendapat Imam Syafi’i dan para sahabat kami pun menyepakatinya. Jika perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai pengagungan dan bentuk peribadahan terhadap selain Allah SWT, maka termasuk kekufuran, jika sebelumnya si pelaku adalah seorang muslim setelah itu ia menjadi murtad. Syaikh Ibrahim al-Maruziy dari golongan sahabat kami mengatakan: “Bahwa apa yang dilakukan seseorang dengan menyembelih binatang untuk menyambut penguasa, sebagai bentuk mendekatkan diri kepadanya, para ulama bukhara menfatwakan keharamannya; karena binatang sembelihan tersebut ditujukan untuk selain Allah SWT.” Imam al-Rafi’iy mengatakan: “Tentang masalah ini, sebenarnya mereka menyembelih binatang sebagai bentuk kegembiraan menyambut kedatangan sang penguasa, kasus ini seperti ‘aqiqah atas kelahiran seorang anak, dan hal ini tidaklah haram, wallaahu a’lam.” (Lihat: Syarh Shahiih Muslim, Imam al-Nawawi)

Imam Taqiyuddin Abi Bakr bin Muhammad al-Husayniy mengatakan:

أما الكفر بالفعل فالكالسجود للصنم والشمس و القمر، و إلقاء المصحف في القاذورات والسحر الذي فيه عبادة الشمس، وكذا الذبح للأصنام

“Adapun kekufuran dalam bentuk perbuatan, misalnya bersujud kepada berhala; matahari atau bulan; melemparkan mushaf ke dalam kotoran-kotoran; praktik sihir yang mengandung peribadahan kepada matahari, demikian pula berkurban untuk berhala….” (Lihat: Kifaayatul Akhyaar fii Halli Ghaayatil Ikhtishaar, Imam Taqiyuddin bin Abi Bakr bin Muhammad al-Husayni)

Imam al-Syawkani memaparkan:

“Adapun pengharaman berkurban untuk selain Allah, ditetapkan berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Laknat Allâh atas orang yang menyembelih untuk selain-Nya” dalam hadits riwayat muslim dan selainnya. Dan berdasarkan firman-Nya: “(Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu)… binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” Dan konon kaum jahiliyyah mendekatkan diri kepada berhala-berhala dan bintang-bintang dengan berkurban menyembelih binatang untuknya. Adakalanya mereka menyebut nama-nama berhala atau bintang tersebut ketika menyembelih binatang atau berkurban binatang untuk patung-patung tertentu…. dan kasus ini salah satu bentuk kesyirikan.” (Lihat: Syarh al-Durar al-Bahiyyah, Imam al-Syawkani)

Muhasabah Atas Dialog-Dialog dengan Jin

Namun, kritikan Madhat ‘Athif dalam kitab al-Dalîl wa al-Burhân ‘alâ Buthlâni A’râdhi al-Massi wa Muhâwarah al-Jan layak dicermati: “Tidak samar bagi mereka yang memiliki pikiran dan hati nurani yang peka, bahwa perbincangan atau dialog (dengan jin) akan mengakibatkan keburukan dan kerusakan yang harus ditutup jalan masuknya, meskipun dialog tersebut dilakukan secara syar’i. Hal itu demi menghindari kerusakan dan menutup sarana kejelekan yang berakibat tersebarnya dialog-dialog dengan jin di dalam buku-buku dan kaset-kaset.”

Jika kita evaluasi, -penjelasan ulama dan tafakur dari pengalaman- diantara kerusakan yang bisa diakibatkan dialog dengan jin dalam fenomena kerasukan:

  1. Bisa dimanipulasi menjadi sandiwara orang yang mengaku sakit sebagai jalan keluar dari permasalahan. Sebagaimana pengalaman yang pernah dikisahkan Syaikh Ahmad Ramadhan dalam kitabnya.

  2. Berpotensi membesar-besarkan dunia jin dengan pemahaman yang keluar dari rel Islam sehingga menimbulkan kecemasan, ketakutan dan kekhawatiran, yang akhirnya menimbulkan intimidasi atau tekanan terhadap jiwa karena kesalahpahaman memahami dunia jin.

  3. Berpotensi memicu fitnah dan permusuhan, misalnya ketika si jin mengaku kiriman sihir dan mengalamatkannya pada perintah seseorang padahal fitnah belaka.

  4. Berpotensi menguatkan godaan jin, menumbuhkan penyakit ‘ujub atau riya’ pada diri sang mu’âlij (terapis ruqyah).

  5. Berpotensi membuat jin bertahan lebih lama di dalam tubuh orang yang dirasuki, misalnya si jin terdorong mengutarakan lebih banyak perbincangan dan perdebatan yang akhirnya melalaikan mu’âlij (orang yang menerapi) dari tugas pokoknya mengusir si jin.

Adapun fenomena dialog dengan jin yang penuh kebatilan dalam praktik perdukunan, pengobatan paranormal atau ‘orang pintar’. Tak jarang mereka menggelar ritual syirik menghadirkan jin yang mereka yakini sebagai arwah nenek moyang pasien, padahal hal itu batil, atau bisa jadi dilakukan dukun palsu sebagai sandiwara menipu pasien. Syaikh ‘Abdul ‘Azhim menuturkan: “Pada kenyataannya, terlepas dari perkataan Ibnu Taimiyyah (tentang jin yang berbicara lewat lisan orang yang dirasukinya-pen.), dialog yang terjadi antara jin dan ‘orang pintar’ (dukun-pen.) masih meragukan (bisa jadi merupakan sandiwara-pen.).”

Dan memang secara prinsip, -sejauh yang penulis pahami- kita tak mengharapkan dialog-dialog semacam ini, tapi menghadapi syaithân sebagaimana Allâh berfirman dalam al-Qur’ân al-‘Azhîm:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya syaithân itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaithân-syaithân itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fâthir [35]: 6)

Diriwayatkan Rasulullah saw bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ

“Wahai manusia (kaum Muslimin), janganlah kalian mengharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah kesehatan kepada Allâh.” (HR. al-Bukhârî & Muslim)

والله أعلم بالصواب

This entry was posted in Akidah.

One comment on “Berdialog dengan Jin (Mengoreksi Buku “Dialog dengan Jin Muslim”)

  1. […] Berdialog dengan Jin (Koreksi atas Buku Dialog dengan Jin Muslim) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s